
Hari ini, satu minggu sejak kejadian pertemuan dengan Malaikat Sadis, Waseso merasa lebih tenang, karena setidaknya satu partai hitam yang paling ditakuti diseluruh negeri sudah mulai bisa diredam, meskipun gejolak di internal partai mereka belum dirasakan sampai di tempat ini.
Shanti dan si kembar, telah lima hari ini meninggalkan perkampungan untuk kembali ke kotaraja dan melaporkan kondisi terbaru yang berkaitan dengan partai tersebut, kepada ayahanda kaisar dan juga kakandanya (beda ibu, karena Shanti anak dari selir ke dua kaisar) yaitu putera mahkota.
Adapun Kinda, Bening, Ni Luh, Laksita, Wulan dan Sari, sedang ke kota. Kelima gadis yang merasa semakin sayang terhadap Bening, yang katanya belum pernah sama sekali masuk ke kota dan berbaur selayaknya gadis pada umumnya, segera mengajaknya untuk berbelanja. Sekaligus, mereka akan ke rumah Sari untuk memberi kejutan kepada kedua orang tuanya, perihal dirinya yang sekarang jauh lebih berbahagia dan juga kesaktian yang sudah dimiliki. Adapun satu-satunya pendekar wanita yang berada di perkampungan, tinggal Werni seorang.
Oleh karenanya, setelah lumayan sibuk dengan aktivitasnya selama setengah hari ini di rumah sehat, Waseso berniat untuk pergi ke kaki bukit, sebelah timur desa di sebuah embung (sejenis danau kecil) berair sangat jernih, yang pernah ditemukannya secara tak sengaja tiga hari yang lalu. Apalagi, dia sudah merasa gerah dan juga sudah cukup lama tidak mandi dengan sepuas- puasnya, karena selama ini, hanya bisa mandi di kamar mandi warga, itupun sering mengantri.
Setelah melihat lima jenis bubuk busa yang dia simpan di laci meja, dia teringat saat secara tidak sengaja, mendengar obrolan para gadis yang mengatakan, bahwa hampir semua wanita, menyukai laki-laki yang bersih, baik wajah, maupun tubuh yang harum tidak berbau keringat. Namun, lagi katanya bukan harum yang wangi semerbak,... demikian yang di dengar.
Oleh karena itu, dia yang memang sudah terbiasa mandi dua hingga tiga kali sehari, serta memiliki keahlian membuat bubuk busa, berbahan bunga maupun dedaunan, semakin suka membuat eksperimen, tetapi mulai menghindari aroma yang berbau identik perempuan. Akhirnya dia memutuskan, untuk mengambil wadah bubuk busa, yang dia bawa dari surga tersembunyinya.
Kemudian dia keluar dan mencoba mencari Werni, namun tidak ditemuinya. Akhirnya tepat saat matahari tenggelam, dia berjalan keluar perkampungan, dan setelah melewati ladang warga, dia mengempos tenaganya dan lari menuju ke arah kiri kaki bukit.
Sesampai di embung, dia melihat sekeliling serta kilau pantulan sinar bulan diatas air.
Setelah meletakkan bawaannya, dia melepas semua pakaiannya dan "byurrrr,...." dia pun terjun kedalam embung dan segera berenang kesana-kemari sepuasnya.
Merasa sudah cukup, Waseso kembali ke tempat dimana dia menaruh barangnya.
Setelah keluar dari air, diambilnya wadah busanya ;
"aduhhhh,....hanya tinggal sekali pakai ini, karena jarang aku gunakan jadi lupa untuk membuatnya lagi" batinnya.
Setelah dicampur dengan air dan langsung menimbulkan busa tebal, dia mulai meratakannya ke wajah dan rambut. Segera diciumnya aroma khas daun mint, yang wanginya tidak terlalu menyengat hidung.
__ADS_1
Bubuk busa ini, adalah merupakan favoritnya. Oleh karenanya, dia berniat untuk mencoba mencari daun tanaman itu selesai mandi nanti.
Setelah semua busa dia gosokkan merata ke seluruh tubuhnya, hingga bagian paling tersembunyipun, Waseso segera kembali masuk ke air dan melanjutkan usahanya untuk membersihkan seluruh tubuh dan sekaligus berendam. Setelahnya, dia merasa segar dan mengapungkan badannya diatas air, dengan posisi terlentang.
Dia sekaligus menikmati indahnya bulan penuh, juga taburan bintang, di langit malam yang cerah itu.
Merasa sudah cukup, Waseso segera menepi dan mengeringkan tubuh dengan kain yang dibawanya, lalu mengenakan pakaian bersihnya.
Setelah mengemas semua barangnya, diapun berlalu dari tempat itu dan mendaki bukit menuju ke puncaknya ;
"aku akan coba mencari tanaman itu, di sekitar reruntuhan kuil, karena kemarin aku seperti melihat tanaman itu disana" demikian Waseso membatin.
Sesampai dipuncak bukit yang tidak terlalu tinggi, dia segera menuju ke sebuah bangunan batu yang ukurannya tidak terlalu besar dan juga sudah tidak terurus.
Waseso segera mengitari bagian depan kuil, dimana kondisi tanaman semaknya tidak begitu rimbun, lalu mengarah ke samping kuil dan memutar, menuju bagian belakang kuil.
Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam dan melihat pintu masuk kuil didepan sana, yang memang tembus dengan ruangan belakang tersebut serta dipisahkan oleh dinding papan kayu, sebagai penyekat di bagian tengah kuil, tetapi pintu kayu penyekatnya juga sudah bolong.
Sesampainya di kerimbunan yang dilihatnya tadi, dia membatin ;
"ahh,...ternyata hanya mirip" lalu dibuangnya daun tanaman yang barusan diremas dan diciumnya. Setelah berdiri, Waseso mendongakkan kepalanya dan melihat ke sekitar dinding kuil yang terbuat dari batu. Wajahnya serta merta menunjukkan kelegaan, ketika melihat ke dinding yang terletak di dekat papan penyekat sebelah kiri atas, ada tanaman yang dibutuhkannya dan tumbuh di bagian dinding tersebut.
Maka secepat kilat, dia melompat naik setinggi satu setengah tubuh orang dewasa, lalu berdiri dan berpijak pada tonjolan batu dinding kuil, serta meraih,... meremas,... dan mencium selembar daun tersebut;
"akhirnya kutemukan juga"
__ADS_1
Belum ada lima petikan tangan, ilmunya yang tinggi merasakan datangnya kehadiran seseorang, dari arah pintu depan kuil dan kemudian masuk ke dalam ruang depan.
Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat dengan jelas diantara lubang dinding penyekat, yang kerapatan kayunya sudah renggang.
Nampak di bawah sebelah kanan sana, ada seorang perempuan berambut hitam lurus terurai, sedang membelakanginya dan seperti sedang menggelar alas yang biasa dipakai untuk tidur, seperti tikar seukuran dua orang dewasa.
Dibawah sinar rembulan yang menembus atap kuil yang bolong, Waseso juga melihat dengan jelas tas kain warna merah yang telah di letakkan di samping tikar.
"siapa ya,...apakah mau tidur di kuil,...kalau dari bentuk tubuhnya sepertinya tidak asing buatku"
demikian Waseso membatin.
Sesaat perempuan yang masih berdiri membelakanginya, seperti mengendus-enduskan hidungnya, secara otomatis Waseso segera memasukkan lima lembar daun yang dipetiknya tadi, ke dalam sakunya.
Kini perempuan tersebut membalikkan badannya dan berjalan ke arah ruang belakang untuk mencari sumber aroma wangi yang tadi sempat tercium olehnya,... tetapi pandangan Waseso tertutup oleh dinding sekat, sehingga tidak bisa melihat wajah perempuan yang sedang berjalan ke arah belakang tersebut ;
"waduh,...bisa ketahuan ini"
demikian Waseso membatin.
Tiba-tiba, langkah kakinya seperti berhenti dan didengarnya dari arah bawahnya, suara perempuan itu bergumam ;
"baunya bukan dari sini, ahh,.. mungkin hidungku saja yang salah" kemudian langkahnya terdengar, kembali mengarah ke tikar.
"owhh,..ternyata kak Werni,.. sebaiknya aku turun" baru saja selesai membatin, telinganya yang berpendengaran tajam, mendengar langkah orang yang sedang mengerahkan ilmu meringankan tubuh, mengarah ke depan kuil, lalu masuk ke dalam.
__ADS_1
Dan benar saja, kini kang Daruna telah berdiri berhadapan dengan istrinya ;
"kang daruna,...ada apa mereka berdua kemari,..." Waseso membatin.