Pendekar Dibalik Layar

Pendekar Dibalik Layar
BAB 23 - PERPISAHAN MELEGAKAN


__ADS_3

Pendekar Pedang nampak sedang berbincang serius dengan istrinya dan juga kang Suryo di teras depan rumahnya pada siang itu ;


"menurutku, kita ijinkan saja si Wulan untuk pergi mengembara. Lagipula dia tidak sendirian, ada banyak teman-temannya" istri sang pendekar yang kini mulai ikut bicara.


"aku pikir juga demikian, apalagi juga ada nak Waseso, yang aku sendiri belum tahu sampai dimana kepandaiannya, tapi kurasa dia berilmu sangat tinggi. Hanya yang jadi pikiranku, si Wulan ini kan sama sekali belum pernah terjun langsung ke dunia persilatan" suaminya menjawab.


""bagaimana bisa terjun langsung, kalau engkau sendiri selalu membatasi gerakannya, yang kalau pergi paling jauh hanya ke kota Serupan,...aku berharap dia bisa bertemu dengan jodohnya di luar sana. Engkau lihat sendiri kan, baru dua hari kita lihat, dia dekat sama adik seperguruan nak Daruna,..eehh kok ya besoknya sudah jauhan lagi...padahal pemuda itu, kalau aku lihat selain tampan juga baik dan santun"


"ewh,...kok malah mikirin jodoh kamu itu"


"bagaimana enggak,...dia kan sudah cukup umur, lagi pula mana ada engkau lihat pemuda di kampung ini yang bisa menarik hatinya?,...enggak kan,...mau sampai kapan?"


"betul juga sich,.."


"aku punya ide ayah,....kita ijinkan Wulan pergi, tapi dengan satu syarat,..dia harus bisa mengalahkan aku,..bagaimana?"


Kedua mata suami istri tersebut nampak berbinar, mendengar ide bagus yang disampaikan anak sulungnya barusan. Karena dengan ujian tersebut, setidaknya mereka bisa sedikt lega, melepas anak perempuan mereka ke dunia persilatan yang sedang kacau seperti saat ini. Apalagi anak sulung mereka ini, sudah sama lihainya dengan sang ayah.

__ADS_1


Mereka membicarakan hal ini, karena semalam Waseso menyampaikan rencananya untuk kembali melanjutkan perjalanan bersama dengan kawan-kawannya, dimana Wulan yang mendengar hal tersebut langsung ikut nimbrung dan juga meminta ijin agar bisa turut serta, bahkan tadi pagi kembali merengek kepada ayah ibunya.


Maka keesokan harinya, nampak kang Suryo sedang bertempur dengan adik yang sangat disayanginya. Sungguh terlihat keseriusannya. Karena dia juga sudah mengatakan kepada adiknya, bahwa dia akan berlaku tidak segan-segan, karena baginya lebih baik sang adik terluka olehnya. Tentu saja Wulan sangat mengerti maksud kakaknya, oleh karenanya dia sangat berniat untuk bisa mengalahkan sang kakak.


Sang pendekar, yang sudah merasa akrab dengan Waseso sekalian dan sudah menganggap mereka layaknya saudara, juga mengundang Waseso dan teman-temannya untuk turut hadir menyaksikan demonstrasi ilmu pedang keluarga turun temurun. Tentu saja yang paling senang adalah kang Daruna, ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba. Dan tidak salah, jika ilmu pedang keluarga tersebut diakui oleh dunia persilatan, sebagai ilmu pedang nomer satu di kolong langit ini. Karena baru merasakan angin sambarannya saja, sudah membuat kulit dan tulang mereka merasa dingin. Bahkan Laksita, yang juga memiliki ilmu pedang yang berasal dari belahan bumi utara sana, juga dibuat terkesima. Cukup lama mereka bertempur hingga jurus ke empat pukuh, namun masih belum bisa dilihat siapa yang lebih unggul. Kinda yang diam-diam, adalah merupakan pendukung Wulan yang secara umur adalah kakaknya, namun dilihat dari tingkah polah adalah seperti adiknya, menatap serius ke tengah arena yang di gelar di seberang depan halaman rumah pendekar pedang. Dan saat memasuki jurus ke enam puluh, terlihat bahwa Wulan sudah mulai tertekan, tentu saja hal ini membuat dirinya was-was sekaligus ketar ketir. Lalu dia melirik ke arah Waseso yang juga sedang menonton, namun raut mukanya tidak menunjukkan ketegangan sama sekali. Si gadis bengal tapi cerdik ini, segera memiliki ide. Dia tahu bahwa pujaan hatinya itu telah menguasai inti sari ilmu pedang tersebut dan pasti sejak tadi si pemuda sudah bisa menarik kesimpulan terhadap jurus-jurus yang dikeluarkan, terutama ilmu pedang turun temurun pastilah sedikit banyak telah mengalami distorsi, dibandingkan yang berasal dari sumbernya langsung.


Dan memang tepat apa yang ada dalam benak gadis itu, karena sebenarnya Waseso sudah sedari tadi tahu, titik lemah berikut solusi perbaikan yang bisa dilakukan. Tetapi, karena dia merasa tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan internal keluarga sang pendekar, juga tidak mau nanti dianggap melecehkan ilmu pedang keluarga mereka, maka Waseso hanya melihat sambil menebak serangan berikutnya atau jurus pertahananan berikutnya,...dan semua tebakannya tidak ada yang meleset. Dia tidak melihat, bahwa Kinda yang berada di seberang kanannya sana, berkali-kali berupaya untuk menarik perhatiannya tanpa mengganggu yang lain, termasuk merusak konsentrasi kakak adik. Kinda bahkan sampai mendelik-delikan mata kepada si pemuda namun tidak melihat kode yang dia kirim. Maka, pelan-pelan Kinda bergerak dan bergeser sejengkal demi sejengkal ke sisi kanan si pemuda. Setelah dekat, dia mencolek lengan Waseso yang tentu saja kaget dan melihat Kinda seperti memelotot kepadanya, awalnya Waseso tidak mengerti. Namun setelah colekan kedua yang bahkan sambil memonyongkan bibirnya ke arah pertempuran, barulah si pemuda mengerti yang dimaksud oleh si bengal ini.


Sambil tersenyum kecut, Waseso menarik napas dan mulai memperlihatkan gerakkan bibir,...diikuti kemudian terjadi perubahan yang sangat drastis di dalam arena, gerakan Wulan kini terlihat lebih agresif, bahkan sambaran angin pedangnya berubah menjadi lebih besar. Perlahan namun pasti, kini malahan dia sudah bisa mulai mendesak sang kakak. Dan ;


"pletak,..... baiklah aku menyerah,.."


Tentu saja, hal ini membuat Wulan berteriak dan melompat kegirangan dan tentunya disusul pula oleh supporternya yang kini mereka berdua terlihat saling berpelukan sambil melompat-lompat. Wulan sambil memeluk Kinda, nampak melirik kepada Waseso dan melemparkan senyum tanda terimakasih. Dulu saat dikenalkan kepada si pemuda yang menurutnya biasa dan seperti pemuda dusun kebanyakan, kesannya hanya sebatas kagum, dengan kebaikan hati si pemuda yang menolong para pengungsi. Kemudian tiga hari lalu dia juga memuji kejujuran hati sang pemuda karena membuat keluarganya seperti merasakan kebahagiaan dan kebanggaan terhadap leluhur keluarganya. Dan baru saja,.....hanya melakukan dua saran yang diberikan oleh pemuda itu, yaitu : sedikit melonggarkan genggaman pada gagang pedangnya dan memindah tumpuan berat badannya dari semula di seluruh telapak kaki menjadi ke sisi dalam kedua telapak kakinya,.... dirinya yang sudah tertindih dan merasa ingin menangis putus asa, berubah dan berbalik menekan serta malah unggul ?


Oleh karena itu, Wulan mulai menunjukkan rasa hormatnya kepada si pemuda.


Ayahnya nampak tertawa dan menunjukkan wajah berseri, lantas berkelebat ke dalam rumah dan keluar lagi, dengan menyembunyikan kedua tangannya dibelakang badan.

__ADS_1


Wulan kini menghadap ayahnya;


"bagaimana ayah, apakah kini aku memperoleh ijinmu ?"


"engkau tidak boleh pergi,....apabila tidak membawa ini" kata ayahnya yang lantas mengulurkan tangannya yang menggenggam pedang wasiat.


Wulan yang tadinya terkejut mendengar jawaban awal ayahnya, tetapi kini sedang menyerahkan pedang wasiat keluarga mereka. Maka, dengan penuh khitmat dia meletakkan satu lututnya ke tanah dan menerima uluran tangan sang ayah.


"sekarang cobalah kau mainkan satu dua jurus"


Wulan segera berdiri dan menyingkir agak jauhan,...lalu mencabut pedang legenda itu. Diangkat di depan dadanya, lalu bersiap melakukan demonstrasi dan menyalurkan tenaga dalamnya melalui genggaman tangannya dan,....dia berhenti karena kaget.


"wahhhhh,......." terdengar juga teriakan kagum dan takjub hampir bersamaan dari semua orang yang ada di situ. Bagaimana tidak, pedang yang tadi terlihat seperti layaknya pedang biasa dan seolah tidak mempunyai keistimewaan,....namun begitu Wulan menyalurkan tenaga dalamnya,...seluruh bagian badan pedang, langsung mengeluarkan sinar kuning serta kebiruan. Bahkan ayah Wulan sampai terperangah melihatnya dan air matanya bercucuran. Orang tua ini begitu terharu, menyaksikan bagaimana didepan matanya sendiri, dia melihat pedang wasiat keluarga mereka turun temurun, sedang dimainkan demikian indah oleh putrinya, diapun menggumam :


"pedang pembelah langit, sungguh ajaib,.. mati pun aku rela". Lalu dia memeluk istrinya dan berpelukan.


Akhirnya, dengan pelukan hangat namun penuh kegembiraan, sepasang pendekar beserta kang Suryo serta seluruh penduduknya termasuk semua pengungsi yang dulunya membonceng Waseso sekalian, melepas keberangkatan kang Daruna bersama seluruh adik-adik seperguruannya, Waseso, Wulan, Kinda, Ni Luh, Laksita dan Werni. Ya,...semua pengungsi termasuk pakde, bude sekeluarga anak mantu, dan seluruh pengungsi menerima tawaran pendekar pedang untuk menetap di pulau itu, karena tanahnya masih begitu luas dan terutama keamanan di situ juga terjamin.

__ADS_1


Selanjutnya,..... sehabis kelokan jalan nampak ke lima wanita segera memacu kuda tunggangan mereka dan meninggalkan Kang Daruna sekalian bersama Waseso, yang berjalan santai sambil memegang tali kendali kuda yang menarik pedati berpenumpang si sapi perah betina Plentong. Dibelakangnya, adalah pedati ke dua dan ke tiga, berisi barang-barang serta bahan makanan. Gadis-gadis tersebut, sebelumnya telah meminta ijin kepada Waseso untuk mendahului pergi ke kota kecil Serupan dan mereka akan bertemu kembali sore hari di perempatan jalan. Waseso yang mengerti bahwa ke limanya memang sedang bersemangat, tentunya tidak ingin merusak kegembiraan dan tentu saja dia mengijinkan.


__ADS_2