
Saat tiba di dalam ruang rahasia bawah tanah. Waseso berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi matanya membiasakan dengan kegelapan. Ruangan tersebut meskipun sempit dan lembab namun sudah ditata sedemikian rupa oleh kedua orang tuanya, sehingga sebenarnya masih terbilang cukup lega untuk digunakan sebagai tempat persembunyian bahkan tiga orang dewasa sekalipun. Dia juga sudah hapal letak dipan, rak penyimpanan makanan & minuman darurat serta posisi meja kecil, termasuk posisi lampu dimana saat ini dia berkeinginan untuk segera memyalakannya. Begitu menemukan yang dimaksud, dia segera menyalakannya dan tidak lupa menarik seutas tali yang tergantung di sudut dinding untuk membuka jendela ventilasi pada lubang teratas yang tembus hingga ke genteng rumahnya. Waseso kemudian duduk di tepian dipan dan mencoba menajamkan pendengarannya namun dia tidak mendengar satupun suara diluar sana. Sesaat kemudian dia mengambil posisi duduk bersila seperti yang diajarkan ayahnya dan tidak berapa lama diapun larut dalam semedhinya. Sepertinya sudah cukup lama dia bersemedhi hingga samar-samar dia terganggu demi mendengar beberapa langkah kaki berat yang sepertinya sedang masuk ke dalam rumah mereka. Suara tesebut semakin keras yang menandakan mereka yang diatas sudah memasuki ruang makan. Tidak jelas apa yg mereka perbincangkan tapi dia menyimpulkan bahwa itu bukanlah suara ayahnya maupun suara laki-laki tetangga mereka. Sampai disini, bayangan kekhawatiran mulai memasuki pikirannya. Berbagai pertanyaan yang menghantui otaknya segera berkecamuk. Ketika dia akan bangkit dari posisinya untuk segera memghambur naik tangga dan keluar dari tempat persembunyiannya untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap ke dua orang tuanya, mendadak dia teringat pesan terakhir ibunya dan seketika dia memgurungkan niatnya tadi. Namun demikian degup jantungnya semakin cepat berdetak, apalagi saat suara diatas diganti dengan beberapa kali suara bantingan gelas maupun piring serta benda-benda keras menghantam dinding rumahnya disertai dua suara makian bersahutan. Nalurinya sebagai seorang anak kecilpun muncul, ketika khawatir dan ketakutan yang amat sangat menyerangnya, air mata adalah salah satu cara alami untuk menyalurkan tekanan menyesakkan pada dadanya. Namun demikian, suara tangisan tidak secuilpun dia keluarkan. Suara diatasnya sudah tidak ada lagi, tetapi samar-samar dia mendengar suara riuh tawa sekelompok orang. Beberapa saat diam lalu kedengaran lagi. Dia menghapus air mata dengan punggung tangannya dan mencoba untuk melanjutkan semedhinya. Setelah mengatur napas sedemikian rupa untuk mengeluarkan rasa sesak yang mengisi penuh rongga dadanya, perlahan dia mulai bisa menenangkan degup jantungnya dan mulai larut dengan keheningan pikirannya. Lama setelah itu, pendengarannya terusik dengan suara dengungan nyamuk yang terbang melintas di dekat telinganya lalu dilanjutkan dengan suara seperti lolongan tangis yang bersahutan namun suara ini sangat lirih seperti di kejauhan. Seketika pikirannya yang tadi tenang mulai buyar, apalagi saat dia coba bangun dari duduknya dia juga mendengar suara tangisan tadi semakin kentara bahkan seperti ada suara tangisan anak-anak. Tanpa pikir panjang dia segera bergerak ke tangga, menarik tuas dan memanjat naik. Begitu tiba diatas dan berdiri di lantai ruang makan keluarganya, dilihatnya semua peralatan makan minum beserta perabotan meja kursi porak poranda berantakan. Pernapasannya segera kacau, bayangan gelap yang tadi menghantuinya semakin mendera otaknya bertubi-tubi. Suara lolongan tangis yang tadi samar-samar didengarnya, semakin nyata bercampur dengan suara tangisan anak-anak kecil bersahutan. Tanpa memperdulikan keadaan dalam rumahnya lebih jauh lagi, dia segera pergi keluar dan menuju pusat tangisan. Satu pemandangan mengerikan yang selayaknya tidak baik dilihat oleh anak seumurannya segera tersaji di depan matanya. Betapa tidak, para orang lanjut usia, ibu-ibu beserta dengan anak mereka masing-masing sedang bersimpuh di depan mayat-mayat yang bergelimpangan di tengah jalan desa. Ketika dilihatnya dua sosok mayat yang tergeletak paling ujung depan, seketika semua kekuatan yang ada di tubuh bocah tersebut menguap entah kemana. Dengan langkah gontai sambil sesekali mengusap kedua matanya yang basah kuyup akibat air mata yang bercampur dengan air sisa gerimis, dia mendekat dan kemudian bersimpuh di depan tubuh kedua orang tuanya. Diperhatikannya wajah ayahnya yang meskipun sudah memucat dan matanya tertutup namun baginya terlihat seperti layaknya sedang tidur. Demikian juga wajah ibunya yang terbaring di perut ayahnya, sementara tangan kanannya menggenggam erat telapak tangan kiri ayahnya, juga dengan kondisi mata yang terpejam seperti tertidur pulas, namun pada bibirnya menampakkan sebuah garis senyum tipis. Begitu lama si bocah yang barusan menyandang status yatim piatu tersebut berada dalam posisi bersimpuh, diam laksana patung hingga tak disadarinya bahwa hari telah mulai gelap, bahkan semua jenazah lain yang tadi berserakan juga telah di kuburkan semua, tinggal tersisa jenazah sepasang pendekar tersebut. Kini warga yang tersisa telah berkumpul dan berdiri diam dibelakang si bocah dan yang dimaksud juga tidak menampakkan satu gelagat sedikitpun untuk jangankan beranjak, baik suara tangis sesenggukanpun tak diperdengarkan, barulah salah satu laki-laki yang tertua diantara mereka dan satu-satunya orang yang tidak membawa lentera penerangan berjongkok disamping kanan si bocah, lalu dia mengeluarkan suara lirih disamping telinganya ;
"cucu,...bolehkah kami menguburkan jenazah kedua orang tuamu sekarang?,,,, kan kasihan mereka jika kita diamkan dengan kondisi seperti itu"
Bagai disengat kalajengking, Waseso segera bangkit dan melihat kondisi sekitarnya yang meskipun hanya diterangi lentera-lentera namun dia tidak lagi melihat korban-korban yang bergelimpangan di jalan. Saat si kakek tadi melanjutkan memegang tangannya seolah memberikan kode baginya, dengan lemah dia pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Malam itu semua warga yang berjumlah lima orang kakek, enam orang nenek, sembilan ibu-ibu dan sepuluh anak-anak yang umurnya lebih kecil dari Waseso tinggal sementara di rumah mendiang sepasang pendekar yang memang kondisi rumahnya paling luas dibandingkan rumah warga lainnya. Makanan yang telah disediakan oleh tetangganya tak disentuhnya sama sekali. Kantuk yang biasanya selalu rajin menghampirinya jika malam menjelang kali ini tak secuilpun menengoknya. Dia hanya duduk diam membisu di sudut ruang tamu, sementara anak-anak kecil lainnya telah terlellap tidur bergelimpangan di ruangan yang sama. Sudah beberapa kali salah satu orang dewasa yang juga turut berada berkumpul disitu bergantian untuk membujuk dirinya agar mau makan atau bahkan menyuruhnya tidur, namun mereka akhirnya memaklumi kondisi beratnya pukulan batin yang sedang dialami oleh si bocah tersebut dan membiarkan dirinya larut dalam pikirannya sendiri. Dalam kesempatan para orang tua berbincang, mayoritas keluarga menyatakan akan melakukan perjalanan untuk meninggalkan desa tersebut esok hari, demi mengungsi ke rumah saudara maupun kerabatnya ke desa lain. Dan hanya sepasang kakek nenek dan satu anaknya perempuan yang memiliki satu orang anak kecil yang berusaha untuk tetap tinggal di desa tersebut beberapa hari melihat perkembangan selanjutnya. Itupun mereka berjanji kepada yang lain untuk menjaga dan memelihara Waseso. Sepanjang malam itu Waseso selalu teringat dengan wajah kedua almarhum orang tuanya, bagaikan potret hidup yang selalu melekat di kepalanya hingga fajar menyingsing keesokan hari. Hal pertama yang dia lakukan pagi itu adalah segera menghilang dari rumah dan berjalan menuju makam kedua orang tuanya. Dia hanya duduk diam bersimpuh di depan gundukan tanah yang masih merah. Tidak ada tangis bahkan setetes air matapun yang keluar, yang kembali berada dalam benaknya saat itu adalah potret terakhir wajah kedua orang tuanya. Tidak dihiraukannya juga salam perpisahan dari hampir semua warga yang berkemas dan pergi setelahnya meninggalkan desa tersebut. Bujukan untuk makan kembali tak dihiraukan si bocah, hingga sore hari kemudian datanglah sang kakek beserta anak perempuannya yang masih tinggal di desa tersebut menyusulnya ke pemakaman dan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah. Itupun mereka dengan cara sedikit memaksa dan mengangkat tubuh si bocah. Ketika kembali terulang dia seperti masih tidak memperdulikan bujukan untuk makan malam. Si kakek berkata dengan lirih di telinganya;
"cu,...kalau engkau tidak mau makan kemudian jatuh sakit, tidakkah ibumu akan menjadi sedih melihatmu?"
Kalimat yang terdengar sangat sederhana layaknya bujukan terhadap anak kecil ternyata sangat manjur karena seketika itu juga dia mengingat pesan terakhir dan janjinya terhadap ayah ibunya untuk berusaha tetap hidup. Segera dia beranjak mandi, berganti pakaian lalu kembali dan duduk makan. Si kakek, nenek dan anak perempuannya hanya saling melihat satu sama lain demi menemukan perubahan drastis yang diperbuat si bocah. Selesai makan, tanpa berkata sepatah katapun dia kemudian masuk ke dalam kamarnya sendiri dan berbaring di tempat ridurnya. Saat pagi tiba, kembali dia berjalan ke arah makam duduk diam disana, kembali pulang ke rumah saat matahari tenggelam. Demikian yang di lakukannya berulang hingga pada hari ke empat ketika dia sedang duduk diam bersimpuh di depan makam samar-samar dia mendengar derap langkah rombongan berkuda mengarah ke desanya. Segera dia berlari pulang ke rumahnya untuk memberitahukan hal tersebut kepada keluarga si kakek, namun ketika dilihatnya rumah tersebut kosong dengan keadaan dimana pada meja makan masih terdapat tiga piring lengkap dengan nasi dan sayur yang masih terbilang cukup penuh, maka dia merasa bersyukur karena dia menyimpulkan bahwa keluarga si kakek juga sudah mendengar suara yang sama didengarnya sehingga mereka masih bisa segera menyelamatkan diri. Segera dia membuka pintu rahasia dibalik almari lalu membawa serta semua makanan yang sebelumnya berada di atas meja dan dia bersembunyi hingga keesokan harinya. Setelah selama dua hari si kakek dan keluarganya tidak lagi kembali ke desa tersebut, dia menyadari bahwa kini dia benar-benar sebatangkara seutuhnya. Namun demikian tak sedikitpun rasa takut hinggap dalam hatinya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mencari dan mengumpulkan semua bahan makanan pokok yang masih tersisa di setiap rumah penduduk yang kini kosong ditinggal pemiliknya, bahkan termasuk semua ladang yang ditanami ubi maupun singkong juga dia panen dan kumpulkan serta menyimpannya di ruang rahasia. Demikian hari-hari berlalu begitu cepat hingga akhirnya dia sadar bahwa semua logistik yang dia simpan telah habis di konsumsi dan sebagian besar juga ada yang terbuang percuma karena busuk. Di pagi hari berikutnya, setelah dia selesai mandi, seperti biasanya dia segera menuju ke makam orang tuanya. Dengan posisi berdiri tegak, sambil menatap gundukan tanah di depannya dia mengeluarkan suara yang pertama kali di keluarkannya sejak hari terkutuk itu terjadi;
__ADS_1
Sungguh beberapa kalimat yang sebenarnya tidak terlalu panjang namun demikian mempunyai makna yang begitu dalam dan ini hanya bisa dikeluarkan dari hati seorang bocah yang dipaksa oleh keadaan untuk memiliki jiwa yang besar. Tubuh kecilnya yang kini terlihat begitu kurus akhirnya tersungkur di depan makam dan menempelkan jidatnya sebanyak tiga kali ke tanah layaknya orang yang memohon restu. Setelah itu dia kembali ke rumahnya yang kini dia bisa menyadari sepenuhnya terlihat seperti rumah yang tak berpenghuni. Diperiksanya kembali isi kantong kain yang tadi sudah disiapkannya, dua setel pakaian, satu botol bubuk busa (jaman dahulu belum ada sabun mandi), batu pemantik api, sekantong kecil garam dapur, lalu diikatnya kantong kainnya tersebut dan tidak lupa dia membungkus sebuah pisau dapur yang tebal lalu menyelipkannya di pinggangnya dekat dengan sekantong kulit domba yang berbentuk sedemikian rupa dan biasa digunakan oleh pengembara untuk membawa air minum. Saat tiba di luar rumahnya dia diam sebentar dan menengok ke kanan, lalu dia menengok ke kiri seperti orang yang sedang mengambil keputusan arah jalan mana yang akan diambilnya.
"baik ke kanan maupun ke kiri adalah jalan yang belum pernah aku tempuh sama sekali. Maka biarlah kata hatiku yang menentukan"
Demikian gumamnya pada diri sendiri mengingat sama sekali sepanjang hidupnya dia belum pernah melangkahkan kakinya keluar dari desanya. Akhirnya dia menetapkan langkah kakinya ke arah kiri dan saat tiba di ujung jalan masuk desa, dia berhenti sejenak lalu memuaskan pandangannya ke sekeliling desa yang kini benar-benar seperti desa mati. Sepanjang jalan yang dilaluinya tadi bahkan semua bidang tanah di semua rumah-rumah telah dipenuhi dengan rumput liar dan alang-alang. Dinding papan beberapa rumah bahkan terlihat jebol dan tertutup sarang laba-laba tebal. Benar-benar selayaknya desa mati. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan meyakinkan hatinya sekali lagi bahwa keputusan yang diambilnya ini sudah tepat. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya dan membuat langkah pertama dan seterusnya menjadi langkah terjauh dari rumah dimana dia dilahirkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.