
Disebuah rumah yang cukup megah di tengah kota, pada salah satu jendela yang terletak paling kiri dan berhadapan langsung dengan taman rumah yang sangat asri dan dikelilingi tembok batu sebagai pagar rumah, akan terlihat sebuah jendela kamar dengan teralis besi yang terpasang layaknya pengaman ruangan untuk mencegah niat buruk pencuri yang mencoba masuk ke dalamnya. Di dekat jendela tersebut pada bagian dalam kamar, tampak duduk seorang anak berpenampilan seperti bocah laki-laki. Namun jika di cermati wajahnya terutama bentuk alis, mata, hidungnya yang kecil namun mancung, bibir tipisnya serta bentuk rahang yang halus mengerucut kebawah hingga membentuk dagu yang indah, maka tidak salah lagi disimpulkan bahwa itu sejatinya adalah anak perempuan. Badannya termasuk tinggi apalagi jika dibandingkan dengan umurnya yang baru tujuh tahun, menandakan bahwa gizi serta nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak tersebut sangatlah tercukupi. Ya, dia adalah Kinda. Anak malang, yang sebulan lalu ditinggal selamanya oleh sang ayah menyusul ibunya yang telah duluan pergi akibat sakit. Dengan jabatan mendiang ayahnya sebagai salah satu perwira tinggi, maka segala kebutuhan materiil keluarganya sangat melimpah. Atas kepergian sang ayah, dimana ahli waris yang sah masih kecil, keluarga terdekat dari almarhum istri juga tidak ada, maka kenyataan itu membawa keuntungan tersendiri bagi satu-satunya keluarga terdekat sang ayah, yaitu adik lelakinya yang kurang beruntung dari sisi perekonomian. Adik lelakinya ini termasuk laki-laki yang agak malas, agak sombong juga agak suka pelesir. Pasangannya adalah wanita yang agak tidak suka jika merasa dikalahkan, misalnya kalah penampilan, kalah bagus rumah, kalah jumlah uang dan sebagainya. Adapun kedua anak lelaki mereka yang besar berusia sepuluh tahun dan yang kecil delapan tahun. Watak mereka berdua adalah hasil perpaduan dari watak kedua orang tuanya.
Begitu selesai upacara pemakaman sang kakak, si adik beserta istri sekeluarga segera pindah ke rumah mendiang sang kakak dengan alasan demi mengurus serta merawat keponakannya yang masih kecil. Untuk alasan yang menurut mereka demi kebaikan sang keponakan, agar segera terbebas dari kenangan sedih ditinggal kedua orang tuanya, maka seluruh pegawai rumah diputuskan untuk diberhentikan dan diganti dengan pegawai baru. Mulai dari pengasuh sang keponakan, meski sudah merawatnya sejak bayi, pengurus rumah, hingga perawat dua ekor kuda. Sang keponakan dirawat dengan cara cukup disediakan kebutuhan makan dan minumnya. Adapun soal waktu, perhatian dan kasih sayang, mereka bebaskan karena sepasang suami istri tersebut sedang mencurahkan segenap kasih sayangnya untuk menghitung dan menggunakan harta warisan yang ditinggalkan. Belum lagi menyusul kemudian datang bingkisan tanda kasih kematian serta kompensasi pensiun dari kekaisaran. Sungguh semakin menyita perhatian dan konsentrasi mereka berdua, bahkan kedua anak lelakinya juga diminta untuk turut andil. Lima hari yang lalu, sang ibu mendapatkan laporan dari anak tertuanya soal sang adik sepupu yang selama dua minggu ini selalu pergi dari rumah, berangkat pagi dengan naik kuda dan membawa bekal beberapa makanan. Bisa nasi dan lauk serta roti dan lain-lainnya. Pulangnya sore hari. Demikian terulang setiap hari. Laporan tersebut diterima si ibu dan cukup di dengarnya. Namun ketika tiga hari yang lalu sang keponakan meminta sejumlah uang peces kepadanya dengan alasan untuk membeli makanan, roti dan buah tertentu karena di meja makan sudah habis,.maka demi mendengar hal ini si bibi yang merasa uang yang diminta terlalu banyak dan merasa sayang, langsung menghukum dan mengunci sang keponakan di dalam kamarnya, tanpa upaya mencari kebenaran bahwa sejatinya semua yang dibutuhkan oleh sang keponakannya tadi memang secara sengaja telah disembunyikan oleh kedua anak lelaki mereka.
Saat itu Kinda memang hanya duduk, dengan wajahnya menghadap ke arah taman. Kedua pipinya basah air mata yang sebenarnya sudah sekian hari lamanya tidak pernah mengalir akibat pertemuan dan pergaulannya dengan temannya si sedeng. Sebagaimana nalar seorang bocah, demi merasakan satu-satunya hal yang tersisa untuk membuat hatinya merasa gembira telah di renggut, termasuk di sisi lain dia juga sudah merasa muak dengan perilaku dan sikap kedua kakak sepupunya, maka dia merencanakan untuk minggat dari rumahnya dan akan tinggal bersama teman barunya tadi. Nalar seorang bocah memang baru sampai disitu, karena dia tidak menyadari bahwa jika dirinya minggat atau pergi selamanya pun, paman dan bibinya bakalan bersorak-sorai selayaknya memenangkan sebuah lotere dengan hadiah luar biasa melimpah. Dia tidak menyadari bahwa hari kedua dirinya dikunci, adalah merupakan salah satu strategi dari sang bibi dengan dukungan pènuh sang paman agar si keponakan menjadi lebih murka dan pada hari ke tiga mereka memang sengaja lupa mengunci pintunya dari luar dan menyuruh semua pegawainya untuk mengambil cuti pada hari itu, kecuali bagi pengurus rumah, baru bisa pergi cuti setelah menghidangkan makanan lebih lengkap dari hari-hari biasanya dan sekaligus memerintahkan agar tidak perlu repot-repot mengantarkan makan minum ke kamar keponakannya seperti hari kemarin. Sayangnya setelah semua keluarga makan dan kedua anak lelaki mereka diberi uang saku lebih banyak dan diminta segera pergi bermain, sang keponakan tidak menunjukkan gejala membuka pintu kamarnya, bahkan saat waktu mendekati siang. Oleh karenanya mereka mengeluarkan jurus baru;
"istriku,....ayo lah jangan buang waktu nanti kita terlambat datang"
Demikian kata sang paman, yang anehnya suara yang dikeluarkannya lebih tepat jika berkata dengan lawan bicara yang dipisahkan oleh dua sampai tiga petak ladang.
"iya suamiku,...aku ke situ"
Tidak kalah keras suara yang menyahut.
Disusul dua suara berbarengan;
"Yuk kita berangkat sekarang,..."
Lalu suara pintu depan di tutup;
"Jegerrr...."
Padahal keduanya bersembunyi di dalam, sambil mengintip ke arah pintu kamar sang keponakan.
Benar saja, tak lama kemudian mereka melihat sang keponakan membuka handle pintu dan keluar dari kamarnya dengan menunjukkan rasa gembira karena menganggap sang bibi telah lupa mengunci. Tapi baru beberapa langkah sang keponakan kembali berlari masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi beberapa saat, sambil membawa tas seperti berisi baju. Tentu saja sepasang suami istri tersebut langsung berpandangan dan menyunggingkan senyuman kemenangan. Puncaknya adalah ketika sang keponakan pergi keluar setelah terlebih dulu terlihat mengumpulkan berbagai jenis makanan dan buah diatas meja makan.
Sementara itu.
Nampak Waseso sedang duduk termenung sambil sesekali meringis kesakitan memegangi pipi maupun perutnya. Sudah dua hari ini, dia menjalankan profesi sebagai teman berlatih silat dengan tiga anak lelaki sebayanya. Yang tidak dia ketahui adalah, dua orang diantara mereka sebenarnya adalah kakak sepupu Kinda, yang sudah beberapa hari membuntuti Kinda karena kecurigaan mereka. Maka, mengetahui bahwa selama ini sang adik sepupu memberi makan gembel sedeng ini, dan dengan dikurungnya Kinda, mereka berniat memberi pelajaran kepada si bocah sedeng, serta mengajak satu teman mereka untuk bermain bersama berlatih silat, dimana si sedeng menjadi target pukulan. Tawaran ketiganya sangat menggiurkan bagi Waseso, karena dengan hanya menerima pukulan bergiliran dari ketiga orang anak kaya tersebut dia memperoleh upah tiga bungkus nasi dan lauk serta buah-buahan.
"bukankah ini sesuai dengan kebutuhanku",.....demikian batin Waseso.
Tentu saja pukulan mereka bertiga yang sepenuhnya hanya mengandalkan tenaga kasar dapat diterima dengan mudah oleh Waseso yang memang sudah terbekali dasar olah kanuragan dari mendiang ayahnya. Sayangnya di hari kedua, ketiganya telah berlaku curang dan jelas melanggar peraturan yang disepakati bersama yaitu tidak boleh memakai kaki. Maka dari itu inilah hasilnya, tak urung pipi Waseso bengkak juga satu pelipisnya benjol. Namun hari ini sudah mulai terlihat mendingan.
"hei sedeng,....."
Buyar seketika lamunan Waseso ketika dia mendengar suara temannya yang dua hari ini menghilang;
"hai si bau,..."
"mukamu kok aneh,..."
Sehabis berkata demikian Kinda meletakkan bawaannya dan segera duduk disamping Waseso. Yang ditanya hanya nyengir.
"makan yuk,...aku belum makan,...."
Demikian kata Kinda. Lalu dia mengambil dua bungkusan nasi, masing-masing dengan sayur dan lauknya. Dan membaginya satu untuk Waseso. Dia tidak begitu menghiraukan si penerima hanya meletakkan bungkusan barusan di sampingnya. Dengan lahapnya Kinda makan. Setelah habis dia mengambil dua buah jeruk dari dalam tasnya dan membaginya satu dengan Waseso. Kembali dia juga tidak menghiraukan ketika Waseso juga hanya menaruh jeruk pemberian disampingnya. Setelah selesai makan jeruk, Kinda mengambil kantong air dan meminumnya. Lalu didengarnya Waseso bangkit berdiri sambil berkata;
"terimakasih atas makanan ini"
__ADS_1
Dia tidak menjawab dan menyusul bangkit berdiri serta mengekor dibelakang Waseso yang berjalan ke arah tempat tinggalnya;
"apakah aku boleh tinggal ditempatmu"
Tanya Kinda.
"boleh"
Waseso menjawab tanpa menoleh yang bertanya.
Saat tiba di tempat tinggal Waseso, dia kaget demi melihat disitu ada dua bocah lelaki kecil kurus sedang tiduran. Selain kurus mereka berdua juga dekil dan terlihat seperti anak kelaparan. Kini dia mengerti mengapa tadi Waseso tidak segera menikmati pemberiannya. Dilihatnya Waseso membuka bungkusan nasi darinya serta membagi satu jeruk menjadi dua potongan yang sama, serta meletakkan nya di depan kedua bocah yang langsung duduk demi melihat kedatangan mereka berdua.
"mereka bernama,........, usia mereka berdua enam tahun"
Saat itu Kinda tidak mendengar utuh semua kalimat yang disampaikan Waseso, dia sibuk menurunkan dua bawaannya. Lalu kembali membuka salah satu tas yang dibawanya dan mengambil roti isi serta satu jeruk untuk diberikan pada Waseso. Akhirnya mereka bertiga makan dengan ditemani Kinda. Saat sinar matahari mulai terik dan mereka merasa gerah, Waseso segera melepas semua pakaiannya dan menyeburkan dirinya ke dalam sungai. Dua bocah kecil tersebut juga menyusul. Saat Waseso meneriakinya untuk ikut terjun, Kinda menggelengkan kepala. Entah kenapa kali ini dia merasa malu untuk membuka pakaiannya dan ikut mandi jika ada anak lain selain dia dan Waseso, meskipun anak lain tersebut nyatanya lebih kecil dan lebih muda setahun darinya. Kinda hanya duduk di bibir sungai sambil memasukkan kedua kakinya ke air. Kembali mulutnya mengeluarkan tawa lepas saat mendengar celotehan Waseso. Demi merasa ingin buang air kecil, Kinda berdiri dan bergerak menjauh.
Saat selesai dan dia kembali ke tempat dimana ketiga bocah bermain air, dari tempatnya saat ini dia melihat Waseso yang masih telanjang sedang berbicara dengan dua kakak sepupunya dan entah satu anak lain di sisi seberang sungai sebelah sana. Sementara kedua bocah kecil nampak berkumpul di sisi sungai sebelah sini tempat dimana terakhir tadi Kinda duduk. Saat tiba dekat kedua bocah yang kini sudah terlihat memakai pakaiannya, salah satu bocah tanpa ditanya berkata;
"mereka bertiga adalah tuan-tuan muda yang dua hari berturut-turut kemarin memberi kami makan, tapi kakak Waseso harus menjadi target mereka berlatih silat"
Seketika raut muka Kinda berubah menunjukkan emosi, menyadari si penyebab wajah Waseso bengkak adalah kedua kakak sepupunya. Diapun bangkit dan hendak berjalan memutar lewat jembatan agar dapat menghampiri ke empat bocah diseberang sana. Baru saja melangkah tiga tapak, dia melihat seekor makhluk menyerupai monyet kecil lucu namun berbulu warna kuning keemasan. Seketika keanehan tersebut mengalihkan perhatian Kinda. Dan entah kebetulan atau bagaimana si monyet kecil tadi nampak berjalan lucu mendekat ke arah Kinda, bahkan kini terlihat duduk persis di depan kedua kakinya. Tentu saja Kinda sangat gembira dengan hal tersebut, dan seperti ingat sesuatu Kinda segera berlari mengambil buah apel merah dari dalam tasnya dan berlari lagi menghampiri si monyet kecil. Ketika Kinda duduk dan menjulurkan apelnya, si monyet menerimanya dan dengan santainya duduk dipangkuan si bocah perempuan sambil menikmati apel tersebut. Saat Kinda sedang asyik membelai kepala si monyet dia dikagetkan dengan suara perempuan yang berasal dari atas pohon besar si depannya;
"belum pernah dia berperilaku aneh seperti ini, apalagi sampai duduk di pangkuanmu anak cantik"
Kinda segera mendongak ke atas dan heran sekaligus takjub melihat ada seorang perempuan tua sedang duduk ongkang-ongkang pada ranting pohon yang sangat kecil diatas sana.
Belum hilang rasa takjubnya, yang dimaksud malahan kini telah berada di didepannya dan memperhatikannya dengan seksama seperti seseorang yang menaksir suatu barang berharga.
"iya nek, aku juga heran baru kali ini aku melihat bahkan memangku makhluk selucu ini"
Si nenek yang dari tadi memperhatikan bentuk tubuh dan bentuk tulang si bocah perempuan menjadi semakin tertarik dengannya.
"apakah ini peliharaanmu nek?"
"benar,..dia juga adalah temanku. Apakah kamu mau berteman dengannya?"
"iya nek, tentu saja aku mau menjadi sahabatnya juga"
Mendengar jawaban tersebut, si nenek tersenyum.
"maukah engkau ikut denganku dan menjadi muridku?"
Sejenak Kinda berpikir, memang dia berniat untuk pergi dari rumahnya dan ikut tinggal dengan Waseso. Tapi demi mengetahui ada dua bocah lain yang juga bersama Waseso, pastilah tempat tinggal Waseso tidak muat. Nenek ini selain sakti, dia juga terlihat baik hati, bersih dan cantik. Kalau dia ikut menjadi murid nenek sakti ini selain nanti bisa berguru, dia juga bisa bermain sepuasnya dengan monyet kecil ini. Setelah memikirkan hal tersebut dengan singkat langsung dia menjawab;
"iya nek aku mau,...."
Disusul Kinda segera membopong si monyet dan pergi mengambil tasnya. Lalu berlari kembali mendekat ke arah nenek sakti. Baru saja sampai di depan sang nenek, mereka dikejutkan dengan suara teriakan kesakitan Waseso diseberang sungai sana. Dilihatnya kedua kakak sepupu beserta satu temannya sedang berlari ketakutan menjauh pergi, sementara dua bocah kecil juga terlihat pergi berlari sambil menangis sekuatnya. Kinda yang berlari mendekat ke arah sungai, melihat saat itu si Waseso masih berteriak kesakitan dengan keadaan telanjang dan menggelepar di tanah, sementara di sekitar atasnya terlihat berputar-putar binatang seperti tawon. Entah sejak kapan dilihatnya si nenek telah berada di dekat Waseso disebrang sana. Si nenek nampak mengebutkan tangannya sekali dan suara dengungan tawon seketika lenyap. Demi melihat satu bungkusan kain tergeletak kosong di dekat Waseso dan melihat ******** sang bocah kini membesar seperti balon, beberapa benjolan tumbuh di bawah perut dan dada si bocah, maka si nenek menyadari apa yang terjadi.
"nek,....tolong dia nek,....hikhikhik,..."
__ADS_1
Demi dilihatnya sang calon murid merengek dan menangis serta si bocah di depannya masih seperti kelojotan di bawah kakinya. Si nenek mengeluarkan pisau kecil dari pinggangnya dan;
"kressss,....."
"sungguh perbuatan anak-anak setan,.... ini kalau burung si bocah tidak ku paksa khitan, dia bakal mati tersiksa"
Demikian dia bergumam lirih.
Saat tangannya hendak menggerakkan pisaunya ke dua kali dimana sasaran yang hendak ditujunya adalah benjolan pada perut si bocah, mendadak kedua telinganya terasa bergetar.
Dia benar-benar terperanjat dan wajahnya menjadi pucat pasi demi melihat sosok yang kini berada di depannya ....dia yang sudah berilmu tinggi dan bahkan sudah malang melintang di dunia persilatan sehingga memperoleh gelar Ratu Sakti Selaksa Hutan, masih dibuat takjub oleh apa yang dilihatnya.
Seekor harimau berbulu putih polos seperti salju, bertubuh setinggi kuda dan memiliki kedua mata yang memancarkan sinar keemasan nampak sedang mendekam dan mengancam seperti hendak menerjang dirinya sambil membuka sedikit mulutnya menunjukkan empat taringnya kanan kiri serta kuku-kuku yang besar dan tajam laksana pedang terlihat keluar dari sela-sela jari kaki depan.
"Ggrrrrrrhhhhhhhhhhhh"
Suara geramnya yang sepertinya lirih namun kenyataan terasa menggetarkan gendang telinga dan jantungnya, segera membuatnya bergerak mundur secara perlahan. Setelah dirasanya aman, barulah dia terbang mendekat calon muridnya.
"bagaimana ini nek"
Demikian suara gemetar Kinda kepada calon gurunya.
"tenanglah nak,....dia adalah harimau sakti dan sepertinya dia tidak berniat jahat terhadap temanmu itu"
Baru saja si nenek selesai bicara, nampak di seberang sana sang harimau sedang berjalan menghampiri Waseso yang sepertinya telah pingsan. Pertama yang dilakukannya adalah menjilat darah yang keluar dari ujung ******** Waseso
"nyessssss"
Terdengar suara seperti jika besi panas dimasukkan ke air dingin. Tapi anehnya darah yang mengalir menjadi berhenti.
Segera si nenek menggumam;
"sungguh sakti,......makhluk dongeng,..."
Baru saja si nenek selesai, yang ditujunya nampak mengarahkan kepala dan tubuhnya ke arah guru dan murid perempuan sambil kembali menggeram seperti tidak suka diperhatikan. Ketika suara geramnya semakin gencar dan semakin keras suaranya, si nenek segera memungut tas pakaian muridnya dan memeluk pinggangnya;
"mari muridku kita pulang, kamu harus berlatih giat jika ingin bertemu lagi dengan temanmu"
Dalam sekejap mata, si nenek bersama muridnya telah menghilang dari tempat tersebut.
Adapun si harimau raksasa segera mendekati tubuh Waseso dan kembali menjilat benjolan serangan lebah pada bagian perut serta dada si bocah.
Setelah itu secepat kilat nampak dia berkelebat dan kembali dengan membawa jala ikan yang di genggamnya pada mulut, lalu meletakkan jala tersebut menyelimuti badan Waseso hingga rapat ke ujung kaki. Setelahnya dengan begitu luar biasa, si harimau sakti tersebut menggelindingkan tubuh Waseso sedemikian rupa, sehingga akhirnya seluruh tubuh si bocah terbungkus ketat oleh jala, persis seperti kepompong namun kepala si bocah nampak bebas. Dan bagian paling aneh berikutnya adalah dia menggigit bagian jala yang berada di bagian tengkuk Waseso dan membawa tubuh si bocah layaknya seperti seekor induk kucing memindahkan sang anak. Lalu;
"sretttttt,......"
Mendadak si harimau sudah menghilang. Tiada satu jejakpun yang ditinggalkan, bahkan rumput ilalang di sekitarnya juga tidak ada yang rubuh satu batang pun, apalagi jejak kaki sama sekali tidak terlihat. Benar-benar menghilang seperti siluman.
Nampaknya keinginan Waseso pergi ke Kotaraja bakalan tidak terwujud,.... setidaknya untuk saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.