
"sungguh luar biasa perjuanganmu kakek Harimau, engkau dulu telah membawaku begitu jauh hingga menyeberangi perbatasan" Waseso melakukan monolog kepada dirinya sendiri, sambil memasukkan beberapa lembar daun bahan obat-obatan ke dalam keranjang anyaman bambu yang dia ikatkan di samping pinggang kirinya. Pagi ini rombongan kecil Waseso akan melanjutkan perjalanan pengembaraan mereka. (lebih tepatnya Waseso yang di ikuti) Sementara yang lain bergiliran mandi, tetapi dirinya adalah yang paling awal siap (saat ini dia belum sadar bahwa semenjak menelan mustika, dirinya tidak pernah merasakan kantuk sama sekali, apalagi tidur, anehnya lelah maupun letih juga tidak dirasakannya). Dia telah berpamitan kepada Kinda, untuk keluar sebentar, mencari dedauan serta akar tanaman obat untuk melengkapi bekal yang dia bawa dari surga pengasingannya dulu, serta untuk mengobati keluhan penyakit yang dirasakan oleh Ni Luh. Sehabis makan malam, dia banyak mendengar penuturan yang diceritakan oleh Kinda tentang perubahan drastis kondisi negara, yang sekaligus menguatkan cerita dari pakde Surjana sekeluarga.
Dia akhirnya juga tahu, bahwa saat ini dia sudah tidak lagi berada di wilayah kekaisaran Gunumlatar namun di kekaisaran Muderakali. Oleh karena itu, dia mengaitkan informasi tersebut dengan kenangannya dulu saat digondol oleh kakek Harimau Sakti, dimana saat siuman, dia seperti merasa melewati dahan pohon-pohon besar, termasuk menyeberang sungai yang luas di tepi air terjun, dengan cara melompati batu-batu yang menonjol di tepian air terjunnya. Kenangan itulah yang membawa dirinya menggumam sendirian tadi.
Kinda juga banyak bercerita soal keadaan dunia persilatan dimasa ini, dimana di hampir semua wilayah kedua kekaisaran, di kuasai oleh partai gagak tombak. Dan menurut sumber terpercaya yang di dapat Kinda, disebutkan bahwa partai tersebut secara teknis dipegang oleh wakil ketua mereka yang berjuluk Cakar Maut Pembelah Raga. Semenjak kekuasaan partai diserahkan ke orang ini, yang dulunya adalah memegang jabatan Panglima, partai ini tumbuh dengan pesat sekali. Karena disamping ilmu silatnya sangat tinggi, dia juga mempunyai bakat dasar otak encer dan kecerdikan, sehingga si wakil ketua ini setelah menguasai dunia persilatan wilayah Gunumlatar, dia berekspansi dan berhasil melebarkan sayapnya ke wilayah kekaisaran Muderakali. Sebagai bukti kecerdikannya, dia membangkitkan patriotisme partainya yang berada baik di kekaisaran Gunumlatar dan juga demikian di kekaisaran Muderakali. Padahal faktanya, orang-orang partainya tidak pernah dia perintahkan maju ke garis depan medan peperangan. Hal itu sebenarnya dia lakukan semata-mata, untuk semakin memperuncing pertikaian antara dua kekaisaran beserta semua rakyat kedua belah pihak.
Keuntungan yang dia dapat tentunya sangatlah luar biasa, yaitu partai mereka bisa dirangkul oleh masing-masing kaisar kedua negara karena dianggap sebagai partai paling kuat dan patriotik, yang karenanya mereka memperoleh kepercayaan untuk mensuplai prajurit handal, serta mendapat pengakuan dari kaisar untuk membuka sekolah pendidikan ilmu olah kanuragan. Dimana para lulusannya nanti, akan ditempatkan menjadi penjaga keamanan kota-kota dan memperoleh gaji tetap. Tentu saja masyarakat berduit, berbondong-bondong menyekolahkan anak-anak mereka ke situ, meski biayanya diluar nalar. Karena masyarakat tersebut akan merasa bangga digolongkan sebagai anggota keluarga besar sekolah terkenal. Disamping pamor diperoleh, keamanan mereka juga didapatkan, serta masa depan anak merekapun nantinya bakal terjamin.
Bukti kelicikan berikutnya adalah, dia dipercaya kedua belah pihak kaisar untuk menyediakan atau menjual segala peralatan perang, termasuk senjata, kuda perang, dll. Semua sangatlah berjalan mulus, karena dia juga memegang hampir semua pejabat pemerintah pusat serta daerah di kedua kekaisaran. Yang menentang tentunya akan mereka hilangkan. Jadi bisa dibayangkan, betapa besarnya pengaruh dan betapa banyaknya harta yang dimiliki oleh partai gagak tombak. Bahkan sudah bukan menjadi rahasia umum, kalau masyarakat dunia persilatan menyebutkan bahwa sebenarnya, di belahan dunia timur ini bukan ada dua kekaisaran, namun ada satu lagi, yaitu kekaisaran gagak tombak, dimana yang ketiga ini adalah yang terkaya.
Adapun ketua asli mereka, tidak memperdulikan kemajuan pesat yang dicapai partainya dan tidak pernah mencampuri urusan wakilnya sama sekali. Dan konon, sang ketua tidak pernah berada menetap di satu tempat, tetapi selalu berpindah-pindah tak menentu untuk mencari kesembuhan bagi puteri satu-satunya.
Dalam kesempatan hanya mereka berdua Waseso dan Kinda, karena yang lain merasa sudah lelah dan mau tidur, Waseso juga menceritakan semua hal ikhwal dirinya dan satupun tidak ada yang tidak dia ceritakan, bahkan sampai ke jalan masuk-keluar tempat tinggalnyapun dia ceritakan. Karena pemuda ini, benar-benar merasakan keakraban antara dirinya dengan Kinda, yang menurut pengalaman meskipun anak orang kaya, namun sangat perhatian dan murah hati terhadap dirinya, yang pada saat masa bocahnya dulu menjalani penderitaan pengembaraan.
Bahkan dia merasa sangat gembira, karena Kinda meng-iya kan tawarannya untuk dolan ke surga tersembunyinya suatu saat nanti.
Setelah Waseso menyelesaikan ceritanya, Kinda juga giliran menceritakan perjalanannya berguru. Hingga bagaimana dia begitu menyukai hewan, selain ular. Serta bagaimana dia memutuskan keluar ke dunia luar semenjak kematian gurunya empat tahun yang lalu. Dan selama empat tahun tersebut, dia mengatakan telah menjelajah hampir seluruh wilayah asal negara mereka berdua, yaitu Gunumlatar. Dan katanya perjalanannya yang ini, sampai bertemu kembali dengan Waseso adalah setengah pengembaraannya di negara Muderakali. Tentunya Kinda tidak berani menceritakan, bahwa pengembaraannya malang melintang seorang diri sekian lama tersebut adalah dalam rangka mencari jejak keberadaan Harimau Siluman yang telah membawa teman semasa kecilnya dulu.
Adapun Kinda juga merasa senang luar biasa, akhirnya bertemu dengan temannya dan bahkan terlebih memperoleh kemajuan sangat pesat dengan ilmu silatnya, terutama tenaga dalamnya yang sepengetahuannya, untuk bisa mencapai tingkatnya saat ini, yaitu seperti apa yang diperolehnya dari Waseso, akan membutuhkan setidaknya empat tahun penggemblengan tenaga dalam melalui pengasingan diri.
Oleh karena itu, dia begitu kagum dengan kedahsyatan ilmu yang dimiliki temannya itu. Dalam pengembaraannya, dia telah bertemu dengan ratusan pemuda yang dianggapnya tampan (menurutnya nilai 7+) bahkan yang rupawan sekalipun (nilai 9+) dari berbagai kalangan rakyat biasa, bangsawan termasuk pendekar-pendekar muda dalam dunia persilatan. Namun tidak ada satupun diantara mereka bisa membuatnya bebas tertawa dan merasakan menjadi dirinya sendiri seperti apa yang dirasakannya terhadap teman masa kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi pemuda berwajah biasa (nilai maksimal 6+) namun berilmu sangat tinggi ini.
Konsentrasi Waseso saat memilih-milih tanaman yang dikehendakinya buyar, ketika matanya meski hanya sekilas saja melihat dua kelebat bayangan di kejauhan sana, diantara kerimbunan pohon dan semak-semak liar. Dia langsung mengintip keranjang bambunya dan dilihatnya tumpukan daun yang bercampur dengan akar-akar bahan obat telah dirasa cukup, lalu segera "sretttt,..." menghilang dan mengejar dua kelebatan tadi, yang tentunya terbangnya mereka berdua, dengan mudah terkejar bahkan tidak tahu kalau sedang dibuntuti oleh Waseso.
"hmmm,...orang-orang gagak tombak,.." sambil membatin demikian, dia terus membuntuti dengan sangat mudah. Dan baru saja selesai membatin, ternyata mereka berdua telah berhenti di area terbuka namun teduh, yaitu di bawah naungan dua batu sebesar dua ekor gajah dewasa. Mereka berdua, saat ini berdiri membelakangi Waseso dan sedang menemui sebelas laki-laki berjubah hitam dengan sulaman merah gambar gagak tombak pada dada mereka masing-masing. Dan kesebelas nya nampak berdiri dengan posisi seperti mengelilingi sesuatu yang berharga.
"silahkan pimpinan perak berdua, persembahan dari kami,...." demikian salah satu dari mereka mengeluarkan suara. Sebenarnya suara yang dikeluarkan tidak kencang, apalagi tempat mereka berkumpul lumayan jauh dengan lokasi dimana Waseso sedang mengintip. Namun, dasar ilmu Waseso lah yang kelewatan sehingga jika mereka berbisik pun akan mudah di dengarnya.
"hahahaha,.....barang bagus,...." jawab yang si sebelah kiri sambil menggeser badannya mendekat dan bergerak ke kiri, sementara yang kanan juga bergeser ke kanan, sambil juga berbicara;
"kalian semua memang tahu betul cara menyenangkan hati pimpinan,..hahaha,.."
Kini Waseso dapat melihat, bahwa mereka berdua yang dipanggil pimpinan, meski berpakaian jubah yang sama namun warna sulaman di dada berwarna perak dan Waseso akhirnya juga dapat melihat bahwa mereka semua ternyata sedang mengelilingi sebuah batu alam, yang bagian atasnya rata layaknya meja setinggi lutut orang dewasa dan diatasnya duduk selonjor dengan kedua tangannya terikat kebelakang, serta mulutnya di bebat kain, seorang wanita muda berpakaian sederhana seperti orang desa umumnya, namun paras wajahnya cantik, tubuhnya juga menarik, bahkan dua tonjolan di dadanya tidak mampu disembunyikan olehnya, meski memakai pakaian yang agak kebesaran. Mukanya menunjukkan ketakutan yang amat sangat dan kedua matanya telah sembab sampai membasahi kain yang menyumpal mulutnya. Perilaku si kedua pimpinan tadi yang setelah berceloteh, kini masing-masing tangan mereka berebutan melakukan penggeledahan pada dada si perempuan membuat Waseso murka dan berkata;
__ADS_1
"owh jadi begini ya,... cara tiga belas kunyuk gagak jika sedang berpesta"
Tentu saja kesemuanya sangat kaget dan terperanjat terutama dua orang yang baru datang. Mereka berdua adalah pimpinan pasukan yang tentunya berilmu tinggi, namun tidak bisa mendeteksi kedatangan penyusup, tentu akan mematahkan pamor mereka di depan anak-anak buahnya. Andai saja mereka mau berpikir seperti itu dan mau menyadari bahwa level mereka sebenarnya masih dibawahnya si penyusup, tentulah nasi ya tetap nasi dan tidak menjadi bubur.
Namun mereka berdua telah dibutakan oleh kemarahan, apalagi dilihatnya si penyusup itu sedang berdiri santai, menatap mereka bertiga belas.
Demi yang dilihatnya adalah hanya seorang pemuda biasa, dengan tergantung sebuah keranjang bambu di pinggangnya dan bahkan kini dengan pongahnya nampak sedang melepas tali dan meletakkan pedangnya di tanah, tentu saja membuat mereka bertiga belas geram karena :
BAGI DUA ORANG PEMIMPIN : Mereka sedang dalam posisi yang sudah terlanjur ON. Dibuktikan dengan satu gelembungan yang terbentuk pada masing-masing bagian depan celana mereka. Tentunya gangguan semacam ini akan membuatnya OFF dengan segera. Dan bagi mereka, interupsi semacam ini adalah sebuah kematian bagi si interuptor. Apalagi ditambah dengan penghinaan rasis yang menyebut mereka semua kunyuk dan melecehkan nama besar partai mereka, maka tentulah ini sudah merupakan sebuah bukti konkret yang tidak memerlukan lagi proses pembacaan tuntutan.
BAGI KESEBELAS ANGGOTA : Karena kemampuan berpikir mereka yang terbatas dan sesuai dengan posisi mereka sebagai bawahan, mereka hanya punya dua alasan untuk melakukan eksekusi, yaitu:
Mereka ingin saling berlomba dihadapan kedua pimpinan mereka untuk syukur-syukur mendapatkan kenaikan jabatan.
Mereka sudah dalam posisi ON sejak dari semalam menemukan harta karun, namun terpaksa hanya menelan ludah sampai ke dua pimpinan mereka mencicipi dan berharap memperoleh sisa hasil jerih payah mereka. Lha kok kini tiba-tiba ada datang orang lain yang juga ingin bergabung atau malah lebih parah menyalip mereka bersebelas?
Tentu saja atas alasan semua itu mereka secara serentak langsung maju bersama. Dan setelah mendapat kode dari pimpinan berdua, agar tidak lagi berlaku segan dan mempercepat tujuan, maka dengan mengerahkan, tidak tanggung-tanggung lagi yaitu seluruh ilmu tenaga dalam mereka masing-masing, langsung menghantam si pemuda :
Wanita yang tadi hendak dijadikan korban dan saat ini masih dalam posisi duduk terikat, pasti berani bersumpah, bahwa di tempat terkutuk tersebut tadi, ada lima belas orang,... yaitu dirinya dan pemuda yang sepertinya hendak menolongnya dan tiga belas orang penjahat. Namun yang dia lihat sekarang, terutama setelah suara ledakan, kenapa tinggal tersisa hanya dirinya dan si pemuda, ditambah debu-debu yang bertaburan terbawa angin ?
Waseso berdiri pucat melihat hasil seperempat tenaga yang dikeluarkannya tadi, meski awalnya sempat ragu dan ingin menambahkan kekuatannya karena dipikirnya tiga belas musuh sekaligus yang dihadapi, tapi terlambat baginya untuk memberi tambahan karena keburu merasakan angin pukulan telah datang menerpa.
Lama sekali dia terdiam dan berdiri seolah terpaku. Dia merasa seharusnya hatinya bergembira karena telah menegakkan keadilan, namun dia heran kenapa tidak ada sedikitpun rasa bangga apalagi senang dengan hasil yang dilihatnya, karena tidak kah itu sama saja dengan dia telah membalaskan kematian ayah ibunya ?.... Namun kini yang dirasakannya, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan perasaan saat melihat bagaimana bude Surjana sujud bersimpuh di depannya ketika dia telah siuman dari pingsannya kemarin ??.... atau saat melihat tiga orang sekeluarga berangkulan sambil bertangisan, hanya karena satu kata yang diucapkannya kemarin "boleh".
Waseso benar-benar seperti sedang berada di bawah alam sadar namun mendadak dikagetkan dengan tepukan di lengan kirinya, bersamaan dengan suara;
"dik,...adik Waseso,...dik,...." Ketika disampingnya kini berdiri Kang Aji, serta juga dilihatnya di depan sana, si gadis sedang menatap mereka berdua dengan ketakutan. Maka segera dia memungut pedangnya dan kembali mengikatnya di punggung serta terbang mendekati si gadis, membuka ikatan pada kedua tangan juga sumpalan kain pada mulutnya, agar si gadis tersebut tidak menuduh mereka sebagai pengganti peran mereka yang sudah dibuatnya melayang-layang terbawa angin tadi. Maka secepat kilat dia membopong tubuh gadis tersebut di pundak kanannya dan "sretttttt,..." sekaligus merangkul pinggang Kang Aji dengan tangan kirinya, lalu secepat kilat terbang membawa mereka berdua.
Dengan berjalan santai disamping si pemuda namun mereka berdua hanya diam membisu,.... Kinda sedang bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap temannya ini. Karena semenjak Waseso kembali dari mencari bahan obat, hingga disusul Kang Aji dan pulangnya pun mereka membawa seorang gadis yang selalu menangis sedih dan belum bisa memberikan keterangan secara jelas dan detail. Meski Kinda mengambil kesimpulan bahwa gadis itu sepertinya telah di tolong oleh temannya, tapi kenapa sejak berangkat tadi, Waseso seperti orang yang sedang menanggung pikiran berat ?. Sudah begitu kalau diajak bicara, jawabannya pun hanya pendek-pendek. Demi di tengok ke belakang ke arah pedati yang kini ditarik oleh kudanya, dimana dilihatnya si gadis terlihat sudah tenang dan seperti akan bercerita kepada Kak Ni Luh dan pakde, bude Surjana yang juga duduk bersamanya didalam pedati, maka Kinda berjongkok seolah-olah akan memperbaiki tali kasutnya, padahal dia hanya berpura-pura dan begitu pedati melewatinya dia segera berjalan dibelakang pedati di samping Kang Aji yang juga berjalan sambil menuntun sapi perahnya, ikut mendengarkan penuturan gadis tersebut.
__ADS_1
Pada bagian dimana gadis tersebut menceritakan ciri-ciri ke tiga belas penjahat dengan dua diantara mereka adalah memakai tanda sulam warna perak dan secara sekaligus bersamaan menyerang sang dewa penolongnya, tetapi berubah menjadi abu beterbangan hanya dalam satu gebrakan, tentu saja pada bagian tersebut, membuat Kinda tidak bisa segera menutup kembali mulutnya yang secara otomatis terbuka bengong, sambil berhenti diam di tengah jalan dan tidak mendengarkan sisa penuturan si gadis sampai selesai.
"sungguh lihai si sedeng ini" demikian gumamnya dan segera terbang kembali ke depan menyusul kawannya.
Begitu kembali berada di samping temannya, namun dilihatnya yang bersangkutan masih jalan dengan tatapan kosongnya, maka Kinda berkata;
"apakah aku ada berbuat salah padamu?"
Demi mendengar suara kawannya yang menemaninya berjalan, dia menoleh dan melihat ada raut kesungguhan dari pertanyaan itu. Maka segera dia tersenyum kecut, lalu menjawab;
"aku hanya larut dalam pikiranku saja,... dan aku baru mulai menyadari kenapa ibuku dulu memintaku berjanji untuk menjadi orang yang berguna dan bukannya memintaku untuk membalaskan dendam"
Mendengar perkataan tersebut, Kinda mencernanya ke dalam otak dan mulai bisa merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Waseso. Dan entah mengapa, dia tidak tahu pasti namun sejak mendengar kalimat tersebut hatinya mulai tergores oleh satu percikan api asmara selayaknya wanita dewasa.
Lama mereka terdiam, lalu ketika Kinda menoleh kebelakang mendadak dia punya ide cemerlang;
"jika saja tadi engkau berbicara baik-baik dengan para penjahat yang sudah sangat keji, membunuh kedua orang tua gadis itu, setelah itu menculiknya dan membujuk mereka untuk tidak memperkosa dia, apakah akan di dengarkan?,.....cobalah engkau tengok di belakangmu sekarang,.... dan betapa bahagianya pakde, bude serta Kakak Ni Luh melihat gadis itu sekarang mau makan,...? menurutmu apakah tindakan yang kau lakukan tidak berguna bagi orang lain,...?"
Dan benar saja,...Waseso menoleh ke belakang sebentar. Diam,.... Lalu dia mengatakan suatu pertanyaan yang selama ini menganggunya sejak saat pertama kali melihat Kinda beberapa hari yang lalu;
"ada apa dengan tubuhmu?,...masakan badan dan lengan besar tapi kepala, leher dan tanganmu kecil,...."
Kinda segera sadar akan sesuatu dan juga sepertinya si pemuda sudah mulai kembali normal sebagaimana yang dikenalnya;
"biarin,...daripada kamu ?...sedengnya hilang, tapi malahan cara jalanmu yang aneh ?,..."
"ahh,...enggak lah biasa saja" si pemuda cengar-cengir dan sekuat mungkin berusaha berjalan normal. Dalam batinnya berkata ;
"ini mungkin karena aku tidak terbiasa memakai celana"
Padahal bukan itu yang terjadi.... Waseso adalah seorang bocah yang tumbuh dengan keadaan kurang gizi serta nutrisi, akibat tekanan kehidupan yang dialami keluarganya di desa. Sebenarnya kedua orang tuanya, telah berupaya sebisa mungkin, namun akibat ancaman keselamatan yang selalu datang mendera desa mereka, sehingga prioritas kebutuhan makan sekedar kenyang lah yang diutamakan. Belum lagi di usianya yang baru delapan tahun, dia sudah harus memgembara seorang diri dan akhirnya pada usia sepuluh tahun, pertama kalinya bertemu dengan Kinda yang baru berusia tujuh tahun, tinggi badan mereka hampir sama, dan waktu itu Waseso sempat mengira bahwa mereka adalah sebaya.
Dengan menelan mustika, dimana efek perubahan yang langsung dirasakan oleh tubuhnya selain sedengnya hilang, tubuh terutama tulang-tulangnya secara ajaib juga memposisikannya ke dalam tubuh selayaknya bocah normal seusianya yang cukup gizi dan nutrisi, dalam kasus Waseso ini malahan kelebihan. Juga selain itu termasuk menarik tulang rawan burungnya. Padahal saat itu kondisi burungnya sedang bengkak akibat sengatan lebah dan proses pengecilan atau kesembuhan ke ukuran normal yang mestinya akan terjadi secara alami di potong kompas oleh jilatan Harimau Sakti, sehingga membuatnya dalam posisi tetap bengkak meski sudah sembuh,...ditambah lagi dengan dorongan efek mustika. Kalau menggunakan istilah medis, mestinya di usianya sekarang secara genetik & normal, size dia mestinya "Medium Large",... tapi karena campur tangan berbagai hal diatas naik 3 tingkat langsung,... menjadi XXL,... Makanya tentu saja, betapa susahnya dia berjalan padahal dalam kondisi tidur, mengingat dia harus menjaga agar belalainya tidak tercetak dari luar bergelantungan. Padahal usaha yang dia lakukan sebenarnya cukup kreatif, yaitu dua stel celana bekas pemberian Kang Aji, dipakainya sekaligus alias rangkap, alias dobel, namun tetap saja dia merasa risih sehingga mempengaruhi cara jalannya yang kadang-kadang terlihat kedua ujung kakinya secara bergantian seperti menendang udara kosong,......dan itulah yang dilihat oleh Kinda, sehingga dia menanyakan atau lebih tepatnya mengolok-olok Waseso tanpa lebih dulu melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.