Pendekar Penakhluk Surga

Pendekar Penakhluk Surga
Chapter 1 : Sampah Sekte Seribu Bintang


__ADS_3

Chapter 1 : Sampah Sekte Seribu Bintang.


Langit biru yang membentang terlihat sangat indah dengan diiringi sinar dari matahari yang menyinari seluruh belahan dunia ini untuk menyebarkan setiap harapan pada setiap makhluk yang hidup.


Kekaisaran Liu, adalah kekaisaran yang terletak di benua Rasi Bintang, benua yang berada pada posisi paling bawah dari benua-benua yang lainnya.


Benua Rasi Bintang terbagi menjadi 3 wilayah, yang setiap wilayahnya terdapat sebuah kekaisaran yang memerintah sekaligus mengolah wilayah yang telah menjadi bagiannya. Kekaisaran itu terdapat: Kekaisaran Wei, yang memerintah wilayah bagian Barat. Kekaisaran Xiao, yang memerintah wilayah bagian Selatan. Dan yang terakhir adalah Kekaisaran Liu, yang memerintah wilayah bagian Utara.


Para Kaisar dari Kekaisaran yang berbeda dulunya hidup rukun dan makmur, namun dengan seiring bertambah pesatnya perkembangan para jenius yang lahir dari setiap Kekaisaran yang ada, membuat persaingan antar Kekaisaran semakin bertambah.


Setiap dua tahun sekali, ketiga Kekaisaran itu sepakat untuk mengadakan kompetisi yang bertujuan untuk meningkatkan reputasi disetiap Kekaisaran yang ada, dengan banyaknya perkembangan zaman Kultivator yang semakin berjaya, maka semakin banyak pula para pemimpin benua lain yang akan datang ke benua Rasi Bintang untuk mengambil para jenius dan menuntunnya menuju jalan kekuasaan.


Kekaisaran Liu membentang dari semenanjung Utara sampai Selatan, dari selatan menuju ke barat, yang berbatasan langsung dengan Kekaisaran Xiao di bagian selatan, sedangkan Kekaisaran Wei dibagian barat.


Kekaisaran Liu juga dapat dibilang Kekaisaran yang sangat makmur, dengan dianugerahi kualitas tanah yang sangat subur dan juga aliran energi Qi yang sangat murni, membuat banyak sekali Kultivator yang berasal dari Kekaisaran tersebut.


Kekaisaran Liu dipimpin oleh seorang Kaisar bernama Liu Yang Shin, seorang Kaisar yang sangat bijaksana, yang mampu mengubah nasib Kekaisaran Liu yang dulunya sangat miskin, menjadi sangat makmur seperti sekarang.


Di berbagai wilayah Kekaisaran Liu, terdapat banyak sekali Sekte-Sekte yang menjunjung tinggi alirannya masing-masing, yakni aliran putih, netral dan juga hitam. Namun Sekte-Sekte yang menganut aliran hitam, berada jauh dari wilayah Sekte-Sekte yang memiliki aliran putih maupun netral, fakta itulah yang membuat Sekte-Sekte aliran hitam menjadi terkucilkan dikalangan masyarakat.


Sekte aliran putih lebih mendominasi wilayah yang ada di Kekaisaran Liu, yang membuat rata-rata Kultivator yang ada di Kekaisaran Liu menganut aliran putih. Namun itu tidak menutup kemungkinan, jika ada beberapa Kultivator aliran hitam yang tengah berkeliaran di sekitar Kekaisaran Liu untuk mencari murid yang akan meneruskan tujuan Sektenya.


Sekte Seribu Bintang, adalah Sekte besar yang menganut aliran putih dan menjadi Sekte aliran putih terbesar di seluruh Kekaisaran Liu. Namun, aliran putih juga tidak berarti bahwa Sekte itu sepenuhnya suci. Masyarakat memandang sisi luar dari Sekte Seribu Bintang, tanpa melihat sisi dalamnya yang ternyata sangat mengejutkan. Sebuah Sekte aliran putih terbesar, yang ternyata tengah menyembunyikan sebuah kebenaran yang sangat tragis sekaligus menyedihkan didalamnya.


 


...----------------...


"Hei, Zhao Feng! Sedang apa kau disini?! Apakah kau masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa kau itu hanyalah seorang sampah, tidak lebih daripada itu!" Terdengar suara hinaan seseorang yang terdengar sangat menyakitkan bagi hati orang yang dituju.


Nampak seorang pemuda yang berusia kira-kira 15 tahun, tengah berdiri dengan raut wajah sinis sekaligus jijik. Pemuda itu tengah berdiri disini bersama dengan teman-temannya hanya untuk satu tujuan, yaitu merendahkan seseorang yang telah lama mendapatkan julukan sebagai 'Sampah Sekte'.


Sedangkan tak jauh dari pemuda itu, nampak seorang pemuda yang tengah berlatih dengan penuh rasa semangat. Ia tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh pemuda itu barusan, sebab ia memiliki sebuah keyakinan, jika hidupnya adalah miliknya, tak peduli apa yang orang katakan padanya, itu tidak akan mengubah apapun dalam takdirnya. Ia percaya bahwa satu-satunya perubahan terhadap nasibnya yang menyedihkan ini berasal darinya sendiri, oleh sebab itu ia terus melakukan latihan meskipun telah mengetahui hasilnya.


Pemuda itu tak lain adalah Zhao Feng, seorang pemuda yang berasal dari Sekte Seribu Bintang, Sekte aliran putih terbesar yang ada di Kekaisaran Liu. Bakatnya yang sangat buruk dalam menjadi seorang Kultivator membuatnya selalu dihina setiap saat oleh para murid-murid sebayanya, kendati demikian, ia terus saja berlatih tanpa menghiraukan berbagai cercaan, hinaan dan juga makian yang semakin lama semakin terasa sangat sakit di hatinya.


"Oi, sampah! Berani-beraninya kau menghiraukan diriku!"


Pemuda itu kembali berkata dengan suara yang terdengar sangat kesal, sebab hinaannya tak dihiraukan sama sekali oleh Zhao Feng, sampah Sekte Seribu Bintang, yang tengah berdiri tak jauh darinya.


Mendengar ucapan dari pemuda itu, perlahan Zhao Feng menghentikan latihannya. Ia menghela nafas panjang dan perlahan berbalik menatap pemuda yang tengah berdiri tak jauh darinya itu dengan tatapan tajam, sebab pemuda itulah yang selalu saja membuat dirinya mendengar hinaan sekaligus cacian dari para murid-murid Sekte Seribu Bintang yang lain.

__ADS_1


"Ada apa? Jika kau hanya ingin menghina diriku, maaf. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan hinaanmu yang sangat tidak berguna itu."


Zhao Feng berkata dengan acuh sembari menatap pemuda dihadapannya itu dengan tatapan tajam, yang sontak membuat pemuda itu tersulut emosi saat melihat sampah itu tengah menghina dirinya.


"Dasar sampah! Cari mati!"


Pemuda itu berteriak dengan sangat keras, dan dengan cepat pemuda itu melesat ke arah Zhao Feng dengan rasa murka yang membara-bara.


Zhao Feng juga telah menyadari bahwa hal ini akan terjadi padanya, oleh dengan itu, ia juga bersiap untuk segala kemungkinan yang akan ia tanggung kedepannya.


Dengan sekejap mata, pemuda itu tengah berada dihadapannya, yang membuat Zhao Feng sangat terkejut. Dengan sangat cepat, pemuda itu melayangkan sebuah tinju tepat kearah pipi sebelah kanannya. Namun Zhao Feng tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi, dengan memusatkan seluruh Qi yang ada pada Dantiannya menuju lengan kanannya melalui Meridian nya, ia mencoba untuk memblokir serangan yang tengah tertuju padanya.


Alhasil ledakan Qi terjadi saat kedua pemuda itu telah berhasil bertukar serangan. Namun salah satu pihak tengah mengalami luka yang cukup parah, pemuda itu terlempar menabrak tembok dengan sangat keras, dengan lengan kanannya yang telah patah.


"Dasar sampah! Inilah yang terjadi jika kau berani meremehkan diriku."


Pemuda itu berkata dengan penuh rasa jijik, ia menatap Zhao Feng yang tengah terkulai di tanah tengah sinis, seolah-olah melawan Zhao Feng adalah perkara yang sangat mudah baginya.


Berbeda dengan Zhao Feng, ia kini tengah merasakan rasa sakit yang teramat sangat di seluruh tubuhnya, yang bahkan melebihi rasa sakit yang ia rasakan pada lengan kanannya yang telah patah.


Rasa sakit itu berasal dari lonjakan Qi yang sangat tidak beraturan di dalam tubuhnya, yang membuatnya hampir tak sadarkan diri. Namun dengan tekad yang sangat kuat, ia menahan seluruh rasa sakit itu, sebab dirinya yakin bahwa rasa sakit ini tidak akan ada apa-apanya dibandingkan hidup selamanya dengan penuh hinaan sekaligus cacian yang harus ia tanggung.


"Heh! Ingin bangkit lagi? Maka aku tidak punya pilihan lain lagi selain membuatmu harus terjatuh selama sisa hidupmu!"


Zhao Feng kembali berdiri dengan terhuyung-huyung, wajahnya juga nampak mulai memucat, pertanda bahwa rasa sakit yang dialaminya telah menimbulkan luka yang fatal bagi tubuhnya. Namun itu semua tidak mampu untuk menjatuhkan semangat sekaligus harga diri yang selama ini dijunjungnya dengan sangat tinggi, ia tidak peduli jika ia akan mati, sebab harga diri lebih penting daripada hidupnya. Itulah pemikiran yang selama ini dijunjungnya dengan penuh rasa kebanggaan.


"Sampah! Rasakan kematianmu!"


Pemuda itu kembali tersulut emosi saat melihat Zhao Feng yang tengah tersenyum sinis kearahnya, dengan menggunakan kekuatan penuhnya, ia akan melenyapkan sampah Sekte Seribu Bintang untuk selama-lamanya.


Sontak saja kedua lengan pemuda itu diselimuti oleh cahaya merah yang bersinar dengan sangat pekat, ia telah lama mempelajari teknik yang diajarkan oleh ayahnya, dan dengan ini, ia akan mencoba untuk menguji hasil latihannya kepada Zhao Feng.


"Tinju Jiwa Membara!"


Melihat serangan yang semakin mendekatinya, membuat Zhao Feng memasang senyuman ringan. Ia telah menduga bahwa ini akan terjadi, semenjak kejadian itu. Kejadian yang sangat tak diduga-duga olehnya, yang membuatnya harus kehilangan segalanya.


Namun saat serangan itu hendak mengenai tubuh Zhao Feng, tiba-tiba saja muncul sekelebat bayangan di depan Zhao Feng dan memblokir seluruh serangan yang dilancarkan oleh pemuda itu.


Sontak saja, pemuda tersebut seketika dikirim terbang menjauh setelah serangannya berhasil diblokir secara penuh oleh sesosok yang tiba-tiba saja muncul dan mengacaukan seluruh rencananya.


Debu berterbangan, yang menutupi sosok dari orang yang telah menyelamatkannya, membuat kebingungan semakin melanda pikiran dari Zhao Feng.

__ADS_1


"Berani-beraninya kau menganggu adikku! Akulah lawanmu, Shin Hye!"


Sesosok itu berteriak dengan sangat dingin, yang mampu membuat debu yang berterbangan menghilang dalam sekejap mata.


Kini Zhao Feng dapat untuk melihat siapa sosok yang telah menyelamatkan hidupnya, sesosok pemuda yang sangat ia teladani, yaitu Zhao Yuan, kakak yang selalu saja membelanya pada kondisi apapun.


"Feng Gege!"


Terdengar suara teriakan seorang gadis yang berasal dari arah belakangnya, Zhao Feng perlahan membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang gadis yang sangat cantik tengah berlari kearahnya.


"Kakak Feng! Maaf aku datang terlambat untukmu!"


Gadis itu menatap kearah Zhao Feng dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan, seolah-olah air mata bisa saja kapanpun tertumpah dari kedua matanya yang sangat cantik.


"Zhao Lin, terimakasih! Jangan menangis, kamu akan kehilangan seluruh kecantikan mu jika dirimu menangis..."


Zhao Feng berkata dengan sangat tulus, ia mengelus lembut pipi gadis dihadapannya itu dengan lembut. Gadis dihadapannya itu adalah Zhao Lin, adik dari Zhao Feng. Sesosok gadis yang sangat cantik, yang selalu saja menemaninya dalam kondisi apapun. Baik itu sedih maupun senang.


Zhao Yuan menatap kedua adiknya itu dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan, ia sangat sedih saat melihat penderitaan yang selalu dialami oleh Zhao Feng.


Zhao Yuan perlahan menghela nafas panjang, dan beralih menatap Shin Hye dengan tatapan yang sangat dingin, sebab dirinya tahu bahwa pemuda itulah yang menyebabkan penderitaan yang selalu saja dialami oleh Zhao Feng.


Merasakan tatapan dingin yang tertuju kepadanya, membuat tubuh Shin Hye bergetar dengan sangat hebat. Ia tahu bahwa Zhao Yuan adalah salah satu murid jenius yang dimiliki oleh Sekte Seribu Bintang, bahkan murid jenius nomor satu di Sekte Seribu Bintang saja akan berpikir dua kali untuk melawan Zhao Yuan, kakak dari Zhao Feng dan juga Zhao Lin.


"Se-senior! Kami mohon maaf untuk kesalahan yang barusan kami buat! Tolong! Biarkan kami pergi!"


Salah satu teman dari Shin Hye segera bersujud dihadapan Zhao Yuan, sebab saat ini masa depannya ada di tangan Zhao Yuan. Lebih baik memohon ampun daripada harus kehilangan bakat seorang Kultivator yang sangat ia dambakan itu.


Zhao Yuan mendengus dingin setelah melihat serta mendengar permohonan maaf dari pemuda dihadapannya itu. Mereka semua telah membuat adiknya sangat menderita, penderitaan Zhao Feng juga adalah penderitaannya, maka ia tidak akan bisa membiarkan para pengacau ini untuk pergi begitu saja.


"Dasar sampah! Seharusnya yang menjadi sampah adalah kalian, yang hanya tahu untuk membuat murid yang jauh lebih lemah dari kalian menderita!"


Zhao Yuan berkata dengan sangat dingin, dan dengan secepat kilat, ia menendang dada pemuda dihadapannya itu dengan sangat keras. Ia tidak akan menaruh rasa kasihan terhadap orang-orang yang hanya bisa menindas orang yang jauh lebih lemah daripada mereka.


Lantas saja pemuda itu dikirim terbang menabrak tembok dengan sangat keras, pemuda itu seketika terbatuk darah dan langsung kehilangan kesadarannya.


Setelah melihat betapa mudahnya Zhao Yuan untuk memberikan pelajaran kepada salah satu temannya, membuat Shin Hye bergetar dengan sangat ketakutan.


Setelah berhasil memberikan pelajaran kepada salah satu antek-antek dari Shin Hye, Zhao Yuan perlahan berjalan mendekati Shin Hye yang masih tergeletak di atas tanah dengan raut wajah yang pucat karena sangat ketakutan.


Setiap langkah yang diambil oleh Zhao Yuan, membuat rasa takut didalam diri Shin Hye semakin besar. Rasanya ia ingin untuk berlari sekencang mungkin, namun untuk berdiri saja sudah tidak bisa, apalagi berlari. Kini ia harus menghadapi resiko yang sangat ia tidak duga-duga akan terjadi kepadanya.

__ADS_1



__ADS_2