
Chapter 2.
Zhao Yuan mencekik leher Shin Hye dan mengangkatnya ke atas, ia tidak akan menunjukkan rasa kasihan sedikitpun, para penindas ini sangat layak untuk mendapatkan pelajaran agar tidak mengulanginya lagi untuk selama hidupnya.
"Z-Zhao Yuan! A-ayahku tidak akan bisa membiarkan ini terjadi!"
Di sela-sela nafasnya yang mulai melemah, Shin Hye berkata dengan suara yang sangat ketakutan sekaligus putus asa. Satu-satunya penyelamatnya adalah ayahnya sendiri, Shin Mo, tetua pertama Sekte Seribu Bintang.
"Zhao Yuan!"
Baru saja Shin Hye selesai menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang berasal dari arah belakangnya. Zhao Yuan nampak sedikit terkejut, ternyata orang tua ini begitu sangat sigap dalam bertindak.
"A-ayah! Tolong selamatkan aku! Se-senior Zhao Yuan akan membunuhku!"
Melihat ayahnya yang baru saja datang, Shin Hye segera meminta pertolongan, seolah-olah sang dewa agung baru saja datang kemari. Sedangkan Shin Mo yang melihat anaknya sudah hampir kehabisan nafas, menjadi sangat murka akan tindakan yang dilakukan oleh Zhao Yuan pada anaknya.
Zhao Yuan dengan cepat membanting tubuh Shin Hye ke tanah dengan sangat keras, sampai-sampai tanah yang terkena tubuh Shin Hye telah hancur berkeping-keping.
Sontak saja apa yang dilakukan oleh Zhao Yuan membuat sang tetua pertama menjadi sangat murka, kini ia akan membunuh Zhao Yuan, meskipun dia adalah salah satu jenius yang dimiliki oleh Sekte Seribu Bintang.
Kedua tangan tetua Shin Mo perlahan mengeluarkan cahaya merah pekat, yang mampu membuat Zhao Feng dan juga Zhao Lin sesak nafas.
Begitu juga dengan Zhao Yuan, ia merasakan sesak nafas yang teramat di dadanya. Namun ia tidak akan mundur, ia akan bertarung sekuat mungkin untuk melawan tetua Shin Mo yang ada dihadapannya, meskipun ia tahu bahwa ranah Kultivasi orang tua itu jauh berada diatasnya.
Dan dengan satu hentakan kaki, tetua Shin Mo telah ada dihadapan Zhao Yuan, yang membuat pemuda tersebut merasa sangat terkejut sekaligus gelagapan saat baru saja menyadari bahwa musuhnya telah ada dihadapannya.
"Hancurlah!"
Tetua Shin Mo segera melayangkan tinjunya kearah wajah Zhao Yuan yang masih nampak terkejut. Pertahanan dari Zhao Yuan telah terbuka dengan sangat lebar, yang membuat serangan dari musuhnya dapat mengenainya dengan sangat fatal.
Namun saat tinju dari tetua Shin Mo akan mengenai wajah dari Zhao Yuan, tiba-tiba saja sesosok pria menahan tinju itu dengan tangan kosong.
Debu berterbangan, lonjakan Qi yang sangat besar terasa disepenjuru tempat bertarungnya Zhao Yuan melawan tetua pertama Shin Mo. Tetua Shin Mo yang merasakan ada kekuatan besar yang ada dihadapannya, memilih untuk terbang mundur, agar ia tidak mendapatkan serangan yang sangat tidak ia inginkan.
"Tetua pertama, ini adalah pertarungan antar para pemuda. Kita yang sudah tua ini, tidak perlu ikut campur lagi."
Terdengar suara orang tua yang penuh dengan kewibawaan, yang membuat ketiga Zhao bersaudara itu terkagum-kagum. Namun berbeda dengan tetua Shin Mo, wajahnya seketika berubah menjadi jelek, sebab ia telah mengetahui sesosok yang telah membantu Zhao Yuan.
"Tetua agung..."
Dengan rasa yang sangat jengkel sebab telah gagal memberi pelajaran kepada Zhao Yuan, dengan berat hati tetua Shin Mo menundukkan badannya dihadapan Tetua Agung yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Debu perlahan menghilang, dan menunjukkan seorang pria tua yang mengenakan baju putih, dengan motif awan emas yang ada di punggung serta lengannya, tak salah lagi, itu adalah baju dari tetua agung Sekte Seribu Bintang!
Lantas saja ketiga Zhao bersaudara itu berlutut setelah melihat sesosok yang telah membantu mereka. Itu adalah Tetua Agung Sekte Seribu Bintang, Lio Jin Wei.
Lio Jin Wei nampak tersenyum lembut saat melihat betapa sopannya dua pemuda serta satu gadis yang tengah berlutut dihadapannya. Ia nampak sangat puas akan didikan dari tetua kedua, Zhao Yun, teman sekaligus rekan yang setia membantunya dalam membangun Sekte Seribu Bintang.
"Bangunlah!"
Lio Jin Wei berkata dengan penuh kelembutan, yang mengandung rasa kasih sayang yang sangat besar. Mendengar perkataan dari Tetua Agung, membuat ketiga Zhao bersaudara itu kembali berdiri.
"Kembalilah, akan ada turnamen antar Sekte sebentar lagi. Pergilah berlatih dan buat nama Sekte Seribu Bintang menjadi lebih besar lagi."
Lio Jin Wei tahu jika Zhao Yuan tengah berada dalam masalah bersama dengan Tetua Pertama, oleh sebab itu ia menyuruh mereka pergi agar dapat lepas dari cengkeraman tetua pertama yang terkenal dengan kekejamannya itu.
Jujur saja, Lio Jin Wei sangat prihatin dengan kondisi dari Zhao Feng yang begitu sangat menderita. Ingin sekali rasanya ia membantu keadaan dari Zhao Feng, namun kekuatan sekaligus posisinya yang hampir jatuh membuatnya harus berdiam diri saat melihat itu semua. Jika saja kekuatannya kembali seperti semula, maka sudah lama dia akan memberikan pelajaran kepada orang tua kejam tersebut.
Melihat ketiga Zhao bersaudara telah berjalan pergi, Lio Jin Wei terbatuk dan menatap tetua Shin Mo disampingnya dengan senyuman ringan.
"Ehem... Tetua Shin Mo, biarlah ini berlalu. Namun jika ini terulang lagi, maka aku akan menghukum putramu sekaligus Zhao Yuan. Sebab pertandingan diluar kesepakatan merupakan larangan dalam Sekte ini!"
Meskipun ranah Kultivasi nya berada di bawah Tetua Shin Mo, bukan berarti bahwa dirinya akan berdiam diri setelah melihat larangan Sekte yang begitu mudahnya dilanggar oleh bocah-bocah ingusan ini.
"Baik, Tetua Agung. Aku akan memberi pelajaran kepada anak ini agar tidak mengulanginya lagi."
"Baiklah, Tetua Agung. Kami berdua akan pergi."
Tetua Shin Mo menundukkan kepalanya dihadapan Tetua Agung, namun yang tak Tetua Agung sadari, bahwa didalam diri Tetua Shin Mo, terdapat sebuah rahasia yang akan menggemparkan seluruh penjuru Sekte Seribu Bintang jika itu sampai terungkap.
Setelah melakukan hal itu, Tetua Shin Mo pergi dari hadapan Tetua Agung dengan membawa putranya yang telah jatuh pingsan.
Melihat semua kenyataan ini, membuat hati dari Tetua Agung terasa seperti diiris pisau tajam. Bagaimana bisa Sekte yang terkenal akan aliran putihnya dapat berbuat keji seperti ini, memikirkannya kembali saja membuatnya merasa serba salah. Ia hanya bisa menghela nafas panjang sembari menyerahkan semuanya kepada takdir yang akan menjadi satu-satunya penyelamat bagi Zhao Feng.
...----------------...
Berganti di kediaman Tetua Kedua, Zhao Yun, nampak bahwa Zhao Feng tengah terduduk di atas tempat tidurnya dengan lengan kanannya yang telah diperban.
Setelah mendapatkan pertolongan pertama dari Zhao Yuan dan juga Zhao Lin, saat ini Zhao Feng hanya bisa duduk termenung sembari meratapi nasibnya yang menyedihkan.
Bagaimana bisa? Hidupnya yang dulu penuh dengan pujian, sekarang berganti dengan penuh cacian. Dulunya dia adalah jenius dari Sekte Seribu Bintang, dengan usianya yang masih berumur 7 tahun, ia dapat mencapai ranah Pengembang Qi tingkat 5. Sangat jenius, sampai-sampai Kaisar Liu Yang Shin datang sendiri untuk melihat bakatnya.
Bakat yang sangat jarang terjadi, dimiliki oleh Zhao Feng. Yang membuat nama dari Sekte Seribu Bintang membumbung tinggi ke langit. Bahkan sang Kaisar terkagum-kagum saat melihat bakat Zhao Feng, ia yakin bahwa kelak Zhao Feng kecil akan membawa perubahan besar di atas benua Rasi Bintang ini.
__ADS_1
Bahkan ia sampai dijodohkan oleh sang Kaisar untuk menjadi pasangan dari putrinya, Liu Yun Ming, putri tunggal yang dimiliki oleh sang Kaisar.
Saat pertama kali bertemu dengan tunangannya, gadis kecil itu sangat membenci pertunangannya bersama dengan Zhao Feng. Tetapi, semakin banyak waktu yang dihabiskan oleh keduanya, mampu untuk mengubah kebencian dari Liu Yun Ming menjadi rasa sayang sekaligus cinta yang besar.
Namun itu semua hanyalah tinggal kenangan yang begitu sangat indah baginya, sebuah kenangan yang tidak akan bisa ia lupakan selama sisa hidupnya.
Saat Zhao Feng hampir menitikkan air matanya setelah mengingat semua kenangan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan seorang pria paruh baya yang langsung menerobos masuk.
"Zhao Feng! Apa yang terjadi? Siapa yang telah berbuat ini kepadamu?"
Berbagai pertanyaan harus didengarkan oleh Zhao Feng saat pria paruh baya itu telah berada dihadapannya. Pria paruh baya itu adalah ayah angkatnya, Zhao Yun, yang selama ini selalu merawatnya sampai seperti sekarang.
"Tidak apa, ayah. Itu bukan siapa-siapa..."
Zhao Yun menghela nafas panjang setelah mendengar balasan dari putranya itu, jawaban yang sama saat ia melontarkan pertanyaan yang sama kepada putranya itu.
"Baiklah. Telan pil ini."
Zhao Yun memberikan satu botol kecil yang telah terisi oleh Pil Penyembuh Level 1. Zhao Feng yang tengah menggenggam botol itu, tak kuasa untuk membendung air mata yang selama ini dia tahan.
Saat orang-orang sangat membenci dirinya, Tetua Zhao Yun lah yang selalu memberinya rasa kasih sayang yang tak mampu ia balas. Sungguh ia merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan manusia sebaik ayah angkatnya ini.
"Jangan menangis, Zhao Feng. Siapa yang melakukan ini kepadamu? Katakanlah."
Zhao Yun memeluk tubuh putranya itu dengan sangat erat, seolah-olah dirinya ikut larut dalam kesedihan mendalam yang telah dialami oleh Zhao Feng.
Posisinya sebagai wakil Tetua Agung membuatnya harus berkerja di dalam gedung Tetua Agung, yang membuatnya tidak tahu menahu apa yang terjadi di luar Sekte, sekaligus nasib putranya yang sangat menderita ini.
"Tidak apa-apa, Ayah. Kakak Zhao Yuan telah menghajar orang itu agar ia tidak akan mengulanginya lagi..."
Zhao Feng membalas dengan senyuman lebar, seolah-olah penderitaannya itu tidak berarti apa-apa baginya. Zhao Yun yang melihat hal itu terkagum akan semangat Zhao Feng dan juga sifat pantang menyerahnya. Melihat hal itu seolah-olah dirinya tengah melihat orang yang sangat ia teladani, seseorang yang telah membawa perubahan besar kepada Sekte Seribu Bintang.
"Ayah...? Ayah...?"
Zhao Yun sontak terkejut saat tersadar dari lamunannya, ia nampak tersenyum ringan saat melihat sifat alami dari orang yang ia teladani, ada pada tubuh Zhao Feng, putranya.
"Tidak... Bersiap-siaplah, setelah ini kita akan makan siang bersama."
Zhao Yun berkata dengan penuh rasa kasih sayang, ia tidak peduli jika Zhao Feng adalah putra angkatnya. Ia bahkan menyayangi Zhao Feng lebih dari putranya sendiri, sebab ia merasakan kesedihan yang mendalam saat melihat penderitaan yang dialami olehnya.
Namun saat ia bertanya siapa yang telah melakukan semua itu kepadanya, Zhao Feng hanya memberikan jawaban yang sama, dengan diiringi senyuman yang lebar. Seolah-olah semua penderitaan itu tidak berarti apa-apa baginya, sebuah senyuman yang penuh dengan ketulusan, yang pernah ia lihat pada sosok yang telah menjadi panutan baginya dan juga bagi seluruh yang ada di Sekte Seribu Bintang.
__ADS_1