
Chapter 25.
Menyadari bahwa Zhao Feng masih ragu dalam mengambil keputusannya, sesosok misterius tersebut kembali menyeringai. Ia berbalik menatap kearah sosok Zhao Feng* yang telah membunuh Zhao Lin, dan perlahan menjentikkan jarinya.
Tek!
Pemandangan dirombak kembali, yang sebelumnya adalah pemandangan sebuah Sekte yang telah hancur, kini berubah menjadi pemandangan seperti sebuah Kekaisaran yang telah hancur. Banyak sekali puing-puing bangunan yang berserakan di tanah, mengindikasikan bahwa istana kekaisaran tersebut sebelumnya berdiri dengan megah nan indah.
Zhao Feng yang masih merasa sangat sedih, dan marah, sama sekali tidak menghiraukan perubahan yang menakjubkan tersebut. Tatapan matanya terlihat sangat kosong, hatinya sakit saat melihat pemandangan mengerikan sebelumnya.
"Tidak hanya adikmu, orang-orang yang berharga dalam hidupmu, akan direnggut juga olehnya..." Ucap sesosok misterius tersebut dengan sebuah senyuman lebar diwajahnya.
Bak tersambar petir, jantung Zhao Feng seperti terhenti, dan bersamaan dengan itu, dari atas langit, muncul tiga kilatan cahaya yang bersinar sangat terang. Angin seketika berhembus dengan sangat kencang, dan dari atas langit, turun percikan-percikan api yang berwarna merah menyala dan juga putih bersih.
Kedua api berbeda warna tersebut saling menyerang antar satu sama lainnya, dan berusaha untuk menelan antar satu sama lain pula, tetapi masih tidak ada yang menjadi pemenang. Mengesampingkan kedua api tersebut, dari atas, Zhao Feng dapat melihat dua sosok pria tua yang sangat dikenalinya.
Kedua mata Zhao Feng melebar, tangannya bergetar, dan tatapan matanya berkaca-kaca, karena ia melihat sosok sang Guru yang tengah terluka parah. Keduanya terluka dengan parah, tubuhnya dilumuri oleh darah merah, keduanya terlihat tengah bertarung melawan seorang pemuda yang mengenakan baju zirah berwarna emas bercahaya.
Blast!
Salah satu Gurunya tiba-tiba saja terjatuh kebawah, dan terhempas pada tanah yang keras. Gelombang kejut akibat hempasan tersebut tidak main-main, bahkan membuat tubuh Zhao Feng hampir ikut terbawa hembusan angin yang berhembus dengan sangat kencang.
Zhao Feng menahan tubuhnya sekuat tenaga, agar tidak terbawa oleh hembusan angin. Tetapi pertempuran masih belum berakhir, kini, sang Guru kedua lah yang tengah berhadapan satu lawan satu dengan pemuda misterius tersebut.
Kondisi Sang Guru pertama terlihat sangat mengenaskan, jubahnya telah sobek sana-sini, pedang yang ia genggam telah hancur, dan tatapan matanya terlihat sayu. Kakek tua tersebut hanya bisa terbaring lemah diatas tanah, sembari memperhatikan saudaranya yang tengah melawan pemuda misterius tersebut.
"Teknik Pedang Semesta : Dewa Pedang Seiryuu!"
Sang Guru berteriak dengan sangat lantang, bersamaan dengan pedangnya yang mulai diselimuti oleh cahaya terang berwarna keemasan. Disepanjang bilahnya, muncul seekor naga kecil berwarna emas, yang terlihat meliuk-liuk disekitar bilah pedang tersebut. Setelah itu, Sang Guru langsung melemparkan pedangnya keatas langit, yang seketika membuat suasana pertarungan kembali sunyi.
Pemuda misterius tersebut nampak terkejut, dan segera mendongakkan kepalanya menatap langit diatasnya. Kemudian, kedua mata pemuda tersebut langsung melotot, tubuhnya bergetar hebat, karena melihat suatu pemandangan yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
Dari balik gelapnya awan hitam tebal, nampak seekor Naga berwarna emas yang berukuran sangat besar sekali. Naga tersebut mempunyai sisik berwarna emas, dengan sebuah Permata berwarna hitam dan putih di keningnya, dan sebuah mahkota yang terbuat dari permata di atas kepalanya. Naga tersebut nampak tengah menatap tajam kearah pemuda misterius tersebut, dari tatapannya saja, pemuda tersebut tahu, bahwa Naga tersebut sama sekali tidak bersahabat dengannya.
Dengan secepat kilat, Naga tersebut meliuk-liuk di udara dan langsung menukik kearah pemuda misterius tersebut. Dengan ganas, Naga tersebut tanpa henti memburu pemuda tersebut, tanpa membiarkannya mendapatkan kesempatan untuk kabur sedikitpun.
"Nafas Neraka Menembus Surga!"
Mulut Naga tersebut tiba-tiba saja terbuka, dan dari dalamnya, muncul api berwarna merah menyala yang berkobar-kobar. Dan dengan secepat kilat, Naga tersebut menyemburkan nafas apinya tepat kearah pemuda misterius tersebut.
Tubuh daripada pemuda misterius tersebut langsung menghilang dan lenyap setelah terkena nafas api Naga tersebut, mengasumsikan bahwasanya pemuda tersebut telah binasa untuk selama-lamanya. Tetapi siapa sangka, bahwa pemuda tersebut tidaklah lenyap dan masih hidup.
__ADS_1
Api merah yang membakar hebat tubuhnya dan area sekitarnya, tiba-tiba saja dimakan oleh api berwarna keemasan yang entah muncul darimana. Api merah milik Naga tersebut sama sekali bukanlah tandingan api emas tersebut, tidak membutuhkan waktu lama, seluruh api Naga tersebut telah lenyap dimangsa oleh api berwarna keemasan tersebut.
"Hanya ini saja...? Benar-benar tidak mengasyikkan!"
Berdiri tanpa luka sedikitpun, pemuda misterius tersebut terlihat tengah tersenyum sinis kearah Naga raksasa dihadapannya itu. Jubah zirah milik pemuda tersebut bahkan sama sekali tidak terlihat rusak, ataupun terbakar, serangan dari Naga emas tersebut, seolah-olah tidak berdampak apapun bagi pemuda misterius tersebut.
Memanfaatkan kelengahan Naga emas yang tengah terkejut, pemuda tersebut tiba-tiba saja menghilang dan menyatu dengan kehampaan. Sebelum Naga tersebut sadar bahwasanya ia dalam bahaya, tiba-tiba saja pandangannya mulai mengabur.
Sang Guru yang melihat hal tersebut, juga ikut merasa sangat terkejut, karena ia sadar, bahwasanya Naga pendampingnya tengah berada dalam bahaya. Tetapi tanpa membiarkan Sang Guru untuk bertindak, tiba-tiba saja pemuda tersebut muncul entah darimana dihadapan Naga pendampingnya.
"Tebasan Surgawi dan Semesta!"
Slash!
Pemuda misterius tersebut menebaskan pedangnya tepat dihadapan Naga tersebut, tebasan tersebut menghasilkan sebuah tebasan udara raksasa yang berwarna biru bercampur merah. Menghasilkan petir-petir berwarna merah darah yang menyambar-nyambar area sekitar dengan sangat ganas.
Naga emas tersebut sama sekali tidak dapat menghindari serangan dari pemuda misterius tersebut, dan semuanya terjadi dengan begitu sangat cepat. Alhasil, ia harus merelakan serangan tersebut untuk bersarang tepat di lehernya.
Blast!
Kedua mata Naga tersebut seketika berubah menjadi putih, percikan-percikan permata mulai berjatuhan dari atas langit, dan langit terlihat tengah terbelah. Kepala Naga emas tersebut seketika langsung terputus dari lehernya, dan jatuh kebawah bersamaan dengan semua kebanggaannya.
Brakk!
Sang Guru yang melihatnya, merasa sangat murka karena satu-satunya pendamping yang ia miliki telah binasa. Disaat amarahnya yang kian membesar, ia tahu bahwa ia hanya mempunyai satu pilihan, yakni melenyapkan pemuda tersebut dengan segala cara yang ada.
"Cukup, Zhao Feng!" Teriak Sang Guru, yang langsung membuat gelombang kejut yang sangat dahsyat.
Zhao Feng seketika terperanjat kaget, jantungnya terasa telah berhenti berdetak. Bersamaan dengan itu pula, ia dapat melihat, bahwa wajah daripadanya sosok yang tengah bertarung melawan kedua Gurunya itu, sangat mirip dengannya. Yang berarti, dirinya sendirilah yang saat ini tengah bertarung melawan kedua Gurunya sendiri.
Sang Guru perlahan menutup kedua matanya, menyatukan kedua tangannya tepat di dadanya, dan di dahinya, muncul sebuah keanehan. Nampak muncul sebuah mata yang tengah terpejam, sebelum pada akhirnya, sebuah mata tersebut tiba-tiba terbuka dengan sangat lebar.
Mata tersebut berwarna putih bersih, dengan pupilnya yang berwarna keemasan. Sekilas, mata tersebut terlihat hampir sama dengan Mata Surgawi milik Zhao Feng, tetapi yang membedakan, mata tersebut diselingi dengan warna putih, berbeda dengan Mata Surgawi Zhao Feng yang seluruhnya berwarna keemasan.
Dari balik tubuh Sang Guru, muncul sebuah pusaran udara yang berukuran cukup besar. Pusaran tersebut berwarna hitam pekat, dengan petir-petir berwarna putih yang terlihat menyelimuti pusaran udara tersebut. Melihat hal tersebut, membuat Zhao Feng* terperanjat kaget, karena ia tahu tekhnik apa itu.
Itu adalah Teknik segel paling ditakuti oleh semesta, bahkan Kaisar Nirwana sekalipun. Itu adalah segel terkuat yang pernah ada, yang mampu mengurung jiwa seseorang untuk selama-lamanya didalam Dimensi Keabadian dan Kesengsaraan. Jika ada jiwa yang terperangkap didalamnya, maka harapan untuk kabur sangatlah mustahil, dan hanya ada satu Kultivator saja yang mampu menguasainya.
"Kau! Apakah kau ingin melenyapkan dirimu sendiri dengan itu?!" Teriak Zhao Feng* dengan penuh amarah.
"Bukan aku saja, tetapi kau juga akan ikut bersamaku." Balas Sang Guru dengan seringai lebar yang terlihat diwajahnya yang penuh dengan keringat.
__ADS_1
Tetapi, pemandangan tersebut seketika terhenti, dan semua gerakan juga ikut terhenti, seolah-olah waktu telah terhenti. Kedua mata Zhao Feng nampak berkaca-kaca, ia merasa sangat tidak percaya bahwa dirinya sendiri tengah bertarung melawan kedua Gurunya yang sangat ia hormati.
Ia sama sekali tidak mengerti, mengapa pemandangan seperti ini harus ia lihat. Dirinya ada 2, yang satu adalah dirinya, dan yang satu lagi adalah dirinya sendiri yang tengah bertarung melawan kedua Gurunya. Ia sangat bingung, mengapa hal seperti ini bisa terjadi.
"Ini adalah penglihatan akan takdir yang akan terjadi kepadamu di masa depan. Sebelum kau menyesal di akhir, aku memutuskan untuk memperlihatkannya kepadamu sekarang, agar kau bisa menghindari takdir kejam ini." Ucap sesosok misterius disampingnya.
"Apa maksudnya ini..?" Ucap Zhao Feng lirih.
"Kau masih belum paham. Ini adalah takdir yang akan terjadi kepadamu, dan takdir ini tidak akan bisa kau hindari, kecuali menerimaku sebagai bagian dirimu dan hidupmu. Aku akan mengarahkanmu ke jalan yang lurus, dan membatu dirimu untuk mengubah takdir mengerikan ini..." Balas sesosok misterius tersebut sembari menatap tepat kearah kedua mata Zhao Feng.
"Kau tidak nyata!" Bantah Zhao Feng dengan suaranya yang tinggi.
"Apa? Hahaha!" Sesosok misterius tersebut tiba-tiba saja tertawa, dan mulai berjalan mengelilingi tubuh Zhao Feng.
"Kau anggap semua ini tidak nyata? Betapa bodohnya. Jangan katakan bahwa aku tidak memperingatkan dirimu sebelumnya, kau boleh menganggap ku tidak nyata, tetapi tidak dengan apa yang telah kau lihat dengan kedua matamu sendiri." Ucap sosok tersebut sembari berjalan mendekati figur Zhao Feng* yang terlihat membeku.
Tess!
Dengan jarinya, ia menjetikkan jari telunjuknya tepat kearah pedang yang dibawa oleh Zhao Feng* yang tengah membeku, tepat setelah jarinya menyentuh pedang yang dibawa oleh Zhao Feng*, pedang tersebut seketika langsung hancur dan berubah menjadi butiran-butiran debu berukuran kecil.
Berganti dari Zhao Feng*, kali ini sesosok misterius tersebut mulai berjalan mendekati Guru keduanya yang terlihat tengah membeku dengan sebuah pusaran udara besar dibelakang. Dengan entengnya, sesosok misterius tersebut nampak mengibaskan tangan kanannya tepat dihadapan sang Guru.
Keanehan kembali terjadi, tepat setelah sesosok misterius tersebut mengibaskan tangan kanannya, tiba-tiba saja pusaran udara dibelakang Sang Guru telah menghilang, dan sebuah mata yang muncul di dahinya, juga tiba-tiba saja menghilang.
Sesosok misterius tersebut perlahan membalikkan badannya, dan menatap tepat kearah Zhao Feng dengan tatapan tajam. Mengangkat tangan kanannya keatas, terlihat bahwasanya sosok tersebut terlihat tengah menyeringai dengan lebar kearahnya.
"Lihatlah!"
Wussh!
Dengan cepat, sesosok misterius tersebut kembali menurunkan tangan kanannya kebawah, yang langsung membuat pemandangan pertarungan yang sebelumnya terhenti, kini kembali berlanjut. Tetapi kali ini, Sang Guru tidak terlihat akan menyerang sosok Zhao Feng* melainkan tengah tersenyum lembut tepat kearahnya.
Begitu pula dengan Zhao Feng*, pemuda tersebut nampak tengah berdiri dengan sebuah senyuman lembut yang menghiasi wajahnya yang tampan. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja muncul sang Guru pertama yang juga tengah memperlihatkan senyumannya yang lembut di wajahnya yang tidak lagi muda.
Setelah itu, ketiganya mulai berpelukan dengan erat, seolah-olah mereka bertiga tengah melepaskan rindu yang sangat membebani diri mereka. Semua pertarungan hebat yang sebelumnya terjadi, seolah-olah tidak pernah terjadi. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia sekali.
Zhao Feng menitikkan air matanya, saat perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya mulai meluap-luap. Bersamaan dengan itu pula, sesosok bayangan misterius yang sebelumnya telah berdiri dihadapannya, dan mengulurkan tangan kepadanya.
Dengan gemetar, Zhao Feng mulai mengangkat tangan kanannya, dan berniat untuk menerima uluran tangan dari sosok bayangan tersebut. Tetapi kemudian, ia terperanjat kaget dan langsung tersadar, setelah teringat tentang apa yang telah dikatakan oleh Sang Guru sebelumnya.
"Jangan pernah mempercayai apa yang kamu lihat."
__ADS_1
Ucapan dari Sang Guru terngiang-ngiang di kedua telinga Zhao Feng, ia menatap tajam kearah sosok bayangan dihadapannya tersebut. Ia pada akhirnya sadar, bahwa sosok bayangan dihadapannya ini, bukanlah sosok yang berniat untuk membantunya. Semua ini hanyalah ilusi belaka, tidak kurang dan tidak lebih, hampir saja ia termakan oleh jebakan liciknya tersebut. Akan tetapi, takdir masih berpihak kepadanya, dan tidak membiarkan sebuah keberkahan yang ada padanya, untuk berubah menjadi sebuah kutukan.