
Chapter 7.
Didalam sebuah Gua yang terkenal dengan tekanan Qi nya yang sangat besar, nampak tubuh seorang pemuda yang tengah tersungkur diatas tanah.
Nampak kedua mata dari pemuda itu tengah terpejam, pertanda bahwa kesadarannya masih belum pulih untuk sepenuhnya. Pemuda itu tak lain adalah Zhao Feng, yang sebelumnya dibuat kebingungan dengan perpindahannya yang hanya dalam satu kedipan mata.
Namun saat suasana sunyi mulai menyelimuti seluruh penjuru Gua, tiba-tiba saja kedua mata Zhao Feng terbuka dengan sepenuhnya. Nampak kedua pupil matanya kini telah berubah warna menjadi emas, yang sebelumnya warna pupil matanya adalah coklat. Tentu perubahan yang sangat amat menakjubkan.
Namun perubahan warna pada kedua pupil matanya yang begitu sangat menakjubkan, namun kekuatannya! Kini Zhao Feng dapat melihat dengan sangat jelas area dalam Gua, yang sebelumnya dirinya hanya bisa melihat kegelapan yang tak berujung.
Pada saat Zhao Feng tengah kebingungan saat melihat area sekelilingnya, tanpa sengaja dirinya menatap salah satu Kristal berwarna emas yang ada dibelakangnya.
Itu adalah Kristal yang sebelumnya mengeluarkan cahaya keemasan, namun kini hanya menjadi sebuah Kristal Es biasa yang berwarna keemasan.
Namun pada saat tatapan mata Zhao Feng tertuju tepat kepada Kristal Es berwarna emas itu, keanehan mulai kembali terjadi. Cahaya keemasan perlahan mulai muncul dari dalam kristal itu dan langsung memantulkan cahaya ke Kristal Es lain yang ada di sepenjuru Gua.
Setiap Kristal yang menerima cahaya itu, akan kembali memantulkan cahaya kepada Kristal yang lainnya, begitulah sampai cahaya yang dipantulkan pada akhirnya mengenai Kristal yang terakhir.
Saat pantulan cahaya itu mengenai Kristal terakhir yang ada di tengah-tengah Gua, tiba-tiba saja dinding Gua bergetar dengan sangat hebat.
Bahkan sangat hebat sampai-sampai langit-langit Gua mulai runtuh kebawah. Tentu saja situasi itu sangat membahayakan bagi Zhao Feng, mengingat bisa saja semua reruntuhan itu mengubur dirinya hidup-hidup.
Namun saat Zhao Feng tengah kebingungan untuk mencari jalan keluar, tiba-tiba saja dinding Gua yang ada dibelakang Kristal Es berwarna emas mulai terbuka lebar.
Melihat ada kesempatan emas dihadapannya, tanpa pikir panjang Zhao Feng segera berlari menuju kebebasan yang tengah terbuka dengan sangat lebar dihadapannya.
Setiap langkah kaki yang diambil oleh Zhao Feng, maka semakin banyak pula reruntuhan yang mulai berjatuhan. Seolah-olah Gua itu tidak menginginkan Zhao Feng untuk bebas dalam keadaan hidup.
Namun tekad yang sangat kuat akan mencapai sebuah kebebasan, Zhao Feng terus berlari tanpa menghiraukan maut yang tengah mengepung dirinya.
"Akhh!"
Saat Gua sudah hampir runtuh sepenuhnya, Zhao Feng dengan sekuat tenaga melompat kearah luar Gua, yang alhasil tindakan itu berhasil menyelamatkan hidupnya dari cengkeraman maut.
Gua yang sebelum berdiri dengan sangat kokoh, kini hanya terlihat seperti reruntuhan kuno, dan dengan itu, Gua Kristal Abadi telah dinyatakan telah hancur sepenuhnya.
Zhao Feng menatap reruntuhan dihadapannya itu dengan perasaan campur aduk, tidak tahu dirinya harus menangis atau tertawa, sebab Gua itulah yang selaku memberinya kesengsaraan, namu dilain sisi Gua itu jugalah yang memberinya sebuah kekuatan. Namun yang pasti, kenangan selama dirinya berada di Gua itu tidak akan pernah bisa memudar dari ingatannya.
Dengan tekad untuk menjadi yang terkuat, Zhao Feng melanjutkan larinya untuk bisa keluar dari Sekte Seribu Bintang. Sekte yang begitu banyak memberinya kenangan, baik itu sedih maupun senang. Namun yang pasti, kenangan baiklah yang akan selalu diingatnya, sebuah kenangan yang menyimpan sebuah ikatan yang lebih erat daripada ikatan keluarganya sendiri.
...----------------...
Para murid-murid dari Tetua Shin Mo terlihat begitu sangat panik saat menyadari getaran yang begitu sangat dahsyat. Tentu saja mereka sangat bingung, sebab Sekte Seribu Bintang telah dipasangi Array yang dapat mencegah bencana alam.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, pada akhirnya pimpinan dari para murid memutuskan untuk mengecek Gua Kristal Abadi, sebab dirinya mempunyai firasat bahwa semua kejadian ini bersumber dari sana.
__ADS_1
Dengan hanya bermodalkan tekad yang kuat, sebab Artefak yang diberikan oleh Tetua Shin Mo telah dirampas oleh Zhao Feng, pemuda gagah itu berani melakukan sesuatu yang sangat dilarang, yaitu mendekati Gua Kristal Abadi tanpa adanya Artefak yang menjaganya.
Namun dalam perjalanan, pemuda itu dibuat kebingungan, sebab dirinya tidak bisa merasakan tekanan Qi yang sebelumnya dapat dirasakannya. Bahkan tekanan Qi itu bisa dirasakan sampai tempat latihan para murid Tetua Shin Mo, yang berjarak sejauh 10 kilometer. Namun tidak untuk kali ini, seolah-olah getaran tadi telah menyapu bersih tekanan yang sangat mematikan itu.
Namun hal itu pula sedikit membuat pemuda itu lega, mengingat dirinya yang tidak membawa Artefak pelindung. Kini ia sudah tidak ragu-ragu lagi untuk segera sampai kesana dan melihat apa yang telah terjadi.
...----------------...
Di kediaman Tetua Kedua, Zhao Yun. Nampak seorang pria paruh baya yang tengah menikmati pemandangan alam sekitarnya yang begitu sangat indah. Namun semua kenikmatan itu dengan cepat sirna, saat dirinya merasakan getaran yang amat sangat hebat. Bahkan getaran itu mampu membuat pondasi kediamannya bergetar hebat, yang seharusnya pondasi itu tidak akan bergerak walaupun terkena gempa hebat, sebab pondasi itu terbuat dari beton yang telah dilapisi oleh aliran energi Qi.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, Tetua Zhao Yun segera melesat terbang menuju gedung utama Sekte Seribu Bintang dengan tujuan untuk mengetahui asal muasal kejadian yang begitu sangat menggetarkan seluruh penjuru Sekte tersebut.
...----------------...
Lantas saja pemuda itu sangat terkejut saat menyadari bahwa Gua Kristal Abadi yang telah runtuh. Sebuah kejadian yang amat sangat mengejutkan baginya, yang bahkan membuatnya merasa terkejut sampai mati.
Ia sangat ketakutan akan apa yang akan dilakukan oleh Tetua Shin Mo kepadanya, mengingat dirinya adalah pimpinan seluruh penjagaan Zhao Feng. Tentunya kejadian ini akan membuat Tetua Shin Mo sangat marah kepadanya.
Namun dirinya juga tidak memiliki pilihan lain, sebab jika dirinya kabur, maka seluruh Meridiannya akan hancur berkeping-keping saat ia baru saja melangkahkan kakinya keluar dari Sekte tanpa sepengetahuan dari Tetua Shin Mo. Dengan perasaan yang campur aduk, pada akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi ke kediaman Tetua Shin Mo guna untuk melaporkan apa yang telah terjadi.
...----------------...
Semua Tetua Sekte Seribu Bintang telah berkumpul di gedung utama Sekte guna membahas kejadian yang begitu sangat mengejutkan. Banyak sekali pendapat-pendapat yang dilontarkan oleh setiap Tetua, yang membuat berjalannya rapat semakin memakan waktu yang lama.
Seorang Tetua pada akhirnya memberikan pendapatnya, yang membuat Tetua Agung mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Memang, pendapat dari Tetua itu terdengar sangat masuk akal daripada pendapat para Tetua lainnya.
"Kamu benar, Tetua Dong Yao Si. Oleh sebab itu kita harus semakin mempertajam pengawasan kita terhadap Sekte."
Balasan dari Tetua Agung membuat para Tetua kembali terdiam, mereka semua juga nampak setuju dengan pendapat yang baru saja disampaikan oleh Tetua Dong Yao Si.
Namun saat para Tetua tengah berdiskusi antar satu sama lain, perhatian dari Tetua Agung teralihkan kepada Tetua Zhao Yun yang terlihat tengah merenungi pemikirannya sendiri.
"Ada apa, Tetua Zhao Yun? Apakah ada suatu pemikiran yang membebani dirimu? Jika ada, maka sampaikanlah, mungkin kami para Tetua bisa untuk mengatasi beban pemikiranmu."
Melihat tingkah laku dari teman baiknya yang nampak tidak seperti biasanya, pada akhirnya Tetua Agung mengajukan pertanyaan kepada Tetua Zhao Yun. Jarang sekali melihat Zhao Yun yang nampak termenung seperti itu, seolah-olah dirinya tengah memikirkan sesuatu yang sangat amat membebani pikirannya sendiri.
"Tidak, Tetua Agung. Aku hanya larut dalam pemikiran akan kejadian sebelumnya."
Menyadari bahwa para Tetua tengah menunggu jawabannya, pada akhirnya Tetua Zhao Yun dengan jujur membeberkan apa yang tengah membebani pemikirannya.
Memang kejadian sebelumnya terasa sangat aneh, sebab seluruh area Sekte Seribu Bintang telah dipasangi oleh Array pelindung yang mampu melindungi seluruh Sekte dari berbagai bentuk bencana alam, termasuk gempa. Namun kejadian sebelumnya terasa sangat janggal, ia merasa kejadian itu lebih dari sekedar bencana biasa, kecuali...
Brakk!
Pada saat para Tetua tengah sibuk berdiskusi antar satu sama lain, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan sangat lebar dan memperlihatkan seorang pemuda yang tengah berlari masuk dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Tetua! Gua Kristal Abadi telah runtuh, dan nasib dari Zhao Feng tidak dapat diketahui saat ini!"
Pemuda itu tanpa pikir panjang berkata dengan penuh kebenaran dihadapan semua Tetua Sekte Seribu Bintang yang tengah berkumpul, sebab dirinya tengah dilanda dengan kepanikan yang sangat besar.
Mendengar perkataan dari pemuda itu, membuat kedua mata Tetua Zhao Yun melotot. Zhao Feng? Gua Kristal Abadi? Jangan bilang orang tua itu telah membuat Zhao Feng menderita di dalam Gua yang sangat mematikan itu.
"Apa?! Apa yang barusan kau katakan?!"
Begitu juga dengan Tetua Shin Mo, kedua matanya seketika melotot saat melihat bahwa muridnya yang bodoh itu itu telah membongkar semua kebenaran yang selama ini selalu saja dirinya sembunyikan.
Pada saat pemuda itu telah menyadari kesalahannya yang sangat amat besar, tiba-tiba saja Tetua Zhao Yun telah ada dihadapannya. Dan dengan satu tangan, Tetua Zhao Yun telah mencekik leher pemuda itu dan mengangkat seluruh tubuhnya keatas.
"Katakan! Apa yang selama ini Shin Mo lakukan kepada putraku!"
Mendengar kebenaran yang terjadi kepada Zhao Feng membuat Zhao Yun murka sejadi-jadinya. Dengan satu bentakan saja darinya, sudah membuat terjadinya hempasan gelombang energi Qi yang cukup dahsyat.
"Ampun! Ampun, Tetua! Aku akan menceritakan yang sebenarnya!"
Pemuda itu merasakan sangat takut saat melihat betapa murkanya Tetua Zhao Yun, dibandingkan dengan Tetua Shin Mo, amarah dari Tetua Zhao Yun jauh berkali-kali lebih menakutkan baginya dibandingkan amarah Tetua Shin Mo.
"Jangan dengarkan dia, Saudara Yun! Dia hanyalah seorang pendusta!"
Menyadari bahwa semua kebenarannya yang akan segera terbongkar oleh salah satu muridnya itu, Tetua Shin Mo berusaha untuk memanipulasi pemikiran dari Zhao Yun, namun sayangnya, semua usahanya gagal, sebab Tetua Zhao Yun sama sekali tidak ingin menerima penjelasan apapun darinya.
"Diam kau, Shin Mo! Aku hanya ingin mendengarkan penjelasan dari murid biadab mu ini!"
Zhao Yun segera membantah penjelasan dari Tetua Shin Mo, sebab dirinya dulu sudah merasa akan ada kejadian buruk yang akan menimpa putranya dalam pelatihannya bersama Shin Mo. Dan hal yang sangat ditakutkannya itu, kini telah terjadi.
Ayah mana yang tidak marah saat melihat anaknya menderita, tentu saja Zhao Yun berhak untuk marah atas semua hal buruk yang telah menimpa putranya.
Para Tetua tidak ada yang berani untuk menentang Tetua Zhao Yun, mengingat Ranah Kultivasi nya berada di Ranah Saint Bintang 3, menjadikannya Tetua terkuat yang ada di Sekte Seribu Bintang.
Bahkan Kultivasi dari Tetua Agung saat ini berada jauh dibelakang Tetua Zhao Yun, yaitu masih ada di Ranah Langit Bintang 8. Tentu saja perbedaan Ranah itu diibaratkan layaknya langit dengan bumi, bahkan lebih jauh daripadanya itu.
"Ba-baik Tetua! Selama ini Zhao Feng dikurung di dalam Gua Kristal Abadi tanpa menerima pelatihan apapun dari Tetua Shin Mo!"
Pada akhirnya pemuda itu memutuskan untuk berkata dengan jujur, sebab saat ini nyawanya tengah berada di tangan dari Tetua Zhao Yun. Dengan nafas yang sangat sulit, pemuda itu berusaha mati-matian hanya untuk menyampaikan kebenaran kepada Tetua Zhao Yun.
"Shin Mo!"
Setelah mendengar penjelasan dari pemuda itu, membuat amarah dari Tetua Zhao Yun semakin menjadi-jadi. Ia melemparkan pemuda itu ketanah dengan sangat keras, yang mampu membuat pemuda itu seketika saja kehilangan seluruh kesadarannya.
Tetua Shin Mo yang melihat kemarahan dari Tetua Zhao Yun, segera bersiap untuk kemungkinan terburuknya. Kini ia harus berhadapan dengan resiko yang amat sangat besar, sebuah resiko yang harus dirinya tanggung, walaupun dirinya tengah tidak siap untuk menanggung semua itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1