
Chapter 24.
Petir-petir menyambar dengan sangat ganas, menyambar apapun yang dikehendakinya. Langit mendung dipenuhi oleh awan-awan tebal berwarna hitam, hujan mengguyur seluruh Kekaisaran Liu dengan sangat hebat. Disusul oleh berbagai Spiritual Beast yang berlari tunggang langgang menjauh dari sekitar hutan Ilusi Tiada Akhir.
Spiritual Beast tersebut sama sekali tidak memperdulikan keberadaan manusia yang kebetulan berpapasan dengan mereka, mereka hanya mengabaikan orang-orang yang ditemuinya, dan terus berlari menjauh dari Hutan Ilusi Tiada Akhir yang telah menjadi tempat tinggal mereka semua.
Tentunya, melihat kelakuan aneh dari para Spiritual adalah, membuat para Kultivator yang sangat membutuhkan sumber daya berupa inti roh, merasa sangat diuntungkan. Spiritual Beast tersebut sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk bertempur melawan manusia, mereka hanya memikirkan satu hal saja, yakni untuk menjauh dari Hutan Ilusi Tiada Akhir.
Sementara para Kultivator-Kultivator biasa yang merasa sangat senang dan tanpa henti memburu para Spiritual Beast yang telah kehilangan keinginan untuk bertarung, justru para Kultivator-Kultivator dengan Ranah Tinggi merasa sangat gelisah akan fenomena aneh tersebut. Mereka merasa jika ada sesuatu hal yang sangat dahsyat akan terjadi, dan mereka sama sekali tidak tahu hal apakah itu.
Semua rakyat Kekaisaran Liu merasa sangat ketakutan, bahkan mereka sampai bersujud di dalam kuil-kuil suci, untuk meminta perlindungan dari para dewa-dewi Nirwana. Mereka mengira bahwa fenomena dahsyat tersebut adalah pertanda bahwa para Dewa-dewi Nirwana merasa sangat murka, dan tengah menghukum mereka semua. Akan tetapi, sebenarnya, fenomena tersebut adalah suatu pertanda, jika akan ada seseorang yang kembali menegakkan kedamaian di dunia ini.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Sementara itu, Zhao Feng saat ini masih duduk bersila diatas sebuah batu yang berada di tengah-tengah danau Ilusi yang terkenal akan bahayanya. Tak ada yang tahu apa tujuan ia melakukan hal tersebut, ia hanya menuruti perintah dari sang Guru saja. Ia yakin, jika semua ini, adalah untuk kebaikannya, tidak mungkin jika Sang Guru akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
Berbeda dari Zhao Feng, sang Guru terlihat tengah berdiri di tepi danau, sembari terus merapalkan sebuah mantra. Disampingnya, nampak sebuah pedang berwarna emas yang tengah tertancap di tanah, pedang tersebut juga terlihat tengah memancarkan sebuah cahaya samar yang berwarna keemasan pula.
Disekitar tempat tersebut, tidak ada suatu keanehan sedikitpun, semuanya berjalan normal. Sangat jauh berbeda dengan apa yang terjadi di luar hutan Ilusi Tiada Akhir, justru di tempat dimana Zhao Feng dan Sang Guru berada, semuanya terlihat normal.
Tetapi semuanya berubah, pada saat munculnya sebuah awan hitam tebal yang tiba-tiba saja muncul diatas langit. Hujan lebat seketika mengguyur tempat tersebut, disusul dengan petir-petir berwarna putih murni yang menyambar-nyambar dengan sangat ganas. Air danau yang sebelumnya tenang, kini mulai berubah, air danau tersebut juga ikut mengganas dan semakin memanas.
"Zhao Feng! Persiapkan dirimu!" Teriak Sang Guru, membuat Zhao Feng sedikit kebingungan.
Tidak lama setelah itu, dari atas langit, muncul sebuah petir berwarna putih yang berukuran sangat besar sekali. Petir tersebut terlihat tengah mengumpulkan segala kekuatan yang dimilikinya, dan bersiap untuk menyambar apapun yang akan dikehendakinya.
Zhao Feng juga sempat merasakan seperti ada suatu tekanan yang sangat besar sekali diatasnya, sampai-sampai membuatnya mengeluarkan darah dari sela-sela mulutnya. Semakin lama, maka akan semakin besar pula tekanan tersebut, membuat ia yakin jika inilah alasan mengapa Sang Guru memperingatkannya untuk bersiap-siap.
Sampai pada akhirnya, petir besar tersebut menyambar tepat di tubuh Zhao Feng, dan meluluhlantakkan tubuhnya. Ledakan yang sangat dahsyat terjadi disekitar Zhao Feng berada, dan langsung membuat sekitarnya hancur.
"Arghhh!"
Zhao Feng berteriak dengan sangat keras, karena merasakan sakit yang teramat disekujur tubuhnya. Ia merasa jika semua tulangnya telah diremukkan, energi Qi yang melonjak hebat di dalam Dantiannya, dan panas yang teramat dipermukaan kulitnya. Sebisa mungkin ia mempertahankan kesadarannya, tetapi rasa sakit tersebut sama sekali tidak dapat ditanggung lagi olehnya.
"Ingatlah Zhao Feng! Jangan percaya sedikitpun dengan apa yang kau lihat!" Teriak Sang Guru saat menyadari kondisi Zhao Feng yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
"Arghh!"
Zhao Feng terus-menerus berteriak dengan sangat keras, sungguh rasa sakit ini sangat luar biasa sekali. Sampai pada akhirnya, ia sudah tidak kuat lagi untuk menanggungnya lebih lama lagi, dan membuatnya kehilangan kesadarannya.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Zhao Feng seketika membuka kedua matanya dengan lebar-lebar, dan mendapati bahwa dirinya saat ini tengah berada pada tempat yang sangat asing sekali. Langit yang gelap, tanpa adanya sedikitpun sinar dari Matahari, dan suasananya yang sangat sunyi nan hening.
Ia perlahan bangkit, dan alangkah terkejutnya ia, saat melihat dimana ia berada saat ini. Dihadapannya, terpampang suatu pemandangan yang sangat tidak indah. Banyak sekali tubuh-tubuh manusia yang sudah tidak berbentuk, genangan darah berada dimana-mana, dan dihiasi oleh puing-puing bangunan yang telah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Bau amis, anyir dan busuk yang sangat menyengat dapat dihirup oleh hidung Zhao Feng, yang bahkan membuatnya hampir muntah-muntah. Tetapi kengerian tidak sampai disitu, samar-samar, ia dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.
Ia perlahan membalikkan badannya, alhasil, ia seketika dibuat terkejut setengah mati saat melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Dihadapannya, berdiri seorang pemuda berambut hitam panjang, tengah membawa sebuah pedang berwarna keemasan di tangan kanannya, dan yang paling ikonik, yakni kedua matanya yang memancarkan api emas yang berkobar-kobar.
Zhao Feng sangat terkejut sekali, sampai tanpa sadar ia mulai berjalan mundur kebelakang. Sosok tersebut terlihat hanya berdiri mematung, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Menyadari bahwa sosok dihadapannya ini tidak berniat untuk menyerangnya, Zhao Feng mulai melawan rasa takutnya sendiri, dan mulai memperhatikan sosok tersebut dengan seksama.
Jika dilihat-lihat olehnya, raut wajah sosok tersebut nampak murung sekali, dan di kedua pipinya, nampak seperti ada bekas aliran air mata, kesimpulannya, sosok tersebut seperti baru saja menangis. Pakaian yang dikenakan sosok tersebut adalah jubah berwarna putih, dengan motif awan berwarna keemasan yang berada di sekitar lengan dan bagian leher. Jubah tersebut terlihat sangat familiar bagi Zhao Feng, karena jubah tersebut sangat mirip sekali dengan jubah yang dipakai oleh Tetua Agung Sekte Seribu Bintang.
Ia berganti menatap kearah pedang yang dibawa oleh sosok tersebut, pedang tersebut mempunyai ukiran berbentuk seperti Naga di ujung bilahnya, dan juga terdapat sepasang sayap burung yang berada di pegangannya. Pedang tersebut juga terlihat telah berlumuran darah, seolah-olah pedang tersebut baru saja menghilangkan nyawa makhluk hidup.
Berganti lagi, kali ini Zhao Feng tengah memperhatikan dengan seksama mata dari sosok tersebut. Sangat indah sekali, pupil kedua matanya berwarna keemasan, dan dari keduanya, memancarkan api berwarna keemasan yang berkobar-kobar. Pada dahi sosok tersebut, juga nampak ada tanda, yakni sebuah gambaran seekor Naga yang tengah membelit seekor burung Phoenix.
Zhao Feng terdiam membisu, ia sama sekali tidak mengerti akan apa yang tengah terjadi. Dihadapannya sudah berdiri sesosok manusia yang sama sekali tidak dikenalnya, dan ia juga sama sekali tidak tahu dimana ia berada sekarang. Tetapi setelah diperhatikan dengan seksama, ia merasa jantungnya seperti telah berhenti berdetak, kedua matanya melotot, saat menyadari jika sosok tersebut adalah...
"Selamat datang kembali, Zhao Feng. Pasti kau bertanya-tanya tentang apa maksud dari ini semua, bukan?"
Dari arah belakangnya, Zhao Feng dapat merasakan sebuah sentuhan lembut pada kedua bahunya. Ingin rasanya ia berbalik untuk melihat siapa sosok yang tengah memegang kedua bahunya tersebut, tetapi seluruh tubuhnya sama sekali tidak bisa ia gerakkan sedikitpun.
"Kau benar sekali. Dihadapanmu, adalah dirimu, jauh di masa depan. Ini semua adalah cerminan apa yang akan terjadi kepadamu, dan juga apa yang akan terjadi di dunia ini."
Suara tersebut terdengar sangat dingin sekali, yang bahkan membuat Zhao Feng merasa sedikit ketakutan. Apalagi ia juga merasa adanya pancaran aura energi Qi yang sangat jahat dibelakangnya, membuatnya sadar bahwa hidupnya tengah berada dalam bahaya saat ini.
"Inilah yang menunggumu, kehancuran, dimana tidak akan ada lagi senyuman yang tersisa di dunia ini. Semua yang tersisa hanyalah keputusasaan, kesedihan dan penderitaan. Sangat mengagumkan, benar?"
Sosok tersebut perlahan berjalan mengelilingi tubuh Zhao Feng, dan pada akhirnya berhenti tepat dihadapan pemuda tersebut. Walaupun sudah berada dihadapannya, Zhao Feng sama sekali tidak dapat melihat wujud dari sosok misterius tersebut. Yang bisa ia lihat hanyalah sebuah siluet bayangan yang membentuk seperti tubuh manusia, dengan sepasang bola berwarna merah darah yang terlihat tengah melayang, layaknya sepasang mata.
"Kau hanya akan menjadi orang terakhir yang akan menderita, jika kau terus menerus melakukan apa yang telah ditakdirkan untukmu.... Kau harus merubahnya, jika tidak, maka hanya akan ada kesedihan, penderitaan dan kematian yang akan menunggumu kelak..."
Sesosok siluet bayangan tersebut perlahan merubah bentuknya sendiri, menjadi sosok yang sangat dikenali olehnya. Yakini dirinya sendiri, sosok bayangan tersebut telah merubah wujudnya menjadi sesosok yang sama persis seperti Zhao Feng.
"Hanya akan ada penderitaan..." Ucap sosok tersebut sembari menjentikkan jarinya.
Tek!
Semua pemandangan mengerikan yang ada dihadapannya, kini telah dirombak ulang. Menjadi pemandangan layaknya sebuah Sekte, dengan puing-puing bangunan yang telah hancur berserakan dimana-mana.
Zhao Feng juga masih tidak dapat menggerakkan tubuhnya, bahkan jika itu hanya untuk mengucapkan satu katapun, ia sama sekali tidak mampu. Tubuhnya terasa seperti telah dibekukan.
Sosok yang menyerupai dirinya juga tengah berdiri tepat disampingnya, sembari menatap datar kearah pemandangan yang penuh dengan keanehan dihadapannya. Tidak lama setelah itu, dari kejauhan nampak seorang gadis yang tengah berlari dengan pakaian yang compang-camping.
Tubuh gadis tersebut juga terlihat telah berlumuran darah, penampilannya acak-acakan. Gadis tersebut berlari dengan terhuyung-huyung, walaupun seluruh tubuhnya telah penuh dengan luka. Tak jauh dibelakangnya, terlihat sesosok pemuda berambut hitam yang tengah berjalan pelan sembari menyeret sebuah pedang berwarna keemasan ditangan kanannya.
Sosok pemuda tersebut juga mempunyai ciri yang sangat khas, yakni kedua matanya yang bersinar samar berwana keemasan. Pemuda tersebut sama sekali tidak menunjukkan ekspresi diwajahnya, wajahnya terlihat benar-benar datar.
"Apakah kau mengenalinya?" Tanya sosok misterius tersebut dengan suaranya yang terdengar sangat lirih.
__ADS_1
Zhao Feng hanya terdiam, ia merasa sangat kebingungan dengan apa yang terjadi kepada sosok gadis dan pemuda dihadapannya tersebut. Tetapi kemudian, gadis tersebut tiba-tiba saja terjatuh ke tanah, membuat Zhao Feng semakin penasaran dengan apa yang akan terjadi kepada gadis tersebut.
Zhao Feng juga sama sekali tidak bisa melihat wajah dari gadis tersebut, karena tertutup oleh rambutnya yang panjang dan acak-acakan. Sampai pada akhirnya, gadis tersebut menatap tepat kearahnya, dan pada saat itu, Zhao Feng tersadar, bahwa sosok gadis tersebut adalah seseorang yang sangat berarti baginya.
"Zhao Lin?!" Batin Zhao Feng, ia merasa sangat terkejut saat menyadari bahwa sesosok gadis tersebut, rupanya adalah adiknya sendiri.
Bersamaan dengan itu, sesosok pemuda yang tengah mengejarnya, pada akhirnya telah berdiri dihadapan sosok Zhao Lin. Dengan pedang yang terlihat masih berlumuran darah segar, sesosok pemuda tersebut hendak menebaskan pedangnya tepat kearah leher Zhao Lin.
"Jangan! Tidak! Tolong! Kakak Feng! Apa yang telah terjadi kepadamu?! Aku adalah adikmu sendiri, Zhao Lin!" Zhao Lin berteriak histeris, saat menyadari bahwa kakaknya sendiri, Zhao Feng, hendak membunuhnya.
Deggg!
Jantung Zhao Feng terasa seperti telah terhenti, kedua matanya melotot, ia merasa sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kali ini, ia dapat mengenali sosok yang hendak membunuh adiknya tersebut, tak lain dan tak bukan, adalah dirinya sendiri. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggerakkan setiap bagian tubuhnya, namun semuanya sia-sia belaka.
"Zhao Lin!" Zhao Feng berteriak dalam hatinya, bersamaan dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya.
"Inilah yang akan terjadi di masa depan. Kau hanya akan menjadi seorang penghancur, dimanapun kau berada, kau hanya akan membawa penderitaan..." Ucap sosok misterius yang berada disampingnya.
"Kau akan menjadi seorang yang tidak mempunyai belas kasihan sama sekali. Sepasang Mata itu, akan merenggut semua hal berharga yang kau miliki." Lanjut sosok tersebut dengan suaranya yang dingin.
Slash!
Hati Zhao Feng terasa seperti tertusuk oleh ribuan pedang tajam, saat melihat dengan kedua matanya sendiri, adiknya yang sangat ia cintai, tewas di tangannya sendiri. Ia hanya bisa melihat pemandangan mengerikan tersebut, tanpa bisa melakukan apapun.
Setelah membunuh Zhao Lin, Sosok Zhao Feng* perlahan menoleh kearahnya, dan mulai memberikannya sebuah seringai yang sangat lebar, seolah-olah sosok tersebut sama sekali tidak menyesal telah melenyapkan adiknya sendiri.
"Inilah yang akan terjadi, semuanya akan direnggut oleh Sepasang Mata tersebut darimu. Semuanya akan direnggut, sampai kau kehilangan semua yang sangat berharga dalam hidupmu. Rubahlah takdir kejam yang akan datang itu, sebelum kau akan menyesalinya untuk selama-lamanya..." Ucap sosok disampingnya tersebut.
Zhao Feng sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tetapi setelah mendengar perkataan dari sosok yang menyerupai dirinya, ditambah setelah melihat semua takdir kejam yang akan datang kepadanya, membuat hatinya menjadi goyah. Ia tidak ingin melihat semua orang yang ia kasihi harus tewas dengan mengenaskan, ia tidak ingin hal tersebut sampai terjadi.
Sosok yang menyerupai dirinya tersebut perlahan menepuk pundak kanannya, dan memberikan Zhao Feng sebuah senyuman lembut.
"Jangan khawatir, aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Kau sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan takdir buruk seperti itu. Oleh karena itu, satukanlah dirimu denganku, dan hancurkan para Dewa yang telah mentakdirkan suatu takdir buruk kepadamu..." Ucap sosok tersebut dengan suaranya yang lembut, sembari menatap kearah Zhao Feng dengan tatapan yang berkaca-kaca.
Zhao Feng merasa sangat bingung dengan keputusan apa yang akan ia ambil, jika ia menolak tawaran dari sosok tersebut, ia takut jika mimpi buruk ini akan menjadi kenyataan baginya. Tetapi setelah melihat kedalam kedua mata sosok tersebut, ia hanya bisa melihat rasa belas kasihan yang sangat mendalam, seolah-olah sosok tersebut merasa sangat iba akan takdir hidupnya yang kejam.
Tetapi ia juga merasa sangat ragu untuk menyetujui usulan dari sosok tersebut, entah kenapa, tapi di dalam lubuk hatinya, ia merasa jika sosok tersebut tengah mempunyai tujuan khusus. Setiap pilihan yang akan ia ambil, tidak hanya akan membuat takdir hidupnya berubah, tetapi juga takdir dunia ini kedepannya. Semoga Zhao Feng dapat memilih keputusan yang tepat, karena jika sampai ia mengambil keputusan yang salah, maka akan berujung pada konsekuensi yang tidak akan pernah bisa terbayangkan.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Author Note :
Supaya kalian tidak kebingungan, karena di Chapter ini dan selanjutnya akan ada 2 sosok Zhao Feng. Karena itu, saya akan membuat suatu perbedaan untuk membedakan mana Zhao Feng yang asli, dan mana Zhao Feng yang berada di penglihatannya.
Zhao Feng \= Asli dan yang sebenarnya
__ADS_1
Zhao Feng* \= Yang hanya dilihat pada penglihatan