Pendekar Penakhluk Surga

Pendekar Penakhluk Surga
Chapter 23 : Kembali Membangkitkan Mata Surgawi


__ADS_3

Chapter 23.


"Dasar murid nakal! Apa kau ingin meratakan seluruh hutan ini?" Ucap sang Guru sembari tersenyum menatap kearah Zhao Feng.


"Maaf, Guru. Aku sama sekali tidak menduga jika aku akan lepas kendali..." Balas Zhao Feng sembari menundukkan pandangannya kebawah.


Sang Guru hanya bisa tersenyum saat melihat jawaban dari Zhao Feng, memang, ini semua bukanlah kesalahannya, lagipula, tidak ada kerusakan sedikitpun yang terjadi pada hutan Ilusi Tiada Akhir. Jadi, ia tidak perlu memberikan hukuman kepada Zhao Feng atas kelalaiannya dalam mengendalikan kekuatannya sendiri.


"Lihatlah dirimu, kau sendiri yang telah menyebabkan kemunduran pada dirimu sendiri. Kekuatan tersebut memang sangat membantumu, tetapi, juga ada harga yang harus kau bayar untuk kekuatan semacam itu." Jelas Sang Guru sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Zhao Feng terdiam, perasannya bergejolak didalam hatinya. Ia merasa, kekuatan tersebut sangatlah berat untuk dirinya pikul, ia takut, jika ia akan menjadi sesosok yang haus akan kekuasaan. Ia takut, jika ia akan kalah kepada kekuatannya sendiri, dan menjadi seorang yang sangat ia benci dan tidak inginkan.


"Semakin besar kekuatan yang kau miliki, maka akan semakin besar pula harga yang harus kau bayar. Itulah tanggungjawab yang akan selalu kau pikul selama sisa hidupmu nanti." Lanjut Sang Guru, menjelaskan betapa besarnya tanggungjawab yang akan dipikul oleh Zhao Feng selama sisa hidupnya nanti.


"Guru... Apakah aku bisa memikul semua tanggungjawab itu?" Zhao Feng bertanya kepada Sang Guru dengan suaranya yang lirih.


"Tentu, Muridku. Kau pasti bisa! Selama ada kemauan didalam dirimu untuk terus berjuang. Karena itulah pelatihan ini ada untukmu, untuk mempersiapkan dirimu agar bisa memikul semua tanggungjawab itu kelak." Jawab Sang Guru sembari tersenyum penuh makna kearah Zhao Feng.


Zhao Feng kembali terdiam, ia masih berpikir keras mengenai semua tanggungjawab yang akan ia pikul. Sang Guru yang melihat gelagat muridnya, perlahan berjalan mendekati Zhao Feng dan mengelus lembut kepalanya.


"Jangan khawatir, Muridku. Selama kau menjunjung tinggi kebenaran dalam hatimu, maka kekuatan tersebut pastinya akan mengikutimu. Begitupun dengan sebaliknya..." Jelas Sang Guru dengan suaranya yang lah lembut.


Zhao Feng terdiam, perasaannya masih bergejolak didalam hatinya. Tetapi setelah memikirkan semua perkataan dari Sang Guru, ia menemukan sebuah makna yang sangat penting. Ia mengadahkan kepalanya keatas, dan menatap kearah Gurunya dengan tatapan yang membara, sembari berkata ;


"Aku pasti bisa, Guru! Aku akan membawa cahaya harapan pada benua Bintang ini!" Seru Zhao Feng dengan lantang, dan dengan tatapan matanya yang mengandung api semangat yang membara.


"Bagus, Muridku! Kau pasti bisa!" Seru Sang Guru juga, sambil memeluk dengan erat murid satu-satunya itu.


-------------------------------------------------------------------------------------------


Sinar Matahari yang cukup terik, tengah menyinari hutan Ilusi Tiada Akhir, tempat dimana Zhao Feng tinggal dan berlatih dibawa bimbingan Sang Guru. Tetapi hari ini sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya, biasanya, ia akan merasakan berbagai penderitaan dalam pelatihannya, tetapi hari ini tidak lagi.


Malahan, Zhao Feng diperintahkan oleh Sang Guru untuk mengistirahatkan tubuhnya, entah apa maksudnya, ia sama sekali tidak tahu. Karena kebiasaannya yang selalu melakukan kegiatan-kegiatan berat, hari ini, ia merasa sangat bosan sekali. Ia hanya duduk termenung sembari memandangi alam sekitarnya, tanpa terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk mengusir rasa bosannya.


Juga, hari ini, ia merasa bahwa tubuhnya lemah sekali. Hanya untuk berlari 30 putaran saja, ia merasa sudah lelah, padahal sebelumnya, ia melakukan lari 50 putaran penuh saja tidak pernah merasakan selelah ini. Sungguh aneh sekali. Semenjak ia dengan paksa menerobos batasannya sendiri, hal aneh ini terjadi kepadanya.

__ADS_1


Tetapi saat Zhao Feng tengah termenung memikirkan apa yang sebenarnya tengah terjadi kepadanya, tiba-tiba saja ia melihat sosok Sang Guru yang tengah berjalan mendekatinya dengan sedikit senyuman yang terpampang diwajahnya.


"Kau pasti bertanya-tanya mengapa itu terjadi bukan, Muridku? Kau tidaklah bodoh, menurutmu, mengapa keanehan itu bisa terjadi kepadamu?" Tanya Sang Guru sembari menyeringai tipis kearahnya.


Zhao Feng yang mendengarnya, seketika teringat tentang kejadian beberapa hari yang lalu, dimana ia yang tengah berlatih tanding dengan Sang Guru. Pada keadaan yang sangat terpojok, ia tanpa berpikir dua kali, nekat untuk mencoba menerobos batasannya sendiri.


"Apakah ini semua akibat dari kecerobohan ku, Guru?" Tanya Zhao Feng kepada Sang Guru.


"Menurutmu?" Tanya Sang Guru kembali.


Zhao Feng terdiam, memikirkan betapa bodohnya ia. Seharusnya, ia tidak bertindak dengan sangat ceroboh, jika pelatihan tersebut adalah pertempuran sungguhan, maka dipastikan ia telah membuat kesalahan fatal. Tetapi ia tidak mengerti, mengapa ia merasa bahwa ia sama sekaligus tidak bisa merasakan aliran energi Qi yang ada disekitarnya. Sungguh aneh sekali.


"Sayangnya, lingkaran Qi dalam Dantian mu hampir menghilang sepenuhnya, akibat darimu yang mencoba untuk menerobos pembatas yang ada pada dirimu sendiri. Bersyukurlah, bahwa Meridanmu tidak ikutan hancur." Ucap Sang Guru sambil menatap tajam kearah Zhao Feng.


"Lantas, apa yang harus aku lakukan, Guru?" Tanya Zhao Feng dengan tatapannya yang sayu.


"Untuk mengulang dari awal, maka akan semakin mengulur waktu saja, dan juga membuat semua pelatihan yang telah kau jalani menjadi sia-sia belaka. Karena itu, aku telah menyiapkan suatu metode khusus untukmu seorang." Balas Sang Guru sembari tersenyum misterius menatap Zhao Feng yang tengah kebingungan.


"Aku merasa ada sesuatu yang buruk dengan senyuman Guru..." Batin Zhao Feng, bersamaan dengan bulu kuduknya yang mulai berdiri.


-------------------------------------------------------------------------------------------


Petir-petir menyambar dengan sangat ganas, disusul dengan badai besar yang hampir meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Kekaisaran Liu. Semua orang panik, dan berbondong-bondong menuju Kuil persembahan untuk meminta pertolongan dari para Dewa-dewi Nirwana untuk diselamatkan dari marabahaya yang tengah mengintai.


Para Kultivator-Kultivator dengan Ranah Tinggi, merasa sangat gelisah, mereka khawatir jika bencana alam yang tengah mengamuk ini, adalah sebuah peringatan akan datangnya marabahaya. Baru-baru ini, Kekaisaran Liu sering mengalami peristiwa bencana alam tanpa sebab, yang membuat Kaisar Liu Yang Shin merasa sangat bingung akan kejadian aneh tersebut.


Dikumpulkannya semua Kultivator-Kultivator Kekaisaran di ruangan rapat, guna untuk membahas tentang bencana alam dahysat yang baru-baru ini terjadi dengan beruntun. Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Kaisar Liu Yang Shin, dengan berbagai Kepala Klan maupun Tetua-tetua Sekte yang berada di wilayah Kekaisarannya.


"Aku yakin, jika para Tetua-tetua sekalian telah mengetahui, jika baru-baru ini, banyak sekali bencana alam yang melanda Kekaisaran ini. Tidak hanya sekali, tetapi berturut-turut. Aku tidak yakin, pertanda apakah itu, oleh sebab itu, aku mengumpulkan Tetua-tetua sekalian untuk membahas mengenai hal tersebut disini..." Ucap Sang Kaisar, yang menandakan bahwa rapat telah dimulai.


"Mohon izin, Yang Mulia. Ini adalah kejadian pertama yang terjadi di Kekaisaran ini, setelah ribuan tahun yang lalu. Pastinya, ini bukanlah bencana alam biasa, pastinya ini adalah peringatan akan datangnya marabahaya di Kekaisaran ini." Ucap salah satu Tetua, membeberkan pendapatnya sendiri mengenai fenomena aneh ini.


"Mohon izin juga, Yang Mulia. Aku setuju dengan pendapat dari Tetua Zha Wujin, fenomena aneh ini tidak mungkin hanya sekedar kebetulan saja. Pasti ada suatu alasan dibaliknya." Sambung salah satu Tetua lainnya, menyetujui pendapat dari Tetua Zha Wujin.


"Kehormatan untukmu, Yang Mulia. Jika pendapat dari Tetua Zha Wujin memang benar adanya, maka kita semua harus memasang kewaspadaan tinggi. Terlebih lagi, menurut desas-desus yang beredar, sumber dari fenomena aneh tersebut berada disekitar Hutan Ilusi Tiada Akhir." Ucap salah satu Tetua lainnya, yang membuat Kaisar Liu Yang Shin semakin pusing.

__ADS_1


Siapa yang tidak kenal dengan Hutan Ilusi Tiada Akhir, sebuah hutan yang terkenal dengan keangkerannya. Hutan tersebut berada dipinggiran Kekaisaran Liu, arah selatan, yang hampir berdekatan dengan perbatasan dengan Kekaisaran Xiao. Hutan tersebut dijuluki sebagai Hutan angker dan sangat berbahaya, bukan tanpa sebab. Tidak hanya menjadi tempat tinggal Spiritual Beast dengan Tingkatan yang Tinggi, konon, terdapat sebuah rumor, bahwa Hutan tersebut adalah tempat tinggal dari sesosok Kultivator dengan Ranah Kultivasi yang sangat tinggi.


Tidak ada yang tahu siapa sosok tersebut, dan berada di Ranah apa Kultivasinya. Tetapi menurut rumor yang beredar, sosok tersebut mempunyai Ranah Kultivasi yang hampir menyamai Ranah Kultivasi para Dewa Nirwana. Entah darimana sumber dari munculnya rumor tersebut, tapi yang jelas, tak sedikit orang yang percaya mengenai rumor tersebut.


"Mohon izin, Yang Mulia! Pendapat dari Tetua Zhi Pai, mungkin ada benarnya. Sebaiknya kita harus semakin mempertajam kewaspadaan kita semuanya, untuk berjaga-jaga jika datangnya suatu hal yang sangat tidak diinginkan." Ucap salah satu Tetua lainnya, menyetujui pendapat dari Tetua Zhi Pai.


"Baiklah. Terimakasih atas pendapat-pendapat dari Tetua-tetua sekalian. Bisa diambil kesimpulan, jika apapun arti dibalik fenomena aneh ini, juga akan berpengaruh dalam nasib Kekaisaran Liu kedepannya. Dengan ini, aku sebagai Kaisar Liu, akan semakin memperkuat pertahanan di seluruh wilayah Kekaisaran! Terlebih lagi pada pemukiman-pemukiman rakyatku yang berada tak jauh dari Hutan Ilusi Tiada Akhir!" Ucap Sang Kaisar dengan lantang, yang juga menjadi penanda bahwa berjalannya rapat telah usai.


-------------------------------------------------------------------------------------------


Zhao Feng saat ini tengah duduk pada sebuah batu yang berukuran cukup besar, ditengah-tengah sebuah danau yang sangat amat berbahaya. Ya benar, danau tersebut adalah Danau Ilusi, yang mana, menjadi salah satu tempat pelatihannya.


Kali ini, ia tidak harus berendam pada danau tersebut, malahan, ia disuruh untuk tidak boleh sampai tercebur kedalam danau. Zhao Feng hanya menuruti perintah dari Sang Guru saja, meskipun terasa sangat aneh sekali baginya.


Di pinggiran danau, nampak sang Guru yang tengah duduk dengan sikap Lotus menghadap kearahnya. Ia terlihat tengah memandang kearahnya, dengan raut wajahnya yang datar. Disampingnya, terdapat sebuah pedang berwarna keemasan tengah menancap diatas tanah. Pedang tersebut mengeluarkan cahaya keemasan yang bersinar samar, yang tentunya juga, memancarkan aura penindasan yang sangat besar.


Tetapi untungnya, aura penindasan tersebut tidak sampai mengenai Zhao Feng. Entah apa yang membuat aura penindasan tersebut tidak mengenainya, padahal jaraknya dengan pedang tersebut tidak terpaut jarak yang jauh. Tetapi tetap saja, ia merasa sangat bersyukur karena tidak perlu merasakan penderitaan sedikitpun lagi.


"Ingatlah, Zhao Feng! Jangan percaya sedikitpun terhadap semua yang akan kau lihat! Cukup fokuskan pikiranmu untuk kembali mengembalikan Ranah Mu!" Teriak Sang Guru dengan lantang, menyuruh Zhao Feng untuk tidak mempercayai semua hal yang akan ia lihat kedepannya.


"Baik, Guru!" Jawab Zhao Feng dengan suaranya yang lantang pula.


Tidak ada balasan yang kembali terdengar di kedua telinga Zhao Feng, saat Sang Guru terlihat seperti tengah merapal kan sebuah mantra. Zhao Feng sama sekali tidak tahu pasti, apakah Sang Guru tengah merapalkan mantra atau semacamnya, yang jelas, ia bisa melihat jika mulut dari Sang Guru tengah bergerak-gerak, layaknya tengah merapalkan sebuah mantra.


Zhao Feng perlahan mulai menutup kedua matanya, dengan diiringi oleh angin yang tiba-tiba saja berhembus dengan sangat kencang. Ia juga dapat mendengar suara air yang tengah meledup-ledup, layaknya suara air yang tengah direbus. Suhu yang ia rasakan juga terasa semakin memanas, yang membuatnya merasa jika kulitnya saat ini telah terbakar.


Ctarrr!


Dengan sekejap mata, suasana yang sebelumnya terasa sangat menenangkan dan normal, kini telah berubah dengan sepenuhnya. Petir menyambar dengan sangat ganas, dengan disusul oleh turunnya hujan yang sangat amat lebat.


Bersamaan dengan itu semua, Zhao Feng merasa jika seluruh tubuhnya tengah dihimpit oleh sesuatu yang sangat berat sekali. Tak berhenti sampai disitu pula, ia merasa jika kedua matanya seperti tengah terbakar oleh api yang sangat amat panas sekali. Ia sontak menggigit bibirnya sampai-sampai mengeluarkan darah, untuk menahan segala rasa sakit yang tengah ia rasakan saat ini.


Di atas langit, nampak jika awan-awan tebal berwarna hitam tengah berkumpul dan membentuk seperti sebuah pusaran yang sangat besar sekali. Dari balik tebalnya awan tersebut, terlihat adanya cahaya berwarna keemasan yang bersinar dengan sangat terang sekali.


Amukan alam semakin menjadi-jadi, seolah-olah alam merasa sangat gelisah dengan apa yang Sang Guru coba lakukan kepada Zhao Feng. Tetapi walaupun amukan alam yang melanda semakin ganas, justru Zhao Feng nampaknya sama sekali tidak terganggu dengan itu semua.

__ADS_1


Walaupun ia merasa sangat sakit sekali, tetapi ada sesuatu hal yang jauh lebih penting dibandingkan itu semua. Jauh di alam bawah sadarnya, ia tengah melihat suatu pemandangan yang sangat amat tidak ingin ia lihat untuk seumur hidupnya. Dengan tiba-tiba saja, Zhao Feng berteriak-teriak dengan sangat keras, dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya yang tengah terpejam. Tidak ada yang tahu, apa yang tengah ia lihat, tetapi yang jelas, apapun yang Zhao Feng lihat, merupakan suatu hal yang sangat jauh dari kata "indah".



__ADS_2