
Chapter 8.
"Shin Mo!"
Tetua Zhao Yun menatap kearah Tetua Shin Mo dengan tatapan penuh kebencian, seolah-olah dirinya sangat ingin untuk membunuh orang tua biadab itu.
Namun tentu saja Tetua Shin Mo tidak akan sukarela untuk dihajar oleh Zhao Yun, dia akan melakukan segala cara untuk mengalahkannya, meskipun Ranah Kultivasinya berada sangat jauh dibelakang Tanah Kultivasi Zhao Yun.
"Zhao Yun! Jangan kira Ranah Kultivasi mu akan menakuti diriku!"
Shin Mo berkata dengan sangat lantang, tanpa ada rasa takut yang diperlihatkan olehnya. Zhao Yun yang sebelumnya tengah dilanda amarah yang besar, kini semakin membesar setelah mendengar bahwa Shin Mo tengah menantang dirinya.
Meskipun Ranah Kultivasi Tetua Shin Mo berada sangat jauh dibawah Tetua Zhao Yun, yakni berada pada Ranah Kultivasi Saint Bintang 1, tetapi ia memiliki suatu Artefak penguat yang sangat berharga. Dengan Artefak tersebut, ia bisa meningkatkan kekuatannya sampai setara dengan kekuatan seorang Kultivator dengan Ranah Kultivasi Saint Bintang 3, walaupun tidak terlalu lama.
Artefak tersebut ia dapatkan dari peninggalan Tetua Agung Sekte Seribu Bintang sebelumnya, yang tentunya ia dapatkan dengan paksa. Dengan Artefak tersebut, Tetua Shin Mo merasa percaya diri untuk bertarung melawan Tetua Zhao Yun.
Dan pada akhirnya pertempuran dahsyat antar kedua Tetua itu terjadi, seluruh yang ada di Sekte Seribu Bintang tengah dilanda ketakutan yang besar, sebab kedua Tetua itu telah menginjak Ranah yang sangat tinggi.
Kedua Tetua itu bertarung dengan sangat sengit, tanpa terlihat jika ada pihak yang tertinggal. Meskipun Tetua Shin Mo berada jauh dibawah Tetua Zhao Yun, namun dengan Artefak penguat yang dimilikinya, membuat Shin Mo menjadi setara dengan Zhao Yun.
"Tak kusangka kau akan mengimbangi diriku, pak tua biadab!"
Menyadari bahwa pertarungan akan berlangsung lama, pada akhirnya Tetua Zhao Yun menggunakan kemampuannya yang asli untuk segera mengakhiri pertempuran ini.
"Siapa yang kau panggil pak tua?! Ingatlah jika dirimu juga adalah seorang pria tua yang akan segera mendekati akhir hidupmu!"
Merasa tak terima dengan hinaan dari Tetua Zhao Yun, Tetua Shin Mo pun juga tidak ingin kalah dari Tetua Zhao Yun. Dengan mengeluarkan seluruh kekuatannya, ia ingin untuk mengakhiri pertarungan ini sekaligus nyawa dari Tetua Zhao Yun.
Dengan tiba-tiba saja muncul bayangan seekor serigala raksasa dari belakang Tetua Shin Mo, begitu juga dengan Tetua Zhao Yun, namun yang membedakannya adalah, Tetua Zhao Yun mengeluarkan bayangan seekor Elang Raksasa yang muncul dibelakangnya.
Tetua lainnya yang melihat pertempuran itu menjadi terkagum-kagum, sebab untuk mendapatkan Spiritual Soul Beast adalah hal yang sangat sulit bagi mereka, bahkan hampir mustahil untuk dilakukan.
"Cakaran Kematian!"
Tetua Shin Mo segera menyerang Zhao Yun menggunakan cakar yang muncul dari kedua tangannya. Namun semua serangan darinya berhasil dihindari oleh Tetua Zhao Yun.
"Terjangan Keabadian!"
Namun Tetua Zhao Yun tidak akan membiarkan lawannya terus menyerangnya. Dengan menggunakan salah satu teknik terkuatnya, Zhao Yun berusaha untuk mengalahkan Tetua Shin Mo sebelum pertarungan ini akan berimbas untuk merusak seluruh area Sekte Seribu Bintang.
__ADS_1
Kecepatan dari serangan Zhao Yun sangat membingungkan bagi Shin Mo, itulah kekuatan asli dari seorang Kultivator dengan Ranah Kultivasi Saint, Ranah Kultivasi puncak yang bisa dicapai oleh orang-orang fana. Alhasil, Tetua Shin Mo harus merelakan serangan dari Tetua Zhao Yun untuk mengenai tubuhnya dengan sangat telak.
"Akh!"
Tendangan dari Tetua Zhao Yun akhirnya bersarang dengan telak di dada Shin Mo, yang langsung membuat tubuh pria tua tersebut terpental dengan sangat jauh.
Boom!
Ledakan Qi yang sangat dahsyat terjadi saat tubuh dari Tetua Shin Mo menabrak sebuah gedung yang ada dibelakangnya. Semua Tetua yang melihat hal itu, segera mendekati tempat kekalahan dari Shin Mo untuk memberikan pertolongan kepadanya.
"Kakak!"
Melihat kekalahan dari sang kakak, membuat Shin Mo Chi terlihat begitu sangat panik akan kondisi dari Tetua Shin Mo. Tubuhnya telah penuh dengan darah, pandangannya juga mulai memudar, pertanda betapa besarnya luka yang baru saja diterimanya.
Walaupun Tetua Zhao Yun merasa sangat puas saat melihat kondisi dari Tetua Shin Mo yang begitu sangat mengenaskan, namun di sisi hati terdalamnya ia merasa sangat iba akan kondisinya.
Tetua Zhao Yun segera mengambil pil dari balik saku bajunya dan memberikannya kepada Tetua Shin Mo. Meskipun dirinya sangat membenci Shin Mo atas apa yang dilakukannya kepada putranya, namun dia tidak akan pernah melupakan hubungan pertemanannya yang begitu sangat erat dulu.
Setelah pil itu berhasil di telan oleh Tetua Shin Mo, tubuhnya yang sebelumnya telah hancur, kini berangsur-angsur mulai membaik. Melihat kondisi sang kakak yang mulai membaik, membuat Tetua Shin Mo Chi merasa lega dan senang.
Setelah memastikan keadaan dari Shin Mo yang mulai membaik, Tetua Zhao Yun segera memberikan hukuman atas tindakan yang telah dilakukan oleh Shin Mo. Seseorang yang melakukan hal seperti itu tidak pantas untuk menjadi salah satu Tetua di Sekte Seribu Bintang, yang menandakan bahwa hari itu juga, Tetua Shin Mo telah kehilangan jabatannya sebagai salah salah Tetua Sekte Seribu Bintang.
Dengan berat hati, semua Tetua juga menyetujui usulan dari Tetua Zhao Yun, yang menandakan bahwa tidak akan ada lagi yang menyelamatkan Shin Mo dari hukumannya.
Tetua Agung tahu jika ini adalah hukuman yang sangat ringan bagi Shin Mo, sebab aslinya Shin Mo layak untuk mendapatkan hukuman mati. Namun dia sadar bahwa Tetua Zhao Yun memberikan Shin Mo sebuah keringanan, mengingat keduanya adalah teman baik semasa masih muda.
Setelah memberikan hukuman yang layak bagi Shin Mo, Tetua Zhao Yun segera memerintahkan semua murid Senior Sekte Seribu Bintang, khususnya yang berstatus murid dari Tetua Shin Mo untuk datang dan menghadap kepadanya. Tak ada yang berani untuk menentang, sebab semua orang telah melihat betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki oleh Zhao Yun.
"Cari Zhao Feng di sepenjuru Kota Bintang ini! Khususnya bagi para murid yang ikut menyiksa Zhao Feng! Jika kalian tidak bisa menemukannya, maka ucapkan selamat tinggal kepada Sekte ini!"
Zhao Feng berkata dengan sangat lantang, yang membuat semua murid patuh atas perintahnya. Semua murid-murid yang ada dibawah didikan dari Tetua Shin Mo akhirnya mendapatkan angin segar, sebab masih ada kesempatan bagi mereka untuk tetap tinggal di Sekte ini.
**Maafkan ayah, Zhao Feng. Kurasa hanya sebuah permintaan maaf tidak akan cukup dibandingkan semua penderitaan yang telah kamu alami...**
Zhao Yun membatin dengan sedih saat mengetahui betapa malangnya nasib putranya. Namun di lain sisi, dia juga yakin bahwa Zhao Feng telah menerima pelajaran hidup yang sangat berharga. Dan dirinya juga berharap, putranya akan mengubah penderitaannya itu menjadi sebuah tekad untuk menjadi yang terkuat di seluruh penjuru dunia ini.
...----------------...
Disebuah hutan yang sangat jauh dari Kota Bintang, nampak seorang pemuda lusuh yang tengah berlari tanpa henti. Walaupun kedua kakinya tengah berlumuran dengan darah, pemuda itu tetap melanjutkan perjalanannya tanpa terbesit untuk berhenti.
__ADS_1
Pemuda itu tak lain adalah Zhao Feng yang tengah melarikan diri dari cengkeraman Tetua Shin Mo, tanpa menyadari segala kejadian yang tengah terjadi di Sekte Seribu Bintang saat ini juga. Kini yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara ia untuk lolos, sebab dirinya tidak ingin lagi untuk menerima penderitaan yang begitu sangat menyakitkan itu.
Namun yang tak disadari oleh Zhao Feng, bahwa sekarang ia telah berada sangat jauh dari Sekte Seribu Bintang, fakta bahwa dirinya tidak pernah keluar dari dalam Sekte, membuat Zhao Feng tidak pernah tahu menahu akan kondisi dunia luar.
Dengan tekad yang kuat untuk menjadi yang terkuat, Zhao Feng menerobos semak belukar dihadapannya tanpa memikirkan resiko yang harus dirinya tanggung.
Setelah melakukan pelariannya selama 5 jam berturut-turut tanpa henti, kini Zhao Feng telah kehilangan seluruh tenaganya. Dengan bersandar dibawah sebuah pohon rindang, pemuda itu nampak tengah memikirkan apa yang harus dilakukannya kedepan.
Jika dilihat-lihat oleh Zhao Feng, hutan dimana dia berada disini terlihat begitu sangat rimbun, menandakan bahwa jarang sekali manusia yang menginjakkan kakinya di hutan ini. Namun dirinya juga merasa sedikit lega, karena mungkin keberadaannya tidak akan terendus oleh Tetua Shin Mo selama dirinya berada disini.
Setelah menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk kembali memulihkan tenaganya, pada akhirnya Zhao Feng memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya. Dia berniat untuk masuk semakin dalam ke dalam hutan, guna untuk berlatih tanpa ada rasa khawatir akan kaki tangan dari Tetua Shin Mo yang tengah mencari keberadaannya.
Semakin dirinya masuk kedalam bagian terdalam hutan, bagi semakin rimbun pula pepohonan yang ada disekitarnya, yang berimbas semakin sedikit pula cahaya yang lolos dari begitu lebatnya daun-daun pepohonan.
Zhao Feng terus bejalan menyusuri lebatnya hutan dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, sebab dirinya tahu bahwa hutan seperti ini biasanya akan menjadi tempat tinggal bagi Makhluk buas, apalagi Spiritual Beast. Dia tidak ingin sebuah kecerobohan kecil akan menjadi sebuah alasan untuk kematiannya yang tidak wajar.
Namun yang aneh, selama ini pula Zhao Feng tidak melihat satupun Spiritual Beast, bahkan seekor binatang buas. Dirinya hanya merasa seperti diawasi oleh begitu banyak mata, namun anehnya tidak ada satupun pemilik mata itu yang berani mendekatinya, seolah-olah ia merasa seperti terlindungi oleh sesuatu hal yang bahkan dirinya tidak ketahui.
Meskipun dirinya merasa sangat kebingungan dengan itu semua, namun Zhao Feng sangat bersyukur jika para makhluk buas itu tidak menyerangnya. Entah apa itu, namun yang pasti ia akan sangat bersyukur atas semua perlindungan yang dia dapatkan.
Terangnya sinar matahari, kini telah berganti dengan terangnya sinar sang rembulan, yang kini bahkan lebih terang dari cahaya yang menyinari hutan tempat Zhao Feng berada.
Sangat aneh bagi Zhao Feng, saat menyadari bahwa sinar sang rembulan bercahaya lebih terang dari sang Surya dalam menyinari hutan ini. Namun yang Zhao Feng yakini, mungkin ada sesuatu hal yang telah mengatur semua itu dengan sedemikian rupa, dan juga Zhao Feng tidak terlalu memperdulikan hal itu, sebab dirinya adalah seorang pendatang baru, yang tidak tahu menahu akan sejarah yang telah mengatur itu semua.
Saat ini Zhao Feng tengah duduk di atas sebuah batang kayu yang dia gunakan sebagai tempat duduk, dengan api unggun dihadapannya, ia terlihat sangat nyaman saat merasakan begitu tenangnya alam di sekitarnya.
Zhao Feng dengan lahap memakan hasil buruannya, yaitu seekor kelinci yang didapatkannya dari berburu sore tadi. Daging Kelinci yang dia makan itu terasa tidak seperti kelinci biasanya, sebab daging kelinci yang dia makan itu mempunyai rasa yang berbeda.
Namun lagi-lagi Zhao Feng tidak terlalu memperdulikan hal itu, sebab dirinya bisa makan adalah hal yang sangat patut dia syukuri, mengingat bahwa dia hanya akan mendapatkan jatah makanan dari Tetua Shin Mo seminggu sekali sewaktu dirinya masih ada di Gua Kristal Abadi.
Api unggun yang tadinya berkobar dengan sangat besar, kini perlahan mulai meredup, pertanda bahwa semakin banyak waktu yang telah dihabiskan oleh Zhao Feng. Setelah memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda makhluk buas ataupun Spiritual Beast yang akan mendekat, pemuda itu memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Dengan rasa yang bercampur aduk, Zhao Feng mulai menutup kedua matanya. Walaupun dirinya telah terbebas dari cengkeraman Tetua Shin Mo, dia tidak tahu akan penderitaan apa lagi yang akan menimpanya di kemudian hari. Datangnya penderitaan yang lain lagi itu pasti, namun untuk saat ini dirinya tidak ingin untuk terlalu memikirkan itu semua, karena dirinya sangat ingin untuk tertidur dengan tenang tanpa terpikirkan oleh apa yang akan terjadi keesokan harinya.
Setidaknya ia ingin walaupun sekali saja... Sebab dirinya telah merasakan betapa pedihnya tertidur dengan rasa khawatir akan penderitaan yang akan terjadi di kemudian hari.
"Tidurlah cucuku... Tidurlah dengan tenang seolah-olah tidak akan ada yang terjadi padamu pada keesokan harinya."
Tapi tanpa disadari oleh Zhao Feng, ada sesosok misterius yang sedari tadi mengawasi seluruh gerak-geriknya. Sesosok yang tidak diketahui tujuan jelasnya, namun yang pasti, sesosok itu hanya ingin membuat Zhao Feng mendapatkan hak yang selama ini telah direnggut darinya. Sebuah hak yang telah lama meninggalkan Zhao Feng, namun hak itu jugalah yang akan datang dengan sendirinya kepadanya suatu hari nanti.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...