
Chapter 27.
Woshhh! Woshh!
Pada kedalaman sebuah hutan yang lebat, nampak sekelebatan bayangan yang menyerupai seorang manusia tengah berpindah-pindah dari dahan pohon satu ke yang lainnya. Bayangan tersebut bergerak dengan sangat cepat, bahkan tidak akan bisa dilihat oleh penglihatan manusia pada umumnya, kecuali jika itu adalah seorang Kultivator dengan Ranah Kultivasi yang tinggi..
"Guru, selamanya pengorbanan mu tidak akan pernah aku lupakan." Ucap sekelebat bayangan tersebut dengan suaranya yang lirih.
Bayangan tersebut terus bergerak dengan sangat cepat, melewati rimbunnya pepohonan hutan yang masih lebat. Sampai pada akhirnya, sekelebat bayangan tersebut terhenti pada sebuah dahan pohon yang berukuran cukup besar, dan sampai pada akhirnya terkuak juga siapa sosok sekelebat bayangan tersebut.
Cahaya Matahari seketika menerpa bayangan tersebut, dan memperlihatkan seorang pemuda yang sama sekali tidak asing lagi bagi para Spiritual Beast yang tinggal didalam kedalaman Hutan Ilusi Tiada Akhir. Ya benar, pemuda tersebut adalah Zhao Feng, pemuda berwajah tampan dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam tergerai sampai punggungnya.
Setelah melakukan pelatihan selama 2 tahun ini, pada akhirnya Bakat dan Kultivasinya telah berkembang sangat pesat. Dari yang sebelumnya ia hanyalah seorang sampah, kini telah menjadi sesosok Kultivator dengan Ranah Kultivasi yang terbilang tinggi untuk seorang Kultivator yang berada pada usia yang sama dengannya. Hanya dengan usianya yang masih sangat muda, 19 tahun, Zhao Feng telah mencapai suatu hal yang mustahil untuk dilakukan oleh Kultivator-Kultivator yang sama dengan usianya, 19 tahun, Zhao Feng sudah berada pada Ranah Kultivasi Prajurit Bintang *Bintang 2.
Aura penuh penindasan menyeruak keluar dari dalam tubuhnya, yang mampu untuk menakuti setiap Spritual Beast yang berniat untuk mendekatinya. Zhao Feng nampak tengah berdiri pada sebuah dahan pohon dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, ia sungguh tidak mampu untuk tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi. Setelah semua waktu, momen indah yang ia rasakan bersama dengan Sang Guru, pada akhirnya menemui akhirnya. Tak terasa air mata mulai mengalir melalui kedua pipinya, saat kenangan sedih saat berpisah dengan Sang Guru mulai terkenang dalam benaknya.
--------------------------------------------------------------------------------
|(Flashback)|
Setelah beberapa saat melakukan penyatuan dengan Jiwa Pedang, Zhao Feng diperintahkan oleh Sang Guru untuk mencari ilmu dan pengetahuan di dunia luar yang luas, karena sudah tidak ada yang bisa diajarkan lagi oleh Sang Guru. Mata Surgawi telah bangkit, dan Jiwa Pedang telah Sang Guru tanamkan pada jiwa Zhao Feng, sudah tidak ada hal yang tersisa untuk ia berikan pada murid satu-satunya itu, karena itu ia menyuruh Zhao Feng untuk berkelana di dunia luar demi meningkatkan Ranah Kultivasinya.
"Muridku, sudah tidak ada lagi yang bisa aku berikan kepadamu. Pergilah ke dunia luar, dan tancapkan namamu di luar sana sebagai seorang Kultivator Legenda!" Ucap Sang Guru dengan penuh kebanggaan, sembari menatap Zhao Feng dengan tatapannya yang terlihat sayu.
Zhao Feng tidak bisa mengatakan sepatah katapun setelah mendengar perkataan dari Sang Guru, untuk yang kedua kalinya, ia harus dipaksa untuk meninggalkan sesosok Guru yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain lagi, mau tidak mau ia harus pergi, untuk mengembangkan tanggungjawabnya yang sangat besar.
"Aku mengerti, Guru. Terimakasih atas semua didikan Guru, bakti luhur Guru selamanya tidak akan Murid lupakan!" Balas Zhao Feng dengan suaranya yang tegas, namun terdengar bergetar.
"Pergilah, Muridku. Semoga Dewa selalu melindungimu dimanapun kamu berada. Tetap ingatlah perkataanku ini, Zhao Feng. Kita sebagai seorang Kultivator, mempunyai tanggungjawab untuk melindungi mereka yang lemah, seorang Kultivator yang hanya bisa menindas yang lemah, adalah Kultivator yang tersesat dalam kekuasaannya sendiri." Ucap Sang Guru dengan suaranya yang begitu sangat tegas, memperingatkan Zhao Feng agar ia tidak tersesat kedalam jalan kegelapan ketika ia berkelana di dunia luar.
Zhao Feng menganggukkan kepalanya pelan, kemudian ia bersujud dihadapan Sang Guru sebagai ucapan terimakasih atas semua ilmu dan juga didikan yang diberikan oleh Sang Guru kepadanya. Tanpanya, Zhao Feng pastinya akan selamanya menjadi seorang sampah, karena Sang Gurulah ia bisa sampai sejauh ini, ucapan Terimakasih pun tidak akan sepadan dengan apa yang diberikan oleh Sang Guru kepadanya.
"Pergilah!" Perintah Sang Guru dengan suaranya yang terdengar lembut sekali, menyuruh Zhao Feng untuk pergi dan memulai perjalanannya di dunia luar.
Tanpa bisa mengatakan sepatah katapun lagi, Zhao Feng perlahan bangkit dari sujudnya dan menatap kearah Gurunya dengan tatapannya yang berkaca-kaca. Ia bisa melihat, bahwa Sang Guru tengah berdiri membelakangi dirinya, membuat Zhao Feng merasa semakin sedih.
__ADS_1
"Terimakasih, Guru." Ucap Zhao Feng lirih, dengan diiringi suara isak tangisnya.
Kemudian, Zhao Feng segera melesat pergi meninggalkan tempat dimana ia telah menghabiskan waktu dan momen indahnya bersama dengan Sang Guru yang telah mendidiknya dengan sepenuh hati. Ia melesat melewati rimbunnya pepohonan tanpa memikirkan apapun lagi selain kenangannya bersama dengan Sang Guru, 2 tahun ini telah memberikannya begitu banyak kenangan indah, yang tidak akan bisa ia dapatkan lagi selain dari kedua sosok yang telah menjadi Gurunya.
--------------------------------------------------------------------------------
"Hahh..."
Dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, Zhao Feng mulai melepaskan setiap kenangan indah yang telah ia lalui bersama dengan Sang Guru. Ia tidak boleh terus-menerus bersedih, pertemuan dan perpisahan sudah menjadi hal yang tidak akan pernah terpisahkan dari setiap umat manusia, tidak terkecuali untuk dirinya.
Zhao Feng segera mengusap air mata yang mengalir pada kedua pipinya, dan mulai berfokus untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia saat ini telah berada di pinggiran Hutan Ilusi Tiada Akhir, berkat petunjuk dan arahan dari Sang Guru, sebenarnya seorang manusia tidak akan mungkin bisa keluar dari Hutan ini, tetapi dengan Arahan Sang Guru, sepertinya tidak ada yang tidak mungkin.
Berkat Array yang melindungi Hutan Ilusi Tiada Akhir, setiap manusia maupun Kultivator akan disesatkan ke kedalaman hutan dengan Ilusi yang sangat kuat, sangat kuat sampai-sampai seorang Kultivator dengan Ranah Kultivasi Langit keatas akan berpikir dua kali untuk masuk kedalam Hutan ini. Tetapi sepertinya semua itu tidak berlaku pada Zhao Feng, efek dari Array pelindung Hutan Ilusi Tiada Akhir sama sekali tidak berpengaruh kepadanya.
Dihadapannya kini, adalah rerimbunan pohon yang sangat lebat, setiap pohon yang ada didalam Hutan Ilusi Tiada Akhir memang berukuran sangatlah besar, jauh lebih tinggi daripada ukuran pepohonan pada umumnya. Sangat sunyi dan sepi sekali, dan Zhao Feng tahu mengapa hal tersebut bisa terjadi, saat ia tengah mengambil kalung berwarna putih yang terkalung pada lehernya.
Kalung tersebut berbentuk seperti kristal berwarna putih dan memancarkan cahaya samar berwana putih bersih. Kalung tersebut adalah pemberian dari Sang Guru, yang dapat menghalau setiap Ilusi dan juga keberadaan Spiritual Beast. Melihat kalung tersebut, seketika membuat Zhao Feng tersenyum lembut, karena ia langsung teringat dengan sesosok yang sangat berharga dalam hidupnya, sampai pada akhirnya ia kembali mengalungkan kalung tersebut pada lehernya.
"Lebih baik aku segera keluar dari hutan ini dan mencari pemukiman terdekat." Ucap Zhao Feng lirih, menyusun sebuah rencana ketika ia berhasil keluar dari Hutan yang terkenal akan Ilusinya yang mematikan ini.
"Langkah Dewa Angkasa!"
Seketika langkah Zhao Feng terhenti, ia semakin menajamkan indera pendengarannya, yang langsung membuatnya dapat mendengar suara besi yang saling beradu. Suara teriakan seseorang yang begitu sangat menyayat hati dapat ia dengar dengan begitu jelas, bersamaan dengan aroma amis darah yang begitu menyengat.
Tanpa pikir panjang, Zhao Feng segera melesat mendekati sumber kejanggalan tersebut, karena ia berpikiran bahwa ada sesuatu hal buruk yang tengah terjadi. Disepanjang perjalanannya, suara besi yang saling beradu dan juga aroma amis darah terasa semakin dekat dengannya, mengindikasikan bahwa jaraknya dengan sumber semua hal buruk tersebut semakin dekat dengannya.
...----------------...
Tingg!
Sebuah pedang berbenturan dengan sebuah cakar milik seekor Spiritual Beast yang berbentuk seekor beruang besar berwarna hitam. Beruang tersebut berukuran tiga kali lipat dari beruang biasa pada umumnya, dengan sepasang mata yang berwarna merah pekat, beruang tersebut adalah seekor Spiritual Beast dengan Tingkatan Roh Tingkat Tinggi.
Sementara itu, nampak seorang pria yang tengah jatuh berlutut dengan kondisinya yang terlihat cukup mengenaskan. Jubahnya telah sobek sana-sini, darah mengalir keluar dari perutnya dan dengan diiringi raut wajahnya yang nampak kesakitan. Pedang yang telah ia gunakan untuk bertarung melawan Spiritual Beast berupa seekor beruang berwarna hitam tersebut telah hancur, menyisakan dirinya yang tengah terpojok tanpa satupun persenjataan.
Disekitar pria tersebut nampak banyak sekali mayat-mayat manusia yang sudah tidak berbentuk, darah mengalir dimana-mana, aroma amis darah tercium semerbak menusuk hidung. Sementara itu, tak jauh dibelakang pria tersebut, nampak seorang gadis berparas cantik yang tengah terduduk dengan nafasnya yang memburu.
__ADS_1
Raut wajah gadis tersebut terlihat begitu sangat tertekan, keringat mengalir deras di tubuhnya, dan dengan kedua matanya yang sayu. Kondisi gadis tersebut juga tidak kalah mengenaskan dengan kondisi pria sebelumnya, pakaian gadis tersebut nampak telah sobek sana-sini, parasnya yang cantik rupawan juga telah dilumuri oleh darahnya sendiri.
"Tuan Putri! Anda harus segera pergi menjauh dari sini!" Teriak pria tersebut dengan lantang, menyuruh gadis tersebut untuk pergi meninggalkan tempat ini.
"Tidak, paman! Aku tidak bisa meninggalkan paman sendirian disini, aku akan terus bersama dengan paman!" Bantah gadis tersebut dengan tegas.
"Tuan Putri, Anda harus pergi! Biarkan saya menahan Spiritual Beast ini! Anda harus selamat, karena Anda adalah satu-satunya pewaris Tahta Kekaisaran Liu!" Perintah pria tersebut dengan tegas, menyuruh gadis tersebut untuk pergi melarikan diri.
Gadis tersebut sama sekali tidak menggubris perkataan dari pria tersebut, karena ia tidak akan bisa meninggalkan seorang yang telah lama melindunginya untuk tewas disini. Meskipun kondisinya sudah tidak mampu lagi untuk bertarung, tetapi ia akan terus bersama dengan pria tersebut meski jika itu berarti ia juga akan ikut tewas di tangan Spiritual Beast tersebut.
Sementara itu, pria paruh baya tersebut nampak sudah tidak mampu lagi untuk kembali bertarung, terlihat jika ia tengah tergeletak tidak berdaya diatas tanah sembari menatap kearah Spiritual Beast dihadapannya itu dengan tatapan penuh kengerian. Setiap langkah yang diambil oleh Spiritual Beast tersebut, maka akan semakin besar pula rasa takut yang ia rasakan. Sampai pada akhirnya, muncul sebuah keanehan yang langsung menghilangkan semua rasa takutnya.
Clash!
Entah darimana, tiba-tiba saja muncul sebuah pedang berwarna putih yang berputar-putar di udara, dan langsung melesat menebas kaki kanan Spiritual Beast beruang tersebut. Kedua mata pria tersebut seketika melotot, karena ia sama sekali tidak menduga jika pada akhirnya keajaiban akan terjadi kepadanya, dan juga Tuan Putri yang tengah ia lindungi dengan segenap jiwa dan raganya.
Haummm!
Teriakan kesakitan dari mulut Spiritual Beast tersebut terdengar begitu sangat memekakkan telinga, bersamaan dengan munculnya seorang pemuda yang nampak begitu sangat asing bagi pria paruh baya dan juga gadis tersebut. Pemuda tersebut berdiri dihadapan Spiritual Beast tersebut tanpa adanya rasa takut, di tangan kanannya, sudah tergenggam sebuah pedang berwarna putih yang memancarkan cahaya samar berwana putih kebiruan.
"Teknik Pedang Nirwana : Tarian Dewa Pedang!"
Pemuda tersebut segera mengayunkan pedangnya dengan begitu sangat lembut, tanpa terdengar deruan angin sedikitpun. Disetiap tebasan pedangnya, maka akan ada satu bagian tubuh Spiritual Beast tersebut yang terpotong, membuat sosok pria paruh baya dan juga gadis tersebut merasa sangat takjub dan juga kebingungan akan apa yang tengah mereka berdua lihat.
Tentunya juga, Spiritual Beast tersebut tidak akan membiarkan musuhnya untuk menyerangnya terus-menerus. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya, beruang tersebut mengayunkan cakarnya yang besar tepat kearah pemuda tersebut, dengan harapan, bahwa pemuda tersebut akan tewas dengan seketika.
Tetapi, justru serangannya barusan, akan menjadi alasan Spiritual Beast tersebut binasa untuk selama-lamanya, tepat sebelum cakar Spritual Beast beruang tersebut mengenai tubuh pemuda tersebut, tiba-tiba saja pemuda tersebut menghilang dan muncul dibelakang kepala Spiritual Beast beruang hitam itu.
Clash!
Dengan sekejap mata, sebuah kepala beruang langsung menggelinding diatas tanah, dengan semburan darah segar berwarna merah yang membanjiri area sekitar. Spiritual Beast dengan Tingkatan Roh Tinggi telah berhasil ditumpas hanya dengan waktu yang kurang dari 1 menit saja.
Pemuda tersebut mendarat tepat disamping mayat Spiritual Beast beruang tersebut yang sudah tidak lagi bernyawa, kemudian, dengan ayunan tangan kanannya yang lembut, mayat Spiritual Beast yang berukuran besar tersebut seketika menghilang dengan sekejap mata.
Setelahnya, pemuda tersebut membalikkan tubuhnya, dan menatap kearah kedua orang yang telah ia selamatkan tersebut dengan sebuah senyuman lembut yang terpampang diwajahnya. Melihat rupa daripada sosok yang telah menyelamatkannya, pria dan juga gadis cantik tersebut seketika merasa sangat terkejut, karena sesosok penolong mereka, adalah seorang pemuda yang masih sangat muda sekali.
__ADS_1
Dengan ciri khasnya, yakni sepasang mata dengan pupil yang berwarna keemasan, sudah tidak salah lagi jika itu adalah Zhao Feng, yang baru saja memulai perjalanannya dalam mengemban tanggung jawabnya untuk melindungi umat manusia dari "Bayangan" untuk yang kesekian kalinya.