
Tidak terasa sudah satu tahun lebih Lani magang di kantor advokat Tobing dan Rekan. Banyak hal yang ia dapatkan disana; ilmu, pengalaman, teman dan saudara. Sekarang ia tidak perlu naik angkutan umum lagi, karena Papa benar-benar telah membelikannya sepeda motor. Lani sudah capek menolak dan Papa tetap ngotot membelikan putrinya tersebut sepeda motor.
“Lani, boleh minta tolong? “
Lani mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.
“Minta tolong apa Mas? “
“ Tolong kamu jemput laptop saya ke tempat servis, ini alamatnya. Saya sedang ada tamu. “ Andre menyerahkan
secarik kertas.
“Baik, Mas.“ Lani bangkit
dari tempat duduknya.
“Oh, ya kamu bisa bawa mobil kan? Kamu pakai mobil saya saja, khawatirnya nanti hujan, karena tadi saya lihat di luar sudah mendung “ Andre menyodorkan kunci mobilnya. “Terima
kasih sebelumnya.“
Lani mengangguk. Wah…akhirnya bisa menyetir juga, sejak di Jakarta Lani tidak pernah lagi menyetir mobil.
Ada kerinduan juga di hatinya. Dan sekarang Andre memberinya kesempatan itu.
Setelah mengambil laptop di tempat servis, Lani langsung kembali ke kantor. Alunan nasyid menemani perjalanannya. Ia ikut bersenandung. Akan tetapi malang tak dapat ditolak, dari depan meluncur truk dengan kecepatan tinggi, ia membanting stir ke kanan dan akhirnya menabrak pohon di pinggir jalan. Jantung Lani berdegup kencang. Ya Allah, jeritnya. Perlahan ia membuka mata, mencoba menetralisir hati. Pasti mobil Andre rusak. Ia keluar dari mobil dan segera memeriksa bagian depan mobil Andre. Ternyata benar, bagian depan mobil Andre ringsek dan lampunya pecah. Lani gemetar. Orang-orang mengerumuninya.
“Mbak nggak pa-pa? “ tanya seorang pemuda
Lani menggeleng. Tubuhnya gemetar. Bagaimana cara memberitahu Andre tentang hal ini? Lani takut sekali. Pasti Andre akan memarahinya habis-habisan. Kesalahan kecil saja yang ia lakukan bisa membuat Andre memarahinya, apalagi kesalahan besar seperti ini.
Lani mengambil ponsel dari sakunya dan segera menghubungi Andre.
“Mas, saya…saya menabrak pohon “ kata Lani dengan suara bergetar.
“Apa? “
Lani menggigit bibir, dari nada suaranya saja bisa dipastikan Andre akan marah besar.
“Dimana kamu sekarang? “
“Udah dekat kantor, Mas." Lani menyebutkan nama jalan tempatnya berada sekarang.
“Saya akan kesana.“
“Baik, Mas.“
Andre menerobos kerumunan. Dilihatnya Lani duduk di trotoar sambil memegang botol air mineral, sepertinya warga sekitar yang memberinya minum. Wajahnya tampak pias, matanya berkaca-kaca.
Saat melihat Andre yang datang dengan wajah masam, air mata Lani langsung menggenang. Andre memeriksa
__ADS_1
bagian depan mobilnya yang ringsek.
“Kok bisa sih, Lani? “ Andre bertanya dengan kesal.
“Saya menghindari truk, Mas. Kalau saya nggak banting stir ke kanan, pasti akan bertabrakan dengan truk itu." Lani mulai terisak.
“Istrinya jangan dimarahin dong, Mas. “ ujar seorang ibu. “ Lihat tuh, mukanya pucat banget. Masih syukur kan istri Mas nggak kenapa-kenapa.“
Andre melotot. Istri? Istri dari Hongkong?
“Iya, Mas. Mobil kan bisa diperbaiki, kalau istri Mas yang luka parah, bagaimana? Mas juga kan yang repot. “ ibu-ibu yang lain menimpali.
Wah...wah...gerombolan ibu-ibu yang luar biasa, pikir Andre. *Awas kamu Lani, gerutu Andre dalam hati. Sudah membuat mobilku rusak, sekarang orang malah menuduhku sebagai suamimu. Rugi dua kali aku. *
“Terima kasih ya, Bu. Tapi maaf, saya bukan…”
“Bawa aja istrinya pulang, Mas. Kasihan. “ seorang bapak memotong ucapan Andre.
"Ganteng-ganteng kok galak. Kasihan banget Mbak nya dapat suami begitu." celoteh seorang Ibu.
"Iya, padahal Mbak nya cantik." terdengar suara laki-laki menimpali.
Andre mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Giginya sampai gemerutuk. Orang-orang ini kenapa sih. Tapi, sudahlah. Tidak ada gunanya juga menjelaskan pada mereka tentang hubungan Andre dan Lani. Buang-buang waktu. Lebih baik segera pergi dari tempat ini, membawa mobil ke bengkel dan memarahi Lani sampai puas, batin Andre.
“Lani, ayo masuk." perintahnya pada Lani.
Lani menurut.
Andre masuk ke mobil. Sekilas telinganya masih sempat mendengar celetukan seorang ibu-ibu.
“Nggak romantis banget sih. Istrinya udah hampir pingsan begitu, bukannya dihibur malah pasang tampang
seram.“
"Ternyata ganteng nggak jaminan romantis ya, Bu'e."
Andre angkat bahu. Terserah lah orang mau bilang apa.
Mobil melaju meninggalkan kerumunan warga tersebut.
“Kita kemana, Mas? “
“Ke bengkel. Kamu pikir mau kemana? Ke Mall? “ sahut Andre kesal.
“Maafkan saya, Mas. Saya nggak sengaja. “
“Itu karena kamu tidak hati-hati. Saya jadi ragu, sebenarnya kamu benar-benar bisa nyetir nggak, sih? “
Lani menunduk.
__ADS_1
“Katanya sudah punya SIM A. Kok bisa lulus?. “ Andre geleng-geleng kepala. “ Jangan-jangan kamu sebenarnya tidak layak untuk lulus, SIM kamu nembak ya?. “ ujar Andre ketus.
Hati Lani tambah pedih mendengar kata-kata Andre. Dia kan tidak salah, pengendara truk itu lah yang sebenarnya patut disalahkan. Kalau tadi Lani tidak menghindar mungkin nyawanya sendiri yang tidak tertolong. Air mata Lani menetes kembali. Kejam sekali laki-laki ini, sekedar menanyakan apakah dia baik-baik saja pun tidak.
“Nggak usah pakai acara nangis segala. Dasar cengeng! Bayangkan, kamu sudah membuat saya rugi. Saya harus meninggalkan klien saya tadi, saya juga harus membayar biaya perbaikan nantinya. ”
“Saya aja yang menanggung biaya perbaikannya, Mas. “
“Nggak usah! Kamu pikir saya tidak sanggup membayarnya. “
Kalau sanggup membayar kenapa harus ngomel? Pikir Lani.
Mereka pun diam seribu bahasa. Lani merasa sangat bersalah sekali sedangkan Andre, entah apa yang
berada dalam pikirannya saat ini.
“Nanti kamu langsung pulang aja, nggak usah kerja lagi. “
Air mata Lani terus meleleh, susah sekali untuk membendungnya.
“Kok malah jadi kamu sih yang nangis. Harusnya saya yang nangis karena mobil saya yang rusak. “
Tangis Lani tambah keras. “Memang mobil Mas yang rusak, tapi hati saya juga hancur karena merasa bersalah. Mas pikir saya senang mobil Mas rusak. Belum lagi saya shock, kalau tadi saya celaka gimana. Mas mungkin nggak ngerasa rugi, tapi saya? Saya harus bilang apa sama orangtua saya. “
Andre tidak bergeming.
“Mas kan yang nyuruh saya bawa mobil, harusnya tadi saya naik motor aja. “
“Maksud saya kan biar kamu nggak susah megangin laptopnya, belum lagi cuaca mendung. Lagipula kenapa kamu nggak bilang belum mahir menyetir. “
“Saya sudah mahir menyetir! “ jerit Lani. “ Itu tadi ketidaksengajaan. Oh, ya…ya…ya, saya tahu, yang paling hebat didunia ini memang cuma anda Pak Andre. Saya lupa kalau saya ini hanya orang kampung yang nggak biasa bawa mobil, yang nggak tahu apa-apa soal mobil, saya yang biasa naik angkutan umum. “
“Saya nggak ngomong seperti itu ya? Kamu yang merasa begitu. “
“Tapi dari cara Pak Andre memarahi saya, itu kelihatan sekali kalau Pak Andre menganggap saya tidak bisa apa-apa. Sama sekali tidak punya rasa empati, sekedar menanyakan apakah saya baik-baik saja pun tidak. Bagi bapak, mobil lebih berharga dari nyawa manusia. Luar biasa. Saya tidak menyangka Pak Andre begitu orangnya. “
“Kamu ini ngotot sekali ya…aneh! “
Lani mendengus kesal.
“Kamu suka sekali menarik kesimpulan sendiri." Andre geleng-geleng kepala. “Kamu orang paling aneh yang pernah saya kenal. “
“Saya memang aneh, kampungan, bodoh. Sekarang, turunkan saya disini. Saya mau naik angkot aja. Silahkan ke bengkel sendiri. “
Andre me-rem mendadak. Kepala Lani terhempas ke sandaran jok mobil, Lani mengaduh kesakitan.
“Terserah. Keluar aja sana.“
Lani membuka pintu mobil, keluar lalu membantingnya dengan keras. Wajah Andre merah padam.
__ADS_1
@@@