
Malik duduk di hadapan mereka dengan muka ditekuk dan rahang mengeras. Kemarahan terpancarĀ jelas dari wajahnya.
"Mbak sudah bilang, tahan emosi kamu. Satu masalah belum selesai, sekarang masalah lain datang lagi." ujar Mala.
"Mereka menjebakku, Mbak."
"Karena mereka sudah tahu sifat kamu yang mudah marah. Jadinya mereka manfaatkan." suara Mala bergetar. "Kalau begini, Mbak jadi pusing sendiri, belum lagi Ibu sekarang jatuh sakit sejak kamu dibawa ke kantor polisi."
Malik mengangkat wajah, rasa sesal menyeruak di dadanya. "Ibu sama siapa di rumah, Mbak?"
"Mbak titip sama Bu Sunarti, tetangga kita."
Malik menghela nafas.
"Kita akan usahakan bicara baik-baik dengan Mila agar dia mencabut laporannya." ujar Mardin.
"Saya tidak mau mengemis sama dia." kata Malik ketus. "Ntar makin ngelunjak. Biar saja saya di penjara daripada harus memohon padanya."
"Begini Malik, kita tidak mengemis tapi menyelesaikan dengan jalan kekeluargaan. Kita disini hanya ingin meminimalisir persoalan. Jadi, kita bisa fokus kepada perkara perdata yang sedang kita hadapi. Kami pikir, itu lebih penting." kata Andre.
"Coba berpikir lebih jernih, Bang. Ini sekarang bukan tentang egoisme pribadi, pikirkan tentang untung rugi. Jika menghadapi dua masalah sekaligus, kerugian akan lebih besar." tambah Mardin.
"Apa untungnya kamu di penjara, Lik? Jangan ngeyel begitu, turuti aja kata bapak-bapak pengacara ini. Mereka sudah berbaik hati membantu kita, padahal kita tidak banyak uang untuk membayar mereka." Mala mulai menangis. "Pikirkan Ibu, kalau kamu di penjara, Ibu akan lebih sakit. Siapa yang akan membantu Mbak menghadapi masalah ini kalau kamu berada di dalam. Mbak nggak kuat sendirian, Lik. Tolong turunkan ego dan emosi kamu." tangis Mala pecah.
Mardin mengangsurkan kotak tisu di hadapannya pada Mala. Malik menunduk dalam. Ia sibuk berperang dengan pikirannya.
"Aku dendam dengan si Ardi itu. Pasti dia biang keladi dari semua masalah ini." kata Malik.
"Mbak tahu perasaanmu, Mbak juga merasakan hal yang sama. Karena itu mari kita selesaikan satu persatu, kamu harus keluar dari sini." Mala menyentuh tangan adiknya. "Kita hadapi sama-sama, kita bertiga dengan Bang Syakir. Kasihan Ibu, Lik. Sudah tua harus dihadapkan dengan persoalan begini. Harusnya beliau bisa tenang menikmati masa tuanya."
Andre menghela nafas panjang. Pun demikian dengan Mardin. Momen ini sangat mengharukan.
"Saya akan bicara dengan polisi. "Andre berdiri dari duduknya. "Din, tolong bantu Mbak Mala untuk meyakinkan Malik, ya." Ia menepuk bahu Mardin.
Mardin mengangguk.
"Yang mengalah bukan berarti salah. Kita mengalah untuk menang." Mardin berargumen.
"Perbuatan Mbak Mila ini sangat kejam, Bang. Tega dia merampas apa yang menjadi hak milik ibunya, bahkan ia juga mengusir ibu dari rumahnya sendiri."
"Hati manusia bisa berubah, apalagi jika sudah berkaitan dengan uang dan harta. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi; anak menggugat ibu, anak menggugat ayah, saudara menggugat saudara."
"Ini pelajaran untuk kita agar lebih hati-hati kedepannya." tukas Mala.
"Padahal selama ini ibu tidak pernah merepotkan mereka. Walau tinggal bersama mereka, ibu tetap memberikan bantuan untuk makan sehari-hari. Ibu kan masih punya uang pensiun Bapak meski tidak seberapa. Ibu juga tidak pelit kepada anak-anak Mbak Mila, aku sudah melihat bagaimana perlakuan ibu kepada mereka. Tapi dia tega jahat sama Ibu."
"Bapak pensiunan apa?" tanya Mardin.
"Guru SD." jawab Mala.
Mardin manggut-manggut
@@@
Setelah melalui perdebatan cukup panjang di hadapan polisi antara pihak Malik sebagai terlapor dengan pihak Mila sebagai pelapor, akhirnya mereka sepakat menempuh jalur perdamaian. Mala yang tampak paling lega setelah Mila mengatakan akan mencabut laporannya. Ia berulangkali mengucap syukur dan terima kasih kepada kakak sulungnya itu. Sementara Malik hanya bungkam. Beberapa kali Mala menyenggol lengannya dan memberi kode agar mengucapkan terima kasih.
"Sudah dirundung masalah, masih juga sombong." ujar Mila ketus.
"Maafkan Malik, Mbak." kata Mala.
"Kenapa jadi kamu yang minta maaf, emangnya dia nggak punya mulut sendiri."
Mala menghela nafas.
"Ibu Mila, silahkan tanda tangan disini." suara polisi menghentikan perdebatan mereka.
Dengan agak kasar, Mila mengambil kertas yang disodorkan polisi dan mulai menandatanganinya. Setelah selesai ia kembalikan.
"Pak Malik, silahkan tanda tangan disini." si polisi mengangsurkan surat persetujuan damai ke hadapan Malik. Malik menerimanya dan menandatangani surat itu.
"Baik, bapak ibu sekalian, prosedurnya sudah kita laksanakan, besar harapan kami, masalah seperti ini tidak terjadi lagi. Akur-akur lah, kalian kakak beradik." ujar polisi yang menangani perkara mereka. "Malu lah, masa dengan saudara sendiri mau bunuh-bunuhan."
"Terima kasih, Pak." Andre menjabat tangan polisi tersebut diikuti oleh yang lain.
Terakhir, Malik menyodorkan tangannya kepada Mila, agak lama juga Mila menyambutnya.
"Terima kasih, Mbak." ucapnya.
Mila tidak menyahut, ia hanya menerima uluran tangan adiknya itu. Setelah berbasa basi dengan Andre dan Mardin, Mila dan rombongannya pamit pulang.
"Alhamdulillah, satu masalah sudah selesai. Kita bisa fokus kepada gugat perdata atas Bu Rukiyah. Kami sedang menyiapkan eksepsinya." ujar Andre.
"Baik, Mas. Terima kasih atas bantuannya." ucap Mala penuh haru.
"Sama-sama, Mbak. Titip salam untuk Bu Rukiyah, semoga beliau segera pulih." kata Andre.
"Perkara ini mungkin akan banyak menguras emosi dan energi, semoga Bu Rukiyah siap." kata Mardin.
"Insya Allah, Bang. Kami akan menjaga Ibu dengan baik." ujar Mala.
Andre merangkul Malik dan menepuk bahunya. "Kamu anak lelaki satu-satunya, tetap semangat ya. Demi Ibu."
__ADS_1
Malik mengangguk, kemudian memeluk Andre erat. "Terima kasih, Mas. Maafkan saya sudah menambah kerepotan."
"Nggak pa-pa. Saat ini kami adalah kuasa hukum keluarga kamu, sudah sepantasnya kami bantu menyelesaikan. Kita berdoa, semoga putusan hakim tidak terlalu merugikan kita. Kembalikan semuanya pada Allah, minta pada-Nya karena Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia."
Malik mengangguk sambil menyeka matanya yang mulai berembun. Mala tersenyum haru.
@@@
Sehabis makan siang yang sudah sangat terlambat, Andre dan Mardin kembali ke kantor. Mereka kembali disibukkan dengan eksepsi dari gugatan perdata yang dilayangkan pada Bu Rukiyah.
"Kukirim ke WA mu ya, coba kau cek." kata Mardin.
"Oke." sahut Andre.
"Ya, halo. Assalamu alaikum, Sayang." Andre langsung mengangkat ponselnya saat melihat nama sang istri tertera di layar.
"Lagi dimana, Mas?" seperti biasa suara Lani terdengar ceria.
"Di kantor."
"Udah makan siang belum?"
"Udah, tadi sama Mardin, sepulang dari kantor polisi. Kamu udah makan?"
"Nih, lagi makan." terdengar suara Lani mengunyah. "Mas, tebak deh, aku lagi sama siapa coba?"
"Lagi sama Saif?"
"Iya bener, tapi sama seseorang juga."
"Siapa?"
"Yudi."
"Yudi siapa?" dahi Andre mengernyit.
"Yudi sepupu Lani itu lho, pariban Lani. Yang dulu ketemu sama Mas di rumah Papa Mama, yang waktu kita belum menikah." Lani menjelaskan.
Seketika perasaan Andre menjadi tidak enak. "Dia di Jakarta?"
"Iya. Nyampe kemarin siang."
"Ngapain?"
"Ada urusan pekerjaan, sekaligus ada urusan pribadi juga. Dia minta bantuan Lani untuk menemani."
Andre menghelas nafas.
"Tetap aja nggak baik. Lagian kamu tadi nggak minta izin sama Mas." Andre mulai menggerutu.
"Udah. Lani minta izin di WA, tapi Mas nggak baca."
"Kenapa nggak ditelpon?" suara Andre menuntut.
"Waduh, maaf ya, Mas. Habisnya Lani buru-buru, dari kantor jemput Saif dulu ke rumah trus jemput Yudi ke tempatnya menginap. Yudi juga ngomongnya mendadak."
"Ya, deh. Hati-hati. Salam sama Yudi."
"Oke, Sayang. I love you."
"Love you too."
Andre menutup percakapan dengan wajah masam. Mardin terkekeh melihatnya.
"Kenapa si Yudi ada di Jakarta?"
"Katanya ada urusan kerjaan dan urusan pribadi."
"Urusan kangen sama si Lani, kali." Mardin menggoda Andre.
Yang digoda wajahnya bertambah masam.
"Cieeee...yang lagi cemburu." ledek Mardin.
@@@
Selepas Isya, Andre tiba di rumah. Begitu mendengar mobil suaminya memasuki garasi, Lani segera bangkit untuk membuka pintu dan menyambut sang suami.
Andre turun dari mobil dengan wajah lesu. Lani tersenyum lebar dan memeluk suaminya.
"Assalamu alaikum. Lesu amat mukanya." kata Lani.
"Waalaikumussalam. Capek. " sahut Andre, lalu mengecup kening Lani.
Mereka berjalan masuk ke rumah sambil berangkulan.
"Banyak kerjaan?"
"Begitu lah. Kamu gimana?"
"Lani free hari ini. Kemarin kan baru sidang putusan cerai teman Lani itu. Mantan suaminya banding." cerita Lani.
__ADS_1
Andre manggut-manggut. "Saif udah tidur?"
"Udah. Mas udah makan?"
"Udah, tadi pesan online. Makan di kantor. Kamu?"
"Udah. Nggak mau makan lagi?"
"Nggak, deh."
"Udah Isya?"
"Udah, tadi di perjalanan pulang mampir di masjid."
Lani tersenyum.
"Mas mandi dulu, ya."
"Oke, Lani siapin baju ya."
@@@
Andre keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar. Dilihatnya Lani sedang duduk di tempat tidur sambil memegang ponsel, sepertinya sedang berbalas pesan dengan seseorang. Andre mendekat.
"Siapa , sih?"
"Yudi. Besok dia minta ditemanin lagi."
"Sama kamu?"
"Iya, Mas. Dia nggak ada saudara disini, cuma Lani satu-satunya."
"Nemanin kemana, sih? Kalau tahu begini Mas nggak kasih izin kamu beli mobil." Andre merengut. "Enak aja si Yudi jadiin istri Mas sopirnya selama di Jakarta. Sekarang kan semua-semua udah gampang, banyak taksi online."
"Yudi baru kali ini ke Jakarta, Mas. Wajar lah masih agak gimana gitu. Lani sebagai saudara nggak enak juga udah dimintai tolong."
"Saudara sih saudara, tapi kan si Yudi itu punya perasaan khusus sama kamu." gerutu Andre.
"Wah, kamu cemburu ya, Mas?" Lani terbahak. "Lani pikir Mas nggak pernah ngerasa cemburu gitu ke Lani."
Andre mendengus. "Jadi, nggak boleh cemburu?"
Lani masih tertawa. "Boleh lah." Lani mengacak rambut suaminya. "Tenang Mas, Yudi kesini juga sekalian mengunjungi rumah calon mertuanya. Makanya dia minta bantuan Lani."
Andre menaikkan alis.
Lani mencubit hidung suaminya gemas. "Calon istrinya Yudi itu rumahnya di Jakarta, tapi kerja di Medan. Mereka udah berencana menikah, Mas. Karena itu Yudi diminta keluarga si perempuan untuk berkunjung ke rumah mereka. Kayak kamu dulu lho, Mas."
"Oh, begitu. Trus, udah jadi?"
"Belum, besok jadinya. Mas bisa ikut nemanin nggak?"
"Kamu aja, deh. Mas malas sama urusan begituan."
"Hummm...katanya cemburu, nggak senang kalau Lani pergi sama Yudi."
Andre berpikir. "Lihat besok, deh. Kalau nggak sibuk, Mas ikut."
Lani tersenyum. "Gitu, dong. Jangan cemburu lagi, ya."
"Wajar lah kalau cemburu. Si Yudi itu kan cinta banget sama kamu."
"Tapi kan, Lani nggak cinta sama dia Mas. Lani cinta-nya sama Mas Andre seorang." ujar Lani dengan wajah menggoda.
"Gombal banget, sih. Pakai wajah menggoda segala lagi. Jadi pengen bikin adik untuk Saif."
"Yuk, Lani setuju." ujar Lani antusias.
"Eh, serius ini?"
Lani mengerjap-erjap dengan jenaka. "Serius."
"Kamu siap hamil lagi?"
"Siap!" Lani mengangkat tangannya berlagak sedang memberi hormat.
Andre tergelak. "Alhamdulillah, akhirnya bisa bebas juga dari penghalang itu. Kalau gitu, mari kita mulai." Andre menerkam istrinya. Lani terkikik geli.
"Lani pakai baju dinas dulu."
"Nggak usah, langsung aja."
"Mas nggak cium Saif dulu?"
"Ntar aja kalau udah kelar." ujar Andre dengan suara parau.
Lani tergelak melihat tingkah suaminya.
Dan...
Bulan pun bersembunyi di balik awan, seolah malu melihat suami istri yang sedang memadu kasih itu.
__ADS_1
@@@