
Masih Flashback..
Sepulang dari masjid, orangtua Lani mempersilahkan Andre untuk istirahat. Alih-alih berisitirahat di kamar tamu, Andre lebih memilih beristirahat di gazebo yang ada di belakang rumah. Halama belakang rumah Lani memang luas. Disana ada gazebo, lapangan basket mini, kolam renang mini, kolam ikan mas, berbagai macam tanaman seperti pohon lengkeng, jambu biji, jahe, kunyit, jeruk purut, lengkuas, sereh, pandan, jeruk lemon, kemangi, kencur dan beberapa jenis bunga. Semuanya nampak terawat.
Andre merebahkan diri di lantai gazebo yang beralaskan karpet dengan beberapa buah bantal diatasnya. Iseng-iseng Andre mengambil foto selfie muka ngantuk dengan latar belakang kolam renang dan lapangan basket, lalu mengirimkannya kepada Lani melalui aplikasi pesan. Ia yakin ketika menerima foto itu Lani akan ngomel-ngomel. Andre tertawa sendiri membayangkan ekspresi Lani.
Semilir angin yang berhembus membuat matanya cepat mengantuk. Andre pun tertidur sambil mendengkur halus. Ia memang sangat lelah. Apalagi akhir-akhir ini ada beberapa kasus pelik yang harus ia tangani.
***
Lani baru saja selesai menyantap bekal yang ia bawa dari rumah saat sebuah pesan masuk. Foto Andre dengan muka mengantuk masuk ke pesannya, disertai kalimat; Nyaman sekali berada di rumah Tuan Putri Lani.
"Astaghfirullahal adzim. Ni anak, ya. Bener-bener deh. Ngapain foto beginian dikirim ke aku."
Lala teman sekantornya yang mendengar Lani berseru, menoleh dan mengintip ke layar ponsel milik Lani.
"Cieeee...yang dapat kiriman foto dari Pangeran Pujaan Hati. Berbunga-bunga dooong."
Lani kaget dan langsung menutup aplikasi pesan miliknya.
"Mas Andre dalam kondisi gimana pun, tetap aja ganteng nya to the max ya. "Goda Lala. "Wajar aja Lani sampai kesengsem gitu."
"Siapa yang kesengsem, Lala?"
"Ya, kamu lah. Mungkin waktu disodorin sama Mbak nya Mas Andre kamu langsung terima dong, nggak pakai acara nolak-nolak."
"Kata siapa? Ih, nggak lah ya."
"Hummm...ngeles. Udah lah ya. Siapa sih yang sanggup menolak pesona seorang Andre Maulana Razif. Cakep parah gitu. Ngalahin artis-artis."
Lani terbahak. Meski demikian, dalam hati Lani mengakui sih kalau Andre itu memang cakep.
"Lan, serius dong. Mas sih sampai sekarang kalian belum ngomong cinta-cintaan? Kan udah mau nikah lho."
"Apaan sih Lala? Ya belum laaaah."
"Kok belum? Aku kali, pasti nggak tahan, pasti pengen cepat-cepat bilang cinta, mungkin juga langsung nyosor aja kalau lagi deketan."
"Ih, Lala horor deh. pake acara nyosor, kayak bebek aja. "Lani tergelak.
"Ini beneran Lan, serius lu belum cinta-cintaan sama Mas Andre? Makhluk cakep gitu dianggurin. Kuat lu Lan? Setebal apa sih iman lu?"
"Belum boleh atuh Lala. Belum halal. Masih ada batasan yang harus dijaga. Sebelum janur kuning melengkung belum boleh cinta-cintaan, apalagi sampe nyosor-nyosoran."
"Lu kuat gitu pas deketan, nggak ser-seran? Nggak ngerasa dag dig dug pengen numpahin rasa gitu."
"Ya ampun, Lala. Aku sama Andre jarang ketemu kali. Kalau pun ketemu, kita bahas hal yang penting dan nggak pernah berduaan, selalu bareng sama Mbak Andini. Pokoknya, semua masih harus dijaga, masih ada batasan. Tunggu sampai ijab qobul."
Lala nyengir.
***
Andre tersentak dan langsung terbangun karena dering ponsel. Mardin.
"Humm, ya Din. Ada apa?"
"Cie...yang lagi di rumah calon mertua, ditelponin dari tadi nggak ngangkat." Ejek Mardin di seberang sana.
Andre tertawa. Lalu mereka terlibat pembicaraan yang sangat serius, tentunya tentang pekerjaan. Sesekali Andre mengucek matanya yang masih terasa lengket. Saat Andre masih berbicara dengan Mardin, seorang laki-laki terlihat mendekati gazebo. Andre kaget melihatnya dan mencoba tersenyum, sementara laki-laki tersebut hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Oke, Din. Nanti kita sambung lagi." Andre mengakhiri percakapan demi merasakan ada aura ketidaknyamanan di sekelilingnya. Siapa lelaki muda ini? Andre menaksir-naksir usianya sekitar 25 tahunan, tinggi kurang lebih 165 cm, posturnya sedikit gempal, dan berkulit putih.
Walaupun belum tahu siapa lelaki tersebut, Andre tetap mengulurkan tangannya dengan ramah, mengajak berkenalan. Bisa saja ia adalah salah satu kerabat Lani.
"Andre."
"Yudi." si lelaki menerima uluran tangan Andre.
Tanpa dipersilahkan, Yudi langsung duduk berhadapan dengan Andre. Mereka berdiam diri beberapa saat, sampai kemudian Andre memecah keheningan.
"Sepupunya Lani?"
"Ya, tepatnya pariban Lani."
Dahi Andre mengernyit. "Maaf, pariban itu apa?"
Yudi tampak menghela nafas. "Pastinya kamu bukan orang batak. Pariban itu anak Namboru, Namboru itu bibi. Ibu saya adalah namboru atau bibinya Lani, dan saya memanggil Papa Lani; Tulang. Papa Lani dan Ibu saya saudara sepupu." Yudi menjelaskan dengan rinci.
Andre manggut-manggut.
__ADS_1
"Saya kemari mau bertemu Tulang, saya lihat sepeda motor Lani terparkir di depan. Saya pikir Lani pulang, tapi kata Nantulang (Mama Lani-red), bukan Lani yang pulang, tapi calon suaminya yang datang."
Kalimat itu terasa tidak enak di telinga Andre, sebagai seorang pengacara dia mencium ada sesuatu yang tidak beres.
"Saya ingin tahu, orang seperti apa yang akan menikahi pariban saya."
Hohoho..ada aroma persaingan disini saudara-saudara. Andre mengulum senyum.
"Saya penasaran, kenapa Lani lebih memilih anda dan meninggalkan saya."
Alis Andre terangkat. Ini masalahnya ternyata.
"Maaf, bisa diulang kalimat anda yang tadi?"
"Apa terdengar tidak jelas? Lani itu calon istri saya. Sejak usia remaja kami sudah dijodohkan. Saya sabar menunggu sampai Lani lulus kuliah, sampai dia resmi menjadi pengacara. Tapi dia malah memilih anda dan meninggalkan saya."
Andre mengusap tengkuknya. Jika dilihat laki-laki ini tidak seperti orang yang mengalami gangguan mental. Tidak juga sedang mabuk atau dibawah pengaruh obat sehingga jadi berhalusinasi. Apa mungkin semua yang dia katakan benar? Lalu, jika benar kenapa Lani tidak berterus terang dari awal, bahwa dia meninggalkan seorang calon suami yang setia menunggunya pulang. Lani mempermasalahkan tentang Davina, tapi ternyata ia sendiri pun punya masalah dengan lelaki ini. Skor 1:1 kalau begini.
"Lani tidak pernah becerita tentang hal ini." Ujar Andre
"Tentu saja, karena dia mungkin sangat menyukai anda, sehingga dia menutupi fakta tentang perjodohan kami. Mungkin kalau Lani tidak bertemu anda, dia tidak akan meninggalkan saya."
"Kami memutuskan untuk menikah setelah melalui proses ta'aruf. Kami tidak pacaran seperti yang mungkin anda pikirkan."
"Saya tidak bilang kalian pacaran, karena saya tau Lani orangnya tidak mau pacaran. Yang saya maksud, mungkin saja Lani menyukai anda diam-diam, karena saya dengar dari Tulang, kalian dulunya satu kantor, saat Lani masih magang."
"Saya akan konfirmasi hal ini ke Lani."
"Konfirmasi apa? Tentang perjodohan kami?"
"Bukan. Tentang kebenaran dia diam-diam menyukai saya sejak masih satu kantor." Andre mengulum senyum. "Kalau benar, itu akan menjadi fakta yang sangat mengejutkan, mengingat batapa seringnya kami bertengkar dulu."
Yudi mendengus.
"Kalau tentang perjodohan kalian, saya akan tanyakan langsung ke Pak Azhar."
"Silahkan."
Andre menampilkan senyum terbaiknya demi melihat Yudi menatapnya dari atas ke bawah, seperti melakukan penilaian. Tentunya Andre ingin dapat nilai baik di mata rival-nya ini.
"Apa yang anda sukai dari Lani?"
Mata Yudi membulat.
"Maksud saya, sejauh yang saya tahu Lani itu baik, karena dia baik ya saya suka."
"Kapan kalian akan menikah?"
"InsyaAllah akan diputuskan saat keluarga saya datang kemari. Lebih cepat lebih baik."
Yudi menghela nafas berat, matanya menerawang. Oalah Lani, janji apa yang kau ucapkan pada laki-laki ini sehingga ia tampak begitu patah hati, Andre bergumam dalam hati, ternyata kamu jahat!
"Setiap kali saya menghubungi Lani, tanggapannya sangat dingin. Saya hanya ingin tahu apa alasan dia lebih memilih anda daripada saya. Padahal saya sudah menemaninya sejak kami masih anak-anak, sementara anda adalah orang yang baru dia kenal. Saya sangat penasaran dengan calon suaminya, dan hari ini Allah takdikan kita untuk bertemu."
"Senang bertemu dengan anda."
Yudi mencoba tersenyum, walau tampak sekali dipaksakan.
"Kita bisa menjadi saudara." Ucap Andre tulus.
"Kita memang akan jadi saudara. Kalau dalam adat batak, posisi saya dengan anda adalah sama. Anda akan jd saudara laki-laki saya."
"Oh, begitu ya?"
Yudi mengangguk. "Saya pergi dulu." Ia beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan Andre yang masih termangu.
Andre mengecek ponselnya, ada pesan dari Lani, balasan pesannya tadi siang.
Cari mati, Pak?
Andre terbahak. Lalu membalas.
Andre : Pariban kamu cakep juga ya.
Lani : Maksudnya apa nih?
Andre : Pariban kamu, calon suami kamu si Yudi.
Lama baru ada balasan.
__ADS_1
Lani : Mas Andre ketemu Yudi?
Andre : Bukan hanya bertemu, tapi kami bertarung.
Lani : What????????? (emot kaget)
Andre : Bereskan masalahmu dengannya, baru kita bicarakan lanjutan dari proses ini.
Lani : Saya tidak ada masalah dengannya.
Andre : itu katamu. kata dia kalian belum selesai. bereskan segera. saya tidak mau menikah dengan calon istri orang.
Lani : Dia halu
Andre : Dia bukan ODGJ
Lani : Dia ngarang
Andre : Saya melihat kebenaran di matanya. Kamu yang ngarang.
Andre mengetiknya sambil tersenyum.
***
Lani panik saat membaca pesan dari Andre. Apa yang terjadi sebenarnya. Sambil menggigiti kuku-kebiasaan Lani kalau sedang galau-ia menelepon Mamanyauntuk meminta penjelasan.
"Ah, mereka baik-baik aja kok. Ngobrol biasa, nggak ada pertengkaran. Mama kan pantau juga dari sini."
"Trus, kenapa Andre bilang mereka bertarung?"
"Nak Andre bercanda kali. Mereka baik-baik aja kok. Ini Yudi baru pulang."
"Andre dimana, Ma?"
"Masih di halaman belakang. Emang ada apa sih?"
"Andre bilang Yudi ngaku-ngaku calon suami Lani. Lalu, mereka bertarung. Mama harus jelaskan ke Andre kalau antara aku dan Yudi tidak ada hubungan apa-apa, tidak ada perjanjian apa-apa."
Ibu Hera menghela nafas.
"Lani nggak pernah bilang Iya, kan Ma. Yang pengen banget jadiin Lani menantu kan Bou mamanya Yudi. Lani nggak pernah menyetujuinya. Papa dan Mama sendiri nggak pernah maksa Lani untuk terima."
"Yudinya juga suka sama kamu."
"Yudi. Kalau Lani nggak. Trus, sekarang Yudi ngaku-ngaku calon suami Lani, Lani nggak terima, Ma. Mama dan Papa harus luruskan masalah ini."
Lani menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Beberapa hari ini Yudi memang selalu menghubunginya. Mungkin Yudi sudah tahu dari Ibunya kalau Lani akan menikah.
***
Seusai makan malam, Pak Azhar menjelaskan duduk perkaranya pada Andre.
"Ibu Yudi itu sepupu saya, dia berkali-kali bilang kepada kami untuk menjadikan Lani menantu. Sejak Lani masih duduk di bangku SMP, dia sudah sampaikan hal itu ke kami. Kami hanya tertawa. Saat Lani masih kuliah, Ibu Yudi datang lagi dan menyampaikan niat hatinya. Kami tidak berani mengatakan ya, dan hanya bilang tunggu saja selesai kuliah dulu, kalau memang jodoh pasti bertemu juga. Rasanya terlalu dini membicarakan perjodohan saat anak-anak masih kuliah, saya bilang begitu. Kami tidak menyangka ternyata Yudi juga menyukai Lani. Selama ini Lani tetap bersikap baik karena memang Yudi sepupunya."
"Lani tidak punya perasaan khusus pada Yudi.Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin Yudi bersikap kurang baik pada Nak Andre tadi siang, atas nama keluarga kami mohon maaf. " Bu Hera menambahi.
"Oh, tidak perlu minta maaf, Bu. Kami bicara baik-baik kok tadi siang."
"Lani sempat panik, karena Nak Andre bilang kalian bertarung dengan Yudi."
Andre tergelak. "Saya bercanda, Bu."
Mereka bertiga tertawa.
***
Andre mengirimkan pesan pada Lani.
A**ndre : takut gagal menikah ya, sampe panik begitu.**
Lani : Nggak usah ge-er.
Andre : ngaku aja
Lani : stop mengirim pesan untuk hal yang nggak penting. kita harus tetap batasi komunikasi.
Jleb. Kalimat yang mematikan. Andre langsung terbahak.
Andre : Baik, Bu. Maaf.
__ADS_1
***