Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Hidup Harus Terus Berjalan


__ADS_3

Dulu katong dua bahagia


Saling berbagi cerita deng cinta


Tapi skarang samua berubah


Oh mangapa... Sio mangapa


Danke s'karang beta pamit pulang


Kenangan indah seng bisa parulang


Dimana nyaman yang se bilang


Dimana samua rasa sayang


Ohh mangapa... Sio mangapa


Mo sampe kapan beta sambunyi


Sampe kapan ale lukai


Sampe hati ale biking bagini


Mo sampe kapan beta manangis


Sampe kapan ale sakiti


Se pigi dan jangan kembali


Su habis samua rasa


Seng bisa berjuang


Su pake beta pung jasa


Danke beta pulang


Matahari sa su malu


Lia se pu kalakuang


Bukang satu kali tapi su ulang-ulang


S'karang beta sadar seng bisa par bayar


Lalah deng cape sapa yang antar


Karingat takuras seng bisa par hitong


Ale bukanlah... Beta pung jantong


(Pergi dan Jangan Kembali - Vicky Salamor)


Alunan suara Vicky Salamor membuat batin Davina teriris. Sangat sakit memang, tapi ini kenyataan yang harus ia hadapi. Cukup lama ia membiarkan dirinya terpuruk dalam cinta buta. Cinta yang tak semestinya ia biarkan terlalu jauh bersemayam dalam dada.


"Yap, hidup harus terus berjalan." ucapnya pada diri sendiri.


Bulir bening mengalir di pipinya, dengan tergesa ia seka. Ia ingin mengubur luka. Mungkin dengan meninggalkan Jakarta, ia akan lebih cepat pulih.


Senyumanmu


Masih jelas terkenang


Hadir s'lalu


Seakan tak mau hilang dariku, o-ho


Dariku


Takkan mudah


Ku bisa melupakan


Segalanya


Yang telah terjadi


Di antara kau dan aku


Di antara kita berdua


(Tak Pernah Padam - Shandy Sandoro)


Lagu berpindah ke Tak Pernah Padam miliknya Shandy Sandoro. Davina tersenyum getir. Ini kenapa semua lagu terasa menusuk hati. Ia tertawa, meski air mata tetap luruh ke bawah. Tak terasa Davina sudah tiba di halaman rumahnya.


Masuk ke dalam rumah, disana -di ruang keluarga- telah menunggu Papa dan Mama. Pasti mereka ingin menanyai keputusan yang akan diambilnya; bertahan di Jakarta atau sekolah keluar negeri. Ia melangkah gontai.

__ADS_1


"Assalamu alaikum, Pa, Ma."


"Waalaikumussalam."


Davina duduk di sebelah Bu Tobing.


"Kamu jadi menjenguk Andre?"


Ia mengangguk.


"Sudah minta maaf pada Lani dan Andre?"


Ia mengangguk lagi.


"Bagaimana keadaan Andre? Masih belum sadar?"


"Waktu Vina disana, Mas Andre baru sadar."


"Alhamdulillah." Pak Tobing tampak sangat lega. "Papa sangat khawatir dengan keadaannya. Sudah dua kali Papa menjenguk belum sadar juga. Besok Papa akan kesana lagi."


Davina tersenyum.


"Lani bilang apa?" kali ini Bu Tobing angkat bicara.


"Mbak Lani menerima maaf Vina dan mendoakan agar segera diberi jodoh."


"Aamiin." ucap Bu Tobing.


"Belajarlah dari kesalahan, Nak. Jangan pernah mengulangi hal yang sama." nasihat Pak Tobing.


"Ya, Pa."


"Lalu, apa keputusan kamu?"


"Vina memilih untuk melanjutkan kuliah, Pa. Sebenarnya Vina sudah lulus tapi belum ngabarin Papa Mama karena masih ragu, antara mau berangkat atau tidak."


"Alhamdulillah. Dimana?"


"Aston University."


"Bagus. Kalau sudah lulus, tidak ada cerita ragu untuk berangkat. Tidak banyak orang punya kesempatan emas seperti itu. Kamu harus berangkat, dan kembali kesini untuk membuat Papa Mama bangga."kata Pak Tobing.


Davina mengangguk. "Ya, Pa. Davina janji akan bikin Papa Mama bangga."


"Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Tunjukkan bahwa kamu adalah orang yang terdidik dengan baik. Papa dan Mama tidak pernah mengajari kamu berbuat buruk."


Davina mendekat dan meraih Bu Tobing kedalam pelukannya. "Mama kan bisa jenguk Vina kesana sekalian jalan-jalan."


"Mama nggak ada teman shopping lagi."


Davina tergelak. "Kita shoppingnya di Eropa, Ma. Duitnya minta sama Pak Pengacara."


Pak Tobing terbahak. "Aku yang kerja, kalian yang ngabisin, ya. Mantap kali lah itu."


"Eits..Mama juga kerja, lho. Papa lupa kalau Mama ini punya perusahaan juga."


"Oh, ya baik..baik..Kalau begitu shopping-shoppingnya pakai uang Mama aja."


"Halah...Papa pelit."


Mereka tertawa bertiga.


@@@


Davina berdiri diantara Papa dan Mamanya. Kedua orangtua itu tampak menahan haru melepas anak gadisnya pergi ke seberang benua. Bu Tobing tampak berkali-kali menyusut air mata dengan tisu di tangannya. Begitu juga dengan Davina. Sementara Pak Tobing berusaha tegar diatas kesedihan. Ayah mana yang takkan sedih melepas putri bungsunya pergi jauh. Tapi sebagai laki-laki ia malu menunjukkan air mata didepan putrinya.


"Ingat semua pesan, Papa dan Mama. Jangan sampai terseret pada pergaulan bebas. Kamu ini orang timur dan muslim. Pegang teguh keimanan dan adat ketimuran. Jangan pernah meninggalkan sholat."


"Oke, Pa." Davina memeluk Papanya erat. "Doakan Vina ya, Pa."


"Doa Papa selalu menyertaimu, Nak."Pak Tobing mengecup kepala putrinya.


Gantian Davina memeluk Mamanya. Mereka bertangisan.


"Jaga diri baik-baik ya, Nak. Sering-sering kasih kabar."


"InsyaAllah, Ma."


"Pulanglah dengan berbekal ilmu."tambah Pak Tobing.


"Kalau bawa menantu boleh, Pa?" kelakar Davina.


"Calon menantu. Kalau menantu berarti kamu sudah menikah disana. Nikahnya harus disini."


Davina tergelak.


"Bule boleh?"

__ADS_1


"Nggak boleh!!"tegas Pak Tobing.


Davina mencibir.


"Boleh, kalau bule Turki."imbuh si Mama.


"Tidak. Vina harus menikah dengan orang Indonesia. Kalau bisa dengan orang Batak."


Kali ini Bu Tobing yang mencibir. Davina terkekeh.


"Vina pamit ya, Ma, Pa." Ia kembali memeluk Papa dan Mamanya secara bersamaan.


"Selamat tinggal, Jakarta. I'll be back soon." desisnya.


Kini harus aku lewati


Sepi hariku tanpa dirimu lagi


Biarkan kini ku berdiri


Melawan waktuku 'tuk melupakanmu


Walau pedih hati namun aku bertahan


(Akhir Cerita Cinta - Glen Fredly)


Diiringi lambaian tangan Papa dan Mama, Davina mendorong troli tempat koper-koper yang akan ia bawa ke counter check-in Garuda Indonesia. Setelah proses check-in selesai dan barang-barang telah dimasukkan ke bagasi, Davina segera masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Ia menimang-nimang boarding pas dan paspor di tangannya. Beberapa saat lagi ia akan terbang ke Birmingham, kota terbesar kedua di negeri Britania Raya setelah London. Dengan menempuh perjalanan kurang lebih 17 jam 40 menit, dan akan transit di Amsterdam, Belanda. Davina menghembuskan nafas ke udara, sudah bisa ia bayangkan betapa melelahkannya perjalanan ini. Semoga nanti di pesawat akan bertemu teman seperjalanan yang seru, jadi ada teman ngobrol, ucapnya dalam hati.


Tergesa, seorang lelaki muda meletakkan ranselnya di kursi sebelah Davina yang kosong. Refleks Davina menoleh demi mendengar suara yang cukup mengganggu.


"Kosong kan?" Lelaki itu tersenyum.


Senyumnya mengingatkan Davina pada Andre. Stupid! Ia mengumpat dalam hati. Kenapa masih kebayang juga sama laki orang, keluhnya.


"Iya, kosong. Silahkan." Davina balas tersenyum.


"Hufth..hampir aja telat." ujarnya sambil menghela nafas panjang. "Kenalin, saya Albiruni."


Davina menerima uluran tangan pemuda tersebut. "Davina, panggil aja Vina."


"Oke. Tujuan?"


"Birmingham."


"Wow."


"Kalau kamu?"


"Amsterdam. Kuliah atau kerja?"


"Kuliah, mahasiswa baru S2."


"Mantap. Kampus mana?"


"Aston. Kamu?"


"Ambil magister juga di Amsterdam University, tahun terakhir."


"Oww.." Davina manggut-manggut.


"Eh, kita satu pesawat nggak sih?"


Mereka sama-sama melihat boarding pas di tangan.


"Ha..iya, sama. Seat-nya juga sebelahan."ujar Albiruni


Mereka tertawa berbarengan.


"Alhamdulillah, akhirnya ada teman ngobrol." Davina merasa sangat senang.


"Wah, dari tadi saya juga mikir gitu, lho. Kalau nanti nggak ada teman ngobrol, paling banter saya tidur."


Davina terkekeh. "Aku panggil apa nih enaknya? Albiruni kayaknya terlalu panjang."


"Terserah mana enaknya aja. Al boleh, Biru boleh. Asal jangan Runi ya, ntar aku dikira perempuan."


Davina tergelak. Cowok ini supel juga.


"Al kayak nama tokoh utama di sinetron kesukaan emak-emak se-nusantara."


Albiruni terbahak. "Kamu tahu juga sinetron itu?"


"Ya, tahu lah. Mama di rumah nonton itu setiap malam." Ujar Davina.


"Ibu saya juga."


Mereka tertawa lagi. Sejenak Davina bisa melupakan kesedihan hatinya.

__ADS_1


@@@


__ADS_2