Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Tersinggung


__ADS_3

    Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang diawali dengan sumpah dihadapan Allah,  dengan tujuan untuk memperoleh sakinah, mawaddah dan rahmah. Setiap orang yang menikah pastinya menginginkan kebahagiaan. Ketika kebahagiaan yang diharapkan tidak berhasil ditemukan, akhirnya sebagian orang memilih untuk mengakhirinya. Cinta yang pernah ada pun pudar, semua kasih sayang yang pernah ada lenyap begitu saja. Bahkan tak jarang buah cinta mereka harus menanggung bebannya.


    Tarissa dan Mahardika sama-sama menginginkan hak asuh anak jatuh ke tangan mereka. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Tarissa, baginya harta tidak lah penting, yang penting Cinta dan Rafki berada dalam pelukannya. Tentunya Andre dan Lani sebagai penasihat hukum masing-masing berusaha untuk memenangkan keinginan kliennya. Tidak hanya ’bertarung’ di pengadilan, masalah tersebut terbawa sampai ke rumah.


”Apa sih pertimbangan Mas bahwa Cinta dan Rafki harus jatuh ke tangan Mahardika? ” tanya Lani penuh emosi ketika tiba di rumah, setelah sebelumnya di mobil saling berdiam diri.


Andre yang sedang melepas dasinya tidak menyahut.


”Mas, Lani nanya nih. Dijawab dong...”


”Apa semuanya belum cukup? Tadi kan di pengadilan sudah. ” Andre menjawab sekenanya. Tak urung hal ini membuat Lani tambah emosi.


”Cinta dan Rafki itu masih kecil, Mas. Masih butuh kasih sayang ibunya. Untuk anak seusia mereka memang lebih tepatnya diasuh oleh ibunya. Seorang ibu lebih mengerti kebutuhan anak-anaknya, karena hal itu sudah fitrahnya. ”


”Anak juga butuh kasih sayang ayahnya. ”


”Iya, tapi seorang ibu akan lebih pandai mendidik daripada seorang ayah. ”


”Siapa bilang? Buktinya banyak anak yang jadi berandalan, jadi pemakai narkoba, suka


tawuran. Mereka masih dalam asuhan ibunya. Berarti tidak selamanya ibu benar


dalam mendidik kan? ”


”Itu persoalan lain. ”


Andre menggeleng. ” Itu sama aja. Apa kamu juga yakin ketika Cinta dan Rafki bersama ibunya akan menjadi anak yang baik? Kamu lihat dong, usaha Tarissa hampir bangkrut, dari segi materi saja anak-anak akan kekurangan. ”


”Kasih sayang ibu tidak bisa dibandingkan dengan materi, Mas. ”


”Begitu juga dengan kasih sayang ayah. Sekarang ini kan Cinta dan Rafki hidup bersama ayahnya dan sepertinya mereka bahagia. ”


”Itu kata Mas. Bukan kata mereka. Secara materi tentu saja Mahardika menang. Tapi ada hal-hal yang tidak akan didapatkan seorang anak dari ayah,  itu hanya akan didapatkan dari ibunya. ”


”Kamu yakin Tarissa seorang ibu yang baik? Dia punya kekasih gelap, saat masih


bersama suaminya saja dia berani bermain api dengan lelaki lain. ”


”Dan apa Mas juga yakin Mahardika seorang ayah yang baik? Dia juga punya istri simpanan. Mungkin benar, Tarissa yang memulai semuanya tapi itu juga karena Mahardika yang tidak pernah memperhatikannya, tidak menafkahinya dan suka berbuat kasar. Mahardika seringkali memukul istrinya. Apa itu seorang ayah yang


baik? ”


”Tapi tidak semestinya seorang istri membalas perlakuan suaminya dengan selingkuh? ”


Lani geleng-geleng kepala. ” Sepertinya Mas ini ngotot karena ada egoisme pribadi. Egoisme seorang laki-laki yang tidak ingin direndahkan perempuan. ” tukas Lani tajam.


Andre menatap istrinya tak kalah tajam. ”Maksud kamu apa? ”


Lani angkat bahu. ” Yah...karena Mas laki-laki jadinya merasa terhina ketika mendengar ada perempuan yang menyelingkuhi suaminya. ”


”Emang kamu nggak? ”


”Nggak. Lani memang menginginkan Cinta dan Rafki bersama ibunya demi kebaikan mereka sendiri. ”


Andre mencibir. ”Aku lihat Mahardika juga seorang ayah yang baik. Dia memenuhi semua kebutuhan anaknya, bahkan rela menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya padahal dia sendiri sibuk. ”


”Kalau pun misalnya mereka butuh kasih sayang seorang ibu kan bisa dicarikan ibu baru." sambung Andre enteng.


Lani terbelalak. ” Mas bilang apa? Ibu baru? Gampang banget ya...”


”Kenapa? Kamu mau bilang kalau kasih sayang ibu tiri akan berbeda dengan kasih sayang ibu kandung. ”


”Itu jelas! Lani setengah menjerit, sampai-sampai dia pun kaget dengan suaranya sendiri. ”Berarti kalau saya meninggal atau terjadi sesuatu dengan pernikahan kita Mas akan merebut anak-anak dari saya dan segera menikah lagi, begitu? ” Mata Lani terasa panas.


Andre tertawa kecil. ”Anak yang mana? Jangan kan anak, hamil aja belum. ”


Lani tersentak. Sudah beberapa bulan mereka menikah, Lani memang belum hamil juga. Lani tersinggung, dia masuk ke kamar mandi dan menangis didalamnya.


Andre istighfar, dia menyadari bahwa ucapannya barusan telah membuat Lani tersinggung.


”Lani! Buka pintunya dong...kamu nangis ya didalam? ” Andre mengetuk pintu kamar mandi.


Tangis Lani tambah kencang.


”Mas minta maaf. Tadi maksudnya bercanda. ”


Andre garuk-garuk kepala. Lani ngambek, gawat! Soalnya dia tidak pandai membujuk.


”Masa gitu aja ngambek sih? ”

__ADS_1


Lani tak bergeming.


”Lani sayang...keluar dong. Udah mau Ashar lho...”


Akhirnya Lani keluar dengan wajah basah karena air wudhu.


Andre tersenyum. ”Nah...gitu dong. ”


Lani tak menggubris ucapan Andre dia segera menuju lemari dan mengeluarkan mukena untuk Shalat Ashar. Andre mendekati Lani dan berusaha meraih tangannya tapi Lani menepisnya.


”Saya mau shalat Mas. Sebaiknya Mas juga ke masjid, udah adzan tuh. ”


”Mas nggak usah ke masjid deh, kita berjamaah dirumah aja ya. ”


”Kalau gitu saya yang ke masjid. ” ujar Lani ketus.


”Lho, kok malah terbalik. ”


Lani mendengus.


”Ya udah, Mas ke masjid dulu ya. ”


Lani tidak menjawab bahkan mengangguk pun tidak. Andre menarik nafas panjang lalu meninggalkan istrinya. Lani menggigit bibir, hatinya perih.


    Andre memasuki kamar dengan perlahan, didengarnya Lani sedang membaca dzikir Al-Ma’tsurat. Ia  mendekat setelah Lani selesai, meraih tangannya lalu mengecupnya perlahan. Lani hanya menunduk. Andre mengangkat dagu istrinya, dilihatnya wajah Lani basah oleh air mata, perasaan bersalah semakin menderanya.


”Mas minta maaf, sayang. Tadi cuma bercanda. ”


”Bercanda ada batasnya Mas. ”


”Mas, tahu. Tapi tadi beneran nggak sengaja. Kalau sampai sekarang belum hamil, itu bukan salah kamu. Allah memang belum berkenan memberi kita anak, pernikahan kita masih hitungan bulan, ada orang yang sudah menikah bertahun-tahun belum dikasih momongan juga. ”


Air mata Lani jatuh membasahi tangan suaminya.


Andre tersenyum. ” Kalau dipikir-pikir, pertengkaran kita nggak penting banget ya? Masa gara-gara masalah orang. Sebenarnya kasih sayang ayah dan ibu sama-sama dibutuhkan, itu makanya kenapa bercerai itu sangat dibenci Allah sekalipun dihalalkan, salah satu alasannya karena akan memberikan efek yang tidak baik buat


anak-anak. ”


Lani belum bersuara.


”Tentang perkara yang kita tangani, kita cari jalan penyelesaian terbaiknya ya...demi kebaikan Cinta dan Rafki.”


”Bukankah sudah ditawarkan begitu, tapi sepertinya biduk pernikahan mereka benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi, nyaris tenggelam. ”


”Tapi kan belum tenggelam, Mas. Kenapa nggak kita coba untuk menariknya lagi. ”


”Masing-masing mereka sudah punya orang lain. ”


”Nggak ada salahnya kan dicoba. ”


Andre menghela nafas.


”Maafin Mas ya soal yang tadi. ”


Lani mengangguk. Andre meraih Lani kedalam pelukannya.


”Mas, kalau misalnya Lani meninggal Mas pasti menikah lagi ya...”


”Nggak usah dibahas. ” Andre mengusap-usap punggung istrinya.


”Pasti iya kan...”


Andre


mencium ubun-ubun istrinya yang masih berbalut mukena. ” Emangnya kamu nggak? ”


”Nggak. Bukankah kalau ada istri yang ditinggal mati oleh suaminya, sementara suaminya menjadi penghuni surga, lalu istrinya tidak menikah lagi maka Allah akan mengumpulkan mereka kembali di surga. Lani pengen kita bertemu lagi di surga. Insya Allah. ”


Andre terharu. ”Kamu ingat kisah Ummu Salamah kan? Ketika Ummu Salamah berkata kepada Abu Salamah untuk saling berjanji, ketika salah satu diantara mereka meninggal, tidak ada yang menikah lagi, lalu suaminya berkata 'apakah kau taat padaku?' Ummu Salamah menjawab, Ya. Suaminya berkata, 'Kelak ketika aku sudah tiada, menikah lah.' Kemudian Abu Salamah berdoa pada Allah agar kelak jika ia meninggal, Ummu Salamah diberikan suami yang lebih baik darinya. Ternyata akhirnya Ummu Salamah menikah dengan Rasulullah dan menjadi salah satu Ummul Mukminin. Kalau misalnya kamu juga diberi yang lebih baik dari Mas, kenapa nggak? ”


”Buat Lani Mas yang terbaik. ”


”Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik buat Allah. ”


”Untuk saat ini memang begitu, buktinya Allah mengumpulkan kita dalam pernikahan. Keputusan Lani menerima Mas juga setelah meminta petunjuk dari Allah, artinya Allah memang setuju kalau Mas terbaik buat Lani. Masalah kalau meninggal, pokoknya Lani nggak akan menikah lagi. ”


”Jangan pakai kata pokoknya dong. Kita kan nggak tahu rahasia Allah, sayang. Kalau misalnya kamu masih muda, risiko jadi janda muda itu kan berat, fitnah bisa menderanya kapan saja. ”


”Mas ngomong apa sih? Serem amat ah...Lani nggak mau kehilangan Mas. Kita kan baru menikah. ” Lani mencubit perut suaminya.

__ADS_1


Andre tertawa. ”Mas bilang kan kalau...”


”Ya udah...jangan dibahas lagi, kayak Mas mau meninggal besok aja. ”


Andre memeluk Lani semakin erat.


”Mas, apa Lani bilang. Susah kan kalau kita menangani perkara yang sama tapi dari kubu yang berbeda. ”


”Mas akui iya. Terkadang kita nggak bisa memisahkan antara urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Ini buktinya, masalah itu terbawa sampai ke rumah. ”


”Bagusnya dulu Lani nggak terima ya...”


”Ini kan kasus pertama kamu. ”


Lani tersenyum. ” Tahu nggak, Mas. Dulu Lani pernah bilang kalau Lani nggak akan mau menikah dengan orang yang profesi ataupun latar belakang pendidikannya sama dengan Lani. ”


”Kok gitu? ” Alis mata Andre bertaut.


”Karena pasti bakalan sering berantem. ”


Andre tertawa. ”Nggak juga. ”


”Ini buktinya. Soalnya kan sama-sama ngerti. Lani pengennya sama anak Teknik. ”


”Kenapa? ”


”Terkesan macho dan keren gitu...” Lani tertawa.


Andremencibir. ” Tapi ternyata kamu menikah dengan orang yang latar belakang pendidikannya sama bahkan profesinya. Berarti kamu termakan ucapanmu sendiri dong. ”


”Yo, awak tamakan kecek ko ha. ”


”Apa tuh? ”


”Ada deh...” Lani menyipitkan sebelah matanya.


”Bahasa Batak ya? ”


”Bukan. Bahasa Minang. ”


Andre geleng-geleng kepala. ”Kamu ini ya...orang Batak tapi suka juga pakai bahasa Minang. Sebenarnya kamu orang mana sih? ” Andre mencubit hidung Lani.


Lani tersenyum. ”Padang kan second home buat aku, Mas. ”


”Kenapa nggak nikah sama orang Minang aja? ”


”Nggak ada yang ngajak tuh...”


”Jadi kalau ada, kamu mau? ”


”Mungkin ya...mungkin nggak. Tergantung, cocok apa nggak. ”


Andre manyun. ”Jangan-jangan, dulu berharap dapat orang Minang nih...eh, ternyata dapatnya orang Jawa. ” Andre mendesah.


Lani tertawa geli. ”Kecewa ya...karena nggak diharapin. ”


”Walau nggak diharapin tapi akhirnya aku yang dapatin. ”


”Merasa rugi nggak? ”


Andre menggeleng. ” Kamu anugerah buat aku. ”


”Dan Mas musibah buat aku. ” Lani bercanda.


”Apa? ” Andre melotot.


Lani tertawa. ”Bercanda kok Mas...”


”Dapat orang ganteng bin keren bin pintar kok musibah sih...”


”Kumat narsis nya. ”


Andre terbahak. Lani menepuk pipi suaminya.


@ @ @


 


Catatan :

__ADS_1


Yo, awak tamakan kecek ko ha = Ya, aku kena ucapan sendiri ini. (menelan ucapan sendiri)


__ADS_2