
Lani memegangi perutnya. Ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang mendesak dan memaksa ingin keluar. Kepala pun mulai memperlihatkan aksinya; berat dan terasa panas. Bumi pun terasa ikut berputar. Lani merasakan ujung kakinya dingin. Lama kelamaan menjalar hingga ke seluruh tubuh. Keringat pun mulai membasahi tengkuk, leher dan dahinya. Lani berlari ke kamar mandi, sesuatu yang aneh di perutnya ingin
keluar. Huek…Lani muntah, makanan yang ia makan tadi pagi keluar semua. Pandangannya kabur, Lani berpegangan erat pada wastafel. Allah…aku kenapa? Air mata Lani keluar. Lani menegakkan kepalanya, tiba-tiba ingin muntah lagi, kali ini bukan makanan lagi yang keluar tapi cairan berwarna kekuning-kuningan.
Lani menggigil. Bibirnya sibuk berzikir.
“Mbak Lani kenapa? “ Raya, salah seorang pegawai menghampiri Lani.
“Nggak tahu nih Ray, kok tiba-tiba mual, trus saya muntah-muntah. “
“Masuk angin kali Mbak. Saya punya minyak kayu putih nih Mbak. “
“Oh, nggak usah. Saya ada kok. “ Lani mengeluarkan botol minyak kayu putih - yang selalu dibawanya - dari dalam saku blazer nya.
“Mbak mau kembali ke ruangan, mari sama saya aja. Kelihatannya Mbak masih pusing banget tuh. “ Raya meraih tangan Lani. Lani pun menurut.
@ @ @
Lani berbaring diatas tempat tidur, tadi dia pulang lebih awal karena muntah terus. Sekarang
sudah berkurang setelah Lani minum teh hangat. Ingin sekali dia menelepon Andre agar segera pulang, tapi Andre saat ini masih di pengadilan, ia takut mengganggu. Lani memejamkan matanya, tiba-tiba terbit rasa rindu di hatinya. Ia ingin segera bersandar di bahunya, menumpahkan segala rasa di dada. Ah…nggak
pernah-pernahnya begini, keluh Lani.
Terdengar suara deru mobil Andre memasuki halaman. Sebenarnya ia ingin menyambut sang kekasih, tapi tubuhnya sangat lemah – baru saja ia kembali memuntahkan cairan kental kekuningan – karena itu Lani tetap
berbaring. Beberapa menit kemudian terdengar suara mengucap salam. Lani menyahut pelan. Langkah-langkah kaki Andre semakin dekat.
“Mas udah pulang. Maaf ya Lani nggak bukain pintu. “
Andre tersenyum, dikecupnya dahi Lani perlahan. “Kamu kenapa? Kok pucat banget? Sakit ya? “ Andre
menyentuh pipi istrinya.
“Nggak tahu nih Mas. Muntah-muntah terus. Kepala Lani juga pusing banget.”
Andre meraba dahi Lani. “Kita ke dokter ya. “
“Nggak usah deh Mas. Besok aja, Mas kan masih capek. “
“Nggak pa-pa. Ayo…”
Lani mencegah tangan Andre yang hendak menariknya. “Lani nggak mau ke dokter, mau dipeluk aja. “
kata Lani manja.
Andre geleng-geleng kepala sambil bibirnya tersenyum. Diraihnya Lani kedalam pelukan, Lani membenamkan kepala di dada suaminya. Andre membelai rambutnya lembut.
“Kamu kenapa? “
“Lani kangen sama Mas. “
“Halah…kalau dulu Mas ngomong begitu, kamu pasti bilang ‘kayak nggak tinggal serumah aja.’ Sekarang kamu yang begitu. “
Lani manyun. “Mas kok ngomong gitu sih? Istrinya kangen malah diejekin. Harusnya kan seneng dikangenin.“
“Iya iya seneng. “ Andre mencium ubun-ubun Lani.
Lani mempererat pelukannya, ia sendiri heran, kenapa hari ini rasanya aneh ya?
@ @ @
Lani masih terus merasa mual. Atas saran teman-temannya Lani membeli testpack atau alat periksa
kehamilan, ia mencobanya di toilet kantor. Dan hasilnya, positif. Lani kaget sekaligus senang. Ia mengucapkan syukur berkali-kali. Akhir-akhir ini ia terlalu sibuk sampai-sampai tidak sadar kalau ternyata haidnya telat hampir satu minggu.
__ADS_1
“Gimana Mbak? “ tanya Raya.
“Alhamdulillah…saya hamil Ray. “
“Beneran Mbak. Ih…senengnya. "Raya memeluk Lani. “ Selamat ya Mbak. “
Lani tersenyum. “Makasih Ray. “
Begitu mendengar Lani hamil seisi kantor mengucapkan selamat. Lani sangat bahagia. Dia ingin segera memberitahu Andre. Pasti suaminya juga sangat bahagia.
“Sayang…Mas lagi ketemu klien nih. Telepon ntar lagi ya…” kata Andre saat Lani meneleponnya.
“Lani mau kasih hadiah buat Mas. “
“Kasih hadiahnya dirumah aja ya sayang…beneran Mas lagi sibuk nih. Nggak enak sama klien. Dagh sayang…assalamu ‘alaikum. “ telepon ditutup begitu saja.
Lani manyun. Akhirnya Lani mengirimkan pesan.
Mas syg ntar plngnya cepet ya…
Balasan dari Andre.
OK.
Singkat amat. Tapi ya udah lah…
@ @ @
Pukul sembilan malam, Lani menunggu suaminya dengan gelisah, tapi Andre belum sampai juga. ponselnya tidak bisa dihubungi, sudah puluhan kali Lani mencoba tapi tidak aktif. Lani mondar mandir di ruang tamu. Mas Andre kemana sih? Akhirnya Lani tertidur di kursi ruang tamu.
Pukul sepuluh Andre baru tiba dirumah. Lani terbangun saat mendengar mobil Andre memasuki halaman. Wajahnya tampak letih, saat Lani membukakan pintu.
”Capek banget ya Mas. ” senyum Lani terkembang. Andre hanya tersenyum sekilas.
”Kok malam banget, Mas? ”
”Kenapa nggak ngabarin Lani? ” tanya Lani sambil membuka dasi Andre.
”HP aku mati. Baterainya habis. ”
”Kan bisa pinjam HP Bang Mardin. ”
Andre menghela nafas. ”Kok cerewet banget sih? Suami capek malah diberondong dengan banyak pertanyaan. ”
Lani melongo. Kok malah jadi marah? Aku ngomong gitu kan karena cemas, batinnya.
Akhirnya Lani mempersiapkan segala kebutuhan Andre tanpa bicara. Setelah mandi, Andre makan dan Lani menemaninya, lagi-lagi tanpa bicara. Sehabis makan Andre masuk ke ruang kerjanya sedangkan Lani mencuci piring di dapur. Saat masuk ke kamar, dilihatnya Andre sudah berbaring diatas tempat tidur sambil membaca buku. Lani pun merebahkan tubuhnya di sebelah sang suami, tubuhnya lemas. Barusan Lani muntah lagi. Keinginan untuk memberi tahu berita bahagia tadi menguap sudah. Lani membelakangi suaminya.
”Kok diam aja? ” terdengar suara Andre.
”Ntar kalo banyak ngomong dibilang cerewet. ”
”Kenapa jadi sensi gitu. ”
”Siapa yang sensi? ” kilah Lani masih dengan posisi membelakangi Andre.
”Tuh nyatanya sensi. ”
”Mas kan nggak mau ditanyain kenapa pulang telat, kenapa nggak ngabarin, kenapa HP nya
nggak bisa dihubungi. Mas kan nggak mau istri Mas yang cerewet ini tahu alasannya. ”
Andre tersentak. Dia tidak menyangka kalau Lani akan berkata begitu. Perlahan Andre menggeser tubuhnya mendekati Lani. Ditariknya bahu Lani agar menghadap ke arahnya. Tapi Lani menahan tubuhnya, dengan agak kasar Andre membalikkan tubuh Lani. Lani menantang matanya.
”Kasar banget sih?" kata Lani dengan suara keras.
__ADS_1
”Kamu kan yang minta. ” balas Andre dengan keras pula.
Lani memukuli dada Andre. ”Lani benci Mas Andre. Lani kesal....”
Andre menangkap tangan Lani dan menggenggamnya erat. ”Oke..oke...Mas minta maaf. Tadi Mas nggak ngaabarin kamu dulu kalau mau ke Bogor. Mas minta maaf. Kamu jangan marah gitu dong...”
Lani membuang muka.
”Mas salah udah ngatain kamu cerewet, nggak niat. Kata-kata itu terlontar begitu saja karena Mas capek. ”
”Lani juga capek nungguin Mas. Capek sekaligus cemas, kalau Mas kenapa-kenapa di jalan. Pulang malah marah-marah. ”
”Iya iya. Mas minta maaf ya...” Andre mengecup tangan istrinya.
Lani diam. Setelah beberapa menit, akhirnya...
”Ya deh dimaafin. ”
”Nah...gitu dong." Andre mencium kening Lani yang kemudian dibalas dengan senyum oleh istrinya.
@ @ @
Andre tertegun menatap benda mungil di tangannya, benda itu ditemukannya di laci meja rias. Benda berbentuk panjang dengan tanda dua garis merah di salah satu ujungnya. Andre berpikir keras. Sepertinya aku tahu benda ini. Tapi, apa mungkin? Kalau iya kenapa Lani tidak memberitahuku. Andre bertanya-tanya dalam hati. Istrinya sedang pergi pengajian, jadi Andre tidak bisa langsung bertanya. Andre menimang-nimang benda itu.
”Sayang...ini punya kamu? ” tanya Andre ketika Lani sudah pulang.
Lani agak kaget.
”Mas nggak sengaja nemuin ini di laci meja rias. Ini punya kamu? ”
“Punya tetangga.” Jawab Lani sekenanya.
”Kalau punya tetangga kenapa ada sama kamu? ”
” Dipinjamin. ”
”Jangan becanda dong sayang. Walaupun becanda, nggak boleh sambil bohong, lho. Ini beneran punya kamu kan? ”
Akhirnya Lani mengangguk.
”Berarti kamu hamil? ” mata Andre berbinar.
Lani mengangguk lagi. Andre segera menghambur dan memeluk Lani erat. Bibirnya mengucapkan syukur berulang kali. Matanya berkaca-kaca
”Kapan tahunya.”
”Udah seminggu. ”
Dahi Andre berkerut. ”Seminggu, dan kamu nggak ngaasih tahu Mas. ”
”Setelah tahu hasilnya pengen langsung kasih tahu. Tapi Mas marah-marah waktu pulang telat itu. Jadinya Lani malas kasih tahu, mau kasih tempe aja. ”
Andre mencubit pipi Lani gemas mendengar candaan istrinya. ”Udah ke dokter? Jangan-jangan nggak akurat. ”
”Udah dan hasilnya sama. ”
”MasyaAllah, Mas seneeeeng banget. Hmm...jadi karena itu kamu muntah-muntah terus. ”
Lani mengangguk.
”Sekarang masih? ”
”Masih. ”
”Yang sabar ya...”
__ADS_1
Lani tersenyum. Mereka saling menautkan jemari. Setelah setahun menanti, akhirnya Lani mengandung. Berita bahagia ini mereka kabarkan juga kepada oran tua dan saudara-saudara, semua turut bahagia mendengar berita tersebut.
@ @ @