
Lani menyentuh lengan Tarissa yang duduk di sebelahnya, wajah Tarissa sangat tegang. Seperti hal nya Tarissa, Lani juga sangat tegang. Berkali-kali Tarissa menoleh ke arah Lani. Lani berusaha tersenyum, berharap ketegangan di wajah Tarissa akan berkurang setelah melihat senyumnya.
”Mbak Lani yakin, hak asuh anak akan jatuh ke tangan saya? ”
Lani tersenyum. ”Insya Allah. Berdoa saja Mbak...”
Tarissa menghela nafas.
Sementara itu di meja seberang sana, Andre duduk dengan gaya nya yang cool. Lani memandangi
suaminya, merasa sedang dipandangi, Andre pun menoleh ke arah Lani. Mereka beradu pandang, Lani tersenyum. Sang pangeran tampan pun membalas senyumnya. Darah Lani berdesir, lelaki pujaan hatinya itu memang sangat tampan, bahkan dari jarak pandang yang jauh sekalipun, tidak mengherankan jika banyak kaum Hawa yang jatuh hati padanya. Terkadang Lani cemburu, membayangkan suaminya bertemu dengan rekan kerja atau kliennya yang perempuan – yang mungkin saja jauh lebih
cantik dari dirinya – tapi Lani yakin, Allah akan menjaga hati suaminya.
Hakim ketua membuka sidang. Wajah Tarissa bertambah tegang. Hakim pun mulai membacakan putusannya. Tarissa mendengarkan dengan serius hingga pada akhirnya dimana hakim menyatakan bahwa hak asuh anak jatuh ke tangan Tarissa, Tarissa tidak mampu menahan tangisnya. Dipeluknya Lani dengan erat, Lani pun tak kuasa menahan haru. Sementara itu Mahardika tampak menahan emosi karena tidak terima dengan putusan hakim tersebut. Di akhir persidangan pihak Mahardika langsung mengajukan banding.
”Kau bisa saja menang disini, Tarissa. Tapi selanjutnya...tidak akan. ” ucap Mahardika setelah berada di luar ruangan sidang.
”Kita lihat saja nanti Dika. Aku tidak takut padamu. ”
Mahardika berlalu dari hadapan Lani dan Tarissa dengan mendengus kesal.
Tarissa menghela nafas. ” Sebenarnya saya nggak ingin seperti ini, Mbak. Kesannya anak-anak kok seperti barang saja diperebutkan. ”
”Semestinya ini memang tidak perlu terjadi, Mbak. ”
”Tapi, harus gimana lagi Mbak Lani. Hanya dengan cara seperti ini Cinta dan Rafki bisa kembali pada saya. ”
”Jika tidak ada perceraian, tidak akan ada perebutan anak. ” ujar Lani lirih.
”Saya juga tidak ingin bercerai Mbak, tapi saya sudah tidak kuat lagi. Pernikahan kami sudah tidak bisa dipertahankan. Kalau pun diteruskan kita berdua akan menderita. Padahal dulu kami saling mencintai. ” Mata Tarissa berkabut. ” Bayangkan Mbak, sepuluh tahun kami pacaran selanjutnya menikah selama sepuluh tahun juga. Tapi ternyata waktu selama itu tidak cukup bagi kami untuk saling memahami. Aku iri sama Mbak Lani
dan Pak Andre. Kelihatannya Pak Andre begitu lembut dan sayang sama Mbak Lani.”
Lani tersenyum.
”Berapa tahun pacaran sama Pak Andre, Mbak? ”
”Kita nggak pacaran, Mbak. ”
__ADS_1
Alis mata Tarissa terangkat. ” Jadi? Dijodohkan, gitu? ”
”Kita dikenalin, istilahnya taaruf. Kebetulan saya dekat dengan kakak perempuannya Mas Andre. Beliau yang memperkenalkan kami. ”
”Bisa ya menikah dengan orang yang baru dikenal. ”
”Yah...bisa saja Mbak. Semua kan tergantung niatnya. Kalau niat kita suci karena Allah, kenapa nggak. Taaruf juga ada masa penjajakannya, masa mencari tahu banyak hal tentang si calon, jadi nggak kayak beli kucing dalam karung. Pacaran lama-lama juga nggak menjamin pernikahannya akan langgeng kan? ”
”Benar sih, contohnya saya. Mbak Lani mencintai Pak Andre saat menikah dulu? ”
”Saya jatuh cinta setelah menikah Mbak. Tapi kalau Mas Andre katanya sudah jatuh cinta sejak masih acara lamaran. ” Lani tertawa. ” Cinta kan bisa tumbuh kalau sudah bersama. ”
Tarissa tersenyum.
@ @ @
Andre meletakkan tas nya diatas meja. Wajahnya keruh. Lani muncul dengan segelas teh
hangat dan menyodorkannya pada Andre.
”Kenapa Mas? Kok kelihatannya suntuk banget? ”
”Mahardika menuduh aku tidak berlaku profesional karena kamu jadi penasihat hukumnya Tarissa. ” Andre menarik nafas. ” Dia marah-marah karena kemarin kalah di pengadilan dan dia tidak mau memakai jasa ku lagi. ” Andre tersenyum getir. ”Dia bilang aku mengalah demi kamu. ”
Andre tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
”Mas...” Lani menarik lengan Andre.
”Itu artinya kamu lebih hebat dari Mas. ” Andre tertawa.
”Yang benar adalah karena pertimbangan hakim. Menurut mereka Cinta dan Rafki memang lebih
pantas bersama ibunya. ” kata Lani
”Tapi kan berdasarkan masukan dan bantahan dari para penasihat hukum juga. Selain itu berdasarkan bukti-bukti. ”
Lani merengut. ”Lani nggak senang kalau misalnya benar Mas mengalah. ”
”Mengalah sesekali kan nggak pa-pa? ”
__ADS_1
”Jadi benar? ” Lani terbelalak. ” Jelas aja Mas nggak profesional. Ternyata emang begitu. ”
”Menurut kamu? ”
Lani tidak menjawab.
”Mas nggak ngalah kok, sayang. Takut banget sih...? ”
”Ya iyalah takut. ”
Andre tertawa. ”Ini kan kasus pertama kamu dan kamu menang. Kita rayakan dong...”
”Nggak mau ah...gara-gara Lani menang, Mas jadi kehilangan job. ”
”Siapa bilang? Insya Allah akan ada job yang lain. Rezeki itu nggak akan kemana-mana. Yuk, kita rayain kemana nih? ”
Lani tak menjawab. Lengan kukuh Andre melingkari bahunya. ”Kita dinner ya...di restoran yang romantis. ”
”Lagi nggak mood Mas...”
Andre mendekatkan mulutnya ke telinga Lani. ”Ya udah deh, kalau lagi nggak mood keluar, kita rayain di kamar aja gimana? ” Andre menyipitkan sebelah matanya. Wajah Lani bersemu merah, ditonjoknya perut Andre. Andre mengaduh kesakitan.
”Menolak suami dilaknat sampai pagi. ”
”Siapa yang nolak sih? ”
”Trus, ngapain nonjok perut Mas. ”
”Kan cuma latihan kekuatan tangan aja. ”
”Tapi, bukan Mas dong yang jadi sasaran. ” Andre pura-pura marah.
Lani tertawa. ”Mas itu sasaran empuk. ”
”Benar kah? ” bisik Andre. ”Kalau gitu ayo sekarang...” Andre merangkul bahu istrinya erat.
”Kemana? ”
”Ke kamar. Mau kemana lagi? ” Andre melotot, Lani mendelik. ” Maksudnya, Mas mau mandi dulu, kamu siapin pakaian, terus ntar kita makan. Kamar mandi kan didalam kamar sayang...”
__ADS_1
Lani terbahak-bahak. Andre pun senyum-senyum karena berhasil menggoda istrinya.
@ @ @