Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Memori Masa Lalu


__ADS_3

Andre menatap remaja tanggung berusia 17 tahun di hadapannya. Anak laki-laki tampan itu Raditya, putra dari seorang pejabat kementerian di negeri ini, ditahan dengan dugaan pembunuhan berencana terhadap teman wanitanya, yang juga teman sekelasnya di SMA; Kirana, putri seorang konglomerat kenamaan. Sejak penahanannya, ia tidak berbicara sepatah kata pun ketika di interogasi penyidik, bahkan kepada kedua orang tuanya. Ia bungkam seribu bahasa. Hari ini, kali ketiga Andre menemaninya dalam penyidikan, ia masih tetap sama.


"Dia masih belum mau bicara." ujar seorang perwira polisi yang menginterogasinya.


Andre menghela nafas.


"Coba, Mas. Diajak bicara lagi. Saya sudah kehabisan akal." ditepuknya bahu Andre, lalu kemudian berdiri meninggalkan mereka berdua.


Andre menarik kursinya hingga kini ia berhadapan sejajar dengan Radit.


"Kamu sehat?"


Radit hanya tersenyum.


"Sudah makan?"


Radit menggeleng.


"Apa ada yang ingin kamu makan, katakan saja. Nanti saya belikan."


Lagi-lagi dia menggeleng.


Andre melipat tangan di dadanya, sambil tersenyum ia berkata, "Kamu tampan, mengingatkan saya ketika masih muda dulu, seumuran kamu. Yah...beda-beda tipis lah."


Radit tertawa kecil.


"Kamu hobinya apa; musik? olahraga? traveling?"


Radit bergeming.


"Saya dulu suka olahraga." ujar Andre tanpa ditanya. "Saya main sepak bola, taekwondo, dan basket."Ia mengusap hidungnya."Saya bintang lapangan basket. Kalau ada pertandingan basket antar kelas atau antar sekolah, yang paling banyak nonton ya, cewek-cewek." Andre tersenyum. Tak disangka Radit juga tersenyum. "Mereka manggil-manggil nama saya, Andre..Andre..Andre."


"Intinya, saya dulu idola di SMA. Saya yakin, kamu juga pasti idola di sekolah. Cakep gini."

__ADS_1


Sebenarnya tidak ada hubungan antara cerita Andre dengan kasus hukum yang membelit remaja tampan itu, tapi Andre sedang berusaha membuatnya berbicara.


"Tapi, walaupun jadi idola saya bukan playboy. Saya sering dapat kiriman surat di laci meja kelas, kadang makanan, kado. Apalagi kalau sedang ulang tahun, laci meja itu penuh. "Andre tertawa lagi, kali ini ia benar-benar terseret ke ingatan masa SMA nya."Tak satu pun dari para pengagum itu membuat hati saya bergetar. Justru saya suka sama cewek yang tidak mengidolakan saya. Atau mungkin sebenarnya dia juga nge-fans sama saya, tapi diam-diam." Ia tersenyum lebar.  Maklumin aja lah ya, si narsis ini memang ya,,begitu lah.


Andre melirik Radit sekilas, ternyata ia menyimak.


"Dia cantik." dalam hati Andre berdoa semoga Lani memaafkannya karena memuji perempuan lain hari ini."Namanya Rania, anak ekskul Pramuka. Singkat cerita, kami jadian."lagi-lagi Andre merapal doa, semoga Lani memaafkannya karena hari ini membahas mantan. Mungkin kalau Lani mendengar ucapannya hari ini, bisa diam-diaman selama sepekan, atau ada barang yang melayang, bisa juga dapat hadiah satu tonjokan. Maaf ya, sayang..kamu masih jauh lebih cantik kok.


Di kantornya, Lani yang sedang minum jus mangga tiba-tiba tersedak, jus itu mengotori kerudungnya. Tuh kaan, langsung kontak memang kalau suami lagi bahas mantan. Eh...


Kembali ke laptop.


Raditya tampak menyimak dengan tenang.


"Kami putus, di semester satu kelas tiga. Saya yang memutuskan, dengan alasan ingin menjaga diri dan hati. Sebenarnya ini andil dari kakak saya, Mbak Andini yang setiap hari ngomel di rumah sejak tahu saya pacaran. Lama-lama saya tidak tahan, akhirnya menurut. Saya mengajak Rania bicara baik-baik di kantin sekolah, tapi dia terus menangis membuat saya kelimpungan untuk mendiamkannya. Seluruh mata penghuni kantin tertuju pada kami. Saya katakan, kita putus demi kebaikan bersama. Mari saling memperbaiki diri. Kelak, jika memang berjodoh, kita pasti bertemu lagi. Saat mengatakan itu saya tidak yakin, apakah sungguh-sungguh atau hanya lip service belaka"


Mata Andre menerawang, berusaha mengingat kembali memori lama itu.


"Putusnya hubungan kami, disambut dengan bahagia oleh cewek-cewek lain. Mereka masih berharap untuk jadian dengan saya." Andre tertawa. "Padahal, saya putus karena tidak ingin pacaran lagi. Kalau masih ingin, kenapa harus putus, mendingan lanjut dengan Rania."


"Setelah putus, kami tidak saling bicara. Setiap berpapasan dia menunduk dan segera berlalu. Padahal kadang saya ingin menyapa, tapi sepertinya Rania enggan. Kalau kebetulan dia di kantin, lalu saya masuk, dia cepat-cepat menyudahi makannya dan angkat kaki, atau kalau saya sedang di kantin, dia urung masuk. Tampaknya Rania sangat membenci saya. Ya sudah lah."


"Ketika kuliah, saya sebenarnya sudah memantapkan hati untuk tidak pacaran, selain karena takut diomelin terus sama Mbak Andini, saya juga ingin fokus menyelesaikan pendidikan. Tapi ternyata, saya tidak sekuat itu."Andre tertawa. "Saya terpesona pada perempuan bernama Dayana, anak pecinta alam. Karakternya yang tegas, mandiri, dan pintar  membuat saya kalah pada prinsip yang telah dibangun. Saya mendekatinya, dan gayung bersambut. Mbak Andini tahu gelagat adiknya ini, saya diomelin lagi, saya tidak perduli. Tapi sepertinya memang Allah tidak merestui kami, Dayana meninggal karena kecelakaan sepulang dari pendakian di Semeru sebelum saya benar-benar mengungkapkan isi hati. Allah sangat menyayanginya, karena menjemputnya begitu cepat."


Raditya mengangkat wajahnya. Pias. Air mukanya langsung berubah dari tenang menjadi sedih.


"Om patah hati ketika dia meninggal?" Tiba-tiba Radit bertanya dengan suara lirih.


Andre terkejut. Ini yang dia tunggu. Sudah berhari-hari si tampan ini tidak mengeluarkan suara, ini untuk pertama kali. Andre berusaha untuk tetap menjaga ekspresinya di hadapan Radit.


"Ya. Saya sangat sedih. Saya sempat mengurung diri berhari-hari. Lalu saya mencoba mengambil hikmahnya, ini semua kehendak Allah. Allah jaga kami dari hal-hal yang tidak Dia sukai. Sejak saat itu saya memutuskan untuk memperbaiki diri secara total. Saya semakin rajin ikut pengajian. Hari-hari saya disibukkan dengan aktivitas kemahasiswaan." Andre mengenang kembali perjalanan hijrahnya.


Tiba-tiba Radit terisak. Andre mendekat, lalu mengusap-usap punggungnya. "Menangis lah. Anak laki-laki juga boleh kok menangis. Tidak ada undang-undang yang melarang."

__ADS_1


Tangisan Radit terdengar pilu. Andre merangkulnya.


"Saya gagal menyusul Kirana."lirihnya.


Alis Andre terangkat.


"Pasti dia sudah menunggu."


"Kamu mau menceritakan tentang Kirana pada saya? Saya juga ingin tahu, gadis seperti apa dia."


Radit menggeleng.


Andre menghela nafas, mungkin belum saat ini. Aku akan menunggu, pikirnya. Semoga ini pertanda baik untuk proses penyidikan kedepan. Walau hanya dua kalimat, setidaknya pemuda itu sudah mau bersuara. Andre berharap semoga besok, ia bisa mendapatkan keterangan dari Radit.


"Kamu mencintainya?"


Radit mengangguk.


"Dia pasti gadis yang baik, sampai-sampai pemuda tampan sepertimu jatuh hati padanya."


"Tapi aku tidak baik. Aku tidak menepati janji."


Dua kalimat lagi meluncur dari bibirnya. Andre menahan diri untuk tidak mendesak. Ia sengaja membangunkan sisi romantisme pemuda itu.


"Tapi dia suka sama kamu, itu artinya kamu baik. Tampan lagi. Saya lihat dari fotonya, Kirana juga cantik."Maafkan Mas ya Lani, hari ini sudah memuji tiga orang perempuan selain kamu, Andre membatin.


Seorang penyidik memasuki ruangan. Andre memberi kode untuk tenang. Radit masih menangis dengan kepala diletakkan diatas meja.


"Sepertinya untuk hari ini kita sudahi saja dulu, Pak. Besok kita coba lagi." Andre berbisik. Polisi bernama Suhendra tersebut mengangguk.


Andre kembali mendekati Radit yang masih menunduk, "Kamu istirahat dulu, ya. Besok saya kesini lagi. Oh,ya kamu mau titip sesuatu? Saya akan bawa besok."


Raditya menggeleng. Dua orang polisi mendekat dan mengajaknya kembali ke ruang tahanan. Andre melambaikan tangan.

__ADS_1


@@@


__ADS_2