
Dengan menenteng ransel yang berisi beberapa potong pakaian, Andre melangkah ke luar rumah. Setelah berpamitan dengan Saif dan Maryam, ia pergi dengan wajah yang menyiratkan kemarahan sekaligus kegundahan yang teramat dalam. Sepanjang jalan Andre sibuk berpikir kemana tempat yang hendak ia tuju. Ke rumah Mbak Andini atau saudaranya yang lain tidak mungkin, ia tidak ingin membawa permasalahan ini ke keluarganya. Sedapat mungkin ia ingin menyelesaikan sendiri. Ke rumah Mardin atau sahabatnya yang lain lebih tidak mungkin lagi, ia tidak ingin menjadi pengganggu ketenangan hidup orang lain. Akhirnya Andre memutuskan untuk menginap di hotel.
Andre melempar tasnya ke atas ranjang, menyusul tubuhnya yang terasa lelah. Empuknya kasur hotel dan sejuknya AC tidak mampu menenangkan pikiran pengacara tampan itu. Ia tetap saja merasa gundah. Kalau bahasa anak muda jaman sekarang galau tingkat dewa.
Suara dering ponsel membuyarkan lamunannya. Nama Lani tertera disana. Andre sengaja mengabaikan. Ia ingin Lani tahu kalau ia juga sedang marah. Biarlah mereka berjauhan dulu, agar masing-masing bisa berpikir dengan kepala dingin dan saling menginstropeksi diri. Ia tahu persis karakter istrinya yang akan mengungkit terus masalah ini sampai bisa ia temukan bukti bahwa Andre tidak bersalah.
@@@
Seusai shalat Isya di sebuah masjid, Andre bergerak mencari tempat makan. Setelah berkeliling beberapa menit, ia memutuskan untuk berhenti di sebuah kafe yang pernah ia datangi bersama Lani. Suasana kafe lumayan ramai, mungkin karena akhir pekan. Tapi memang, kafe ini tak pernah sepi. Mungkin karena makanannya yang enak, juga karena konsep mereka yang menarik, sehingga sangat cocok dijadikan tempat nongkrong bagi anak-anak muda. Selain itu mereka juga menyediakan live musik.
Andre memesan spaghetti carbonara, ice lemon tea, dan seporsi dimsum udang, semuanya kesukaan Lani. Ia ingat, terakhir kali mereka kesini , istrinya memesan menu tersebut. Ah, baru beberapa jam berpisah ternyata aku sudah rindu, bisiknya. Apa yang Lani dan Saif lakukan saat ini? Apakah mereka sudah makan malam? Kira-kira Lani masak apa ya? Andre mendesah galau.
Sembari menunggu makanan, ia membuka-buka galeri foto di ponselnya. Banyak foto Lani, Saif dan dirinya disitu. Andre men-*zoom *foto Lani dalam balutan gamis bunga dan jilbab warna biru kesukaannya. Dalam foto itu Lani tersenyum manis memperlihatkan gigi gingsulnya. Senyum itu menular, tanpa sadar Andre pun ikut tersenyum. Lalu, Andre berpindah ke foto lain; foto Lani lagi dengan menggandeng Saif di sebuah mall. Walau Saif sangat mirip dengan dirinya, namun senyum yang dimiliki putranya itu adalah jiplakan Lani. Andre menyentuh dadanya, ada nyeri disana. Rindu.
"Ini pesanannya, Pak. Silahkan. Selamat menikmati."
Lamunan Andre buyar saat pelayan mengantarkan makanannya.
"Oh, ya. Terima kasih, Mas."
Pelayan itu tersenyum sambil mengangguk.
Andre mulai menikmati makanannya.
"Lagu ini buat kamu-kamu yang lagi galau karena habis bertengkar dengan kekasihnya." terdengar suara sang penyanyi live music sambil tertawa renyah.
Tak semestinya kita terpisah
Tak semestinya kita bertengkar
Karena diriku masih butuh kau
Maafkanlah sikapku, lupakanlah salahku itu.
Terlalu bodoh untuk diriku
Menahan berat jutaan rindu
Apalagi menahan egoku
Maafkanlah sikapku, lupakanlah salahku, luapkan kepadaku
Takkan kubiarkan kau menangis
Takkan kubiarkan kau terkikis
Terluka perasaan oleh semua ucapanku
Maafkanlah semua sikap kasarku
Bukan maksud untuk melukaimu
__ADS_1
Aku hanyalah orang, yang penuh rasa cemburu
Bila kau tak disampingku.
(Bila Kau Tak Disampingku - Sheila On 7)
Andre tertegun mendengar lagu yang sedang dinyanyikan oleh penyanyi tersebut. Sepertinya lagu ini sangat cocok dengan kondisinya saat ini. Mendadak spaghetti yang sedang dinikmatinya terasa hambar. Andre tertawa getir, ini penyanyi merangkap peramal mungkin ya, tahu saja perasaanku saat ini, ucapnya dalam hati.
"Yang ingin request lagu atau mungkin mau nyumbang lagu juga boleh lho, dipersilahkan. Pokoknya malam ini kita hepi-hepi disini." terdengar lagi suara si penyanyi.
Andre mengedarkan pandangan kearah pengunjung kafe, mana tahu ada artis yang sedang menyamar untuk bikin konten prank seperti yang pernah ia lihat di youtube. Andre tertawa sendiri. Orang galau pikirannya memang berkelana kemana-mana ya. Ternyata tidak ada. Suara si penyanyi kembali terdengar.
Di ujung jalan itu
Setahun kemarin ku teringat
Ku menunggumu
Bidadari belahan jiwaku
Entah berapa lama
Satu jam menanti kutermenung
Kencan pertama hilang tak bertepi di anganku
Melangkah pergi berteman sepi
Terbayang teduh matamu
Cintaku selalu dalam jiwa
Di lubuk hati terdalam
Sayang jika memang kau sungguh sayang
Diriku takkan berpaling lagi
Ku peluk selamanya
(Setahun Kemarin - Kahitna)
Lagi-lagi Andre merasa lagu ini cocok untuknya, mungkin besok ia harus men-download lagu ini untuk diputar di mobil. Orang kalau lagi galau memang begitu ya, dikit-dikit baper (bawa perasaan-red). Semua lagu yang terdengar dianggap mewakili perasaan hati. Kacau memang.
Makanan dan minumannya sudah tandas, namun Andre masih merasa betah duduk disana. Ia masih menunggu lagu apa lagi yang akan dipersembahkan penyanyi kafe tersebut. Apakah lagu yang akan cocok dengan dirinya. Andre tertawa sendiri, lalu istighfar dalam hati. Pengunjung kafe yang duduk di meja sebelah menatapnya heran. Andre mengangguk lalu tersenyum pada si pengunjung sambil berujar dalam hati, semoga cowok ini tidak menganggapnya gila.
"Pak Andre?" sebuah suara membuatnya mendongak. Tampak seorang lelaki muda dan gadis cantik dalam gandengannya.
Andre mengernyit.
"Lupa ya sama saya? Saya Gilang, Pak. Kita pernah beberapa kali ketemu di Polres, Metro. Yang paling sering waktu Bapak menangani kasus anak SMA yang membunuh temannya."
__ADS_1
Andre tersenyum. "Oh, ya. Saya ingat."
Gilang, polisi muda, tampan dan ramah, si penyelamat *tupperware *Lani yang ketinggalan saat itu.
"Apa kabar?" Andre berdiri lalu berjabatan tangan dengan Gilang.
"Alhamdulillah baik, Pak. Pak Andre gimana?"
"Alhamdulillah, baik juga. Ayo silahkan gabung." Andre mempersilahkan mereka duduk.
"Nggak usah, Pak. Kita cari tempat lain aja."
"Lagi penuh, lho. Kan malam minggu. Nggak apa-apa kok, saya juga udah mau balik, nih."
Gilang dan teman perempuannya menurut.
"Sendirian aja, Pak."
"Iya nih." sahut Andre sambil tersenyum. "Ini istri kamu?" Andre menunjuk gadis muda di sebelah Gilang. Saat mengucapkan kata istri, dadanya terasa nyeri kembali, teringat istrinya yang entah sedang apa saat ini. Adakah ia sedang mengingatku, seperti aku mengingatnya? Batin Andre.
Gilang tertawa. "Belum, Pak. Masih calon. Kenalkan Pak, namanya Maya."
Yang disebut namanya tersenyum pada Andre.
"Oh, gitu. Hai, Maya."
"Ya, Pak." sahut Maya
"Pak Andre ini pengacara terkenal, Beb. Pintar, supel dan taat agama."
"Ah, bisa aja kamu. Gilang ini pernah menyelamatkan tupperware saya yang tertinggal di Polres. Kalau Gilang tidak menyimpannya saat itu, alamat bakal pecah perang dunia ketiga, May." ujar Andre mencoba bersikap akrab.
Gilang dan Maya tertawa.
"Ibu mana, Pak? Kenapa nggak diajak?"
"Oh, ada di rumah. Saya tadi nggak sengaja mampir kesini. Dalam perjalanan terasa lapar, ya udah makan dulu. Sekalian *me time." *
"Biasanya ibu-ibu yang butuh me time, Pak." ujar Maya.
"Sesekali bapak-bapak juga perlu."
Mereka bertiga tertawa.
Tak berapa lama Andre pamit, ia tidak ingin jadi penghalau nyamuk diantara Gilang dan Maya, mana lagi galau karena bertengkar dengan kekasih. Melihat orang berpasangan tentunya hati makin nggak karuan, lebih baik menyingkir sebelum merasa tersingkir.
@@@
Sementara itu di tempat lain -di rumah- seorang perempuan dengan wajah sembab, mata bengkak sedang berusaha untuk memejamkan mata. Namun sudah hampir satu jam ia berusaha untuk tidur belum juga bisa terlelap. Sementara putra tampannya sudah terbang ke alam mimpi.
"Kamu dimana, Mas? Kenapa teleponku nggak diangkat? Pesanku juga cuma dibaca tapi nggak dibalas." Lani berbisik.
__ADS_1
Lani menangis dalam diam.
@@@