
Cintaku semakin dalam padamu sejak kutahu cintamu
Kasihku t'lah kaubawa dan tunjukkan arti sebuah kesetiaan
Sungguh terlalu rasa cintaku padamu
Tak ingin lagi yang lain
Jangan ada kata-kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Kuingin selalu selamanya denganmu
Hatiku diselimuti cintamu menghangatkan jiwaku, oh...
Sungguh terlalu rasa cintaku padamu
Tak ingin lagi yang lain
(Rasa Cintaku - Mayangsari)
@@@
Hari Keempat di rumah sakit, kondisi Andre masih sama seperti sebelumnya, dan selama itu pula Lani selalu berada disisinya kecuali untuk hal-hal yang sangat penting seperti sholat dan makan. Terkadang Lani bergantian dengan Mbak Andini untuk menjagai Andre.
"Mas, tadi Papa dan Mama Lani vidcal mereka mau lihat kondisi Mas. Mama sedih banget lihat kondisi kamu. Katanya Mama Papa mau kemari."
Lani tersenyum getir.
"Mama Papa dari Yogya juga udah disini sejak dua hari lalu. Mereka nginap di rumah kita sekalian jagain Saif. Saif senang banget ketemu Eyang Kakung dan Uti nya. Oh, iya kemarin Saif juga jenguk Mas, tapi nggak bisa lama-lama."
Lani menciumi tangan suaminya.
"Mas cepat sembuh, ya. Lani takut kehilangan Mas. Lani rasanya nggak sanggup kalau berpisah sama Mas. Kita jangan pisah-pisah lagi, ya." Lani sesenggukan. "Lani juga belum sempat minta maaf secara langsung sama."
Terbayang hari dimana saat mereka bertengkar hingga akhirnya Andre pergi meninggalkan rumah.
"Ternyata udah Ashar, Mas. Lani sholat dulu ya. Sebentar aja kok." Lani tersenyum sambil mengusap air matanya.
@@@
Saat akan memasuki ruang ICU kembali, Lani terkejut saat melihat Davina yang berdiri didepan ruang ICU. Ia menatap perempuan itu dengan tajam.
”Saya minta maaf Mbak Lani. ” kata perempuan itu, dia Davina. Hari ini dia datang menjenguk Andre.
”Saya nggak tahu harus bilang apa sama kamu Vin."
”Saya menyesal, Mbak. ”
”Saya nggak nyangka kamu akan berbuat seperti ini. Kita sama-sama perempuan, muslimah juga, sebagai muslimah kita bersaudara. Kenapa kamu tega merusak keluarga saudara kamu. Waktu enam tahun tidaklah singkat. Seharusnya kamu sudah bisa menata hati kamu kembali. ”
”Itu lah yang sangat sulit saya lakukan.” Davina terisak.
Lani geleng-geleng kepala. ”Kamu dibutakan oleh cinta."
Davina meraih tangan Lani. ”Saya minta maaf, Mbak. Saya benar-benar menyesal. Apalagi saat mendengar kondisi Mas Andre saat ini.”
”Minta ampun sama Allah. ”ujar Lani.
Davina tergugu. ”Mbak tidak mau memaafkan saya? ”
Lani terdiam sejenak.
”Saya sudah memaafkan kamu. ”
Davina menghambur ke pelukan Lani. ”Makasih, Mbak."
”Cobalah kamu membuka hati untuk orang lain. Saya turut mendoakan agar Allah segera mengirimkan jodoh buat kamu. ” Lani tersenyum.
"Makasih, Mbak."
”Ibu Lani, Pak Andre sudah sadar.” suster yang merawat Andre menghampiri Lani.
”Oh, ya.” mata Lani berbinar. ” Alhamdulillah.” Lani bergegas masuk.
Sesampainya disana Lani melihat Andre sudah membuka mata. Ia langsung menghambur, memeluk suaminya erat sambil terisak, kemudian ia mengecup kedua pipi Andre lembut. Ingin sekali Andre membalas pelukan itu – rasanya sudah lama sekali tidak memeluk Lani. Yah, hampir sebulan ia meninggalkan rumah, ia rindu pelukan hangat istrinya – tapi Andre tidak dapat melakukannya, tangannya tidak bisa diangkat karena ada selang infus yang menghalanginya. Andre hanya bisa membalasnya dengan senyuman.
”Apa kabar, Sayang? ” ucap Andre terbata.
Lani menatap mata kekasihnya, lalu bibirnya tersenyum. Sudah berapa lama ya ia tidak mendengar sebutan itu. Rasanya sudah lama sekali.
”Maafkan Mas...karena...sudah...meninggalkanmu. ”
Lani meletakkan jari telunjuknya di bibir Andre. ”Lani yang salah. Sekarang kita nggak usah bahas itu. Yang penting Mas sembuh. Lani udah tahu kok, dan Lani menyesal. Seharusnya Lani percaya dengan apa yang Mas katakan.”
Andre tersenyum. ”Saif mana? ”
”Dia dirumah. Nanti kesini kok sama Papa dan Mama."
"Papa dan Mama?"
Lani mengangguk. "Iya, Papa dan Mama dari Yogya. Mereka sampai dua hari lalu dan nginap di rumah kita."
Andre tersenyum. Lani menggenggam tangan Andre
Pintu terkuak, tampak Davina masuk dengan muka ditekuk.
”Kamu...? ” kata Andre
Lani menoleh ke belakang. Dia sampai lupa kalau ternyata diluar tadi ada Davina.
”Saya datang selain mau menjenguk Mas Andre, juga mau menjelaskan semuanya sama Mbak Lani.”
Andre menarik nafas. ”Syukurlah kalau kamu mau menuruti permintaan saya. Sayang, kamu sudah tahu ceritanya, kan? ”
Lani mengangguk. ”Mas nggak usah banyak bicara dulu. Bang Mardin sudah cerita, Davina juga sudah meminta maaf tadi.”
”Sekali lagi saya minta maaf, tak sepatuntnya saya melakukan hal buruk seperti itu. Saya menyesal. ”
Lani tersenyum.
__ADS_1
”Sekalian saya juga mau pamit. Saya akan ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan."
”Kamu mau ambilS2? ” tanya Andre.
Davina mengangguk. ”Iya, Mas. Saya sudah lulus tes, tapi kemarin sempat ragu untuk berangkat. Sekarang saya sudah mantap.” dalam hati Davina melanjutkan, mungkin dengan cara seperti ini aku bisa benar-benar melupakanmu, Mas.
”Alhamdulillah. Kamu jaga diri baik-baik ya...” ucap Lani tulus. Dipeluknya Davina. Yang dipeluk sempat kaget namun akhirnya ia malah menangis di bahu Lani. Andre terharu melihat sikap istrinya.
”Makasih, Mbak.”
”Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh.”
Davina tertawa kecil. "Saya mau fokus sama pendidikan dulu, Mbak."
"Bisa sekalian." kata Lani.
Mereka tertawa.
”Saya pulang dulu ya. Semoga cepat sembuh Mas Andre. Assalamu ’alaikum.”
Lani dan Andre menjawab salam Davina.
”Vina...!! ”
Davina membalikkan tubuh saat didengarnya suara Andre memanggil namanya.
”Kamu tetap adik saya. Ingat, kita saudara kan? ”
Davina tersenyum lalu mengangguk. Ia melambaikan tangan sampai akhirnya menghilang balik pintu. Sesungguhnya perasaan Davina campur aduk saat ini. Rasa iba melihat pujaan hatinya terbaring lemah tak berdaya, rasa menyesal telah menyebabkan Lani menangis padahal perempuan itu sangat baik, dan rasa cemburu melihat pasangan suami istri tersebut saling menatap penuh cinta. Ah, semoga setelah ini semua akan kembali normal. Semoga aku benar-benar bisa melupakanmu, Mas. Ucapnya dalam hati.
Aku cinta kepadamu
Aku rindu di hatimu
Namun ku keliru
Telah membunuh, cinta dia dan dirimu.
(Keliru - Ruth Sahanaya)
@@@
Lani dan Andre berpandangan sambil sama-sama tersenyum, terpancar kelegaan di wajah Andre karena masalah yang membelit mereka akhirnya selesai.
Pintu terkuak lagi, kali ini muncul dokter dan beberapa orang perawat.
"Selamat sore, Pak Andre, Bu Lani."
"Sore, Dok."
"Alhamdulillah, masa kritisnya bisa dilewati. Pastinya senang sekali ya, Bu."
Lani tersenyum sambil mengangguk. "Alhamdulillah. Makasih, Dok atas bantuannya."
"Kami hanya perantara, Bu. Yang bikin sembuh tentunya Allah." Dokter Wiguna tersenyum.
Semua ikut tersenyum.
Dokter Wiguna memeriksa kondisi Andre, "Oke, semua baik. Bersiap untuk pindah ke ruang rawat ya, Pak."
"Makasih, Dok."
"Saya tinggal ya, Pak, Bu. Permisi."
"Baik, Dok."
"Sebentar ya, Pak, Bu, ruangan untuk Bapak sedang disiapkan."kata suster.
"Makasih, Sus."
@@@
Di ruang rawat.
Andre dan Lani berpandangan. Jemari mereka bertaut, tak ada kata. Hanya mata yang berbicara, menyampaikan rasa yang bergejolak di dalam hati keduanya.
Kamu tampak kurus, Mas. Apa kamu nggak makan selama kita berpisah, batin Lani.
Betapa aku merindukanmu, Sayang. Ah...rasanya seperti sudah bertahun-tahun kita berpisah. Dulu matamu nggak berkantung, sekarang kenapa jadi seperti mata kodok begitu? Kau pasti menangis terus kan sejak kutinggal? Andre tersenyum. Kamu lihat aku deh, kata Mardin aku tambah kurus dan jelek. Andre meremas jemari Lani sambil matanya tak lepas dari mata Lani yang dihiasi kaca mata.
Kamu tahu nggak, betapa tersiksanya aku selama kamu pergi. Kamu memang jahat, memberi pelajaran padaku sampai segitunya. Lani mengecup tangan suaminya.
Aku lega bisa menikmati senyummu kembali. Andre.
Seperti dikomando mereka sama-sama mengucapkan I love you. Mereka terpana kemudian tertawa pelan.
”Benar-benar soulmate.” bisik Andre. ”Kamu kangen Mas nggak, Sayang? ”
”Menurut Mas?”
”Kok balik nanya? Jawab, dong. Kangen nggak? ”
”Banget.”ujar Lani lirih. ”Mas sendiri gimana? ”
”Banget juga. Hampir mati rasanya menahan rindu ini. ”
”Gombal!!! ”
”Serius! Nggak percaya? Belahlah dadaku, maka akan kau temukan rindu yang membara disana, ia nyaris membakar jantung dan menghanguskan seluruh tubuhku. ”
Lani tertawa. Sejak kapan Andre jadi puitis begitu. Setahu Lani, merangkai kata-kata indah bak pujangga adalah hal yang paling sulit dilakukan oleh suaminya. Jadi, tidak usah berharap syair-syair cinta akan keluar dari bibirnya. Filosofi Andre, nggak perlu terlalu banyak berkata-kata langsung pada tindakan saja. ”Selama kita berpisah, Mas banyak baca buku sastra ya, kok tiba-tiba jadi nyastra gitu. ”
”Belajar sedikit-sedikit, biar kamu terpana.”
Lani tertawa lagi. Andre senang melihatnya.
”Katanya selama ini nggak perlu banyak berkata-kata, langsung pada tindakan saja.”
”Hmm...tindakan ya? Disini? ” mata Andre jenaka.
Lani bingung. ”Emang mau ngapain? ”
__ADS_1
”Tapi kamu bilang tindakan. ”
”Iya, tapi tindakan apa? ”
”Kamu maunya apa?" Andre menyipitkan sebelah matanya.
Lani gemas, dicubitnya pipi Andre. Andre terkekeh. "Udah nggak sabar nih mau buka puasa, hampir sebulan puasa, bikin pening juga."
Lani tertawa. "Emang sekarang udah bisa? Udah kuat?"
"Di-bisa-kan aja."
"Dasar omes!!".
"Halah..malu-malu meong. Jangan-jangan nanti malah kamu yang nerkam duluan."
Lani mengerling manja.
Mereka terkejut saat mendengar suara Saif.
”Ayah.......” Saif langsung menghambur ke tubuh Andre.
”Hati-hati, Sayang. Ayah masih sakit tuh.” Lani mengingatkan anaknya. "Eyang Kung sama Eyang Uti mana?"
Saif tidak menjawab.
Andre mencium kepala Saif yang rebah di dadanya. Dia sangat rindu pada buah hatinya itu. Mata Andre sampai berkaca-kaca.
”Ayah kemana aja, sih? Kok nggak pulang-pulang.”
"Ayah Saif jadi pengikutnya Bang Toyyib. Nggak pulang-pulang." kata Lani.
Andre tertawa. Saif nggak ngerti.
”Ayah kan kerja. Bukannya ayah pamit waktu mau pergi. ”
”Iya, tapi lama banget. Saif kan kangen. Bunda nangis lho tiap malam, sering bengong, mandangin foto ayah, dengerin suara ayah di HP. Itu lho yang kita nyanyi berdua Yah...trus yang ayah ngomong-ngomong itu.”
Wajah Lani memerah. Saif buka kartu nih, jadi malu. Ia tidak menyangka kalau Saif melihat apa yang dilakukannya,ia pikir sata itu Saif sudah tidur.
”Oh, ya? ” Andre mendelik senang. Diliriknya Lani, Lani tampak salah tingkah. ”Sampai segitunya, Bund. ” goda Andre.
”Ge-eR."
”Tapi, ayah senang lho dikangenin sampai segitunya. ”
”Ih...maunya.” Lani mencibir.
Saif memang benar. Hampir tiap malam Lani menangis sambil memandangi foto Andre. Dia juga suka
mendengarkan suara Andre yang direkam di ponsel.
”Ayah sakit apa?”
”Ayah kecelakaan."
”Apa itu kecelakaan? ” tanya Saif dengan lugunya.
”Hmm...mobil ayah tabrakan dengan mobil lain. ”
”Jadi, mobil kita rusak dong, Yah.”
”Ayah nggak tahu juga, Nak. Om Mardin yang urus."
”Trus, kita jalan-jalan pakai apa? ”
”Pakai motor aja."
”Nggak asyik, sempit!. ”
”Ya udah, kalau gitu naik bus atau taksi aja.”
”Hore!! ”
"Naik mobil Yang Kung aja." Papa dan Mama Andre memasuki ruang rawat.
"Pa, Ma." Andre berusaha duduk.
"Kenapa duduk? Udah, baring aja. Gimana kondisi kamu, Nak?" Pak Razif mengelus kepala putranya.
"Alhamdulillah sudah baikan, Pa. Papa Mama kapan sampai."
"Kita sudah dua hari disini." Mama Andre yang menjawab. "Dan kita akan disini sampai kamu bisa pulang ke rumah."
"Makasih, Ma." Lani mengelus tangan mertuanya. Ia merasa terharu.
"Sama-sama, Sayang. Kita mau berlama-lama tinggal dengan Saif."
"Kalau gitu, Yang Kung dan Uti tinggal sama kita aja disini." usul Saif. "Besok kita pergi jalan-jalan, makan enak."
”Emang kita mau jalan-jalan kemana, Sayang? Ayah kan masih sakit. ”
”Oh, iya...” Saif menepuk jidatnya. "Kalau sudah sembuh maksudnya.
Andre tertawa.
”Ayah cepat sembuh, ya...” Saif mencium pipi Andre kiri dan kanan.
”Makasih, Sayang...”
"Oh, ya. Besok Oppung juga mau datang, lho." Lani menyebutkan orangtuanya.
"Waaah...makin rame dong. Saif sukaaaa." mata anak usia lima tahun itu tampak berbinar. Ia sampai melonjak-lonjak kegirangan
Mereka semua tertawa.
@ @ @
Noted:
Vidcall : Video Call (panggilan video)
__ADS_1
Oppung : kakek nenek (dalam bahasa Batak)