
Setahun kemudian...
Lani mengangkat amplop coklat yang tergeletak di meja buffet tempat piala-piala. Alamat rumah mereka tercantum dengan jelas tetapi tidak ada nama pengirimnya.
”Itu tadi diantar tukang pos, Bu.” kata Maryam, asisten rumah tangga yang sudah hampir setahun bekerja dengannya.
”Nggak ada pengirimnya Mar. ”Lani membolak-balik amplop itu. ”Saif mana? ”
”Di ruang kerja Bapak, Bu. Lagi main komputer."
"Sudah berapa lama mainnya?"
"Baru sepuluh menit, Bu."
Lani menuju ruang kerja suaminya. Terlihat Saif sedang asyik dengan komputer. Saif sudah bisa membuka-buka komputer sejak umur empat tahun meskipun saat itu dia belum bisa membaca, dia sering menyetel lagu anak-anak. Andre yang mengajarinya, meski Lani kurang setuju namun ia tidak bisa berkata apa-apa. Tahu persei watak suaminya yang tidak akan mau kalah dalam berdebat, Lani memilih mengalah namun tetap memberi batasan. Menonton di komputer hanya diizinkan dua kali dalam seminggu selama dua puluh menit.
Sekarang Saif sudah lima tahun dan dia sudah bisa membaca meskipun belum terlalu lancar benar, mengaji juga sudah Iqra 3. Mengucapkan huruf ’r’ juga sudah benar, tidak cadel lagi. Nah, kalau ini Lani yang mengajarinya.
Mendengar langkah kaki bundanya, Saif langsung berdiri dan mengejar Lani. Lani mengangkat tubuh putranya.
”Saif lagi apa? ”
”Lagi dengar lagu, Bunda. ”
”Udah mandi? ”
”Udah. ”
”Bagus." Lani mencium pipi putranya." Bunda mandi dulu ya, setelah itu kita mengulang hapalan juz 'amma nya. Oke?”
”Oke, Bunda”
Lani menuju kamar tidur. Penasaran dengan isi amplop yang diterimanya tadi, Lani segera membuka, dan dia sangat terkejut ketika melihat isi amplop tersebut; foto-foto suaminya dengan seorang perempuan bule di sebuah cafe. Ada foto Andre dan perempuan itu sama-sama menunduk melihat ke bawah. Kemudian Foto Andre sedang bertopang dagu sambil mendengarkan perempuan itu berbicara, tampak serius sekali mereka. Ada juga foto perempuan bule itu sedang minum sambil memperhatikan Andre yang sedang berbicara dengan gaya khasnya. Lalu foto Andre yang memberikan sapu tangan pada perempuan itu, tampaknya perempuan tersebut menangis. Tubuh Lani bergetar. Dadanya sesak dan terasa ada yang ingin segera ditumpahkan. Matanya terasa panas dan air matanya pun mengalir membentuk anak sungai. Lani terduduk di tempat tidur sambil tangannya mengurut-urut dada dan mulutnya sibuk ber-istighfar.
Jarum jam menunjukkan pukul 20.00. Seperti biasa, Lani dan Saif duduk-duduk di ruang tamu menantikan kedatangan Andre. Saif sibuk dengan buku komik tentang pahlwan Islam; Khalid bin Walid di tangannya. Sementara Lani dari tadi mencoba untuk membaca buku, namun ia tidak bisa konsentrasi. Pikirannya tetap tertuju pada foto-foto dalam amplop yang diterima tadi siang. Apa maksudnya? Ada hubungan apa Andre dengan perempuan bule itu? Hubungan kerja kah? Memangnya Andre sedang menangani perkara apa, kenapa Andre tidak pernah cerita? Yah, akhir-akhir ini komunikasi diantara mereka memang kurang lancar, sebab setiap pulang kerja Andre selalu tampak lelah dan sepertinya enggan untuk bercerita banyak.
...@@@...
__ADS_1
Ketika Andre hendak beranjak tidur, Lani menghampirinya.
”Mas sedang menangani perkara apa sih, kok kayaknya sibuk banget dan sering pulang malam? ”
”Bukannya setiap saat Mas selalu sibuk. ”
”Ini lain dari biasanya. ”
”Hmmm...sebenarnya perkara biasa tapi agak rumit sih. Memangnya kenapa? ”
”Boleh Lani tahu perkara apa? ”
Dahi Andre berkerut mendengar pertanyaan Lani.
”Pertanyaannya gitu amat, kayak polisi aja.” Andre tertawa, tapi Lani tidak membalas tawanya. Ini membuat Andre heran dan menghentikan tawanya.” Perkara perceraian yang disebabkan oleh perselingkuhan dan selanjutnya merembet kepada perebutan harta gono-gini. Kenapa sih, Sayang? ” kata Andre akhirnya. Tangannya bergerak untuk mengacak rambut Lani, tapi Lani menepisnya. Andre semakin heran.
Lani mengambil amplop coklat berisi foto-foto yang diterimanya tadi siang dari laci meja rias. Ia melempar amplop di tangannya keatas tempat tidur. Andre heran lalu memungut amplop tersebut.
”Bisa tolong dijelaskan apa maksud isi amplop itu? ”
Andre membuka amplop dan terperanjat ketika melihat isinya.
”Foto-foto ini.”
”Ini Margareth, klien Mas yang perkaranya sedang Mas tangani itu. Siapa yang ambil foto ini? ”
”Lani juga nggak tahu, kata Maryam tadi siang diantar oleh tukang pos. Tapi tidak ada nama pengirimnya. Selain sebagai klien sepertinya Mas akrab sekali dengannya ya? Ada hubungan apa? ”
”Hubungan kami cuma sebatas klien dengan pengacaranya, nggak ada hubungan spesial. ”
”Kok bisa ke kafe bareng? ”
”Kita janjian ketemu disana, tapi saat itu ada Mardin kok. Nggak cuma berdua aja. Tapi, kebetulan setelah itu Mardin pergi karena istrinya menelepon mengabarkan kalau anaknya sakit. Nggak mungkin lagi pindah karena udah separuh jalan pembicaraannya. Disana ramai kok.”
”Trus, ngapain Mas ngasih sapu tangan segala sama perempuan itu? ” Lani bertanya dengan galak.
”Dia menangis saat menceritakan kisahnya. Sepertinya dia tidak bawa sapu tangan, makanya Mas kasih. Nah,
kalau yang ini waktu itu flash disk Mas jatuh, dia refleks mau ngambil, Mas juga. Jadi nggak sengaja kepala kita berbenturan.” Andre menunjuk foto yang lain.
__ADS_1
Lani mengusap wajahnya.
”Kamu masih nggak percaya? Coba kamu tanya Mardin deh. ”
”Untuk apa tanya Bang Mardin segala. ” ujar Lani ketus.
”Ya biar kamu percaya. Kalau cuma Mas yang bilang, mungkin kamu nggak percaya 100%. Sekarang aja kamu udah curiga banget tuh, kelihatan dari wajahnya. ”
”Jelas aja Lani curiga. Siapa pun orangnya pasti akan begitu. ”
Andre menghela nafas. ”Mas kan udah jelasin. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Sebatas hubungan kerja aja.”
Lani terdiam.
”Mas masih heran, siapa sih yang iseng bikin foto ini trus ngirimin ke kamu? ”
Lani angkat bahu. Andre sibuk berpikir. Masalah apa lagi nih? Masalah pekerjaan saja sudah membuatnya
lelah, ditambah pula dengan masalah yang tidak penting seperti ini.
”Tapi, Lani rasa Mas juga harus hati-hati agar tidak timbul fitnah seperti ini lagi. Fitnah itu terkadang muncul karena sikap kita juga Mas. Saran Lani, lebih hati-hati.”
”Oke deh, Sayang.”
"Kali ini Lani percaya, tapi kalau sampai Lani temukan bukti lain, lihat aja." ancamnya.
Andre tergelak.
...@@@...
Lani tersentak ketika ponselnya berdering. Ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Udh liat foto2 suami kamu? Kelihatannya memang alim ya.Tp ternyata suka selingkuh jg. Gmn perasaan kamu skrg? Hancur lebur pastinya ya????ha...ha...
Lani geram membaca pesan itu. Diliriknya Andre yang sudah tertidur pulas.
Balasan Lani :
Smg Allah mengampuni dosa2 kamu. Apa km tdk pnya pekerjaan lain sehingga hrs menyebarkan fitnah seperti itu. Tau apa kamu dgn perasaan sy? Sy percaya dgn suami sy. Jd km tdk usah mengganggu keluarga sy dgn fitnah tdk penting sprt ini.
__ADS_1
Lani menghela nafas.
...@@@...