
Minggu pagi. Lani dengan dibantu oleh Maryam tampak sibuk di dapur. Sementara itu Saif duduk menghadap meja makan sambil menikmati semangkuk es krim. Dari tadi ia memaksa untuk makan es krim padahal hari masih pagi, tapi daripada merengek terus terpaksa diberikan juga. Sekarang anak itu tampak tenang menikmati es krim nya.
Andre yang baru saja selesai mencuci mobil datang menghampiri Lani. Dicubitnya pinggang Lani membuat Lani kaget dan terlonjak.
”Apa-apaan sih, Mas?" Muka Lani merah padam. ”Ada Saif dan Maryam tuh...”
Andre tersenyum.
"Apa-apaan sih, Mas? ” teriak Saif menirukan suara Lani sambil tertawa.
Serempak Lani dan Andre menoleh lalu saling memandang. Maryam cekikikan.
”Saif, barusan ngomong apa, Sayang? ”
”Mas.”
Lani melotot pada Andre. ”Tuh kan... ”
”Kamu yang keceplosan.” Andre terkikik.
Di depan Saif Lani selalu memanggil Andre dengan sebutan ayah dan Andre memanggil Lani dengan sebutan bunda untuk membiasakan Saif. Tapi sesekali kelepasan juga memanggil Mas membuat Saif sering mengejek dan menirukannya.
”Kalau nanti punya adik, Saif dipanggil Mas juga. Iya kan Saif? ”
”Nggak ah...Saif mau dipanggil Abang aja. Kayak Dek Raisya manggil Bang Hanafi. ” Saif menyebutkan nama anak-anak Mardin. Mereka memang sering berkunjung ke rumah Mardin dan begitu juga sebaliknya.
Lani tergelak. ”Saif nggak mau jadi orang Jawa, dia maunya jadi orang Batak ya, If. ”
Andre mencibir. ”Emang abang asli panggilan batak? Nggak kan. Di Betawi juga ada panggilan abang. Abang itu udah umum. ”
”Biarin nggak asli. Tapi orang Medan kan emang manggil abang. Harusnya bunda juga manggil abang sama ayah, tapi karena udah kebiasaan jadinya gitu, deh. ”
”Laki-laki kan kepala keluarga jadi ikutin adat suami lah...”
”Eits, nggak mesti. Jawa kan parental, jadi bisa ngikut siapa aja. Beda dengan Minang atau Batak."
”Selalu nggak mau kalah."
”Iya, dong."
”Dasar orang batak.” Ujar Andre sambil tertawa.
”Kenapa orang Batak?" Lani mendelik
"Nggak mau kalah. Pantang pulang sebelum menang."
"Oh, iya dong. Kita punya semboyan biar kambing di kampung sendiri, tapi banteng di perantauan."
"Nah,,itu..nggak mau kalah kan?"
"Trus, kenapa Mas mau sama orang batak? ”
”Nggak tahu kenapa."
”Huh!! ” Lani memonyongkan bibirnya. ”Habisnya nggak laku sih, yang mau cuma perempuan batak ini aja.”
"Eh, jangan salah. Banyak yang ngantri, lho."
"Hummm,,,iya deh. Termasuk yang udah terbang ke sana itu tuh."
"Mulai, jangan mulai ngungkit, deh. Ntar gondok sendiri, nangis."Ejek Andre.
”Kok jadi berantem sih ayah bunda? ” tanya Saif dengan kalemnya.
Andre dan Lani berpandangan lagi, kemudian tawa mereka berderai. Andre menghampiri Saif dan mengambil serbet lalu membersihkan bibir Saif yang berlepotan es krim.
”Duh, anak ayah makannya kok berlepotan sih? ” Andre mendudukkan Saif di pangkuannya.
Saif tersenyum.
”Saif orang Jawa kan ya? ” Andre mulai menggoda Lani lagi.
Saif menggeleng.
”Orang Batak?”
Lagi-lagi Saif menggeleng. Dahi Andre berkerut.
”Trus?”
__ADS_1
”Orang Indonesia. Kata Ustadzah kita ini orang Indonesia, Yah” ujar Saif.
Andre terbahak-bahak. Lani dan Maryam pun tak bisa menahan tawa.
”Ayah sih nanya Saif orang apa, jawabannya ya orang Indonesia. Tapi coba ayah tanya Saif suku apa? ” kata Lani. ”Saif sukunya apa, Sayang? ”
Saif menggeleng. ”Pokoknya Saif orang Indonesia. Suku nya nggak ada.”
”Ya jelas nggak ada lah. Saif kan setengah-setengah.” kata Andre.
”Saif itu Pejabat. " Kata Lani
”Apa tuh? ” tanya Andre.
”Peranakan Jawa - Batak. "
Andre tertawa. ”Bagus...bagus... itu lebih oke. Jadi nggak ada yang dominan. Saif bisa dibilang orang Jawa bisa juga orang Batak. Nanti ayah ajarin Saif bahasa dan kebudayaan Jawa ah... ”
”Bunda juga akan ajarin Saif bahasa dan kebudayaan Batak. ” Lani tidak mau kalah.
”Berarti Saif kaya dong...suku nya dua.” Andre mencium pipi anaknya. Saif tertawa-tawa.
”Bunda, kapan kita ke tempat Oppung lagi? ” tanya Saif. ” Saif mau mancing lagi sama Oppung. Trus ketemu Bang Dian juga sama adek Zahra. ”
”Tanya Ayah, deh”
Saif memandang ayahnya. Lebaran tahun kemarin mereka pulang ke kampung halaman Lani.
”Hmmm...kayaknya tahun depan deh If. Tahun ini kita ke tempat Eyang di Yogya. ”
”Oh..”
”Nanti Saif ketemu Mbak Ranti, Mas Angga, Mbak Sarah, Mbak Salmah, Mbak Nabila, Dek Panji, Mas
Faiz, Mas Fauzan. Pokoknya semua, deh.”
”Saif mau main layangan sama Mas Faiz.” kata Saif.
”Bulan lalu waktu Ayah sakit, Oppung kan datang kemari, If. ” kata Andre.
"Oh, iya. Yang sama Eyang juga."
Lani tersenyum. ”Sekarang Saif mandi dulu ya sama Mbak Maryam. Mbak Mar tolong, ya.”
”Baik, Bu. Ayo If” Maryam mengulurkan tangannya pada Saif, Saif menyambut dan segera berlari ke kamarnya.
Maryam mengikuti dari belakang.
Lani kembali sibuk dengan masakannya.
”Sibuk banget, Sayang.Masak apa sih? ”
”Lani mau buat puding sama es buah buat pengajian ibu-ibu nanti. ”
”Mau ngaji atau mau makan-makan. Banyak amat. ”
”Namanya juga ibu-ibu Mas. Harus ada penariknya biar mereka mau ikutan ngaji. ”
Lani berhasil mengajak ibu-ibu komplek untuk membentuk pengajian kelompok. Hari ini adalah untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya Lani juga aktif di majelis taklim ibu-ibu komplek yang diselenggarakan masjid. Ada beberapa ibu-ibu yang suka berdiskusi dengan Lani tentang masalah agama, keluarga bahkan hukum. Lani mengundang mereka ke rumahnya agar diskusinya lebih leluasa dan waktunya panjang. Mungkin merasa seru dan asyik mereka meminta agar diskusi itu berlanjut. Akhirnya terbentuklah halaqoh (pengajian kelompok) ibu-ibu dengan sendirinya. Anggota kelompok itu ada 7 orang termasuk Ibu RT didalamnya. Lani sangat senang, karena hal ini lah yang ditunggu-tunggunya.
”Sayang,ada teman atau adik atau siapa lah yang belum menikah, nggak?"
”Banyak, Mas. Emang kenapa?"
”Itu, ada adik di pengajian, si Arham minta dicariin. Katanya dia udah siap nikah. Ada yang cocok nggak
ya sama dia? ”
”Ntar Lani lihat dulu. ”
”Tapi, dia maunya kayak kamu katanya. ”
Lani menuding hidungnya sendiri.
”Kenapa? Kaget? Mas sendiri kaget. Bisa-bisa nya dia ngomong gitu sama Mas.”
”Apanya yang kayak Lani? ”
”Cantiknya, sifatnya. ”
__ADS_1
”Ih, nggak sopan banget sih dia, ngomong kayak gitu langsung ke suami orangnya."
Andre angkat bahu. "Dia nge fans kali sama kamu."
Lani tertawa. Ada nada cemburu dalam suara Andre.
”Wah, berani juga dia ya. Jadi tersanjung nih.”
Andre mencibir.
”Tapi, Mas. Ngomong-ngomong Arham itu yang mana ya? ” Lani berpikir. Pernah Andre mengadakan pengajian di rumah mereka, tapi itu hanya sekali. Biasanya di masjid.
”Dibilangin juga nggak bakalan tahu. Lagipula mending nggak usah tahu deh, ntar kamu naksir.”
”Ye,,Mas ada-ada aja deh. Oh, pasti dia lebih keren ya makanya Mas takut. ”
”Siapa bilang lebih keren? Mana ada yang menandingi Mas mu ini. Semua cowok-cowok itu lewat. Lebih muda sih iya. ”
Lani tertawa. ”Dia lebih muda kan, biasanya emang anak muda lebih keren daripada yang tua-tua. ”
”Dasar ulat bulu, sukanya daun muda. ”
Lani meninju bahu suaminya sambil tertawa. ”Becanda, Mas. Kalau mau cari yang lain udah Lani
lakuin sejak Mas ngambek trus ninggalin rumah itu.”
”Siapa yang ngambek. Itu mau kasih pelajaran aja sama kamu karena nggak mau percaya sama
kata-kata Mas. Terbukti kan, kamu nangis terus selama ditinggal. Ya, iya lah...pangeran tampan menghilang, siapa yang kuat? ”
”Ih, bilang aja karena nggak tahan Lani cuekin makanya Mas pergi. ”
”1:1 berarti. Imbang”
”Akhirnya ngalah. Sama Lani nggak akan bisa menang. ”
”Terserah kamu,deh." Andre tertawa
”Nggak terasa ya, kita sudah menikah selama enam tahun. Tapi rasanya kok masih kayak pengantin baru aja. ”
Lani tersenyum. ”Mas dulu susah banget bilang cinta. Padahal Lani langsung bilang hari itu juga.”
”Eits...Mas lebih dulu, lho. Mas bilang malamnya. Kamu aja yang nggak dengar.”
”Mas sih bilangnya di saat Lani mau tidur. Oh, ya dari dulu ada yang ingin Lani tanyakan, baru ingat sekarang. Mas sejak kapan jatuh cinta sama Lani. Dulu waktu Lani tanya Mas nggak mau jawab. Ayo sekarang jawab.”
”Kamu dulu, deh...”
”Selalu begitu." Lani mencibir. ” Ya udah, dengarkan baik-baik. Lani jatuh cinta sama Mas setelah pernikahan kita, saat Mas lagi ngobrol sama Papa kayaknya akur banget gitu. Sekarang giliran kamu Mas.”
”Kapan ya? ”Andre pura-pura berpikir. ”Sebenarnya Mas udah jatuh cinta sama kamu sejak acara lamaran. ”
Lani terkejut.
”Ada yang salah?" Tanya Andre begitu menangkap keterkejutan di wajah Lani.
Lani menggeleng. ”Nggak nyangka aja. Bukannya Lani nggak masuk dalam kriteria perempuan idaman Mas
ya? Lani pikir Mas bakalan lama baru bisa jatuh cinta sama Lani.”
”Kamu memang nggak masuk dalam kriteria perempuan idaman, Mas. Tapi itulah namanya rasa cinta. Kita
tidak dapat memperkirakan kedatangannya di hati kita. ”
”Jadi, perempuan idaman Mas seperti apa?”
”Itu nggak penting sekarang. Mas sudah dapatkan perempuan terbaik. ”
Lani tersenyum. "Ngomong-ngomong, sekarang lagi megang kasus apa, Mas?"
"Ada kasus anak menggugat ibu kandungnya."
"Innalillahi. Karena apa, Mas?"
"Rumah." Andre bercerita sedikit tentang kasus yang membelit anak dan ibu itu.
Lani hanya bisa geleng-geleng kepala.
@ @ @
__ADS_1