
Setiap waktu yang berjalan selalu penuh makna. Setiap masa yang dilalui adalah lembaran sejarah yang akan tercatat dalam memori kehidupan. Semua bisa menjadi kenangan. Sang waktu berjalan terus tanpa disadari. Kehidupan lalu pun tak akan terulang kembali, masa depan telah menanti.
Pahit getir cinta telah dirasakan oleh Andre dan Lani. Manisnya pun mereka reguk bersama. Perjalanan cinta yang masih tergolong pendek, namun telah mengukir begitu banyak cerita. Yah, empat tahun adalah waktu yang belum terlalu panjang untuk sebuah perjalanan. Ibaratnya seorang anak, masih balita. Perjalanan itu pun telah melahirkan seorang generasi penerus yang mereka beri nama Saifullah Akbar Maulana. Ada doa dan harapan dalam nama itu. Harapan semoga kelak buah cinta itu akan menjadi seseorang yang berjuang untuk membela agamanya, seseorang yang akan menjadi seperti Khalid bin Walid; tajam seperti
pedang, kukuh seperti baja dalam menegakkan kalimatullah, karena dia adalah Sang Pedang Allah.
Tahun ini si kecil Saif sudah masuk Play Group karena umurnya masih tiga tahun. Setiap pagi kedua orang tuanya mengantarkan Saif ke Play Group yang tidak begitu jauh dari kantor Lani. Jam 11 Lani menjemputnya dan menitipkan Saif ke Tempat Penitipan Anak (TPA) yang dikelola oleh seorang teman pengajian, tempatnya masih di daerah kantor Lani juga. Pulang kerja Lani menjemput buah hatinya. Jika kebetulan Andre bisa pulang sore, dia akan menjemput keduanya. Tapi jika Andre tidak bisa pulang cepat, Lani dan Saif akan pulang naik taksi.
Sebagai seorang Ibu, Lani sadar betul fungsinya adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya. Malam harinya ia akan mengajari Saif kecil mengaji Iqra dan menghapal surat-surat pendek dalam Al-Qur'an. Sehabis mengaji, mereka bermain sambil menunggu sang ayah pulang. Andre pun selalu berusaha menemani putranya ketika sedang berada di rumah. Mereka bermain bersama, bercerita, dan menanyakan apa saja yang Saif lakukan seharian. Saif akan bercerita dengan semangat, persis seperti Lani.
Malam ini, mereka sedang menunggu kepulangan sang ayah.
”Tadi di sekolah, Saif belajal menggambal, Bunda. ”
”Oh, ya. Saif menggambar apa sayang?”
”Gambal mobil balap yang ada di laptop ayah itu lho Bunda. ”
”Wah, pasti bagus ya. Coba kasih tunjuk ke Bunda dong.”
Saif berlari ke kamar lalu kembali lagi dengan membawa buku gambar di tangannya. Dia pun memperlihatkan gambarnya pada Lani. Lani tersenyum melihat gambar Saif. Lebih mirip kodok ketimbang mobil balap Formula 1. Tapi ia tetap memuji Saif.
”Bagus kan Bunda.”
”Ya bagus, Saif pintar ya. ”
”Nanti kalau sudah besal, Saif mau jadi pembalap. Naik mobil ini Bunda. ”
”Boleh. Bunda diajak ya...”
”Iya. Ayah juga. ”
Lani mencium pipi anaknya yang montok dan putih. Saif sangat mirip dengan ayahnya. Bentuk wajah, hidung, bibir, rambut, alis mata dan kulit semua milik Andre. Hanya mata nya yang mirip Lani – mata yang selalu berbinar-binar, optimis dan juga jenaka – yang sangat disukai oleh Andre. Saif juga lengket sekali dengan ayahnya.
”Mas, Saif kangen nih. Lama banget sih pulangnya. ” kata Lani di telepon saat Andre sedang berada di Bali menghadiri pertemuan advokat seluruh Indonesia selama dua minggu.
Andre tertawa.**”Halah, baru juga seminggu. ”
”Seminggu tuh buat dia rasa setahun.” keluh Lani. Dia sudah sangat repot menjawab pertanyaan Saif tentang ayahnya.
”Yang kangen Saif atau bundanya nih? ” goda Andre.
”Saif lah. Dia nanyain Mas terus. ”
”Yah...kasihannya diriku. Disini daku begitu merindukan Bunda Saif tapi ternyata yang dirindukan tidak merindukanku. Sungguh teganya dirimu...teganya...teganya...oh, pada diriku.”
”Gombal banget sih! ”
”Ini bukan gombal. Ini serius!! Rindu ini sudah tak tertahankan. Rasanya aku ingin terbang saat ini juga dan segera berlabuh di pelukanmu bidadariku. ”
”Duh, serasa ingin terbang. Sudah berapa banyak orang yang kamu gombalin seperti ini Mas.”
”Only you My Princess.”
Lani tertawa.
”Kamu kangen nggak sayang? ”
”Mau yang jujur atau bo'ongan. ”
”Jujur dong. ”
”Jujurnya nggak. Bo'ongannya iya. ”
__ADS_1
”Kok kebalik sih? ”
Ia menghela nafas. ” Lani kangen Mas. ” ujarnya lirih.
”Mas ngerti. Tapi mau gimana lagi, tunggu Mas seminggu lagi ya.”
Rasanya makin tersiksa.
”Kalau kamu kangen sama Mas, pandangi Saif aja. Dia kan mirip banget sama Mas.”
Lani manyun.
...@@@...
Lani melihat jam, sudah pukul delapan malam, tapi Andre belum pulang juga. Saif mulai rewel menanyakan ayahnya. Tadi Lani masih bisa mengalihkan perhatiannya dengan mengajari Saif menggambar, tapi sekarang ia kewalahan. Mau menelepon, ia takut mengganggu. Jangan-jangan lagi sibuk. Tapi, Andre kok nggak ngasih kabar ya?
”Saif tidur duluan aja ya, Nak. ”
Saif menggeleng. ”Saif mau nunggu ayah pulang. ”
”Nunggunya sambil tidur ya. Nanti kalau ayah udah pulang, Bunda bangunin. ”
Saif menggeleng lagi. Duh Mas, anakmu ini lho. Kamu kemana sih??
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara mobil Andre memasuki halaman. Lani segera bangkit untuk membukakan pintu, dan Saif terbangun begitu mendengar suara mobil ayahnya. Dia pun turut menyongsong ayahnya ke depan pintu.
”Ayah!!! ” Saif menghambur ke pelukan ayahnya.
”Lho...jagoan ayah belum bobok? ” Andre mengangkat Saif ke dalam gendongannya, lalu mencium kening
Lani sekilas.
”Saif kan nemenin Bunda nunggu ayah. Ayah lama banget sih? ”
Saif mengangguk, lalu dia pun berceloteh tentang apa yang dilakukannya sehari ini tanpa peduli kalau ayahnya sudah sangat letih. Tapi Andre tetap mendengarkan dengan setia. Lani menyiapkan makanan, dia sendiri belum makan malam karena menunggu suaminya pulang untuk makan malam bersama.
Andre duduk menghadap meja makan, sang istri sudah menghidangkan makanan diatasnya. Saif duduk di sebelah ayahnya sedangkan Lani duduk di seberang Andre. Ia memandangi Lani, merasa dipandangi Lani pun
balas memandang Andre pula. Mereka sama-sama tersenyum, Lani tersipu. Walaupun mereka sudah menikah selama empat tahun, tapi Lani masih sering tersipu dan kikuk jika Andre memandanginya. Tatapan mata Andre begitu tajam, menghujam ke ulu hatinya.
Semakin hari kau semakin cantik saja, My Princess. Kata hati Andre. Sepertinya aku harus lebih
menjagamu, agar kau tak ’dicuri’ oleh orang lain. Andre senyum-senyum.
Dia lagi mikirin apa sih? Kok senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan ketemu yang lebih cantik di luar. Kata hati Lani.
Nggak salah Mbak Andini nyomblangin aku sama bidadari ini. Tapi,yang pastinya memang ini karena takdir Allah. Andre lagi
*Kalau sampai hal itu beneran terjadi, bakal ada sepatu melayang. Lihat aja ntar. *Lani berkata dalam hati.
Andre menggendong Saif ke kamarnya. Sejak tadi ia sudah tertidur di meja makan. Dibaringkannya Saif diatas ranjang berbentuk mobil dan menyelimuti buah hatinya tersebut kemudian mencium kening Saif lama. Andre tersenyum, ia seperti melihat dirinya saat kecil dalam diri putranya.
”Saif udah tidur Mas? ” tanya Lani saat Andre memasuki kamar. Lani sedang membereskan pakaian Andre yang tadi tergeletak saja diatas tempat tidur.
”Udah”. Andre membaringkan tubuhnya diatas ranjang sambil matanya memandangi istrinya yang masih sibuk berbenah. Andre senyum-senyum lagi. Hidup emang indah...pulang kerja ditungguin, makan disiapin malahan ditemani segala. Pakaian diberesin. Hmm...apa semua laki-laki didunia ini seperti ku ya? Pikirnya.
Lani menoleh ke arah suaminya. Dia masih menangkap sisa-sisa senyum di bibir Andre. Kembali pikiran buruk mengganggu. Lani sudah tidak tahan. Dia harus segera bertanya.
”Mas...” Lani duduk di samping Andre. "Kok dari tadi Lani perhatiin senyum-senyum terus sih? ”
”Lho...nggak boleh ya kalau senyum. Emang ada undang-undang yang melarang gitu? ”
”Nggak sih.”
__ADS_1
”Lalu? ”
”Aneh aja lihat Mas senyum-senyum. Lagi ingat seseorang ya? Siapa sih? Perempuan ya? ”
berondong Lani.
Andre kaget. Aku senyum-senyum karena mengagumi dirinya, dia malah curiga. Gimana sih?
”Hmm...bener. Perempuan. Kok kamu tahu ya? ”
Jadi ternyata benar? Geraham Lani beradu, matanya langsung melotot. Dalam hati Andre tertawa.
”Siapa orangnya? Klien Mas ya? Atau karyawan di kantor, atau jangan-jangan Mas jalan-jalan kemana gitu terus ketemu orang. Oh, Lani tahu, karena itu ya Mas pulangnya telat. ”
Sejak kapan nih si Lani jadi cemburuan. Aneh. Kerjain ah...
”Hmmm...rekan kerja. Sesama advokat juga. Orangnya cantik banget. Pintar, lucu dan gemesin. ”
Lani terbelalak. Dadanya bergemuruh. ”Ketemu dimana?”
”Di rumah Mbak Andini. ”
Dahi Lani berkerut. ”Trus, Mas suka sama dia? ”
”Suka banget. Tapi sayang, dia udah punya anak.” Andre memperlihatkan wajah menyesal.
Lani lega. Artinya, perempuan itu sudah punya suami.
”Siapa namanya?”
”Maylani Iffana Azra. ” Andre langsung membalikkan badannya membelakangi Lani.
Hah?! Itu kan dirinya. Lani tersenyum lebar. Ditariknya bahu Andre. ”Ah, Mas ini.”
”Kamu kok jadi curigaan gitu sih? Mana mungkin aku melirik perempuan lain. Satu aja belum habis, masa mau nambah satu lagi. ”
Lani tertawa. ”Emang makanan? ”
”Pakaian. Istri kan pakaian untuk suaminya, begitu sebaliknya. ”
Lani garuk-garuk kepala. ”Trus, kenapa Mas senyum-senyum. ”
”Mas senyum-senyum karena lihat kamu, dari hari ke hari makin cantik aja. ”
Lani tersipu. Wajahnya memerah.
”Mas mikir, ternyata Mas nggak salah pilih. Kamu emang pantas mendampingi Mas yang ganteng dan keren ini. ”
”Huek!!! ” Lani pura-pura mau muntah.
”Kenapa? Kamu nggak lagi hamil kan? ”
”Tuan, saya heran. Anda semakin hari semakin narsis aja. Semakin error juga.” Lani geleng-geleng kepala.
”Lho...emang bener kan. Mas ini ganteng. Kalau nggak, mana mungkin kamu mau. Udah ah, Mas ngantuk. Good Night, honey. Have a nice dream... Assalamu ’Alaikum.” Andre menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.
Lani tersenyum. ”Wa’alaikumussalam. ” Lani bergerak mencium kening Andre sambil berbisik. ”I love you, Tuan error. ”
Andre tersenyum tapi tetap memejamkan matanya. "I love you too..."
Bintang-bintang diatas sana tersenyum melihat dua insan yang saling mencintai tersebut.
...@@@...
__ADS_1