
Bila waktu terus berpihak pada bahagiamu, maka takkan pernah kau rasa
kepahitan hidup. Itu takkan membuatmu menjadi dewasa. Karena setiap orang akan
dewasa dengan masalah. Kedewasaan dilihat bukan dari kematangan usia tapi dari
kematangan berpikir dalam menyelesaikan
sebuah masalah. Jika mampu keluar dari masalah dan menjadi seorang pemenang,
maka kau bisa dikatakan dewasa.
Karier Andre sebagai seorang advokat terus meningkat. Kelihaian dan kehebatannya mendampingi klien dalam menghadapi sebuah permasalahan membuatnya menjadi terkenal. Analisisnya tajam, sikapnya bersahabat dan mengedepankan profesionalitas. Dia seorang advokat yang memiliki idealisme tinggi, dia
bekerja semata-mata bukan karena uang. Walaupun kemudian dengan semakin banyak nya job yang dia terima menghasilkan materi yang tidak sedikit pula. Dengan penghasilannya, Andre bisa merenovasi rumah nya menjadi lebih besar dan lebih bagus. Namun sikapnya tetap bersahaja dan rendah hati. Andre tidak pernah lupa untuk berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu. Andre sangat bersyukur dengan semua yang dia miliki; pekerjaan yang baik, harta yang cukup, istri yang sholehah yang selalu mengingatkannya kepada kebaikan dan juga anak yang manis dan pintar. Hidupnya terasa lengkap sudah.
”Mas, kenapa nggak buka kantor sendiri aja? ” tanya Lani suatu hari.
”Ada rencana. Tapi sekarang sepertinya belum dulu deh. Masih perlu belajar disana-sini. Lagian Mas senang bekerja disana, udah klop sama orang-orangnya. ”
Lani tersenyum.
”Eh, kenapa kita nggak buka kantor bareng aja ya? ” kata Andre sesaat kemudian.
Lani tersentak, dia pernah mengimpikan hal ini.
”Gimana sayang, ide yang bagus kan? ”
”Boleh juga. Tapi Mas bilang belum sekarang. ”
Andre tertawa. ” Yeah...itu kan rencana masa depan. Semoga kita bisa mewujudkannya. ”
”Aamiin”
...@@@...
Hujan deras. Kilat membelah langit disusul oleh suara gemuruh yang memekakkan telinga. Lani berdiri di teras kantor. Dia sedang menunggu Andre datang menjemput. Tapi hingga pukul lima, yang ditunggu belum muncul juga. Lani teringat Saif yang dititipkan di tempat penitipan anak. Pasti sekarang putranya juga sedang gelisah menantikan kedatangan ayah-bunda nya. Lani gelisah. Beberapa kali ia mencoba menghubungi ponsel Andre, yang terdengar hanya suara ’Mbak-mbak operator’ yang menyatakan nomor Andre berada di luar jangkauan. Kenapa sih akhir-akhir ini Andre begitu sulit dihubungi.
Lani masuk kembali kedalam kantor dan duduk di ruang tunggu. Kekesalannya menggunung. Rasanya ingin segera bertemu Andre dan memarahinya habis-habisan. Dalam kondisi yang begitu kesalnya ponselnya berdering. Andre.
”Besok buang aja tuh ponsel ke sungai Mas. ” ujar Lani setelah mengucap salam.
”Kok gitu? Kenapa sih? ”
”Hah?! Masih bisa nanya kenapa? Ini sudah jam berapa Mas? ”
”Jam lima lewat.”
”Masih bisa ya menjawab dengan santai. Saif belum dijemput, Mas. Ini udah terlalu sore, mana
hujan deras lagi. Mas kemana sih? HP nya nggak aktif terus.”
” Maaf sayang, tadi lagi rapat ponsel dimatiin, sehabis rapat lupa menghidupkan kembali. Jadinya nggak aktif deh. ”
Lani menghembuskan nafas ke udara. ” Sekarang Mas dimana? ”
”Mas masih di kantor. Mas minta maaf ya, nggak bisa jemput kamu. Jadi pulang naik taksi aja.”
Lani geram. Kalau memang begitu, kenapa nggak dari tadi nelponnya?
”Kenapa nggak dari tadi ngomongnya Mas? Udah satu jam Lani nunggu baru Mas kasih kabar. Kalau tahu begitu, Lani bisa pulang dari tadi. Kasihan Saif Mas...”
”Sekali lagi Mas minta maaf. Tadi karena terlalu sibuk jadi lupa. ”
Lani mendesah. Lupa? Bisa lupa kalau istri dan anaknya menunggu kedatangannya. Lani benar-benar emosi sekarang. ” Ya sudah, saya naik taksi. Lain kali kalau nggak bisa jemput cepat-cepat ngasih tahunya ya Pak Andre. Jangan sampai lupa lagi. ”
Andre tidak menyahut hanya helaan nafas yang terdengar.
”Halo...saya harus segera menjemput Saif, jadi tolong ditutup teleponnya, atau saya yang harus
menutup? ”
__ADS_1
”Assalamu ’alaikum. ”
Lani menjawab salam suaminya dan bergegas memesan taksi online melalui poselnya. Saif, maafin bunda ya, Nak. Pasti sekarang Saif sudah sangat bosan menunggu.
Di dalam taksi, pikiran Lani melayang-layang. Tak sadar air matanya menitik. Ia mengusap airmata dengan ujung jilbabnya. Lani sangat kasihan dengan Saif. Seharian dia harus dititipkan kepada orang lain. Sebenarnya Lani berniat untuk mencari asisten rumah tangga. Tapi belum ketemu yang cocok dengan keinginannya. Lani tidak mau sembarangan mencari orang. Harus sesuai dengan visi nya. Masalah ini pernah menimbulkan polemik dalam kehidupan rumah tangganya.
”Makanya nggak usah kerja! ” tukas Andre keras ketika Lani mengeluhkan tentang Saif.
Lani tersentak. ”Mas, dari dulu sebelum menikah dengan saya, Mas kan sudah tahu kalau saya ini seorang perempuan yang bekerja. ”
”Siapa yang nggak tahu itu. Tapi kan bisa dipertimbangkan kembali. Tugas pokok kamu mengurus
rumah tangga. Untuk apa kamu bekerja di luar kalau urusan rumah tangga kamu keteteran. ”
*Lani menelan ludah. Terasa pahit. Andre berbicara seperti itu? Sangat sulit dipercaya. Kelembutannya menguap, ia seperti berhadapan dengan orang asing. Oh, bukan orang asing, tapi kembali seperti saat pertama kali mereka bertemu, Andre yang suka berkata asal dan tidak memikirkan perasaan orang lain.*
Lani kembali mengusap air matanya. Menjadi seorang advokat adalah cita-citanya. Salah satu alasan mengapa ia memilih ilmu hukum adalah karena ingin jadi advokat. Kedatangannya ke ibu kota juga dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut. Siapa sangka ibu kota juga yang mempertemukannya dengan Andre dan mereka berjodoh, mengikat janji sebagai sepasang suami istri. Sangat sulit bagi Lani untuk melepaskan cita-cita yang sudah diraihnya dengan susah payah. Bukan karena ia tidak menghormati suami ataupun bermaksud mengabaikan tugas pokoknya sebagai ibu rumah tangga, tapi bekerja adalah sarana aktualisasi bagi dirinya dengan ilmu yang telah didapatkannya dari bangku perkuliahan. Bukan materi yang ingin ia cari. Lani sudah sangat bersyukur dengan apa yang ia terima dari suaminya. Itu sudah lebih dari cukup.
”Kamu kurang apa sih? Apa nafkah yang saya kasih belum mencukupi? ”
Lani terbelalak. ”Mas, saya tidak mencari materi. Saya ridho dengan apa yang Mas berikan pada saya. Itu sudah lebih dari cukup. Saya kira Mas kan sudah tahu alasan saya bekerja apa. ”
Andre memalingkan wajahnya.
”Kenapa sih Mas bilang begitu. Saya nggak nyangka Mas akan berbicara seperti itu pada saya. Saya pikir Mas sudah memahami saya. Saat ta’aruf dulu Mas tidak keberatan dengan kondisi saya, Mas nggak bilang apa-apa. Kenapa sekarang Mas merasa keberatan. ”
”Jadi, kamu menyesal menikah dengan saya? ”
”Lho?? Kok jadi ngomong gitu. Apa saya pernah bilang begitu. ”
”Dari bicara kamu barusan.”
”Atau mungkin Mas yang menyesal menikah dengan saya. Saya tidak seperti perempuan yang Mas dambakan untuk menjadi pendamping hidup Mas. Mungkin Mas mendambakan perempuan yang tidak bekerja, yang selalu beradadi rumah. ”
"Jangan bicara sembarangan! ”
”Mas yang memancing duluan. ”
”Kok Bunda nangis? ”
Tangis Lani semakin kencang. ”Maafin Bunda ya Nak. Bunda terlalu sering mengabaikan Saif. Bunda nggak bisa berada di samping Saif setiap saat. Sekarang aja Bunda sampai lupa buatin Saif susu. ”
Saif terlalu kecil untuk bisa mencerna kata-kata Lani dengan baik. Lani menatap wajah Saif yang tampan. Saif mencium pipi bundanya dengan sayang. Di luar dugaan, dia mengusap air mata Lani dan berkata. ”Saif sayang sama Bunda. Biarpun Bunda sering pergi, Saif ndak pa-pa. Saif senang di tempat Kamila. Bunda kan kerja untuk menolong orang-orang susah. ”
Air mata Lani kembali meleleh. Sementara itu Andre terperangah – dari tadi dia hanya berdiri didekat tempat tidur dengan tangan berada di saku celananya – tak disangka Saif yang masih berumur empat tahun bisa berkata demikian. Di hatinya terselip sedikit rasa bangga, kecerdasannya memang menurun pada Saif. Ia tersenyum kecil. Saif melepaskan diri dari pelukan Lani dan beranjak menghampiri ayahnya. Saif menarik tangan Andre. Sejurus kemudian Andre mengangkat Saif dan mendekap buah hatinya itu di dadanya.
”Ayah cium Saif dong...”
Andre mencium pipi Saif yang putih montok. ”Jagoan ayah ini pintar banget ya...”
Saif tertawa. ”Sekarang ayah cium bunda juga."
Alis Andre terangkat, kemudian dia tersenyum.
”Ayo ayah...Bunda lagi sedih tuh. ”
Andre bergerak mendekati Lani, dikecupnya kening sang istri lama. Lani memejamkan matanya. Sejujurnya ia ingin Andre mengucapkan maaf dan kemudian ia pun akan mengucapkan maaf pula, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Mereka bertatapan. Lani tidak tahu apakah Andre melakukan itu hanya atas permintaan Saif saja atau memang benar-benar telah menyesal atas pertengkaran mereka tadi, yang ia tahu mata Andre berkaca-kaca. Ah, biarlah hati yang saling berbicara. Saif tertawa. Lani mencubit pipinya. Dalam hati ia bersyukur telah dikaruniai anak seperti Saif, dia bisa menjadi juru damai bagi orangtuanya. Seolah-olah dia tahu kalau orangtuanya sedang dalam masalah.
...@@@...
Lamunan Lani buyar ketika dia sampai didepan rumah Ummu Yusuf. Lani berlari menuju rumah, dia tidak membawa payung. Setelah mengucap salam, pintu terbuka. Ummu Yusuf tersenyum menyambutnya.
”Maaf Mbak. Saya telat menjemput Saif. ”
”Nggak pa-pa. Saif lagi tidur, tuh. ”
Lani terharu. Dia masuk ke kamar tempat Saif tidur.
”Dari tadi nanyain Mbak Lani terus. ”
Mata Lani berkaca-kaca. Digendongnya Saif.
__ADS_1
”Gimana Mbak, apa sudah ada ketemu dengan orang yang bisa jadi membantu di rumah saya."
”Belum Mbak, tapi saya akan usahakan terus. ”
”Makasih ya, Mbak. Saya benar-benar sangat butuh sekarang. ”
Ummu Yusuf mengangguk.
Lani menuju taksi yang telah menunggu mereka dengan menggendong Saif dan Ummu Yusuf memayungi mereka. Kemudian taksi meluncur menuju kediamannya. Sementara itu di kantor, Andre termangu didepan laptopnya. Dia tahu istrinya sangat marah tadi. Terbukti dari bahasa Lani yang sudah menggunakan saya, Pak Andre dan bahasa-bahasa lain yang menggambarkan kemarahan. Maaf sayang, bisik Andre. Andre takut membayangkan jika bertemu Lani nanti di rumah. Pasti Lani akan melayaninya tanpa bicara, wajahnya memang akan tetap manis, tapi tetap saja menimbulkan perasaan tidak enak di hati Andre karena ia sangat tidak tahan jika Lani diam. Keceriaan Lani adalah sumber energi baginya. Jika Lani diam, ia akan lunglai. Andre menghela nafas, harus menyiapkan jurus jitu untuk merayu, nih.
...@@@...
Lani menatap punggung suaminya yang sedang tidur. Terdengar dengkuran halus yang menandakan suaminya sangat lelah. Akhir-akhir ini Andre selalu pulang lama. Setibanya di rumah; mandi, makan dan langsung tidur. Tidak ada waktu untuk sekedar bercerita atau bercanda seperti dulu. Lani sangat merindukan tawa Andre yang lepas atau cerita-cerita tentang pekerjaannya. Biasanya sebelum tidur mereka sering bercanda atau bermain teka-teki, Lani lah yang selalu memulainya.
”Mas, Lani punya teka-teki nih.”
”Apa? ”
”Apa beda celana panjang dengan kacang panjang? ”
”Ya bedalah...yang satu pakaian yang satu lagi sayuran.” jawab Andre cepat.
”Salah.”
”Kok salah? Jadi, yang benarnya apa? ”
”Kalau celana panjang dipotong, jadi celana pendek. Tapi kalau kacang panjang dipotong nggak bisa jadi kacang pendek. Karena kacang pendek itu nggak ada.”
Andre tergelak.
”1-0. Sekarang giliran Mas yang ngasih teka-teki.”
” Apa ya? ” Andre berpikir. ” Hmm...apa beda orang dengan semut? ”
” Kalau orang bisa kesemutan, tapi kalau semut nggak bisa keorangan. ” jawab Lani dengan semangat.
Andre manyun. ” Yah...dia bisa jawab. ”Lani menepuk dadanya. ” Lani gitu lho... 2-0. Sekarang giliran Lani. Mobil apa yang tergantung di pohon? ”
”Mobil sedan bisa, mobil angkot juga bisa kalau dia digantung pakai tali.”
” Salah. Yang benar itu, ya mobilang mangga, mobilang durian, mobilang rambutan." Lani tersenyum penuh kemenangan.
Andre mengacak rambut Lani gemas.” Pintar banget, sih.”
”3-0. Giliran Mas sekarang.”
”Lani aja deh...Mas nggak punya stok lagi. ”
”Ih, katanya cerdas, masa bikin teka-teki nggak bisa. Ya udah deh, apa bahasa Jepang bersin. ”
Andre tersenyum. ”Hatchi."
Lani tertawa. ”Akhirnya 3-1.”
Andre mencubit pipi Lani.
”Orang pintar emang terkadang bodoh terhadap hal-hal sepele.”
”Itu teori yang nggak bisa diterima. ” kata Andre.
”Terbukti kok. Buktinya Mas, karena udah terbiasa berpikir yang berat-berat, hal-hal kecil sering luput dari pemikiran Mas. Jadinya gitu, deh. ”
”Yeah...terserah lah. Yang penting kamu udah mengakui satu hal, kalau Mas pintar. Karena emang kenyataannya begitu. ” Andre tertawa.
Lani mencibir. ”Selalu.......”
Lani tersenyum mengenang itu semua. Sekarang ini ia ingin sekali bercanda dengan Andre, tapi melihat suaminya yang setiap pulang selalu tampak lelah, ia tidak sampai hati. Lani kembali terkenang kejadian saat Andre lupa menjemput dirinya dan Saif, sepulang dari kantor Andre membawa sebatang coklat yang besar dan seikat kembang. Saat itu Lani masih marah padanya, Lani menyuruh Saif yang membukakan pintu sementara dia menyiapkan makanan di dapur, tiba-tiba saja Andre memeluknya dari belakang sambil memberikan coklat dan bunga padanya. Andre meminta maaf, namun Lani tidak bergeming.
Andre mengungkapkan penyesalannya berkali-kali sampai akhirnya Lani luluh juga. Si pengacara senyam-senyum, dalam hati ia berkata; nggak sia-sia deh coklat dan bungaku. Jurus jitu untuk meluluhkan hati istri. Siapa dulu dong, Andre – padahal dia membacanya dari sebuah artikel di internet, jurus jitu untuk merayu istri yang sedang marah – Andre tertawa dalam hati. Lani tidak tahu itu, yang dia tahu hanya suaminya sudah menyesal, meminta maaf dan cukup sudah. Tapi...sedikit bertanya-tanya dalam hati, kenapa suaminya begitu romantis saat itu.
...@@@...
__ADS_1