
Lani mendengarkan cerita wanita didepannya dengan serius. Sesekali wanita itu menyeka air matanya yang menetes. Namanya Tarissa, usianya 35 tahun. Cantik, modis dan berkelas. Dia adalah seorang desainer pakaian wanita. Jika saat ini Lani terlibat pembicaraan serius dengannya bukan karena Lani ingin menggunakan jasanya untuk memesan pakaian tapi karena Tarissa lah yang membutuhkan jasa Lani dalam menghadapi kasus perceraian dengan suaminya; Mahardika, seorang produser sinetron.
Ibu dua anak itu menumpahkan segala isi hatinya pada Lani. ”Saya sudah tidak tahan lagi dengan semua ini Mbak Lani. Bertahun-tahun saya mendampinginya. Kami sama-sama membangun karir dari titik nol. Tapi sekarang setelah dia berada di puncak, dia melupakan saya. Saya...saya...benar-benar nggak kuat dengan perlakuan kasarnya. ” Tarissa membuka kaca mata hitamnya, tampak mata sebelah kanannya
bengkak dan membiru. ”Dika sering memukul saya, dan ini adalah perlakuannya yang paling kasar. ” Tarissa menunjuk matanya.
Lani iba. Kok ada ya suami yang tega berbuat seperti itu pada istrinya. Kemana cinta yang diikrarkan ketika menikah dulu? Lani tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya. Lani jadi teringat pada suaminya. Enam bulan usia pernikahan mereka, tidak pernah Andre sekalipun menyakitinya secara fisik. Semoga demikian selamanya.
”Sudah berapa lama keadaannya seperti ini Bu? ”
”Setahun lebih. Sekarang kami sudah pisah rumah. Saya tinggal di apartemen. Sudah dua bulan ini Cinta dan Rafki tinggal bersama ayahnya, sebelumnya bersama saya. Tapi bulan lalu Dika menculik mereka dari sekolah.” ketika menyebutkan nama kedua anaknya, Tarissa tampak sangat menderita. ” Saya mau hak asuh anak-anak jatuh ke tangan saya Mbak. Saya kan ibunya, mereka masih kecil-kecil. Mereka masih butuh kasih sayang ibu. ”
Sebenarnya kasih sayang kedua orangtuanya, batin Lani.
”Bercerai adalah jalan terbaik menurut saya. Pernikahan kami sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Mbak Lani tolong saya ya merebut Cinta dan Rafki. ”
”Insya Allah Bu. ”
Tarissa tersenyum di sela-sela isak tangisnya.
@ @ @
Lani terpaku didepan laptopnya. Ini adalah kasus pertama yang dia tangani sendiri. Kemampuannya akan dipertaruhkan kali ini, tapi kok dapatnya kasus perceraian ya? Lani menggigiti kukunya.
Tiba-tiba Andre memeluknya dari belakang.
”Hei, kenapa melamun? ” bisiknya di telinga Lani.
Lani tersentak. Andre memutar tubuh istrinya. ” Kenapa sih? ”
”Lani dikasih kepercayaan menangani perkara sendiri Mas. ”
”Oh, ya? Wah...akhirnya dapat juga. Alhamdulillah.” mata Andre berbinar.
Lani tersenyum.
”Harusnya senang dong, tapi kok kayaknya bidadari ku ini nggak ya. ”
”Senang kok Mas. Tapi, Lani menangani kasus perceraian. ”
”Emang kenapa? ”
”Bukan apa-apa. Kasihan banget lihat klien Lani itu. Kok ada ya suami yang tega menyakiti istrinya. Bukan cuma hati tapi juga fisik. ”
Andre tersenyum.
”Lani membayangkan posisi Lani yang seperti itu. Mungkin Lani bisa mati. ”
”Ah, kamu ini. Mas nggak akan seperti itu kok. Mas kan sayang sama kamu. ”
”Kalau seandainya begitu, Lani hajar balik. ”
Andre tertawa. ” Tadi katanya bisa mati, sekarang mau menghajar balik. Gimana sih? Sayang, itu nggak kan terjadi pada kita. Aku janji dengan nama Allah. Saat menikah dulu kan udah diikrarkan juga. ” Andre merengkuh istrinya.
”Mas lagi megang kasus apa? ” tanya Lani
”Perceraian juga. ”
”Kok bisa sama ya? ”
”Kita kan soulmate. ”
__ADS_1
Lani tersenyum.
@ @ @
Lani mencoba menghubungi ponsel suaminya tapi dari tadi tidak diangkat. Lani kesal. Dicobanya berulang
kali, setelah panggilan ke sepuluh barulah Andre mengangkat teleponnya.
”Mas, dari tadi ngapain aja sih? Teleponnya nggak diangkat-angkat. ”
”Maaf sayang, Mas lagi bicara dengan klien. ”
”Kebetulan, Lani juga ingin menanyakan tentang klien Mas itu. ”
”Hmmm...”
”Mas jadi penasihat hukum nya Mahardika ya? ”
”Kok tahu? ”
”Jelas saja Lani tahu. Lani lihat nama Mas didalam surat gugatan yang dikirimkan pada Tarissa, istri Mahardika. Mas tahu, Tarissa itu klien Lani. ”
”Trus?”
”Kok terus? Mas kok nggak bilang sih dari kemarin? ”
”Mas sendiri belum tahu kalau kamu yang jadi penasihat hukumnya Tarissa. Baru tahu sekarang ini nih. ”
”Kalau tahu begini, Lani nggak akan mau megang kasus ini? ”
”Lho?! Memangnya kenapa? ”
Lani tidak menyahut, dia hanya mendesah.
Lani menutup teleponnya dengan salam.
Ya, Allah...kok bisa jadi begini sih? Galau tingkat dewa.
@ @ @
Lani memasuki ruang kerja suaminya dengan secangkir susu coklat hangat di tangan. Andre yang sedang membaca berkas mengangkat wajah saat Lani meletakkan cangkir diatas meja dengan wajah ditekuk.
”Kenapa sih? Masalah yang tadi siang ya? ”
Lanimengangguk.
”Emangnya kenapa kalau kita mengangani kasus yang sama? ”
”Menurut Mas itu bukan masalah yang meresahkan? ”
Andre memiringkan kepalanya. ” Apa yang harus diresahkan? Biasa aja kan? ”
”Mas, kita pasangan suami istri, menangani kasus yang sama, kasus perceraian yang akan memisahkan dua anak manusia yang terikat dalam pernikahan. ”
Andre mengernyitkan dahinya.
Lani menghela nafas. Sulit untuk mengungkapkan perasaannya pada Andre. Tapi, sebenarnya apa sih yang Lani khawatirkan? Lani jadi bingung juga dengan pikirannya.
”Kamu takut ya kalah sama Mas? ”
”Kenapa harus takut. Kita membela kan bukan mencari menang dan kalah, kita cuma membantu dalam masalah hukum karena mereka awam masalah itu. ”
__ADS_1
”Trus, kenapa kamu sepertinya takut? ”
Lani menghela nafas. ”Mas, kebayang nggak, kita menghadapi perkara yang sama tapi dari kubu yang berbeda. Seharusnya kita bisa saling mendukung dan membantu tapi malah akan saling bertahan dengan pendapat masing-masing. ”
”Lho, bukannya kamu sendiri yang bilang kita bukan mencari menang dan kalah? Jadi,
ya...biasa aja. Bekerja lah sesuai peran masing-masing. ”
Lani merengut.
”Sayang, dalam perkara ini, kita kan mencari jalan penyelesaian terbaik, toh yang akan memberikan putusan adalah hakim. Kita cuma membantu mereka untuk mendapatkan putusan yang adil. ”
”Itu kan teorinya. Pada praktiknya, setiap penasihat hukum akan bersaing dengan rivalnya di pengadilan. ”
Andre meraih tangan istrinya. ” Begini ya Lani sayang, Mas janji nggak akan menganggap kamu rival. Gimana kalau kita jadi partner aja? ”
”Mana mungkin? Kita di kubu yang berbeda lho, Mas. Kecuali kalau salah satu dari kita mengundurkan diri dari perkara ini.”
”Itu lebih nggak mungkin lagi. Kita harus profesional dong...”
Lani mencibir.
”Kalau begitu, Ibu Maylani Ivana Azra Hutabarat sampai bertemu di pengadilan. ” kata Andre sambil tersenyum.
”Oke. Sampai bertemu di pengadilan Mr. Andre Maulana. ” Lani mengulurkan tangannya menyalami Andre. Andre menerimanya dengan senyum lebar.
@@@
Upaya mediasi yang ditawarkan oleh majelis hakim tidak diterima oleh kedua belah pihak, baik Tarissa maupun Mahardika sama-sama bersikeras ingin mengakhiri jalinan cinta yang telah terbina selama sepuluh tahun itu. Pada saat sidang mereka saling melontarkan kata-kata kasar bahkan memaki yang membuat hakim berang dan mengetokkan palunya berulang kali, meminta agar keduanya tenang. Lani sendiri kebingungan melihat tingkah mereka, begitu juga dengan Andre. Tapi sempat juga Lani melihat Andre melempar senyum padanya. Lani mengurut dahinya mencoba menghilangkan rasa pusing yang mulai mendera. Bagaimana mungkin dua orang yang pernah saling mencintai, kini saling membenci. Telah menguap kah rasa cinta itu? Lani mendadak mual.
”Dasar perempuan tak tahu malu! Kurang apalagi kamu, hah?! Apa satu laki-laki tak cukup untukmu? ” teriak Mahardika
”Diam kau Dika!! ” jerit Tarissa
Lani berusaha menenangkan kliennya yang sudah tampak emosi. Begitu juga dengan Andre. Hakim ketua kembali mengetuk palu ke meja.
Akhirnya sidang pun ditunda. Lani menghela nafas.
Seusai sidang Andre menunggu Lani didepan gedung pengadilan.
”Pulang bareng? ”
Lani menggeleng. Dahi Andre berkerut. ” Kenapa? ”
”Masa penasihat hukum Tarissa pulang dengan penasihat hukum Mahardika. Nggak ah...”
”Emang ada yang salah, gitu? ”
”Apa kata dunia? ”
Andre menghela nafas.
”Bercanda kok Mas. Yang benarnya Lani mau pergi sama Mbak Tarissa, kelihatannya dia sangat terpukul sekali. ”
Andre manggut-manggut. ”Sekalian aja dinasihatin. ” usul Andre
Lani tersenyum. ”Lani pergi dulu ya Mas. ”
”Oke. Jangan lama-lama ya, sayang. Mas tunggu dirumah. ”
Lani melenggang pergi meninggalkan Andre. Andre menatap punggung istrinya hingga
__ADS_1
masuk ke mobil Tarissa. Ia pun melangkah menuju parkiran.
@@@