Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Kirana


__ADS_3

    Secangkir kopi di atas meja sudah tak lagi mengepulkan asapnya, itu pertanda kopi sudah dingin. Si pemilik kopi tampak serius membaca dan tidak memperdulikan minumannya sama sekali sejak tadi diantarkan oleh office boy. Tangan menopang dagu, mata fokus kepada bacaan, sesekali dahinya berkerut. Sejurus kemudian ia merubah posisi tangan ke dahi sambil sesekali mengurut perlahan.


"Ndre..."


Tak ada sahutan.


"Ndre!" mulai menuntut.


Masih bergeming.


"Ndre!!!"


"Yaaaa.." spontan menyahut panggilan namanya. "Apa, Din? Lu ngagetin aja."


"Aku udah panggil kau dua kali, tapi nggak dengar, terpaksa diteriakin, baru kau dengar kan?"


Andre cengengesan.


"Radit masih belum bicara?"


Andre mengangguk. "Susah. Sepertinya dia mengalami trauma dan rasa bersalah yang begitu besar."


"Apa kata polisi?"


"Mereka angkat tangan."


"Mau dikasari tak mungkin ya, kan. Apalagi masih dibawah umur. Belum lagi kau selalu mendampingi."


Andre mengurut dahinya lagi. "Kemarin aku memancingnya bicara dengan menceritakan kisah masa SMA dan kuliah. Dia menyimak dengan baik, dan untuk pertama kalinya dia berbicara padaku. Hanya empat kalimat. Selebihnya dia menangis."


"Itu kemajuan, Ndre. Kau berhasil membuatnya bicara. Orangtuanya saja gagal."


"Semoga ini awal yang baik. Bagaimana kasus artis yang kau tangani itu?"


"Besok sidang lanjutan."


Sebuah pesan masuk.


Mas, nanti sore jadwal ke obgyn, Mas bisa ikut kan?


Dari istrinya.


InsyaAllah. Tunggu di kantor, ya. Mas jemput.


Andre menyesap kopinya yang telah dingin, terasa aneh di lidah, tapi tak mengapa, daripada tak disentuh sama sekali. Ia habiskan separuh.


"Kamu sedang luang, Din?" tanyanya pada Mardin.


"Kenapa?" sahut Mardin tanpa mengalihkan pandangan dari komputernya.


"Nggak pa-pa. Nanya aja."


"Ah, kau ini. Kupikir mau diajak makan siang."


"Aku bawa bekal." sahutnya, masih sambil terus membaca.


Mardin tergelak. "Dulu kau ejek si Lani kayak anak TK karena bawa bekal, sekarang kau yang bawa bekal."


"Ini juga karena Lani, Din. Dia paksa aku bawa bekal. Kalau nggak dibawa nanti ngambeknya bisa seharian. Dari pagi sampai ke pagi lagi tahan."


Mardin terbahak demi mendengar ucapan Andre.


"Lucu kau rasa?"


"Lucu lah. Kenapa jadi tukang ngambek gitu si Lani sekarang."


"Nggak tahu. Aku pun bingung. Sejak hamil tingkahnya aneh. Suka menarik-narik rambut, kadang mencium ketiak, tapi dia nggak suka mencium parfum dan minyak rambut. Sudah tiga bulan aku tidak pakai parfum dan minyak rambut, hanya deodorant saja. Syukur lah deodorant masih diizinkan, kalau tidak, jadi lah aku manusia paling bau se-kantor. Kamu nggak pernah lagi mencium wangi parfum dari tubuhku, kan? "


"Mungkin kayak gitu lah dulu kau waktu kecil. Makanya anak mu bawaannya juga aneh."


"Maksud kamu aku aneh?"


"Iya, aneh. Memang kau aneh kan?" Mardin tertawa. "Untungnya kau ganteng, jadi masih ada yang mau."


"Bukan ada, tapi banyak."


"Narsis mu tak pernah sembuh. Malah makin meningkat." Mardin geleng-geleng kepala. "Apa lagi tingkah aneh istrimu?"


"Suka menggigit." ujar Andre kalem.


"Hah?!"


"Iya, kalau aku asyik membaca atau sedang selonjoran di sofa, dia muncul dan menggigit tangan, kadang bahu." Andre menepuk jidatnya. "Katanya gemas. Kadang sampai berbekas."


Mardin tak mampu menahan tawanya. Ia sampai terpingkal-pingkal. "Ah, sudah lah. Kau bikin perutku sakit aja karena ketawa. Jangan ceritakan lagi."


"Iya, sudah selesai. Aku pun nggak mau cerita lagi." ujar Andre kalem, ia kembali membaca sambil sesekali melirik kotak bekal dihadapannya. Sedikit penasaran, ia mengintip isinya; kotak pertama berisi sayur asem (Ya ampun, sayur asem lagi. Sudah empat hari makan sayur asem terus, Andre menghela nafas), kotak kedua ayam goreng balado (lagi-lagi ayam, sudah tiga hari makan ayam terus, Andre kembali menghela nafas), kotak ketiga pergedel kentang (ini tak mengapa, karena memang baru muncul hari ini), dan terakhir nasi putih.


Terkenang pesan Lani tadi pagi.


*"Harus dihabisin ya, Mas. Jangan lupa cuci tangan, baca doa. Dan yang terpenting, kotak bekalnya jangan sampai ketinggalan lagi kayak kemarin-kemarin itu. Awas kalau sampai tertinggal." kepalan tinju tidak ketinggalan. *


Andre bergidik. Ia sudah pernah meninggalkan kotak bekal di kantor, semalaman Lani misuh-misuh nggak karuan. Paginya saat Andre tiba di kantor,  kotak bekal yang satu set terdiri dari empat buah itu (dua berwarna orens dan dua berwarna ungu ) tidak ada lagi di atas meja kerjanya, Andre panik.  Alamat bakal pecah perang dunia ketiga ini di rumah, pikirnya. Saat panik melanda, Lani mengirim pesan.


Kotak bekal jangan lupa lagi, Mas. Awas kalau lupa.


Ampun, Nyai. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Kemana gerangan perginya si kotak bekal. Saking takutnya, ia meminta Farah untuk membelikan yang baru, persis seperti itu. Syukur lah sebelum Farah beranjak, Sahat - office boy di kantor mereka - datang dan bilang kalau kotak bekal miliknya ada di pantry, karena tadi dicuci. Alhamdulillah. Perkara kotak bekal selesai. Seisi kantor menertawakannya.


"Di ruang sidang kau garang, tapi sama si Lani keok." kata Pak Hutagalung. Andre nyengir.


Lamunannya buyar karena suara dering telepon. Suhendra; nama yang tertera di layar.


"Ya, Pak. Baik. Saya kesana."


Andre menutup telepon lalu bergegas pergi. Sebelum pergi ia berpesan pada Mardin.


"Din, aku ke Polres. Jangan kau makan bekalku ya. Nanti bisa-bisa Lani ngamuk kalau tahu bukan aku yang makan."


"Kau bawa saja sana, makan di Polres. Waktu makan siang tinggal beberapa jam lagi."

__ADS_1


Andre menyambar kotak bekalnya dan segera berlalu.


@@@


    Raditya menekuri lantai ruang tahanan yang terasa dingin. Baru saja ia mengamuk meninju dinding berulang kali sampai tangannya membengkak, biru, dan berdarah. Dua orang polisi berusaha menenangkan. Hingga kini, cekalan pada tangannya saat berusaha menenangkan tadi masih terasa. Radit meringis menahan sakit.


"Kalau mau jadi petinju jangan disini." ujar si polisi.


"Ditanyain nggak mau jawab, malah ngamuk."


"Kecil-kecil udah jadi pembunuh."


Kata-kata polisi tadi masih terngiang. Ia terduduk menahan jeri.


    Suara derap sepatu terdengar mendekat, ia tetap menunduk. Pintu sel terdengar dibuka,seseorang menarik lengannya dan memasangkan borgol. Ia dituntun menuju sebuah ruangan, didudukkan di sebuah kursi. Letih menunduk, ia mengangkat wajah. Tampak Andre - Om Pengacara - sedang tersenyum di hadapannya.


"Assalamu alaikum, Radit. Sehat?"


Ia mengangguk.


"Tangan kamu  berdarah. Pak, boleh tolong diberi obat?" kata Andre pada polisi.


Polisi mengangguk dan mengambil kotak P3K. Seorang polisi muda mulai membersihkan luka, memberi obat dan membalutnya.


"Ini memar." ujar Andre. "Jangan ulangi lagi, ya."


Radit mengangguk.


Andre memberi isyarat kepada polisi untuk meninggalkan mereka berdua. Tiga orang polisi meninggalkan ruangan. Saat ini hanya ada Andre dan Radit.


"Kamu kangen sama Kirana?"


Ia mengangguk.


"Ceritakan tentang Kirana, saya ingin tahu gadis seperti apa dia." Andre bersiap dengan rekaman di ponselnya.


"Dia cantik, baik hati, ramah dan lucu."


Andre tersenyum. "Seperti dugaanku."


"Pertama kali bertemu saat MOS. Dia duduk disampingku; rambutnya dikepang dua, imut sekali. Aku mengajaknya kenalan. Kami pun menjadi akrab." Ia menelan ludah.


"Kalian teman sekelas?"


Radit menggeleng. "Beda kelas. Semester dua kelas satu, kami jadian." suaranya tercekat. "Aku selalu mengantarnya pulang sekolah, seperti normalnya orang pacaran. Kami menonton film, jalan-jalan ke mall, kadang hanya ngobrol-ngobrol aja di teras rumahnya."


Andre menyimak. "Orangtua Kirana tahu hubungan kalian."


"Ya. Aku diperkenalkan kepada Papa, Mama dan adiknya. Mereka welcome. Kami tak pernah bertengkar, makanya bisa bertahan sampai hampir tiga tahun."


Andre manggut-manggut.


"Bulan lalu, Kirana bilang dia hamil dan dia sangat takut. Aku juga takut. Kami hanya melakukannya sekali."Radit menutup wajahnya. Andre tercekat, ternyata hubungan mereka sudah sejauh itu. Ia istighfar dalam hati. Cerita ini persis dugaannya. Satu persatu mulai terkuak. Andre kembali fokus mendengarkan.


"Aku mencoba menenangkan dan bilang akan bertanggung jawab. Tapi aku takut menyampaikannya pada Papa. Bisa kubayangkan, Papa pasti akan marah besar dan menghajarku. Kirana juga takut pada keluarganya." Radit terisak. "Kami mencoba cari jalan untuk menggugurkan kandungannya. Hampir jadi, tapi urung, karena Kirana takut."


Andre mengusap wajahnya.


Radit kembali menangis.


"Kirana bercerita, bahwa ada teman sekelasnya yang tahu dia hamil. Ia stres, cemas, takut kalau orang itu akan membocorkan rahasia kami kepada keluarga. Beberapa kali teman sekelas itu mencoba memerasnya. Kirana semakin stres. Lalu, kami sepakat untuk pergi bersama." Radit sesenggukan.


"Pergi kemana?" tanya Andre.


Radit tidak menjawab.


Andre menarik nafas. "Sebelumnya, saya minta maaf. Tapi ini harus saya tanyakan, apakah kamu yang menghilangkan nyawa Kirana?" Andre sengaja memilih kata lain dari membunuh.


"Aku tidak membunuh Kirana." sergahnya. "Aku hanya mengantarnya ke tempat keabadian, dan aku juga menyusul. Tapi aku gagal."


Sang Pengacara menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Ternyata belum selesai, pikirnya.


"Bagaimana cara kamu mengantarkan Kirana ke tempat keabadian itu?"


"Om menginterogasi saya?" Radit menatapnya tajam.


"Saya bertanya. Interogasi itu tugas polisi, bukan tugas saya. Kita disini berteman, oke?"


Radit mengangguk pelan. Tampaknya ia menerima Andre sebagai temannya.


"Dengan obat tetes mata."


Andre menarik nafas panjang. Terjawab sudah. Hasil otopsi memang menemukan kandungan *tetrahidrozolin *didalam tubuh korban. Senyawa kimia ini terdapat dalam obat tetes mata yang dijual bebas di pasaran. Pengakuan Radit sesuai dengan hasil yang ditemukan.


"Aku pikir saat itu sudah berada di surga bersama Kirana, tapi ketika aku membuka mata, ternyata di rumah sakit. Kirana tidak ada disampingku. Dia sudah pergi." Radit menunduk. "Harusnya aku tidak dibawa ke rumah sakit. Aku ingin menyusulnya, karena kami sudah berjanji akan bersama selamanya. Aku bersalah padanya karena tidak menepati janji."


"Kamu ingin Kirana tenang dan tetap mencintaimu walaupun ia sudah pergi lebih dulu?"


Radit mengangkat wajah, lalu mengangguk.


"Minta maaf lah pada keluarganya. Kirana akan tenang dan tersenyum melihatmu dari alam sana. Ia akan bangga padamu, karena kamu berani meminta maaf, itu sikap seorang ksatria. Ia tidak akan menyesal sudah melabuhkan cintanya padamu." Andre kembali membangunkan sisi romantisme pemuda itu.


Radit menangis, lalu mengangguk.


"Hummm...ngomong-ngomong kamu sudah makan belum?"


Radit menggeleng. Sejak berada di tempat ini, perutnya tidak pernah terasa lapar.


"Kita makan bareng, yuk. Saya bawa bekal nih." Andre membuka kotak bekalnya, lalu menyodorkan sendok pada Radit. Pemuda itu menerimanya.


Kemudian Andre mengeluarkan dua botol air mineral dari ransel, berikut beberapa camilan.


"Ayo dimakan. Ini masakan istri saya. Enak, lho."


Radit mulai menyuap makanan ke mulutnya. "Om nggak makan?"


"Saya belum terlalu lapar, jadi mau makan ini aja dulu. "Andre membuka bungkus kerupuk basreng yang dibawanya.


Radit tersenyum. "Papa meminta Om menyelamatkan saya?"

__ADS_1


"Bukan. Papa meminta saya untuk menjadi teman kamu."


"Papa tidak percaya saya melakukannya." ujarnya lirih.


"Eh, kalau boleh meminta, jangan panggil saya Om, dong. Panggil Mas aja, saya masih terlalu muda untuk jadi Om kamu." Biasa lah, si narsis ini memang selalu tidak ingin terlihat tua. Harap maklum sekali lagi ya.


Radit menyeringai. "Kenapa Om mau jadi pengacara saya, padahal saya penjahat."


"Karena kita berteman." Andre tersenyum. Anak ini sedang terguncang jiwanya, sedapat mungkin ia memilih kata-kata yang ringan dan enak didengar. Tak perlu lah ia menjelaskan tugas dan fungsi advokat dalam sebuah perkara. "Gimana, enak kan makanannya?"


Sebuah anggukan ia terima, cukup lah menjadi pengakuan atas kelihaian istrinya dalam memasak. Andre kembali tersenyum. Sedetik kemudian ia tersentak mendengar nada dering ponselnya. My Sweetheart.


"Ya, sayang. Assalamu alaikum."


"Pak Andre, ini Raya. Mbak Lani pingsan, sekarang kami dalam perjalanan ke rumah sakit."


Serasa palu godam menghantam tengkuknya saat mendengar kabar sang istri.


"Rumah sakit mana, Ray? Saya akan segera kesana. Tolong dampingi Lani sampai saya datang."


Setelah berbicara dengan polisi dan memberi tepukan di bahu Radit sembari berpesan untuk menghabiskan makanannya, Andre bergegas keluar ruangan. Setengah berlari ia menuju parkiran. Bayangan Lani berkelebat di matanya, ada apa? Tadi pagi dia masih baik-baik saja. Dia juga mengirimkan pesan untuk ke dokterobgyn bersama. Sayang, kamu kenapa? lirihnya.


                                    @@@


    Wajah pias istrinya kini tampak jelas di depan mata, rintihan kecil terdengar sambil terus memegangi perut bagian bawahnya. Saat melihat sang suami semakin dekat, ia memanggil dengan suara perlahan.


"Mas..."


Andre mencelos, segera ia menyambar tangan sang istri, membawa ke dada dan sesekali mengecupnya.


"Ya, sayang. Mas disini. Sabar, ya." diusapnya dahi yang berkeringat itu. Lani meringis menahan sakit.


"Lani jatuh di kamar mandi kantor. Pendarahan." terbata ia berusaha menjelaskan kepada suaminya.


Andre mengangguk, lalu mengecup dahi sang istri.


Alat USG didorong mendekat, perawat membaluri perut bagian bawah Lani dengan gel, lalu dokter melakukan pemeriksaan. Dalam hati Andre tak putus-putusnya berdoa, semoga calon bayi mereka aman, ibunya juga aman.


"Alhamdulillah, janinnya masih ada."


Andre dan Lani mengucap syukur bersamaan. Tampak Lani meneteskan air mata.


"Segera pasang infus. Kita akan beri obat untuk mencegah pendarahannya." ujar dokter Shafira pada perawat.


"Baik, Dok."


"Alhamdulillah, calon bayi ibu aman, dia kuat." Dokter Shafira tersenyum. Dibalas senyum oleh keduanya.


"Makasih, Dok."


"Ibu harus *opname *beberapa hari ya. Kita akan pantau terus perkembangannya."


"Baik, Dok. Terima kasih." Andre yang menjawab.


"Saya tinggal dulu, ya Pak, Bu. Segera setelah ruangannya disiapkan, Bu Lani akan kita pindah kesana."


"Ya, Dok. Sekali lagi terima kasih."


Tangannya masih terus menggenggam erat tangan sang istri, sesekali dikecupnya dengan sayang. Lani tersenyum.


"Maafkan Lani, ya Mas. Pasti tadi Mas lagi kerja kan? Lani bikin repot aja."


"Nggak apa-apa. Mas tadi lagi di Polres."


"Udah makan?"


Andre menggeleng. Ia melirik jam tangan. "Belum sholat juga."


"Kenapa belum makan? Lani kan sudah bawakan bekal."


"Bekalnya Mas kasih ke Radit."


Dahi Lani mengernyit. "Radit?"


"Iya, anak SMA yang jadi tersangka pembunuhan temannya itu, yang kemarin Mas ceritakan. Namanya Radit. Mas kasih ke dia bekalnya. Katanya enak."


"Alhamdulillah. Trus, kotak bekalnya mana?"


Andre menepuk jidat. Ampuuun...bakal perang lagi ini gara-gara si kotak bekal. "Ketinggalan di Polres, tadi Radit belum selesai makan, jadi Mas tinggal aja karena buru-buru kesini."


Lani manyun. "Ya Allah, Mas. Gimana kalau tempat bekalnya hilang? Telepon kek ntah siapa gitu yang ada disana biar disimpanin, besok Mas jemput kesana."


Andre menghela nafas, bisa-bisanya saat sedang sakit pun masih memikirkan kotak bekal. Ia mengambil ponsel dari saku dan mencoba menelepon Suhendra, tapi tidak diangkat. Wajah Lani mulai tertekuk. Andre menggaruk kepalanya.


"Hilang deh tuh. Udah lah,,udah pasti hilang." omel Lani.


"Ya udah, nggak usah dipikirin. Kalau hilang, kan bisa diganti lagi. Besok Mas minta tolong Farah untuk belikan yang baru."


Lani memalingkan wajahnya. Ampun, Nyaiiii.


"Udah dong, ah. Nggak penting itu kotak bekal. Sekarang kita fokus ke penyembuhan kamu. Rasanya jantung Mas hampir copot karena dengar kamu pingsan." Andre mengelus kepala istrinya. "Mas takut terjadi sesuatu sama kamu dan calon bayi kita." tatapannya melembut. Lani luluh.


"Lani juga takut, Mas. Takut banget."


"Lain kali hati-hati, ya kalau lagi di kamar mandi."


"Waktu Lani di toilet, tiba-tiba pusing, Mas. Mata berpendar, Lani terhuyung, jatuh." Jelasnya.


"Muntahnya masih sering?"


"Kalau siang nggak terlalu, pagi doang. Mas lihat sendiri kan, Lani seringnya huek huek kalau pagi, bangun tidur."


"Sepertinya kamu kecapekan. Kalau badan udah terasa capek, jangan dipaksa kerja. Istirahat aja dulu."


Lani mengangguk. Sejurus kemudian, ia teringat kotak bekal lagi.


"Eh, Mas. Coba deh ditelepon lagi polisinya, kali aja diangkat."


Andre menepuk jidat. Kali ini beneran minta ampun Nyai...

__ADS_1


                        @@@


__ADS_2