
Lani terbangun dan terkejut melihat sang suami tertidur di kursi dengan kepala yang diletakkan diatas ranjang, sementara tangannya menggenggam tangan Lani. Dengkuran halus terdengar. Perlahan tangannya bergerak untuk membelai rambut Andre lembut, kemudian turun ke dahi, mata, hidung dan rahangnya yang kokoh.
"Dia suamiku." desisnya perlahan.
Andre bergerak, mengubah posisi kepalanya sambil mengguman tak jelas.
Lani memasang telinganya baik-baik, Andre menggumam lagi, kali ini agak sedikit jelas.
"Kotak bekalnya, Din. Tinggal di Polres." Andre mengigau.
Lani menahan tawa. Muncul keinginan untuk mengerjai suaminya.
"Kenapa, Mas? "
"Kotak bekal."
"Kenapa kotak bekalnya."
"Tertinggal di Polres."
"Jemput, Mas. Segera!" Lani berseru dengan suara keras.
Andre kaget dan langsung terbangun.
"Ya, Sayang. Apa yang dijemput?" Andre spontan bertanya.
Lani tergelak.
Andre menatapnya penuh tanda tanya.
"Tadi Mas ngigau, lucu deh."
"Ngigauin apa?" Andre mengucek matanya.
"Ngigauin kotak bekal. Hahaha..."
Andre ikut tertawa. "Sampai kebawa dalam mimpi ya."
"Iya, lucu banget. Mas kalau tidur kayak bayi lho, serius."
"Jangan ngarang."
"Sumpah, beneran kayak bayi."
Andre menjawil hidung istrinya gemas. "Jadi, kamu tadi sengaja teriak biar Mas terbangun ya."
Lani mengangguk sambil menahan tawa. "Masih syukur Lani teriak bukan nanya nomor togel."
"Maksudnya?"
"Hummm...di kampung Lani, kalau ada yang ngelindur gitu, sering dicandain nanya nomor judi togel, Mas. Nomor berapa besok keluar, gitu."
Andre mengernyit. "Nggak ngerti."
"Ah, ya udah deh. Gini lah kalau beda benua, beda frekuensi kan jadinya. Besok-besok aja Lani jelasin. Kalau nggak sabar, tanya Bang Mardin, dia pasti ngerti."
Andre mengusap wajahnya sambil menguap.
__ADS_1
"Ditutup atuh mulutnya kalau nguap, Pak Bos. Ntar kemasukan lalat."
Andre tertawa. "Nggak ada lalat disini. Adanya kucing."
"Mana kucing?"
"Tuh..."Andre menunjuk wajah Lani. "Kucing garong, sukanya menggigit."
Lani tergelak.
Andre mengelus pipi istrinya. "Masih sakit perutnya?"
"Sudah lebih baik dari tadi."
"Kamu nyenyak banget tidurnya.'
"Iya, alhamdulillah. Mungkin karena dikasih obat penenang sama dokternya."
"Mau makan sesuatu nggak? Biar Mas beliin."
Lani menggeleng. "Lani nggak mau makan apa-apa, cuma mau Mas disini."
"Kan, udah disini." Andre mengucek kepala istrinya yang tertutup jilbab. "Cepat sembuh ya, Sayang. Mas paling nggak bisa kalau kamu sakit, rasanya jadi ikutan sakit. Lihat wajah kamu tadi udah seputih kapas, badan Mas rasa nggak berdaya, kayak mau pingsan juga."
"Mas belajar menggombal dimana?"
"Ini serius, Sayang. Bukan gombal. Apalagi karena kamu lagi mengandung anak kita. Mas takut banget terjadi apa-apa sama kalian berdua." Andre menatap Lani dengan mata berkaca-kaca.
Lani terharu.
"I love you." ujar Andre sambil mengecup tangan istrinya.
Terdengar pintu diketuk.
"Masuk." seru Andre
Pintu terkuak dan muncul wajah Mardin bersama seorang laki-laki muda.
"Uluh..uluh..yang lagi bermesraan." laki-laki muda itu berseru. "Kita mengganggu nih, Pak?" tambahnya lagi.
"Nggak kok, Dwi. Ada apa nih?"
"Mau jenguk Lani lah." kali ini Mardin yang menjawab. "Gimana kondisi kamu, Lan?"
"Alhamdulillah sudah mendingan, Bang."
"Alhamdulillah."
"Oh, ya Bu. Ini ada sedikit oleh-oleh." si lelaki muda yang dipanggil Dwi oleh Andre meletakkan keranjang berisi buah diatas nakas. "Dimakan ya, Bu."
"Terima kasih, Pak. Jadi repot." Lani tersenyum.
"Aduh, jangan panggil bapak dong, Bu. Saya masih muda lho." Dwi cekikikan.
Selanjutnya mereka bertiga sibuk membahas kasus yang sedang ditangani, sementara itu Lani yang merasa tidak nyambung dengan pembahasan itu lebih memilih membuka-buka pesan di ponselnya.
"Dwi itu siapa, Mas?" Lani bertanya ketika Mardin dan Dwi sudah pulang.
__ADS_1
"Pegawai kantor."
"Baru?"
"Ya, sudah sekitar dua bulan lah kerja di kantor."
Lani tersenyum.
"Kenapa senyum? Naksir?"
"Mas, kenapa ya kalau laki-laki ada unsur nama perempuan di namanya itu jadi agak feminin, sebaliknya kalau perempuan ada unsur nama laki-laki di namanya jadi agak maskulin."
"Ngaco, ah. Teori dari mana itu?"
"Beneran lho, Mas. Itu tadi namanya Dwi agak manis kan anaknya, lembut, agak lentur. "Lani terkekeh. "Lani udah perhatikan juga beberapa orang. Ada tuh teman Lani namanya Pipit, dia laki-laki agak-agak kayak Dwi itu tadi juga. Ada juga namanya Ryan; perempuan. Anaknya tomboi abis. Trus, pernah ketemu sama orang yang namanya Lili; laki-laki, lembut juga Mas."
Andre tergelak. "Dwi nama universal lho, bisa ke laki-laki bisa ke perempuan. Itu cuma kebetulan, sayang. Tidak semuanya begitu, jadi teori kamu tidak bisa dipakai kepada semua orang. Buktinya, yang dihadapan Mas sekarang, nggak ada unsur nama lelakinya, kok maskulin?"
"Lani maksudnya?"
"Iya."
"Ih, Mas...Lani lemah lembut dan kemayu, lho."
"Kemayu dari mana?? Dari Monas?" Andre meledek istrinya. "Tenaganya kuat begitu, suaranya juga. Jalan suka grasa grusu, nggak ada femininnya sama sekali."
"Wah..wah..Mas ngajak tinju nih kayaknya."
"Iya. Trus kenapa?"
"Yuk lah, tanding tinju kita. Lani tunggu di simpang." Lani mengepalkan tinjunya.
Andre tertawa. "Ngapain di simpang, disini aja sekarang."
Mereka berdua tergelak.
"Hummm...tapi kalau dipikir-pikir, nama kamu ada unsur nama laki-lakinya kok, Sayang. Nama kamu kan Maylani Iffana Azra. Iffana, itu dari Iffan. Iffan itu laki-laki." Andre terbahak.
"Ih, nggak. Nggak lho. " Lani mengelak.
"Makanya jangan buat teori yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya."
"Suka-suka Lani dong. Darwin aja bikin teori yang bisa dibantah kok. Masa iya dia bilang manusia berasal dari kera. Kalau manusia berasal dari kera, kenapa sampai sekarang masih ada kera?"
Andre geleng-geleng kepala. Seperti biasa istrinya ini memang benar-benar tidak mau kalah kalau berdebat. Tidak salah dia memilih profesi sebagai pengacara.
"Besok Mas harus menghadiri sidang, kamu nggak apa-apa kah ditinggal?"
"Nggak apa-apa, Mas. "
"Nanti Mas minta tolong Mbak Andini buat nemanin kamu."
"Aduh, nggak usah ngerepotin Mbak Andini lah. Lani minta temanin Farah aja."
"Farah kan kerja, sayang. Besok Mbak Andini nggak ada jadwal mengajar, jadi bisa nemanin kamu."
"Ya udah, gimana baiknya aja Mas. Lani ngikut. Sebenarnya Lani sendirian juga nggak apa-apa. Kan ada suster yang bisa dipanggil."
__ADS_1
Andre mengelus kepala istrinya dengan sayang.
***