Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Balada Lipstik Merah Menyala


__ADS_3

***


Apa yang terjadi padamu kekasih?


Telah kuserahkan seluruh cintaku untukmu,


telah kurelakan hatiku padamu


dengan harapan kita dapat saling menjaga dan saling percaya.


Namun ketika kepercayaan itu hancur berkeping-keping,


apa yang harus kulakukan?


***


Sudah dua minggu ini Lani mendapatkan pesan dari nomor tak dikenal itu. Setiap kali ia  mengadukan hal itu pada Andre, sang suami hanya tersenyum dan menyuruh Lani bersabar. Yang penting mereka saling percaya. Lani berusaha menepis semua prasangka yang terkadang muncul di hatinya, namun sesekali rasa itu muncul juga.


”Nggak usah ditanggapi. Anggap aja angin lalu.” ujar Andre. ”Itu bumbu dalam cinta kita.”


Lani hanya tersenyum, meskipun hatinya resah. Kemarin dia mendapat kiriman foto-foto lagi. ’Modelnya’ masih Andre dan Margareth.


”Orang ini nggak profesional banget sih, masa fotonya yang begini-begini juga. Pose nya juga biasa, nggak ada yang luar biasa.” Andre tertawa cekikikan saat melihat foto-foto dirinya. ” Foto ini pasti diambil saat Mas dan Margareth keluar dari pengadilan. ”


Lani tidak menanggapi ucapan Andre. Dia sangat lelah dengan ini semua.


...@@@...


”Sayang, di tas Mas ada risoles lho. Tadi Mas beli di toko kue. Kamu dan Saif suka banget kan sama risoles. Kamu ambil sana. ” kata Andre sebelum dia masuk ke kamar mandi.


Lani tersenyum. ”Tumben Mas sempat beli makanan? ”


”Tadi Mardin ngajak Mas mampir di toko kue, dia mau beli kue untuk anaknya. Kebetulan Mas lihat risoles, Mas ingat kamu dan Saif makanya Mas beli. ”


”Makasih ya, Mas...”


Andre mengangguk. ”Kamu ambil sendiri ya. Mas mau mandi dulu. Gerah banget nih. ”

__ADS_1


Lani membuka tas yang biasa dibawa suaminya. Ketika akan mengambil risoles itu, matanya tertuju pada sebuah amplop berwarna pink. Lani mengambil dan membuka isinya. Sepucuk surat. Ada nama Margareth disana, isinya adalah mengatakan dia sangat berterima kasih karena Andre sudah mau menjadi tempat curhatnya, menjadi penghiburnya di kala sedih. Ia berharap segera setelah masalah perceraian dengan suaminya selesai, Andre mau menikahinya. Margareth sangat mencintai Andre dan ia rela dijadikan istri kedua. Dalam surat itu ia juga menyampaikan kalau ia merasa sangat tersanjung karena Andre mengecup keningnya kemarin. Tubuh Lani lunglai, matanya berpendar. Bumi tempatnya berpijak serasa akan runtuh.


Ponsel Andre berbunyi, Lani mengambilnya. Ada pesan masuk.


Honey, ini aku Margareth. Aku sdh beli kartu 1 lagi. Ini khusus buat kamu.


Bsk jadi bertemu di tempat biasa kan?


Tubuh Lani bertambah lemas. Ya Allah, benarkah semua ini? Lani meraih kemeja suaminya yang tergeletak diatas tempat tidur, membolak balik, mencari sesuatu. Emosinya meluap ketika dia menemukan apa yang ia cari. Noda lipstik berwarna merah menyala. Jelas ini bukan lipstiknya, karena Lani tidak punya lipstik berwarna seperti itu. Lagipula Lani hanya memakai lipstik ketika di rumah, itu pun kalau Andre menghendakinya. Jadi tidak mungkin dia meninggalkan noda lipstik di kemeja kerja suaminya. Tangis Lani pecah.


Keluar  dari kamar mandi, Andre merasa heran ketika melihat istrinya menangis.


”Tega kamu bohongi Lani, Mas.” kata Lani sesenggukan.


”Maksud kamu apa?" Andre mendekat


Lani melemparkan kemeja hijau mint milik suaminya.


”Ada noda lipstik di kemeja Mas. Jelas itu bukan punya Lani. Jawab Lani Mas, lipstik siapa itu??”


Andre terperangah. Lipstik? Kok dia tidak memperhatikan kalau ada noda lipstik di kemejanya. Apa karena dia pakai jas ya makanya tidak terlihat.


”Mas nggak tahu Lani. ”


”Mas bohong! Itu lipstik Margareth ya?? ”


”Astaghfirullahaladzim, Lani." Andre mengusap wajahnya kasar. "Mas kan udah bilang, Mas sama Margareth nggak ada apa-apa. ”


”Lani nggak percaya, Mas. Ini ada bukti lain. ” Lani menyerahkan surat berwarna pink ke tangan suaminya. Dahi Andre mengernyit saat membaca surat itu.


”Dapat darimana surat ini? ”


”Dari tas kamu Mas. Masih mau mengelak juga?? Dan ini ada pesan dari Margareth. ” Lani menyodorkan HP Andre.


”Ini bukan nomor Margareth, sayang. Mas simpan kok nomornya. ” ujar Andre setelah membaca pesan itu.


”Ini nomornya khusus buat Mas. Mas nggak bisa baca ya, mendadak buta huruf? Dia bilang begitu kan?”

__ADS_1


Andre bengong.


”Jujur sama Lani, Mas. Mas punya hubungan khusus kan dengan Margareth?”


”Demi Allah, Lani. Mas nggak punya hubungan khusus dengan Margareth, hubungan kami hanya sebatas urusan pekerjaan.”


”Mas bohong!” Lani berlari keluar kamar. Andre mengejarnya.


Ketika melihat Lani dan Andre ribut, Maryam segera membawa Saif ke kamarnya yang terletak di belakang, agar Saif tidak mendengar pertengkaran orangtuanya.


”Ayah sama Bunda kenapa sih, Mbak? ”


”Ayah sama Bunda lagi ngobrol. Sepertinya masalah pekerjaan. ”


”Tapi, kok kayaknya teriak-teriak. Orang ngobrol kok teriak-teriak. ”


Maryam hanya tersenyum.


Sementara itu Lani masuk ke kamar Saif. Ia membanting pintu keras-keras lalu dikunci dari dalam. Lani menangis kencang. Andre mengetuk pintu sambil memanggil-manggil namanya.


”Lani, buka pintunya, Sayang. Tolong dengar penjelasan Mas. ”


”Saya nggak mau dengar!” teriak Lani dari dalam.


”Lani, nggak bisa begitu dong sayang. Kamu kok kayak anak kecil sih? Kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. ”


Tidak ada sahutan. Andre garuk-garuk kepala. Ia bersandar ke pintu kamar Saif. Beberapa kali Andre menarik nafas panjang-panjang. Ia pikir masalah ini akan selesai, tapi ternyata malah semakin besar. Andre kembali ke kamar. Tak ada gunanya membujuk Lani saat ini, dia sedang marah besar. Andre termangu di sudut tempat tidur. Diliriknya kotak berisi risoles yang tergeletak diatas meja rias, sepertinya tak akan ada yang menyentuh makanan itu. Padahal tadi Andre begitu semangat saat membawanya pulang. Tiba-tiba dia merasa perutnya melilit. Oh, iya dia belum makan. Andre tersenyum kecut. Selera makan lenyap seketika, padahal sejak tadi Andre sangat lapar.


Lani keluar kamar dan segera menuju kamar Maryam. Didapatinya Saif sudah terlelap. Lani menggendong Saif dan membawanya ke kamar. Dengan berurai air mata diciuminya pipi Saif. Dia pun merebahkan tubuh di samping putranya.


...@@@...


Andre menatap langit-langit kamar. Hatinya gundah. Pasti malam ini Lani tidur di kamar Saif. Padahal dia sangat membutuhkan Lani malam ini. Ia butuh keceriaan Lani setelah seharian dia berkutat dengan pekerjaannya di luar sana. Ia butuh belaian lembut tangan Lani di kepalanya. Ia sangat butuh kerlingan manja Lani, candanya, dekapannya. Yaa Robbi, ujian apalagi yang hendak Kau berikan. Ditatapnya bantal yang biasa digunakan Lani di sebelah kirinya, diciuminya bantal itu, ada wangi rambut Lani tertinggal disitu.


”Lani... kamu kok nggak percaya sih sama Mas. Mana mungkin Mas mencari perempuan lain sedangkan semua yang Mas butuhkan, Mas temukan dalam diri kamu. Cintamu membuat Mas merasa berharga, bahkan rasanya Mas tak bisa menampung cintamu yang begitu besar. Jadi, apalagi yang Mas cari? ” Andre berbicara sendiri. ”Ada apa denganmu, cinta? ”


Sementara itu Lani di kamar Saif tenggelam dalam bacaan Al-Qur’an. Diresapinya setiap ayat-ayat yang dibaca. Matanya berkaca-kaca. Ia berharap, Al-Qur’an bisa menjadi penawar lukanya. Yah, kemana lagi berlari ketika sedang dirundung masalah jika bukan pada Allah.

__ADS_1


...@@@...


__ADS_2