Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Memuliakan Tamu


__ADS_3

Andre menepati janjinya untuk menemani Yudi dan Lani bersilaturahmi ke rumah calon mertua Yudi. Selain karena tidak ingin membiarkan istrinya bepergian hanya dengan Saif dan sepupunya itu, Andre juga penasaran dengan keluarga calon mertua Yudi, padahal biasanya juga cuek alias nggak mau tahu dengan urusan pribadi orang lain. Apa karena Yudi ini pernah ia anggap sebagai rival, sehingga ia merasa perlu tahu sehebat apa Yudi dalam menaklukkan hati calon mertua. Mampukah Yudi mengalahkan skor yang ia miliki ketika menaklukkan hati mertuanya dulu? Kebetulan pula hari ini adalah hari Sabtu, pekerjaan tidak terlalu padat, sehingga Andre tidak perlu lembur.


Sepulang dari rumah calon mertua Yudi yang berada di daerah Selatan, hari sudah menjelang Maghrib. Andre menawarkan untuk makan malam di luar, namun Lani menolak.


"Nggak usah, Mas. Kita makan di rumah aja, Lani sudah minta tolong Maryam untuk menyiapkan makan malam. Tadi pagi Lani sudah siapkan beberapa menu, dan Maryam tinggal melanjutkan saja."


Andre melongo. Sepertinya Lani sangat bersemangat dalam menjamu si pariban ini. Diam-diam ada rasa cemburu di dalam hatinya. C'mon, Ndre. Lani sudah menjadi milikmu dan sebentar lagi Yudi ini juga akan menikah, bisik hati kecilnya. Lagipula, Lani tidak pernah punya perasaan apa-apa pada laki-laki ini. Selain itu, Yudi dan Lani adalah saudara sepupu kan, walaupun saudara jauh? Hal yang wajar kalau Lani menjamu saudaranya yang sudah jauh-jauh datang dari Sumatera sana.


Andre melirik sekilas lelaki yang duduk di sebelahnya.


"Kali aja Yudi juga mau jalan-jalan, Sayang. Kita temanin, gitu."


"Nggak pa-pa, Mas. Kita makan di rumah aja. Kasihan Lani dan Maryam udah nyiapin makanan." kata Yudi


Andre mendelik karena dipanggil dengan sebutan, Mas. Saat bertemu pertama kali dulu, Yudi tidak memanggilnya, Mas, Bang atau apa lah.


"Iya. Sayang makanannya, Mas. Kalau nanti Yudi mau jalan-jalan, habis Isya kita temani. Ya kan, Yud."


Yudi mengangguk. "Lagipula aku belum pernah ke rumah kalian. Kalau urusan jalan-jalan masih bisa besok lah. Aku kan pulangnya Senin." ujarnya.


"Baiklah."


@@@


Andre, Saif dan Yudi melaksanakan sholat maghrib di masjid dekat rumah mereka. Dalam perjalanan pulang mereka hanya sedikit berbicara, justru Saif yang banyak bertanya tentang kampung halaman ibunya kepada Yudi, dan lelaki itu dengan senang hati menjawab pertanyaan Saif. Sementara Andre hanya tersenyum melihat keakraban putranya dengan Yudi. Saif ini persis seperti ibunya, supel dan sangat mudah bergaul, bertolak belakang dengan Andre yang agak sulit menyesuaikan diri dengan orang baru.


Menunggu Lani dan Maryam menyiapkan meja makan, Andre mengajak Yudi mengobrol di ruang tamu.


"Jadi, kenal sama Zahra dimana?" tanya Andre menanyakan tentang calon istri Yudi.


"Di Medan. Dia tugas di kantor Pajak disana. Kami bertemu dalam sebuah acara. Kebetulan kantor saya juga diundang."


Andre manggut-manggut. "Bisa langsung cocok, gitu?"


Yudi tertawa. "Bisa dibilang love at first sight lah kalau saya ke dia. Kalau dia sepertinya tidak. Butuh perjuangan juga untuk mendapatkannya."


Andre tersenyum.


"Pekerjaan gimana, Mas? Lancar?" Yudi berbasa-basi.


"Alhamdulillah, lancar." sahut Andre.


"Makan, yuk. Makanan sudah siap." Lani muncul dari ruang makan.


Mereka menuju ruang makan. Di atas meja sudah terhidang nasi putih, sayur daun singkong gulai pedas, ayam goreng lengkuas, sambal teri kacang, telur dadar dan sambal cabe hijau. Makanan tersebut tampak menggugah selera.


"Wah, mantap kali ini." puji Yudi.


"Bunda masak besar nih, If." kata Andre.


"Makan yang banyak ya." kata Lani.


"Siap."


Lani menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring Andre, lalu ia serahkan ke tangan suaminya.


"Makasih ya, Sayang." Andre tersenyum manis.


"Saif juga ya, Bunda." kata Saif yang duduk di samping Yudi.


"Oke. Saif mau apa aja nih lauknya?"


"Ayam goreng sama sayur aja, Bund. Nanti kalau nambah nasi, baru deh pakai telur dadar." kata Saif.


"Siap!" Lani mulai menyendokkan makanan ke piring Saif. "Maar! Maryam, sini makan dulu." Lani memanggil asisten rumah tangganya.


Maryam datang. "Baik, Bu."


Sambil makan Yudi menceritakan kisah perjuangannya dalam meraih hati Zahra; calon istrinya.


"Alasan Zahra nggak mau sama kamu awalnya apa Yud?" tanya Lani.

__ADS_1


"Dia nggak bilang alasannya, cuma bilang maaf ya saya nggak bisa terima kamu, gitu aja. Mungkin karena aku jelek." Yudi tertawa. "Kau saja nolak aku kan, Lan. Pasti lah karena aku jelek."


"Jangan bawa-bawa masa lalu, deh." Lani melirik suaminya sekilas. Andre tampak khusyuk menikmati makanannya.


"Bercanda." Yudi terkekeh. "Tapi aku nggak nyerah. Aku bilang sama dia, 'Abang serius, Dek. Sekarang abang cari calon istri, bukan cari pacar. Abang ajak Zahra menikah, bukan pacaran'. Dia nggak balas pesanku sampai sebulan lamanya."


"Waah.."


"Pokoknya begitu lah, sampai tiga bulan dia diamkan aku. Bulan keempat, dia berkirim pesan, isinya bilang kita saling mengenal dulu, Zahra akan pertimbangkan. Kalau cocok, kita menikah. Begitu."


"Mantaaap." kata Lani.


"Alhamdulillah, Mama juga senang dengan Zahra. Pertama kali ketemu Mama sudah suka."


"Kalau jalannya mudah, itu tandanya jodoh." tukas Andre.


"Benar, Mas. Semua terasa mudah memang. Bahkan untuk datang kesini pun bertepatan juga dengan ada Diklat dari kantor, bisa sekalian jadinya."


Andre tersenyum.


"Pulangnya Senin berarti ya?" tanya Lani.


"Iya. Senin pagi."


"Perlu diantar ke Bandara nggak?"


"Nggak usah, Lan. Aku naik taksi online aja."


Pukul 21.25 Yudi pamit pulang ke hotel tempatnya menginap. Andre menawarkan diri untuk mengantar, tapi lagi-lagi Yudi menolak.


"Nggak usah, Mas. Kalian beristirahat saja. Saya sudah pesan taksi online kok."


"Baiklaaah." kata Lani.


"Terima kasih banyak ya Mas Andre, Lani sudah bersedia mengantar dan menemani saya. Maaf sudah merepotkan."


"Nggak direpotkan kok." kata Lani sambil tersenyum.


Yudi tertawa.


"Saif, *Pak Uda *pulang dulu ya. Sampai jumpa lagi." Yudi mengajak Saif tos.


"Oke, Pak Uda. Kapan-kapan main kesini lagi ya." Saif mencium tangan Yudi.


"InsyaAllah."


Mereka bertiga menunggu hingga taksi yang membawa Yudi hilang di balik pagar.


@@@


Sudah menjadi kebiasaan, jika Andre pulang cepat ke rumah, ia lah yang mengantarkan Saif tidur. Biasanya Andre akan membacakan buku cerita yang dipilih oleh putranya itu. Terkadang mereka juga bercerita tentang banyak hal. Seperti malam ini, Andre membacakan tentang kisah sahabat Rasulullah; Mush'ab bin Umair hingga Saif tertidur.


Setelah mengecup dahi Saif, membetulkan letak selimut dan mematikan lampu, Andre menutup pintu kamar putranya perlahan. Ia melangkah menuju kamar tidurnya dan Lani. Saat memasuki kamar, terlihat istrinya sedang membaca Al-Qur'an. Andre mendekat, lalu meraih kepala Lani dan mengecup keningnya. Sang istri tersenyum.


"Masih mau tilawah?"


"Udah selesai, Mas." Lani menutup Al-Qur'an dan meletakkannya di atas nakas. Kemudian ia menggeser duduknya lebih dekat dan serta merta meletakkan kepalanya di bahu Andre. Dipandanginya wajah sang suami dari samping. Jemarinya menelusuri pipi hingga dagu Andre perlahan.


"Mas."


"Hummm..."


"Maaf ya, Mas. Kalau Lani harus sampaikan ini."


"Sampaikan apa?"


"Lani merasa Mas masih menyimpan rasa cemburu sama Yudi. Bener nggak, sih?"


Andre tertawa. "Ge-er kamu."


"Oh, berarti Lani salah. Maaf, deh."

__ADS_1


Andre merangkum wajah Lani dengan kedua tangannya, sebuah kecupan mendarat. Lani tersipu.


"Laki-laki harus punya rasa cemburu terhadap istrinya."


Lani mengangguk. "Tapi, Lani cuma mau menegaskan aja, Mas. Lani tidak pernah punya perasaan apa pun ke Yudi. Dan bisa Lani rasakan Yudi juga sudah tidak ada rasa ke Lani. Kalau misalnya Mas merasa Lani keterlaluan karena sudah menemui Yudi tanpa Mas, trus juga penyambutan Lani ke Yudi agak berlebihan, Lani minta maaf ya." Lani memeluk suaminya erat.


Andre mengusap punggung Lani lembut.


"Lani cuma ingin memuliakan tamu, apalagi Yudi saudara sepupu. Lani senang aja rasanya dikunjungi saudara. Sejak kita menikah, belum pernah ada saudara Lani dari kampung yang mampir ke rumah." ujarnya lirih.


"Mas paham, Sayang. Maafkan kalau sikap Mas kesannya kurang enak, ya." Andre menghela nafas. "Mas juga bingung, kenapa setiap mendengar nama Yudi, ada terbersit perasaan gimana gitu."


"Seperti Lani yang kalau dengar nama Davina atau mantan pacar Mas waktu SMA dulu." Lani terkekeh.


"Yes. Mungkin begitu." Andre tertawa. "Padahal Mas nggak ada perasaan apa-apa ke Davina kan."


Lani mengangguk.


"Itu karena kita saling cinta. Ada rasa takut kehilangan." ujar Andre serius.


Lani tersenyum. " I love you." bisiknya.


"I love you too."


Mereka kembali berpelukan, saling menularkan rasa cinta yang ada di diri masing-masing. Dalam hati teruntai doa agar cinta ini diberkahi oleh Allah selamanya.


@@@


Terdengar lirih bisikanmu


Di antara bayang-bayangmu


Terucap kata cinta


Yang dulu tersimpan


Dan tak mau pergi


Sekejap cinta yang terjalin


Dan menjadi sebuah cerita


Yang tak mungkin terlupa


Terukir di hati


Dan tak mau pergi


Mungkinkah kumiliki


Cinta seperti ini lagi


Jangan biarkan aku


Kehilangan dirimu


Coba dengarkanlah sumpahku


(Janji suci) dari hati


Aku cinta kamu


Jangan dengar kata mereka


Yang tak ingin kita satu


Yakinkan aku milikmu


Aku milikmu


catatan :

__ADS_1


Pak Uda (Batak) \= Paman


__ADS_2