
Seorang ibu berusia 75 tahun didampingi anak perempuannya duduk dihadapan Andre dan Mardin. Wajah tuanya tampak lelah, bercampur dengan sedih dan terluka.
"Ini gugatannya, Pak. Kami terima kemarin." Si anak perempuan mengangsurkan amplop dengan kop surat pengadilan negeri kehadapan Mardin, yang langsung dibuka oleh Mardin.
"Penggugatnya kakak kandung saya." ujar si anak perempuan yang bernama Mala.
Andre dan Mardin mengangkat wajah.
"Bisa diceritakan bagaimana kronologinya, Bu." tanya Andre lembut.
Bu Rukiyah menghela nafas. "Mala saja yang cerita ya, Nak. Saya tidak kuat menceritakannya."
Akhirnya mengalirlah cerita dari Mala. Si penggugat bernama Mila yang merupakan anak kandung dari Bu Rukiyah setelah menikah dengan Ardi pada tahun 2011 tinggal bersama Ibu dan juga dua orang adiknya di sebuah rumah semi permanen yang berukuran 7 m x 8 m. Rumah tersebut adalah rumah peninggalan ayah mereka; Pak Tohir.
Karena sudah tua, rumah tersebut pun mulai mengalami kerusakan di sana sini. Mila meminta izin kepada ibunya untuk merenovasi rumah tersebut agar lebih nyaman ditinggali. Bu Rukiyah pun mengizinkan. Maka pada tahun 2014 rumah tersebut pun mulai direnovasi sedikit demi sedikit. Setelah dua tahun, rumah itu pun menjadi rumah permanen yang bagus.
"Tahun 2015 saya sudah menikah, dan adik saya yang laki-laki kuliah di luar kota. Yang tinggal di rumah itu setelah saya menikah Mbak Mila dan keluarga kecilnya. Menurut cerita Ibu, setelah rumah itu selesai direnovasi, Mbak Mila pernah ngomong sama Ibu. 'Bu, gimana kalau rumah ini untuk Mila saja.'?"
@@@
"Ibu dan Bapak tidak punya banyak harta, Nak. Satu-satunya harta yang kami miliki adalah rumah ini. Anak kami ada tiga; kamu, Mala, dan Malik. Setelah ibu meninggal nanti, hanya rumah ini yang akan Ibu wariskan kepada kalian. Sekiranya kamu menginginkan rumah ini, musyawarah lah dengan adik-adikmu, katakan bahwa kamu yang akan membeli rumah ini, setelah itu kalian bagi uangnya."
"Lha, tapi kan uang Mila sudah banyak keluar untuk me-renovasi rumah ini, Bu. Ibu lihat saja, rumah yang dulunya tua dan jelek, sekarang sudah bagus. Anggap saja uang yang sudah Mila keluarkan itu adalah untuk membeli rumah ini."
"Nggak bisa gitu, Nak. Selagi Ibu masih hidup, maka rumah ini masih tetap milik Ibu."
"Kalau gitu rugi, dong kita renov rumah ini kemarin, Ma." Tukas Ardi suami Mila. Tahu gitu gak usah direnov segala lah."
Mila menghela nafas. "Iya, nih. Tapi kan itu karena usulan kamu juga, Mas." Mila menuding suaminya.
"Lho, aku usul begitu kan karena kamu bilang rumah ini akan jadi milikmu nantinya." Suara Ardi mulai meninggi.
"Karena Ibu pernah ngomong begitu." Ujar Mila.
"Kapan Ibu pernah ngomong begitu, Mila?"
"Waktu aku baru menikah, Ibu kan ngomong begitu. Makanya aku bertahan tinggal disini."
"Ibu cuma bilang, karena sepertinya kamu yang akan tinggal di kota ini, kalau nanti Ibu sudah meninggal rumah ini kamu aja yang beli, jangan dijual ke orang lain."
"Ya, karena omongan Ibu itu makanya aku renov rumah ini, karena nantinya akan jadi milikku juga."
"Tidak masalah kalau ini mau jadi rumah kamu, tapi musyawarahkan dulu dengan adik-adikmu. Katakan kamu ingin membeli rumah ini dan hasil penjualannya dibagi, begitu."
"Enak sekali mereka, sementara uangku sudah habis untuk memperbaiki rumah ini." Setelah berkata demikian Mila langsung pergi meninggalkan ibunya. Disusul oleh Ardi. Bu Rukiyah hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan anak sulungnya itu.
@@@
Mengetahui Ibu dan kakaknya agak cekcok, Mala yang tinggal di kota lain menyambangi rumah ibunya untuk meminta penjelasan dari Mila.
"Mala dengar Mbak Mila ribut-ribut sama Ibu soal rumah ini."
__ADS_1
"Gimana nggak ribut. Ibu tuh udah janjiin rumah ini buatku, setelah kuperbaiki jadi bagus begini, Ibu ingkar janji."
"Ibu nggak pernah janji begitu, Mila." Bu Rukiyah menjelaskan kembali apa yang pernah disampaikannya.
"Yang Ibu katakan benar lho, Mbak. Kita bisa diskusikan ini bertiga. Anggap saja harga rumah ini jika dijual sekarang 300 juta, uang yang sudah Mbak keluarkan untuk renovasi rumah ini berapa, misalnya 200 juta. Maka Mbak bayar sisanya aja, yang 100 juta. 100 juta itu yang akan kami bagi dengan Malik."
"Waduh, itu kamu dan Malik mau enaknya aja."
"Mau enaknya gimana, Mbak? Mbak Mila kan juga dapat bagian 200 juta. Tapi karena sudah Mbak buat untuk renovasi rumah ini ya sudah, nggak kita permasalahkan." Ujar Mala.
"Atau begini saja, kalau Mbak nggak setuju pembagiannya begitu, rumah ini kita jual ke orang lain aja, nanti pembagiannya setelah kita keluarkan uang yang sudah Mbak keluarkan untuk renovasi." Usul Syakir, suami Mala.
"Boleh juga. Mbak bisa beli rumah lain dari uang itu."
"Aku tetap maunya rumah ini." Ujar Mila ketus.
"Kalau begitu, Mbak harus tetap beli. Nggak bisa serta merta Mbak jadi pemiliknya walaupun Mbak udah keluar uang untuk renov." Tegas Mala.
Mila terdiam.
@@@
Persoalan rumah itu mengambang hingga tahun 2020. Baik Mila maupun Mala tidak pernah lagi membahasnya. Bu Rukiyah tetap tinggal bersama anaknya Mala. Walau keadaan sudah tidak terlalu nyaman karena sikap Mala yang sering ketus dan kurang perhatian, namun Bu Rukiyah tetap bertahan di rumah peninggalan suaminya itu.
Awal tahun 2021, permasalahan kembali mencuat. Mila kembali meminta agar rumah tersebut di sahkan menjadi menjadi miliknya. Bu Rukiyah, Mala, dan Malik tentu saja tidak menyetujui hal tersebut. Terjadi lah keributan yang berujung pada pengusiran.
"Mbak Mila jangan mancam-macam lah. Ibu masih hidup lho, Mbak. Tidak sewajarnya kita meributkan warisan disaat orang tua masih hidup." Ujar Mala dengan nada tinggi.
"Kamu bisa ngomong gitu karena bukan kamu yang di posisiku."
"Selama Ibu masih hidup dan belum kita lakukan pembagian warisan, rumah ini masih tetap rumah orang tua kita, Mbak. "Kata Mala.
Bu Rukiyah hanya bisa menangis menyaksikan perdebatan anak-anaknya.
"Mbak Mila tinggal disini, bukan berarti Mbak pemiliknya. Mbak kan cuma numpang tinggal dengan orang tua." Kata Mala.
"Aku tanya lagi, Mbak. Yang minta Mbak renovasi rumah ini siapa? Kita-kita nggak minta kok."
"Memang nggak minta, tapi aku ingin rumah ini lebih layak huni dan Ibu mengizinkan."
"Kalau Mbak merasa dulu rumah ini tidak layak huni, kenapa nggak cari rumah sendiri? Kenapa malah bertahan tinggal disini." Sergah Malik lagi. "Lalu Mbak renovasi, kemudian Mbak maksa untuk dikasih gitu aja ke, Mbak. Ya nggak bisa dong."
"Mengizinkan untuk direnovasi bukan berarti mengizinkan untuk dimiliki juga lho, Mbak."
"Sudah cukup!" Bu Rukiyah setengah berteriak.
Ketiga anaknya terdiam.
"Mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. Mila, kalau kamu tetap ingin rumah ini, seperti yang pernah dikatakan Mala, anggap lah kamu membeli rumah ini. Kamu sanggupnya bayar berapa?" Tanya Bu Rukiyati.
"Aku beli seharga uang yang sudah kukeluarkan untuk renovasi. Berarti sudah dianggap lunas. Sekarang Ibu tanda tangan saja surat penyerahan rumah ini, disini sudah tertera nilai uangnya." Mila mengangsurkan selembar kertas berisi surat serah terima.
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Mbak." Mala geleng-geleng kepala.
"Aku nggak setuju. Itu terlalu rendah." Kata Malik.
"Jadi, kamu mau hargai berapa? Rumah ini kan dulunya jelek dan tua, mana laku dengan harga tinggi. Yang buat rumah ini jadi bagus siapa? Aku kan?"
"Harga rumah yang akan kita sepakati adalah harga rumah setelah bagus begini, dipotong dengan biaya perbaikan yang sudah Mbak keluarkan, sisanya untuk kami."
"Enak banget kalian, aku yang ngeluarin uang untuk renovasi, aku lagi yang keluarin uang untuk kalian berdua."
"Mbak jangan hanya menilai harga rumahnya, Mbak. Nilai juga harga tanahnya. Kalau memang Mbak nggak setuju, pindahin aja rumah ini dari tanah Bapak sekarang juga. Rumah ini berdiri diatas tanah Bapakku, kalau Mbak mau rumahnya, silahkan. Tapi tanahnya tidak." Ujar Malik penuh emosi.
"Jangan kasar begitu, Malik." Kata Ardi.
"Mas Ardi nggak usah ikut campur. Ini urusan keluarga kami. Mas disini hanya menantu." Kata Malik membuat Ardi terdiam.
"Gimana, Mbak? Bisa Mbak angkat rumahnya? Atau begini saja, kalau Mbak Mila tidak mau membeli rumah ini, setelah Ibu meninggal kita akan jual ke orang lain, dan uang yang sudah Mbak Mila keluarkan, kita kembalikan.
"Enak saja kalau ngomong."
"Kalau Mbak Mila nggak berkenan, silahkan angkat kaki dari rumah ini sekarang juga."
Mila terbelalak. Demikian juga Bu Rukiyah, Mala dan semua yang ada disitu.
"Dengar ya Malik, kelak kamu akan mendapatkan balasan dari sikap kasarmu hari ini. Tunggu saja."
Mila mendengus kemudian berlalu setelah mengambil kertas yang ia letakkan di atas meja. Ardi suaminya mengekor dari belakang.
@@@
Sebulan kemudian, Mila beserta suami dan anaknya pindah ke rumah kontrakan yang berbeda kecamatan dengan rumah orang tuanya. Tinggal lah Bu Rukiyah dan Malik di rumah tersebut. Setahun berlalu, permasalahan itu seperti menguap begitu saja. Namun siapa sangka, akhir tahun 2021 Mila dan suaminya datang dengan membawa surat tanda bukti hak milik yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Negara (BPN) yang bertuliskan Mila Puspa Sari sebagai pemilik tanah berikut bangunan yang berdiri di atasnya; yaitu rumah peninggalan orang tuanya.
Bu Rukiyah merasa seperti terhempas ke bumi. Ia tidak menyangka anak sulungnya berani berbuat sejauh itu. Anak-anaknya yang lain tidak terima dengan keadaan tersebut, mereka pun terlibat pertengkaran hingga kemudian berujung pada terbitnya gugatan yang ditujukan Mala kepada Ibu kandungnya sendiri.
@@@
Andre dan Mardin menghela nafas mendengar penuturan ibu dan anak tersebut.
"Apakah sebelumnya tanah dan rumah itu belum ada suratnya, Bu?" Tanya Mardin.
"Hanya surat dari Camat. Dari BPN belum." Sahut Bu Rukiyah.
Andre terpekur. Ini lah masalahnya.
"Kenapa tidak diurus segera?"
Bu Rukiyah terdiam.
"Saya tidak tahu menahu soal surat rumah milik Ibu, Mas. Saya pikir sejak dulu sudah ada. Setelah masalah ini baru lah saya tahu kalau ternyata surat kepemilikan yang dimiliki Ibu sejak dulu hanya selembar surat dari Camat. Yang namanya orang tua, orang jaman dulu, beliau pikir surat itu sudah kuat untuk membuktikan kepemilikan tanah."
Mardin lagi-lagi menghembuskan nafas ke udara. "Sepertinya lagi marak ya, anak kandung menggugat orang tua kandungnya." Ujarnya pelan.
__ADS_1
Bu Rukiyah menunduk menahan tangis.
@@@