Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Pecah Perang


__ADS_3

Meja makan itu terasa sepi. Masing-masing sibuk dengan makanannya. Tidak ada yang berinisiatif untuk membuka pembicaraan, baik Lani maupun Andre lebih memilih bungkam. Saif pun seperti tertular kebisuan itu, dia menikmati nasi goreng dan telur mata sapinya tanpa banyak bicara.


Bicaralah Lani sayang. Aku lebih memilih kamu marah-marah daripada diam begini. Andre menatap istrinya yang sedang menyuap nasi goreng dengan setengah menunduk.


My Princess, apa kau tidak mendengar suara hatiku?


Lani mengangkat wajah ketika sang buah hati memanggilnya. ”Ya, sayang.”


”Saif mau nambah lagi.”


Lani tersenyum lalu menyendokkan nasi goreng ke piring Saif.


”Ayah mau nambah nggak? ” tanya Saif pada ayahnya.


”Boleh.” Andre menyodorkan piringnya, Lani menyambut dan kemudian menyendokkan nasi goreng ke piring Andre tanpa berbicara.


Andre menghela nafas. Sampai kapan perang dingin ini akan berakhir?


Di dalam mobil aksi saling diam pun masih berlanjut. Hanya suara Saif yang terdengar menyanyikan lagu Asmaul Husna. Pikiran Lani menerawang kemana-mana. Foto, surat, pesan di ponsel, dan noda lipstik menari-nari di pelupuk mata. Lani menggeleng-gelengkan kepalanya. Hatinya benar-benar perih. Andre melirik istrinya


”Ayah dan Bunda kok diam-diam aja sih? ” tanya Saif yang duduk di belakang sambil mendekatkan kepalanya kepada Lani.  ”Lagi sariawan ya?"tanyanya lagi


Andre tertawa. "Korban iklan nih Saif. Ayah sih nggak sariawan. Kalau Bunda mungkin iya, soalnya dari tadi malam malas ngomong. ”


Lani mendelik tajam.


”Nanti kita beli obat aja, Yah untuk Bunda. ”


”Oke.”


”Sariawan Bunda nggak ada obatnya Saif. ” ujar Lani


”Kok gitu? Masa sih nggak ada obatnya. ” Saif bingung.


”Obatnya itu kalau orang yang sudah buat salah mengakui kesalahannya dan meminta ampun pada Allah.”


”Apa yang harus diakui kalau orang tersebut memang nggak pernah melakukan kesalahan yang dituduhkan itu. ” kilah Andre


”Orang yang buat kesalahan memang sulit mengaku. Kalau semua yang berbuat salah mudah mengaku maka polisi, jaksa dan hakim nggak perlu capek-capek mencari kebenaran. Penjara pun mungkin akan penuh. ”


”Pengakuan saja kan tidak cukup masih perlu bukti juga. ”


”Bukti apalagi? Bukankah yang ada itu sudah cukup? ”


”Bukti dan pengakuan saja juga belum cukup. Harus ada saksi. Memangnya dalam perkara ini sudah ada saksi, makanya begitu yakin kalau tersangka bersalah? Indonesia kan menganut asas persumption of innocent. Sedangkan kalau sudah terbukti bersalah pun hak-hak nya harus tetap dilindungi.”


”Ayah Bunda ngomongin apa sih? Orang besar memang suka ngomong yang aneh-aneh. Cape deh...”.kata Saif.


Andre tertawa melihat tingkah anaknya. ”Ayah Bunda ngomongin masalah hukum, Nak. ”


”Hukum? Emang siapa yang bersalah makanya dihukum? ”


”Ayah kamu tuh Nak, harus dihukum. ” kata Lani ketus.


”Ya udah kita hukum aja. Hukumannya apa Nda? ”


Lani tidak menjawab.


”Aha... Saif tahu. Hukumannya, ayah harus beliin Saif dan Bunda coklat. Oke, Yah?”


”Seandainya coklat bisa membuat ayah dibebaskan dari masalah ini, ayah rela membelikan semua coklat yang ada di kota ini, Nak. ” gumam Andre.


Lani tidak menanggapi.


@@@


Lani menangis di ruang kerja. Dipandanginya foto dirinya, Andre dan Saif yang dipajang diatas meja kerja. Dalam foto itu Andre tersenyum begitu manis, membuat hati Lani tambah hancur. Kamu memang sangat mempesona, Pak Andre. Wajar saja orang jatuh hati ketika melihat dirimu. Tapi, aku sudah memberikan seluruh cinta dan hidupku padamu, mengapa kau tega mengkhianatiku? Apa yang kurang dari diriku sehingga kau mencari orang lain?


Lani mengusap air matanya dengan tisu. Enam tahun bersama, begitu banyak hal-hal yang mereka alami. Pertengkaran pun sesekali menghiasi perjalanan bahtera rumah tangga mereka. Andre dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah sosok suami dan ayah yang sangat baik di mata Lani. Mereka sama-sama keras, tetapi kalau sudah bertengkar akan ada yang mengalah. Namun kali ini?


Ada pesan masuk, dari Andre.

__ADS_1


My Princess, aku tak tau lg bgmn caranya agr kau yakin pdku. Aku tdk prnh mengkhianatimu. Sepertinya ini hanya kerjaan org iseng yg senang melihat bangunan cinta qta runtuh. Sayang, knp tdk qta hadapi ini bersama2? Qta cari siapa pelakunya.


Lani membalas pesan itu.


Maaf, sy tdk tertarik. Sy kira semua sdh jelas.   


@@@


Andre menghela nafas dalam-dalam ketika membaca balasan pesan dari Lani.


”Ndre, sudah kau siapkan berkas-berkas untuk sidang minggu depan? ” Mardin masuk ke ruangannya.


Andre tak bergeming.


”Hei..” Mardin menepuk bahu Andre. ”Kenapa kau, Bro? ”


Andre kaget. ”Ah, kamu Din. ” Andre mengusap wajahnya.


”Lagi ada masalah kau? ”


”Ya. Big problem. ”


”Tentang apa? ”


Andre menarik nafas panjang. Lalu mengalirlah cerita tentang masalahnya dengan Lani pada Mardin. Mardin mendengarkan dengan serius.


”Jujur Din. Aku nggak bisa konsen kerja. Lani sumber energi buatku. Dia nggak mau mendengarkan penjelasanku. Tadi malam aja dia tidur di kamar Saif. ”


Mardin tertawa. ”Jadi, kau tak bisa tidur lah ya. Bantal gulingmu hilang. Ha...ha...ha... ”


”Sialan kamu Din!" Wajah Andre memerah. ”Masih bisa kamu ngejek temanmu ini. ”


”Alah...akui saja lah iya. ” Mardin masih tertawa. ”Oke...oke, jadi aku bisa bantu apa nih? ”


”Aku yakin ini rekayasa seseorang. Aku ingin tahu siapa orang yang tega berbuat seperti ini."


”Baiklah, aku akan bantu kau menyelidikinya. ”


Mardin menepuk bahu Andre. ”Sabar ya, sebenarnya itu ekspresi dari rasa takutnya akan kehilangan dirimu. Dia cinta banget sama kamu. Tapi aku juga nggak nyangka kalau Lani sampai begitu tidak percayanya sama kamu. Kenapa dia tidak menyelidiki dulu dengan seksama. Dia kan pengacara, harusnya jiwa-jiwa detektifnya itu ada lah sedikit kan."


Andre mengangguk. "Aku juga bingung, Din. Aku sudah ajak untuk menyelidiki bersama, tapi dia tidak mau. Amarahnya lebih besar dari logikanya."


"Gitu lah kalau polisi toba sudah marah." Mardin menepuk-nepuk bahunya.


"Maksudnya?" Andre bingung.


"Ah, susah memang kalau tak sefrekuensi. Udah lah, tak perlu kau tahu artinya." Mardin terbahak. "Nanti makin pusing kau. Yang jelas karena dia takut kehilanganmu, kau pulaknya dari dulu idola cewek-cewek. Ha..ha..ha."


...@@@...


Sudah tiga hari Andre dan Lani tidak saling bicara. Lani masih tetap tidur di kamar Saif. Acara sarapan pagi dan makan malam tetap berlangsung dalam diam. Andre sudah sangat tidak tahan dengan keadaan ini. Ketika Lani masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaiannya, Andre menarik tangan sang istri, mendorongnya ke dinding lalu mengunci Lani dengan lengannya. Lani menatapnya tajam.


”Apa-apaan nih?” Lani berusaha mendorong tubuh Andre, tapi Andre menguncinya lebih rapat hingga membuat nafas Lani terasa sesak.


”Kamu kok kayak anak kecil, sih? Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kenapa kita tidak bekerja sama untuk menyelesaikannya? Saya nggak nyangka kamu kekanakan begini. ” kata Andre.


”Saya kekanakan karena kamu Mas. ”


”Saya harus bilang apa lagi agar kamu percaya? Saya sudah bersumpah Demi Allah kalau saya tidak melakukan hal itu. Mau kamu apa sih? ”


Lani tidak menjawab apa-apa.


”Sudah tiga hari kamu tidak berbicara dengan saya. Muslimah macam apa kamu? Apa kamu tidak takut dosa?" kata Andre dengan keras.


”Saya tidak mau bicara dengan Mas itu urusan saya. Dosanya juga saya yang nanggung”


Andre menghembuskan nafasnya ke udara. Dia putus asa. ” Berarti kamu lebih memilih berdosa? Astaghfirullahaladzim. Saya...ah...” Andre meninju dinding. Lani memejamkan matanya. ”Baiklah, kalau kamu memang tidak mau bicara dengan saya, kalau kamu jijik melihat saya, saya akan pergi. Agar kamu bisa hidup dengan tenang.”


Lani mendorong tubuh Andre, dia meloloskan diri dan segera keluar dari dalam kamar.


”Kamu dengar itu Lani, saya akan pergi! ” teriak Andre.

__ADS_1


Lani tak menggubris teriakannya. Andre terduduk diatas tempat tidur, matanya memerah. Setitik air bening  mengalir dari sudut matanya.


... @@@...


Lani terhempas. Dia menangis kencang di dapur. Mengapa hati ini sangat sulit untuk memaafka dan menerima penjelasan? Apa yang terjadi dengan dirinya. Kemana semua petuah tentang pernikahan yang pernah ia dapatkan? Kemana semua ilmu pernikahan yang diperolehnya dari ustadzah maupun dari buku. Andre benar, muslimah macam apa dia? Lani meninju dinding kamar mandi. Mengapa tidak ada lagi rasa sabar di hatinya? Bukankah memang dia belum melihat langsung kejadian itu. Mungkin saja itu semua rekayasa. Terbayang wajah Andre; matanya yang menyiratkan kerinduan dan bibirnya yang bergetar menahan marah. Pasti lelaki tercintanya itu sangat terluka.


”Mas Andre." bisik Lani lirih.


”Sayang, kamu cinta nggak sama Mas? ” tanya Andre pada suatu hari.


”Cinta banget.”


”Jangan banget, dong. Cinta aja. Bangetnya untuk Allah.”


Lani tersenyum. ”Semua ada porsinya Mas, untuk Allah, untuk Mas, untuk Saif, untuk orangtua dan untuk semuanya. ”


”Satu...satu aku sayang Allah, dua...dua aku sayang kamu, tiga...tiga aku sayang Saif. Satu dua tiga sayang semuanya. ” Andre bernyanyi.


Lani tertawa.


”Kamu janji ya, akan tetap mencintai Mas sampai kita tua nanti. Biarpun nanti Mas ubanan, ompong dan keriput. ”


”Kalau Mas ubanan, ompong dan keriput Lani juga kan akan begitu. ”


Andre tersenyum. ”Kamu janji ya.”


”InsyaAllah. ”


Andre mengecup keningnya mesra.  ”Apapun yang akan terjadi, kita hadapi bersama-sama ya.”


Lani mengangguk.


Setengah berlari


Lani menuju kamarnya dan Andre, berharap akan menemukan Andre disana dan dia


akan meminta maaf. Tapi...Lani tidak menemukan Andre.


”Mas...!!! Mas..!!! ”


Lani membuka kamar mandi, tidak ada juga. Jangan-jangan...Dibukanya lemari pakaian, ada beberapa potong pakaian Andre yang tidak ada di tempatnya. Lani menyambar jilbab dan berlari ke garasi, mobil Andre juga tidak ada. Lani tergugu. Andre pergi. Dia benar-benar melakukan ancamannya tadi. Tubuh Lani lemas, dia terduduk di ruang tamu. Saif datang menghampirinya.


”Bunda...tadi ayah pamit mau pergi. ”


”Oh, ya?”


Saif mengangguk. ”Tapi, mau kemana ya? ”


”Ayah mau kerja, Sayang. ”


”Ini kan hariMinggu, Nda. Kok kerja? ”


”Pekerjaannya harus cepat-cepat diselesaikan, karena itu hari Minggu pun ayah harus tetap kerja. ” padahal Lani sendiri tidak tahu Andre pergi kemana.


...@@@...


Seminggu sudah Andre meninggalkan rumah, selama seminggu itu pula Lani menangis terus. Sejuta sesal menyelimuti hatinya. HP Andre tidak bisa dihubungi. Terkadang aktif tapi tidak diangkat. Lani semakin tersiksa. Sejak Andre pergi, Lani membawa Saif tidur di kamarnya. Saif lah yang menjadi pelipur laranya.


Lani memandangi buah hatinya yang sudah tertidur pulas. Saif yang sangat mirip ayahnya membuat Lani kembali menangis. Anak itu selalu bertanya mengapa ayahnya belum pulang juga. Terpaksa Lani mengatakan kalau Andre sedang keluar kota.


”Kalau kamu kangen sama Mas, pandangi aja Saif. Dia kan mirip banget sama Mas.”


Terngiang kembali kata-kata Andre kalau dia sedang di luar kota.  Tapi  Mas, memandangi Saif saja tak cukup buatku. Aku ingin melihatmu nyata dihadapanku, Lani merintih dalam hati.


Kemarin Lani ke kantor Andre, dia berharap bertemu Andre disana. Tapi pegawai disana mengatakan kalau Andre sedang keluar.


”Tadi keluar dengan Pak Mardin, Mbak. Mungkin bertemu klien. Emangnya Mas Andre nggak bilang sama Mbak Lani. Tumben.” ujar  Farah.


Lani tersenyum.


Lani menghela nafas. Kemana lagi dia harus mencari Andre. Mas...pulang lah. Aku dan Saif merindukanmu.

__ADS_1


...@@@...


__ADS_2