
Mardin membaca kertas di tangannya dengan seksama, sementara Andre tampak sibuk dengan komputernya.
"Biasanya yang tidak memiliki surat akan kalah dengan pemilik surat." Ujar Mardin.
"Ya, begitu lah. Karena bukti otentik itu ya surat yang diterbitkan BPN."
"Ini lah kekurangan masyarakat kita, belum sadar administrasi. Di kota besar gini aja, masih ada ternyata yang hanya mengandalkan selembar surat Camat. Apa lagi lah di kampung kami sana, kurasa banyak itu rumah dan kebun yang tidak memiliki surat sama sekali."
Andre mengangguk.
"Bah, banyak kali pun." Pak Ritonga menimpali percakapan mereka. "Di kampungku sana, banyak itu kebun dan sawah yang sama sekali tidak punya surat. Namanya lah dulu hutan kan, mereka buka, jadikan lahan, ya sudah, di klaim lah itu sebagai miliknya. Hampir setiap orang begitu. Makanya luas-luas kali tanah orang di kampung ku sana. Hutan dijadikan kebun, apa nggak?" Ujarnya.
"Jadi, kalau mau dijual gimana, Bang?" Tanya Andre.
"Jual-jual gitu aja lah, Ndre. Sesama orang kampung. Kubeli tanahmu ya sekian puluh juta, ya sudah, pindah tangan. Paling bikin kwitansi. Kalau yang beli rajin dan menganggap surat penting, baru lah dia urus suratnya. Biasanya orang-orang situ juga yang beli." Kisah Pak Ritonga dengan logat bataknya yang kental.
"Pas, kayak gitu juga lah di kampungku." ujar Mardin.
"Lalu, kalau ada orang yang muncul dengan membawa selembar surat resmi yang dikeluarkan BPN, siapa yang mau disalahkan disitu. Secara hukum dia benar, walau secara etika kurang tepat, ya kan. Tapi yang namanya dihadapan hukum, bukti otentik itu yang benar."
"Itu lah kubilang." kata Mardin. "Kasihan aku nengok Bu Rukiyah itu. Satu-satunya harta peninggalan suaminya diambil anaknya begitu saja. Apalagi didalam gugatannya, si penggugat meminta agar Bu Rukiyah dan anaknya yang belum menikah segera mengosongkan rumah dan tidak boleh lagi tinggal disitu. Ini sangat keterlaluan menurutku. Itu Ibu kandungnya, lho."
"Udah palak kali dia kurasa." kata Pak Ritonga.
"Kurasa pun. Tapi kan tetap aja kurang ber-etika, Bang. Kalau adiknya yang dia suruh pergi masih agak bisa lah kuterima, tapi ini ibunya; yang sudah melahirkan dan membesarkan dia." Mardin geleng-geleng kepala.
"Ini lah yang dibilang pepatah tu, Din. Kasih Ibu Sepanjang Jalan, Kasih Anak Sepanjang Galah."
"Kasus seperti ini sudah banyak." Andre yang sedari tadi hanya menyimak, angkat bicara."Seperti yang kamu bilang kemarin, Din; lagi marak."
"Iya. Kalau kayak gini, kecil lah kemungkinan Bu Rukiyah bisa menang."
"Setidaknya kita mencoba mencari cara agar tidak seluruh gugatan diterima, salah satunya yang meminta Bu Rukiyah tidak diperkenankan menempati rumah itu. Atau hal-hal lain yang tidak terlalu merugikan Bu Rukiyah."
Mardin manggut-manggut.
"Pakai pengacara juga mereka?" tanya Pak Ritonga.
"Iya." sahut Andre.
"Parah kali lah pengacaranya tu, mengusulkan agar Ibunya diusir."
"Bisa jadi permintaan si penggugat, Bang."
__ADS_1
"Kalau secara hukum, sah saja penggugat meminta begitu, Bang. Karena memang dia pemilik yang sah. Wajar dia tidak ingin ada orang lain di rumahnya. Tapi, masalahnya yang disuruh keluar itu adalah ibu kandungnya." Mardin menghela nafas.
Andre memijit tengkuknya, pertanda ia sedang resah.
"Pening kau kan?" kata Mardin sambil tergelak.
Andre tersenyum
@@@
Dengan tergesa, Mala yang diikuti Farah dari belakang memasuki ruangan rapat tempat Andre, Mardin dan Pak Ritonga sedang berbincang.
"Tolong kami Pak Pengacara, adik saya Malik baru saja dibawa ke kantor polisi, karena laporan Mbak Mila." kata Mala dengan nada memelas.
Mereka terkejut.
"Kenapa sampai dilaporkan, Mbak? Apa masalahnya?"
Mala bercerita dengan suara bergetar. "Tiga hari lalu Mbak Mila, suami dan anaknya datang ke rumah Ibu saya dengan membawa surat dari BPN. Dia meminta agar Ibu saya dan Malik segera mengosongkan rumah tersebut, karena dia pemilik sahnya."
@@@
"Bu, ini surat tanda bukti kepemilikan rumah ini. Disini tertulis, Mila pemiliknya. Karena itu, Mila mohon dengan sangat, kita selesaikan dengan baik-baik, Ibu dan Malik tinggalkan rumah ini, tinggal lah dengan Mala."
"Kita nggak perlu ribut-ribut, Bu. Kalau memang Ibu dan Malik bersedia meninggalkan rumah ini dengan rela hati, Mila akan cabut gugatan di pengadilan."
"Tega kamu, Nak. Tega kamu." kata Bu Rukiyah dengan suara bergetar. "Kamu dan adik-adikmu dilahirkan di rumah ini, kalian tumbuh besar juga di rumah ini. Kamu tahu persis, pemilik rumah ini adalah Bapak dan Ibu. Sekarang setelah kamu dewasa, malah mau mengambil rumah ini secara paksa."
"Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa rumah ini milik Bapak dan Ibu. Sekarang surat ini yang membuktikan, bahwa Mila adalah pemilik yang sah."
Air mata Bu Rukiyah jatuh. "Ibu tidak keberatan kalau rumah ini menjadi milikmu, tapi miliki lah dengan cara yang baik. Jangan seenaknya saja. Ibu hanya ingin bersikap adil."
"Mila sudah coba minta dengan baik-baik, Bu. Seandainya Ibu menurut, kita bisa hidup bersama dengan tenang. Tidak perlu ada masalah seperti ini."
"Bapak dan Ibu membeli tanah ini dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit uang yang kami punya, lalu kami bangun dengan susah payah." tangis Bu Rukiyah semakin kencang.
Malik yang baru pulang kerja terkejut melihat Ibunya menangis.
"Apa lagi ini? Kenapa Ibu nangis?"
"Mila meminta kita untuk mengosongkan rumah ini sekarang." Bu Rukiyah tergugu.
"Mila nggak bilang sekarang, secepatnya."
__ADS_1
"Mbak Mila kan sudah mendaftarkan gugatan ke pengadilan. Kita jalani aja prosesnya, sampai ada putusan hakim."
"Kalau Ibu dan kamu menurut, aku akan cabut gugatan yang di pengadilan."
"Nggak perlu. Lanjutkan saja. Kita ikut putusan hakim." ujar Malik tegas.
Mila tetap memaksa, mereka pun terlibat perang mulut. Apalagi Ardi suaminya ikut serta memanasi suasana. Pertengkaran antara kakak dan adik itu semakin besar. Sampai akhirnya Malik lepas kendali, ia mengambil parang dan mengacungkannya pada Mila.
"Kalian berdua, angkat kaki dari rumah ini. Selagi belum ada putusan pengadilan, rumah ini masih rumah ibu saya. Dasar anak durhaka, tidak tahu diri!!"
"Bicara yang sopan sama Mbak mu, Malik." ujar Ardi.
"Heh, kau!! Semestinya bukan aku yang kau ajari bicara sopan. Harusnya istrimu ini yang kau ajari untuk bicara sopan dengan orang tua. Semakin yakin aku kau lah biang keladi dari semua masalah ini. Kau kan yang mengajari Mbak Mila untuk mengambil rumah ini dari Ibu? Dasar bedebah kau, manusia laknat." Ardi mengayunkan parangnya hampir saja mengenai Ardi.
Mila menjerit saat melihat parang hampir saja mengenai suaminya. Ardi tampak pucat pasi.
"Keluar kalian dari rumah ini, atau kuhabisi semua. Kurang ajar kalian sudah membuat Ibuku menangis. Keluar! " Malik mengacungkan parangnya sekali lagi.
Mila, suami dan anaknya bergegas keluar. Malik menghela nafas, tanpa ia sadari anak laki-laki Mila yang tadi ikut bersama mereka, merekam kejadian itu dengan ponsel. Dan rekaman itu lah yang dijadikan Mila sebagai alat bukti untuk melaporkan Malik.
@@@
Andre dan Mardin tampak shock mendengar penuturan Mala. Belum selesai satu masalah, muncul masalah baru.
"Gawat ini, bukan hanya perkara perdata yang harus kita hadapi, tapi pidana juga." kata Mardin.
"Seharusnya tidak perlu sampai main parang segala, Mbak."
"Malik itu orangnya emosian, Mas. Saya sudah peringatkan jauh-jauh hari, kalau Mbak Mila datang mengganggu, tidak usah dibalas, diemin aja. Tapi mungkin Malik sudah tidak tahan."
Andre menghela nafas.
"Tolong bebaskan adik saya, Mas. Ibu sampai pingsan waktu melihat Malik dibawa polisi, dan sampai sekarang masih belum bisa bangkit dari tempat tidur. Ibu jatuh sakit."
Andre iba mendengarnya.
"Kita coba dengan jalan kekeluargaan, Ndre. Kita bujuk agar Mila mencabut laporannya di polisi."
Andre mengangguk. "Kita ke kantor polisi sekarang."
Mereka segera bergegas.
@@@
__ADS_1