
Sebuah telepon masuk ke HP Lani, dari Mbak Andini. Beliau menanyakan apakah masih perlu nazhor dalam proses taarufnya dengan Andre. Ia sendiri bingung. Bukankah mereka sudah saling kenal dan sudah pernah bersama dalam sebuah pekerjaan. Sedikit banyaknya Lani sudah tahu sifat dan karakter Andre. Demikian sebaliknya.
"Gimana, Lan?" Andini membuyarkan lamunan Lani.
"Mas Andre nya gimana, Mbak?"
"Dia serahkan semua ke kamu. Kalau dirasa masih perlu, dia nurut."
"Menurut, Mbak gimana? Terlepas dari Mbak adalah kakak Mas Andre."
"Hummm,,kalau saran Mbak sih, tetap aja ada nazhor. Benar kalian sudah saling kenal, tapi mungkin masih banyak juga pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di hati kamu, misalnya pandangan dia tentang pernikahan, tentang nafkah, tentang hak dan kewajiban suami istri, tentang mendidik anak, dan lain-lain."
Benar juga. Lani kan belum tahu isi pikiran Andre bagaimana tentang hal-hal yang menyangkut soal pernikahan.
"Baik, Mbak. Aku setuju."
"Baik, kapan Lani bisa?"
"Aku bisa Sabtu atau Ahad, Mbak."
"Oke. Siapkan daftar pertanyaannya." Andini tertawa. "Mbak juga penasaran Andre akan jawab apa."
Lani pun tertawa.
@@@
Hari yang ditentukan untuk proses nazhor tiba. Mereka berkumpul di rumah Andini. Selain Mas Galang; suami Mbak Andini, Andre juga didampingi ustadz Rasyid. Seperti yang dipesankan Andini, Lani sudah menyiapkan daftar pertanyaan. Setelah dibuka dengan sepatah kata oleh ustadz Rasyid, Andre dan Lani dipersilahkan untuk saling bertanya. Giliran pertama diserahkan pada Lani. Ia nampak gugup, sementara Andre santai. Sesekali ia tersenyum melihat ekpresi Lani yang menunduk sambil menggenggam buku kecil di tangannya. Tangan itu bergetar. Andre makin geli. Tak tahan, ia malah tertawa. Lengannya dipukul sang kakak ipar. Merasa ditertawakan, Lani langsung angkat wajah dan memasang wajah sangar. Mata tajamnya beradu dengan mata Andre yang masih menahan tawa. Mbak Andini memperhatikan keduanya.
"Kayak mau nanduk aja, Lan." Mbak Andini terkekeh.
"Begitu lah dia, Mbak. Mudah marah"
"Mbak nggak nanya pendapat kamu." sergah Andini pada adiknya. "Mbak disini walinya Lani, bukan kamu."
Andre tertawa lagi. "Siap, Mbak. Baiklah, saudari Maylani, apa yang ingin saudari tanyakan kepada saya?" ujar Andre dengan gaya pengacaranya. "Sepertinya daftar pertanyaan saudari panjang sekali." Andre masih tidak tahan untuk menggoda mantan partner kerjanya itu.
"Begini lah kalau pengacara yang sedang nazhor. Seperti di pengadilan aja rasanya." komentar Ustadz Rasyid. Dibalas dengan tawa oleh yang lain, kecuali Lani tentunya."Nanti jangan berdebat, ya." tambahnya lagi.
"Silahkan, Lani."
Setelah mengucap basmalah, keluar lah pertanyaan dari lisan Lani yang kemudian langsung dijawab oleh Andre. Pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan adalah seputar pernikahan, mendidik anak, dan hal-hal lain yang ia anggap penting untuk diketahui. Andre menjawabnya dengan baik. Lani merekam semua jawaban itu dalam memorinya. Ada rasa yakin dan tenang dengan jawaban Andre, karena sesuai dengan ekspektasinya.
"Masih ada yang ingin ditanyakan, Lani?" tanya Mbak Davina.
"Ada, Mbak. Ini pertanyaan terakhir."
"Kenapa terakhir? Sepuluh pertanyaan lagi masih akan saya jawab, kok." Andre menggoda lagi.
Mbak Andini melotot. Lagi-lagi sang kakak ipar memukul lengannya. Refleks Lani mengepalkan tinjunya ke arah Andre.
"Mas Andre pernah pacaran?" tanya Lani.
Andre tertegun. Sejurus kemudian ia menjawab. "Pernah."
Lani mengernyit. Jantungnya berdegup lebih kencang. Pernah. Dengan Davina kah?
Seperti membaca isi pikiran gadis itu, Andre menjawab "Dulu, ketika SMA. Cinta-cinta monyet lah, masa jahiliyah sebelum hijrah. Ketika kuliah hampir jadian juga, tapi ada ustadzah yang selalu mengingatkan di rumah, batal jadian lah akhirnya."
Lani tersenyum. Alhamdulillah, berarti bukan Davina.
"Sebenarnya tujuan pertanyaan saya adalah untuk mengetahui hubungan Mas dengan Davina, anaknya Pak Tobing. Gosip yang beredar di kantor kan, Mas akan menikah dengan Davina."
"Sudah saya duga. Saya terangkan saja disini, tidak ada hubungan spesial antara saya dengan Davina. Memang benar, Pak Tobing meminta saya untuk menjadi menantunya."
"Lalu?"
"Saya belum jawab."
"Kalau proses ini nantinya lanjut, tolong diselesaikan. Saya tidak ingin ada orang yang merasa sakit hati kepada saya nantinya."
"Berarti, kamu memang sudah berencana mau lanjut ya. Sudah yakin dengan saya?" Tak tahan, Andre menggoda lagi.
Ustadz Rasyid mendehem. Kali ini Mbak Andini tidak melotot, hanya geleng-geleng kepala.
"Saya kan baru bilang KALAU."
Andre manggut-manggut. "InsyaAllah."
"Selesaikan aja segera, Ndre. Walaupun tidak lanjut dengan Lani kalau memang tidak ada niat, disudahi saja. Jangan PHP." Ujar Mbak Andini tegas.
"Siap, Mbak."
"Lani sudah selesai?"
Lani mengangguk.
"Silahkan Andre bertanya."
"Baik. Terima kasih kesempatan yang sudah diberikan kepada saya. Saya sebenarnya tidak menyiapkan daftar pertanyaan sebanyak Lani, hanya beberapa hal saja yang ingin saya tanyakan." Andre pun mulai bertanya, dan Lani menjawab.
"Ini pertanyaan terakhir saya." ujar Andre.
Lani mengangkat wajah.
"Kamu beneran bisa nyetir, kan?"
Lani kaget dengan pertanyaan itu. Bayangan tetang kecelakaan yang ia alami dengan mobil Andre terlintas kembali.
"Saya bisa menyetir. Tapi kemampuan menyetir saya mungkin masih level anak kampung lah. Karena saya memang belum pernah menyetir di kota besar." Lani tersenyum.
Andre tergelak.
"Ada apa sebenarnya ini."
"Nggak ada apa-apa, Mbak. Nanti aku ceritakan."
"Ceritakan aja disini, Mas Andre." ujar Lani.
"Nggak usah, nanti kamu emosi." Andre terkekeh.
"Baiklah, kita sudahi sampai disini. Kalian diberi waktu untuk berpikir dan istikharah selama seminggu, ya." kata Mbak Andini menengahi.
"Cepat sekali, Mbak." keluh Lani.
"Lebih cepat lebih baik." Mbak Andini tersenyum. "Kalau sekiranya, setelah pulang nanti masih ada yang mengganjal di hati, kamu masih bisa bertanya ya, Lan. Boleh lewat Mbak."
"Baik, Mbak."
@@@
__ADS_1
Pak Tobing menatap Andre yang duduk dihadapannya. Andre kelihatan sangat gelisah.
“Katanya kamu mau bicara dengan saya. Sekarang kok malah diam begitu. “ ujar Pak Tobing sambil tertawa.
“Saya bingung, Pak. Harus memulai dari mana? “
“Mulai dengan basmalah dong. Susah amat. Emang kamu mau bilang apa sih?”
Andre tersenyum kaku.
“Nah…biar kamu tenang, minum dulu tuh teh nya. “ Pak Tobing mempersilahkan Andre minum.
Andre menurut. Teh hangat itu pun mengalir di kerongkongannya memberikan sedikit ketenangan. Kok jadi gugup begini ya? Keluh batin Andre.
"Jadi, begini Pak. Saya sangat menghargai permintaan Bapak dan terus terang saya merasa tersanjung. “
Andre membuka percakapan kembali setelah mengucapkan basmalah dan doa Nabi Musa didalam hati.
“Hmm…lalu? “ senyum Pak Tobing terkembang.
“Tapi, saya minta maaf, Pak. Saya…saya… tidak bisa memenuhi pemintaan Bapak. “ ujar Andre dengan suara
pelan.
Berangsur-angsur senyum Pak Tobing memudar. “ Kenapa? Apa kamu tidak menyukai Davina? Saya pikir selama ini kamu juga menyukainya makanya berani mengutarakan maksud saya. “
“Bukan…bukan begitu, Pak. Saya dekat dengan Davina bukan berarti saya punya perasaan khusus. Saya
menganggap Davina seperti adik saya sendiri. Karena Bapak kan juga menganggap saya seperti anak, berarti anak Bapak, adik saya juga kan. “ Andre berusaha tersenyum.
Pak Tobing terdiam.
“Sudah saya pertimbangkan, sdh istikharah. Dan saya tidak bisa, Pak. Davina berhak mendapatkan yang lebih baik dari saya. Dia kan juga masih muda, pasti banyak laki-laki sebaya yang menyukainya. Saya sudah 30 tahun Pak sedangkan Davina masih 22 tahun. “
“Perbedaan usia tidak masalah Andre, bukannya lebih bagus laki-laki lebih tua dari perempuan. “
“Memang benar, Pak. Tapi…saya merasa terlalu tua untuk Davina. “ jawaban yang aneh sebenarnya.
Andre merutuki diri sendiri, kenapa melontarkan alasan itu.
Pak Tobing tertawa. Andre mengangkat wajah.
“Benarkah alasannya karena itu? “ Pak Tobing mengamati wajah anak muda di hadapannya yang terlihat pucat
dan berkeringat. Tidak disangka, Andre bisa juga pucat dan gemetaran. Padahal dia begitu sangar dan tegas jika di pengadilan.
Andre menunduk.
“Bukan karena kamu sudah punya calon sendiri? “
Andre terperangah.
“Kalau saya perhatikan, wajah kamu menyiratkan demikian. Ayolah Andre, kamu itu sudah saya anggap seperti anak saya, kalau memang iya kamu ceritakan saja. Kenapa harus punya rahasia segala dengan Bapak sendiri. “
Andre menghela nafas. Pak Tobing menanti jawabannya.
“Sebenarnya karena hal itu juga, Pak. “
Pak Tobing tertawa lagi. “Nah…gitu aja kok repot. Apa susahnya sih bilang iya? “
Andre garuk-garuk kepala sambil nyengir.
“Saya belum bisa kasih tahu sekarang, Pak. Nanti kalau semuanya sudah siap, saya janji Bapak orang pertama
yang akan saya beri undangan. “
“Oh, gitu ya? “
“Biar surprise gitu Pak. “
Pak Tobing tertawa. “Kamu bisa aja. Katakan saja belum boleh, iya kan? “
Andre tersenyum. “Pak, sayaminta maaf ya sekali lagi. Saya sudah mengecewakan Bapak. “
“Oh, tidak apa-apa Andre. Saya senang kamu jujur. Tidak mungkin saya memaksakan kehendak. Semua hal yang
dipaksakan tentunya tidak enak bukan? Semoga semuanya berjalan lancar. “
Andre terharu. “Terima kasih Pak. “ Diciumnya tangan Pak Tobing dengan takzim. Pak Tobing malah memeluknya.
Mereka berdua tertawa tanpa menyadari seseorang di balik tirai yang memisahkan antara ruang tamu dengan ruang tengah, hatinya hancur berkeping-keping saat mendengar lelaki pujaan hati sudah memiliki calon sendiri. Orang itu adalah Davina. Air mata Davina berderai, ia berlari masuk ke kamarnya.
Davina menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Hatinya benar-benar hancur. Selama ini dia kira Andre juga mencintainya, tapi ternyata tidak. Ia ingin menikah dengan Andre, namun karena Papanya pernah bilang tidak akan mengizinkan Davina menikah jika belum lulus kuliah, begitu bersemangat menyelesaikan studinya. Sekarang setelah ia lulus, Andre justru menolaknya.
“Mas Andre jahat!! “ jerit Davina sambil memukul-mukul bantal guling. “Pengorbananku sia-sia. Aku sudah bersusah payah untuk lulus secepatnya, tapi sekarang apa? Mas Andre mau menikah dengan perempuan lain. “
Tangis Davina membuncah. Impiannya untuk menjadi Nyonya Andre hancur begitu saja. Lama ia memendam rasa pada lelaki itu.
Pak Tobing dan istrinya masuk kedalam kamar putrinya itu.
“Vina…” Pak Tobing menyentuh pundak Davina yang sedang tengkurap sambil menangis.
“Vina nggak mau ngomong sama Papa. “
“Vina, kamu dengerin Papa dulu dong. “
“Papa mau bilang apa? Mau bilang kalau keputusan Andre itu adalah yang terbaik? “
“Yah…memang itu. Berarti Andre bukan yang terbaik buat kamu, begitu sebaliknya. Percayalah, suatu saat
nanti Allah akan memberikan seseorang yang tepat buat kamu. Kamu kan masih muda, cantik dan berpendidikan. “
“Tapi, Vina maunya sama Andre, Pa. Bukan yang lain. “
“Andre tidak mencintai kamu Vina. Kamu harus sadar itu. Untuk apa menikah dengan orang yang tidak mencintai
kamu.“ kata Bu Tobing.
Vina sesenggukan. “Tapi, Papa bilang cinta bisa lahir dengan sendirinya. “
Pak Tobing menghela nafas. “Vina, semua harus tetap didasari dengan kerelaan hati. Bagaimana mungkin cinta
tumbuh kalau dari awal sudah merasa tertekan. Sekali lagi Papa katakan, Andre bukan yang terbaik untuk kamu. Dan Papa yakin, keputusan yang diambil Andre bukan atas pertimbangannya sendiri saja, tapi juga setelah memohon petunjuk pada Allah. “
“Belain aja si Andre itu. Sebenarnya yang anak Papa, Vina atau Andre sih? “ Davina menatap Papanya tajam.
Pak Tobing membelai rambut putrinya dengan sayang. “Vina sayang, kamu masih muda. Jalan kamu juga masih
panjang. Yakinlah, Allah punya rahasia lain buat kamu. Kamu harus ikhlas ya. “
__ADS_1
Davina tidak menjawab.
“Oke, sekarang kamu mungkin butuh waktu untuk sendiri dulu. Papa dan Mama keluar ya. “
Pak Tobing dan istri keluar dari kamar Davina.
“Papa sih, terlalu memberikan harapan pada Vina. Jadinya kan begini. “ kata Bu Tobing.
“Ma, Papa nggak pernah menjanjikan apa pun pada Vina. Vina dari dulu memang menyukai Andre, waktu itu Papa bilang Andre orangnya nggak mau pacaran, dia maunya langsung menikah. Kalau memang Vina menyukai Andre, Vina harus lulus kuliah dulu. Papa nggak janji apa-apa. “
“Tapi, Vina mengira Papa sudah bicara dengan Andre sejak lama dan Andre bersedia menunggunya. “
Pak Tobing menghela nafas. “Papa nggak nyangka Vina akan berpikir demikian. “
“Lihat hasilnya sekarang. “
Pak Tobing termangu.
@@@
Setelah istikharah beberapa kali akhirnya Lani mantap menerima Andre, demikian juga dengan Andre. Mereka sepakat untuk melanjutkan proses. Mbak Andini sangat senang sekali. Lani pun diperkenalkan pada kedua orangtua Andre yang kebetulan berkunjung ke Jakarta. Mereka langsung ‘jatuh cinta’ pada Lani. Lani juga memberitahu kedua orangtuanya tentang niatnya untuk menikah sekaligus memperkenalkan Andre lewat
telepon dan video call, bahkan fotonya dikirimkan ke HP Mama. Papa tidak keberatan apalagi sepertinya obrolan mereka nyambung saat menelepon, tapi Mama masih merasa sedikit berat.
“Pokoknya Mama harus ketemu langsung sama calon kamu itu. “ tegas Mama Lani di telepon.
“Aduh, Mama. Kan udah bicara di telepon, udah video call, data dan fotonya juga udah Lani kirim. Apa itu nggak cukup.“
“Mama kan belum ketemu langsung. Siapa tahu dia baiknya cuma ditelepon aja. Pokoknya Mama harus ketemu
dulu baru Mama memutuskan akan menerima atau tidak. “
“Mama, kasihan Andre bolak-balik. Kampung kita kan jauh. Bulan depan waktu acara lamaran kan bakal ketemu juga, bukan cuma Andre aja ntar yang datang tapi lengkap dengan keluarganya. “
“Mama nggak mau tahu. “
Lani menghela nafas. “Mama, Andre itu kan kerja. Mana mungkin dia meninggalkan pekerjaannya. “
Mama tidak bergeming.
Mama orangnya keras. Kalau A ya harus A nggak boleh diganti dengan B.
Lani bergegas menuju rumah Andini untuk membicarakan masalah ini. Andini menyuruh Andre datang kerumahnya.
“Kenapa? “
“Mamanya Lani pengen ketemu langsung sama kamu. “
“Maksudnya, saya yang kesana? “
“Iya. “ Lani yang menjawab.
“Aduh, Lani…kamu tahu kan saya sangat sibuk, perkara yang saya tangani belum kelar. Apalagi kampung kamu
itu jauh. “
Berkorban sedikit masa’ sih nggak mau?Gerutu Lani dalam hati.
“Lani…”
“Iya. “
“Kamu dengar saya kan. Kok malah diam sih? “
“Iya dengar. “ masih juga suka ngomel-ngomel, gerutu Lani dalam hati.
“Apa lewat telepon dan video call aja nggak cukup? Saya kan udah nelepon beberapa kali. “
“Saya juga udah bilang begitu. Tapi, Mama nggak mau. “
“Bulan depan kan kesana. Harus bolak balik berapa kali? “Andre mengusap wajahnya kasar.
“Ya udah kalau nggak mau. Ntar saya bilangin ke Mama. “
Andre terdiam. Kalau nanti nggak dipenuhi, jangan-jangan Mama Lani malah nggak ngasih izin untuk menikahi putrinya, pikir Andre. Padahal Bapak dan Ibu sudah terlanjur cinta pada Lani yang kata mereka ramah dan juga
lucu itu.
“Sebenarnya kamu kesana nggak pa-pa juga kali, Ndre. “ kata Mbak Andini. "Nggak usah lama-lama. Sehari aja cukup."
“Aduh…Mbak. Kita harus berpikir efektif dan efisien dong. Sekarang kesana, bulan depan juga kesana
ntar kalau jadi menikah, kesana juga. Aku kan kerja, Mbak. “
“Berkorban sedikit apa salahnya sih? “
“Bukannya nggak mau berkorban, Mbak. Ini masalah efektivitas. “
“Nggak pa-pa kok, Mbak. Mama juga permintaannya aneh-aneh aja. “ Lani tersenyum.
Andre menarik nafas panjang.
"Itu permintaan wajar." kata Mbak Andini. "Kamu kesana, Ndre. Satu hari cukup. Apalagi Lani bilang, rumahnya dekat Bandara kan? Bisa langsung pulang."
"Bener, Mbak. Tapi bandara kecil. Penerbangan ke Jakarta hanya ada satu kali di pagi hari."
"Nggak apa-apa. Kamu berangkat besok, Ndre. Langsung nyampe kan di rumah Lani. Nginap satu malam, besok paginya langsung balik lagi ke Jakarta. Minta izin aja satu hari. Oke?"
Andre mengangguk. Lani menarik nafas lega. Ia segera menghubungi Papa dan Mama untuk memberitahu kedatangan Andre. Mama sangat senang. Beliau berjanji akan mengurusi Andre dengan baik.
"Tolong jemput Andre di bandara ya, Pa."
"InsyaAllah, Nak."
"Sediakan kamar untuk menginap juga ya, Ma. Tapi, jangan di kamar Lani ya.Lani malu. Sediakan makanan yang enak juga."
"Ya. Kamu tenang aja. Andre tidur di kamar tamu nanti. Nanti Mama masak yang enak. Andre suka makan apa?"
"Oke, Ma. Nanti Lani tanyakan dulu, ya makanan kesukaannya."
"Saya suka makan apa aj, Bu. Tidak usah repot-repot." Andre menyahuti tanpa diminta.
"Katanya dia suka makan apa aja, Ma tidak usah repot-repot. Masakin rendang aja, Ma."
"Oke."
"Keesokan harinya Andre langsung pulang ke Jakarta, dia nggak bisa lama-lama. Lagian ngapain dia lama-lama disana ya kan, Ma. Dia kerja."
Andre mendengar semua ucapan Lani, ada sedikit rasa senang di hatinya. Calon istrinya ini sangat detail, memperhatikan sampai ke hal-hal kecil.
@@@
__ADS_1
catatan :
Nazhor (bahasa Arab) : proses saling mengenal bagi dua orang yang ingin menikah. Secara prinsip, nazhor dilakukan untuk menumbuhkan ketertarikan diantara keduanya.