
Pak Tobing memasuki rumah dengan tergesa.
" Ma! Mama!" ia berseru memanggil istrinya.
"Ada apa sih, Pa?" sang istri datang dari arah dapur.
"Mana Vina?"
"Di kamarnya. Ada apa lagi ini, Pa?"
"Papa mau bicara sama Vina. Anak itu benar-benar membuat malu."
Bu Tobing mengernyit. "Ini tentang apa, Pa? Coba cerita ke Mama."
"Mama panggilkan Vina dulu kemari, Papa akan jelaskan sekaligus ingin mendengar penjelasannya."
Bu Tobing mengikuti perintah suaminya. Ia berjalan menuju kamar sang putri.
"Vina..." panggil Bu Tobing sambil mengetuk pintu kamar Davina. Yang dipanggil tidak menyahut. Dipanggil sekali lagi, tetap belum ada sahutan. Bu Tobing memutar handle pintu, ternyata tidak dikunci dari dalam. Ia masuk ke kamar putrinya dan melihat Davina sedang berbaring sambil menangis.
"Kamu kenapa?"
Davina menggeleng.
"Nggak mungkin kamu nangis tanpa sebab. Ayo cerita ke Mama."
Tidak ada sahutan.
"Papa ingin bicara. Yuk, kita temui Papa diluar.
Lagi-lagi Davina menggeleng.
"Kalau kamu ada masalah, cerita dong sama Mama. Kali aja Mama bisa kasih solusi. Jangan dipendam sendiri."
Masih diam.
"Ya udah kalau gitu, Mama keluar dulu ya. Kalau Vina sudah siap cerita, Mama siap untuk mendengar."
Bu Tobing keluar kamar setelah mengusap kepala putrinya.
"Mana dia?" sergah Pak Tobing yang duduk di sofa ruang kelarga.
"Nggak mau keluar. Lagi mogok bicara juga."
Pak Tobing menghembuskan nafas kasar. "Sudah dewasa dan berpendidikan tapi berani-beraninya melakukan tindakan memalukan."
"Sebenarnya ini ada masalah apa, Pa. Coba Papa jelaskan dulu. Jangan uring-uringan sendiri."
Lalu mengalirlah cerita Pak Tobing tentang perbuatan Davina terhadap Andre. Istrinya tampak terkejut.
"Sudah bertahun-tahun, tapi Vina belum move on juga dari anak itu." Bu Tobing geleng-geleng kepala.
"Papa kaget saat Mardin cerita semuanya tadi. Ini jelas-jelas sangat memalukan. Apalagi dia melakukakannya kepada rekan kerja Papa. Mau ditaruh dimana muka Papa ini, Ma? Papa sangat malu. Baru ketemu Mardin aja Papa sudah malu, apalagi ketemu Andre dan Lani. Mama tahu? Gara-gara perbuatan Vina, Andre sampai-sampai harus meninggalkan rumah. Keterlaluan."
"Mama nggak nyangka perasaan Vina kepada anak itu terlalu dalam."
"Perasaan yang tidak pada tempatnya. Kita patut bersyukur Andre tidak membawa masalah ini ke ranah hukum. Bagaimana kalau dia buat pengaduan dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan?"
__ADS_1
"Ya, kalau itu terjadi Papa bereskan lah. Papa kan pengacara."
"Nggak segampang itu, Ma kalau sudah berurusan dengan hukum."
"Kita harus mencarikan jodoh untuk Vina, Pa agar dia bisa melupakan Andre."
"Mama coba lah kalau begitu. Mama kan banyak teman. Coba dilihat-lihat siapa yang punya anak lelaki baik dan sholeh."
"Mama coba. Tapi Papa juga, dong. Jangan Mama aja yang berjuang. Papa juga. Mencarikan jodoh anak-anak itu kan memang tugas orang tua."
Pak Tobing terdiam.
"Papa punya banyak rekan kerja, relasi, atau mungkin teman-teman sekolah dulu."
"Nanti lah dicoba."
@@@
Davina mengusap air mata yang meleleh di pipinya. Pernikahan Andre dan Lani bukan lah hitungan bulan, namun hingga kini ia belum juga bisa melupakan lelaki itu; sang cinta pertama, yang sudah ia cintai sejak duduk di bangku kelas tiga SMA. Setiap Andre bertandang ke rumah atau ketika Davina yang mampir di kantor ayahnya, ia selalu memperhatikan Andre, dan lelaki itu pun sangat ramah kepadanya. Hal ini membuat Davina senang. Ia selalu berkhayal suatu saat akan bisa mendampingi lelaki pujaan hatinya itu. Apalagi sang Ayah sepertinya mendukung untuk menjadikan Andre sebagai menantunya. Davina sendiri pun mengira bahwa Andre juga punya perasaan khusus untuknya. Namun ternyata Davina salah. Andre hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Ternyata rasa cintanya bertepuk sebelah tangan.
Ia sudah mencoba membuang jauh-jauh Andre dari pikirannya, namun belum berhasil juga. Rasanya terlalu sakit mengingat lelaki yang begitu ia dambakan harus hidup bahagia dengan orang lain. Rasa sakit itu akhirnya mendorong ia untuk berbuat nekat, menciptakan drama demi drama berusaha mengganggu pernikahan Andre dan Lani.
Sebulan lalu.
"Kusut amat muka lo." kata Tania sahabatnya.
Davina menghela nafas, sambil memperlihatkan foto Andre dan Lani beserta putranya di akun media sosial milik Andre. Mereka tampak bahagia.
"Ya elah, Vin. Masih juga tentang nih cowok. Udah bertahun-tahun lho, belum move on juga lo. Cape deh. Lo kalau nggak tahan lihat kemesraan dia sama istrinya, gak usah follow medsosnya. Lha ini, lo stalking-stalking juga."
"Rasanya gue belum terima sama perlakukan dia Tan. Lo bayangin aja, dia cinta pertama gue. Gue rajin kuliah, ngebut malahan cuma biar bisa cepat kelar dan segera nikah sama dia kayak yang dijanjiin bokap. Tapi setelah gue lulus, dia malah nikah sama cewek lain."
"Tapi dia baik dan perhatian sama gue, Tan. Sering nanya gimana kuliah gue, ada kesulitan apa selama kuliah. Jengukin gue pas gue masuk rumah sakit. Gitu-gitu deh. "
"Dia perhatian bukan berarti dia cinta. Kayak yang dia bilang dia nganggap lo adik. ADIK. Apalagi lo bilang dia udang nganggap bokap lo kayak bokapnya sendiri, ya udah, lo harus terima dong jadi adiknya dia."
Davina menghela nafas. "Padahal kurang apa gue coba. Gue perhatian dan sayang sama dia. Lo tau kan gue sering beliin dia makanan dan nganterin ke kantornya bokap. Gue juga beliin kado setiap dia ulang tahun. Masa sih, dikit aja dia nggak nganggap gue sebagai perempuan. Gue udah segitunya, masa iya rasa cinta gak bisa muncul di hatinya."
"Lo emang bucin banget dah waktu itu. Gila." Tania geleng-geleng kepala. "Cinta nggak bisa dipaksain, Vina. Lo mau jungkir balik mencintai dia, sampai lo nangis darah sekalipun, kalau dia nggak cinta ya nggak cinta."
Mata Davina menerawang. "Gue benci sama tuh cewek. Kalau aja tuh cewek nggak magang di kantornya bokap, mungkin saat ini gue yang udah jadi istrinya Mas Andre. Gue benci pokoknya sama dia."
"Kalau udah jodoh, biarpun dia magang di kantornya Hotman Paris sana bakalan ketemu juga Vin. Atau magang di kantor pengacara di Medan sana juga dia bakalan ketemu Andre. Karena udah jodohnya. Lo bucin sih bucin, tapi jangan bego gitu dong, kayak nggak pernah belajar agama aja lo. "
Bulir bening menetes di pipi Davina.
"Ya elah, malah nangis." Tania memberikan tisu pada sahabatnya itu.
"Gue benci sama perempuan itu. Dia nggak lebih cantik dari gue, pakaiannya aja kayak karung gitu, nggak pintar dandan, gayanya juga tomboi, malahan kesannya kampungan. Kenapa Andre lebih memilih perempuan jelek itu." Davina sesenggukan.
Tania menepuk jidatnya. "Ya udah, sekalian aja lo hancurin rumah tangganya. Jadi pelakor lo sana, biar dikutuk orang sedunia."
Seketika itu juga tangis Davina berhenti. "Kayaknya ide lo bagus juga. Gue hancurin aja mereka sekalian."
Tania terperanjat. "Waduh, gue becanda, Vin. Nggak serius."
"Gue harus lakukan itu."
__ADS_1
"Jangan dong, Vin. Ntar gue jadi ikutan lagi nanggung dosanya kalau lo jadi pelakor. Gara-gara celetukan gue nih, ah." Tania panik.
"Tenang aja, gue cuma mau ngasih pelajaran sama mereka. Dikit aja, nggak banyak-banyak." Davina tersenyum samar.
Seketika itu juga Tania merasa seperti sedang berhadapan dengan pembunuh berdarah dingin. Ia bergidik.
Dibantu oleh Stella sahabatnya yang lain, Davina benar-benar melaksanakan niatnya. Walau Tania sudah mencoba melarang, hal itu tidak membuat semangat Davina surut untuk memberi pelajaran kepada Andre dan istrinya.
@@@
Hingga malam beranjak naik, Davina belum juga mau menemui kedua orang tuanya. Hal ini membuat Pak Tobing geram. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia memasuki kamar sang putri. Dibelakangnya menyusul Bu Tobing yang merasa khawatir akan terjadi pertengkaran antara ayah dan anak itu.
"Bangun kamu! " Perintah Pak Tobing dengan suara lantang.
Davina tak bergeming.
"Bangun, atau Papa yang akan menarik kamu sampai bangun."
Bu Tobing mendekati putrinya dan membujuk agar mau menuruti perkataan sang ayah. Ia tahu, kali ini suaminya benar-benar marah. Davina menurut. Ia duduk sambil menekuk lutut .
"Papa tidak akan bertanya benar atau tidak kamu melakukan perbuatan memalukan itu, karena Papa sudah dengar sendiri rekaman percakapanmu dengan Andre."
Davina mengangkat wajah. Andre merekam pembicaraan mereka? Benar-benar seorang pengacara, ucapnya dalam hati.
"Kamu sadar tidak, perbuatan yang kamu lakukan itu adalah perbuatan melanggar hukum. Kamu bisa saja dituntut, tapi bersyukur Andre tidak melakukan itu karena dia menganggap kita saudara. Papa tidak habis pikir, kamu sampai nekat mengganggu kehidupan rumah tangga orang. Selama ini Andre sangat baik dengan keluarga kita. Mau ditaruh dimana muka Papa??? Papa malu, Vinaaaa." Suara Pak Tobing menggelegar.
Davina mulai sesenggukan.
"Kamu ini orang berpendidikan, tapi malah melakukan tindakan bodoh yang sangat memalukan."
"Nak, laki-laki di dunia ini bukan hanya Andre. Kamu masih bisa mendapatkan calon suami yang lain. Coba lah membuka hati. Jangan membiarkan diri terpuruk hanya karena laki-laki." Bu Tobing membelai rambut putrinya lembut.
"Enam tahun sudah berlalu tapi kamu masih berkutat dengan masalah yang sama. Fokus lah pada hal lain, pada pekerjaanmu, ukir prestasi agar kariermu bagus. Jangan malah bertindak bodoh seperti ini. Sekarang, Papa beri pilihan, hidup lah dengan baik disini, fokus pada pekerjaanmu, atau Papa akan kirim kamu ke luar negeri untuk melanjutkan kuliah."
"Atau Mama carikan jodoh saja, ya. InsyaAllah pasti akan bertemu dengan laki-laki yang baik."kata Bu Tobing.
Davina mendongak.
"Pikirkan selama seminggu ini, setelah itu sampaikan jawabanmu pada kami." Pak Tobing memberi ultimatum."Dan satu lagi, kamu harus meminta maaf pada Andre dan Lani."
@@@
Davina mengirim pesan pada sahabatnya, Tania :
Bokap marah besar, gue disuruh milih, mau ttp disini atau lanjut kuliah ke luar negeri.
Balasan Tania :
*Lo sih, udh gw ingetin jg. Ya wajar sih bokap lo marah. krn emg lo keterlaluan. blm lg malu sama Andre. kn mrk sekantor. *
Davina :
Setidaknya gw puas krn udh ngasih mrk berdua pelajaran.
Tania :
*Ah, benar-benar sinting lu. bkn nya nyesel, malah puas. *
__ADS_1
Davina tertawa pelan membaca pesan sahabatnya.
@@@