Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Hampa Tanpamu


__ADS_3

Kupejamkan mata ini


Mencoba 'tuk melupakan


Segala kenangan indah


Tentang dirimu, tentang mimpiku


Semakin aku mencoba


Bayangmu semakin nyata


Merasuk hingga ke jiwa


Tuhan, tolonglah diriku


Entah di mana dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana kau rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu


Tak bisa aku ingkari


Engkaulah satu-satunya


Yang bisa membuat jiwaku


Yang pernah mati menjadi berarti


Namun kini kau menghilang


Bagaikan ditelan bumi


Tak pernahkah kau sadari


Arti cintamu untukku?


(Hampa - Ari Lasso)


@@@


Hampa. Begitulah perasaan Lani sejak Andre meninggalkan rumah. Sudah lebih dari tiga minggu komunikasi diantara mereka sama sekali tidak ada. Namun tidak dengan putranya, Andre rajin menelepon Saif melalui telepon rumah. Lani sudah mencoba untuk mengalah dengan menelepon atau mengirim pesan, namun tidak ada respon yang baik dari Andre. Pun ketika ia mencoba untuk mendatangi kantor Andre, mereka tidak bertemu.


Lani mencoba mengirim makanan melalui ojek online ke kantor Andre, namun tidak ada pesan sebagai ucapan terima kasih dari sang suami. Andre benar-benar seperti menghilang di telan bumi. Bahkan Mardin sendiri tidak tahu dimana Andre tinggal. Beberapa kali komunikasi dengan Mbak Andini atau iparnya yang lain, mereka bersikap seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kalau mereka mengetahui permasalahan rumah tangganya. Malahan Mbak Andini bertanya tentang kabar adiknya itu dengan nada ceria. Iseng Lani bertanya apakah Andre pernah mampir? Andini menjawab tidak pernah. Fix, Andre berarti tidak menginap di rumah saudaranya. Pulang ke Yogya lebih tidak mungkin, karena menurut Farah Andre tetap masuk kantor.

__ADS_1


Hingga akhirnya Lani lelah, ia menyerah. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Sepertiga malamnya selalu basah dengan air mata. Semua ia adukan kepada Allah.


Pernah suatu hari Andre menelpon, saat itu Lani sedang di kebun belakang rumah, ponselnya di kamar, sehingga Lani tidak mengangkat. Sejam kemudian, Lani memeriksa ponselnya ada 7 panggilan tak terjawab dari Andre. Ia mencoba memanggil ulang, Andre tidak mengangkatnya.


Lani tergugu. "Mungkin Mas Andre mengira, tadi aku sengaja tidak mengangkat teleponnya."


@@@


Lani sedang memasak ketika Mardin meneleponnya.


”Rumah sakit? Ada apa? ”


”Andre kecelakaan. Kondisinya kritis. Cepatlah kesini, Lani. Pihak Rumah Sakit butuh tanda tangan keluarga untuk mengambil tindakan operasi. ”


Lani limbung. Maryam segera menangkap tubuhnya. ”Ibu kenapa? ” Maryam mendudukkan Lani di meja makan. Disodorkannya segelas air putih. Lani meneguknya perlahan.


”Kenapa Bu? ”


”Mas Andre kecelakaan. Kata Bang Mardin kondisinya kritis. ”


Maryam istighfar. ”Ibu harus segera kesana sekarang. Biar saya yang lanjutkan masaknya. ”


Lani bersiap-siap. ”Mar, saya titip Saif ya...nanti kalau ada apa-apa saya hubungi kemari. ”


”Nggak dibawa aja Bu? ”


”Nggak usah. Saya nggak ingin dia sedih melihat kondisi ayahnya. Nanti kalau kondisi Mas Andre agak membaik, kamu nyusul sama Saif.”


@ @ @


Saat Lani tiba, Andre masih di ruang IGD. Ia segera menanda tangani surat persetujuan operasi, Andre pun didorong menuju ruang operasi. Menurut Mardin, setelah bertemu dengannya di kafe, Andre pulang dan pada saat itulah terjadi kecelakaan. Lokasi kejadian tidak begitu jauh dari kafe tempatnya dan Andre bertemu, makanya Mardin bisa cepat tahu.


”Kami sudah mengetahui siapa penyebab masalah antara kau dan Andre. Dua hari lalu, Andre coba menelpon kamu untuk cerita, tapi kau nggak angkat. Andre sedih, dia pikir kau masih marah.”


Lani mendongak.


”Pelakunya Davina. Ah, sudah lah nanti kau juga akan tahu detilnya. ”


Lani kaget. Tak disangka Davina yang melakukan ini semua. Waktu enam tahun ternyata tak cukup untuk menyembuhkan luka gadis itu. Ia masih mencoba menerobos masuk kedalam kehidupan Lani dan Andre.


Dua jam berlalu, mereka masih menunggu. Lani terduduk lemah sambil menangis. Mulutnya sibuk merapal doa dan mengulang-ulang ayat yang dihapalnya, demi agar hatinya bisa sedikit tenang. Berbeda dengan Mardin, justru dia tidak bisa duduk tenang. Sejak Andre masuk ruang operasi, Mardin mondar mandir nggak jelas.


"Sudah kau hubungi keluarganya, Lan?" tanya Mardin.


Lani menggeleng.


"Hubungi Mbak Andini."


Lani menurut dan mengirimkan pesan di grup whatsapp keluarga Andre agar semua langsung mengetahui. Respon di grup cepat dan semua terkejut. Saudara-saudara Andre yang tinggal di Jakarta langsung berkata akan datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Pintu ruang operasi terbuka, serempak Lani dan Mardin mendekati dokter.


"Bagaimana kondisi suami saya, Dok?"


"Alhamdulillah operasi lancar, namun kita masih harus masih menunggu untuk proses pemulihan. Pasien akan kita masukkan ke ICU. Semoga bisa dilewati masa kritisnya."


"Alhamdulillah. Aamiin Yaa Allah. Terima kasih, Dok."


Andre didorong keluar dari ruang operasi, Lani segera mendekat.


”Mas, Lani datang. ” bisiknya


Mardin terharu mendengarnya.


@ @ @


Andre belum sadar juga, padahal sudah dua hari dia berada di ICU. Menurut dokter,


Andre mengalami gegar otak yang lumayan berat.  Memang hanya itu yang mengkhawatirkan, bagian tubuh lainnya baik-baik saja hanya luka-luka ringan.


”Ibu harus terus berada disampingnya. Sering-sering memanggil namanya, Bu. Mungkin itu bisa membantu. ” kata suster.


Lani mengangguk. "Baik, sus."


Selama di rumah sakit, Lani selalu membaca Al-Qur’an sambil menggenggam tangan Andre. Kadang ia juga membisiki kata-kata sambil menyentuh pipi suaminya.


”Mas, bangun Mas. Ini Lani. Mas bisa dengar suara Lani nggak? ”


Andre masih diam.


”Selama Mas pergi, Lani nangis terus. Saif nanyain Mas setiap saat, sampai Lani kewalahan menjawabnya. Lani minta maaf ya Mas. Mas benar, Lani terlalu kekanakan. Seharusnya kita hadapi masalah ini bersama. ” Lani mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Lani menaruh tangan Andre di dadanya. ”Mas bisa rasakan detak jantung Lani kan? Mas bisa rasakan juga nggak, ada getaran cinta disana? Lani cinta, Lani sayaaang banget sama Mas. Mas cepat sadar ya, cepat sembuh. Lani kangen tawa Mas. Lani ingin main teka-teki lagi sama Mas. Oh, ya kita masih ada janji sama Saif kan buat ke Dufan? ” Lani terisak.


"Lani salah, Mas. Harusnya Lani bisa mempercayai kata-kata Mas. Lani nggak bisa berpikir jernih."


Lani mengusap air matanya.


"Sejak Mas pergi, Lani nggak mau tidur di kamar kita, Lani tidur di kamar Saif. Kalau Lani di kamar kita, Lani makin sedih, keinget Mas terus. Lani kangeeeen banget. Trus ujung-ujungnya nangis. Lani cengeng banget ya, Mas."


Lani tertawa getir.


"Setiap hari Lani bertanya-tanya, Mas tinggal dimana, lagi apa, udah makan apa belum? Kenapa Mas abaikan telepon dan pesan Lani? Waktu Lani masak makanan kesukaan Mas trus Lani kirim ke kantor, Mas juga nggak ngucapin makasih atau apa lah gitu, padahal Lani nunggu, lho."


Lani masih terus menumpahkan isi hatinya.


"Sebenarnya waktu Mas pergi, Lani kejar keluar. Tapi Lani telat, mobil Mas keburu pergi. Mas cepat sadar ya, cepat sembuh."


Kemudian Lani membuka mushaf Al-Qur’an, dibacanya dengan suara rendah sambil menggenggam tangan Andre. Sesekali Lani mengusap air matanya yang terus menerus keluar.

__ADS_1


@@@


__ADS_2