Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
Tentang Kamu; Maylani


__ADS_3

Andre menatap wajah istrinya yang sudah tertidur pulas, tangannya bergerak merapikan anak rambut yang keluar dari kerudungnya dan jatuh di dahi. Meski mereka hanya berdua di dalam kamar rawat inap ini, namun Lani tetap mengenakan kerudung, ia khawatir ada orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan sementara ia belum sempat mengenakan kerudung. Andre tersenyum, sebegitu hati-hatinya Lani dalam menjaga aurat.


Suara getar ponsel membuyarkan lamunannya.


Ibu Mertua


"Assalamu alaikum, Ma."


"Waalaikumussalam, bagaimana kondisi Lani, Nak?"


"Sudah baikan, Ma. Sekarang sudah tidur." Jawabnya.


"Alhamdulillah. "Suara Mama terdengar bergetar. "Tolong jaga Lani ya, Nak. Mama sangat ingin kesana untuk merawatnya, tapi Papa juga lagi kurang sehat. Asam uratnya kambuh lagi."


"Mama tenang aja, InsyaAllah Lani baik-bagi saja, saya akan jaga Lani seperti pesan Mama." Andre tersenyum walau senyumnya tak mungkin terlihat.


Isakan lirih terdengar dari ujung telepon. Andre tahu, Ibu mertuanya pasti sangat cemas. Sedangkan hanya sakit demam biasa aja, Ibunda Lani bisa menelepon sampai tiga kali sehari seperti minum obat, apalagi sakit yang seperti ini. Andaikan bisa terbang seperti burung, Andre yakin sang Ibu mertua pasti akan tiba saat ini juga di Jakarta demi menemani anak bungsunya.


***


Teringat pertemuan pertama mereka dengan perempuan berusia 55 tahun tersebut. Kesan pertama yang Andre tangkap adalah keramahan dan penuh kasih sayang. Ibu Herawati, demikian beliau disapa langsung menyambut Andre didepan pintu kedatangan dengan senyum hangat yang melunturkan rasa gamang Andre sebelumnya. Ya, selama dalam perjalanan Andre sibuk memikirkan hal apa yang akan dia katakan saat pertama kali bertemu camer alias calon mertua. Ia sibuk merangkai kata-kata yang akan disampaikannya. Namun, ketika bertemu Ibu Herawati Andre seperti bertemu teman lama, tidak ada kecanggungan sedikit pun. Perempuan batak bernama Herawati itu jauh dari kesan garang dan menakutkan. Pun demikian ayahanda Lani, meski beliau sedikit bicara, namun gestur tubuhnya menunjukkan kesan kekeluargaan yang nyata. Andre merasa nyaman berada diantara mereka.


"Saya sudah masakkan rendang seperti pesan Lani." Ujar Bu Hera saat mereka sudah duduk di meja makan.


Andre tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih, Bu."


Bu Hera menyendokkan nasi ke piring Andre,"Segini cukup?"


Andre lagi-lagi mengangguk. "Cukup, Bu."


Bu Hera mengangsurkan piring berisi nasi dan Andre menerimanya dengan ucapan terima kasih.


"Lauknya biar Nak Andre sendiri yang ambil, Ma. Nanti segan-segan kalau Mama yang ambil." Ujar Pak Azhar.


Andre tertawa. Tangannya bergerak mengisi piring dengan rendang, sayur rebusan dan sambal terasi. Perlahan ia menyendokkan makanan tersebut ke mulut, begitu menyentuh lidahnya Andre takjub akan rasanya, paduan yang sempurna antara lauk, sayur rebusan plus sambal, ini benar-benar enak. Tak salah Lani meminta Bu Hera untuk memasakkan rencang untuknya.


"Masakan Ibu enak sekali. "Puji Andre tulus.


Bu Hera terlihat sumringah karena pujian sang calon menantu. Pak Azhar juga ikut tersenyum.


"Mama Lani memang jago masak, Nak Andre. Semua yang beliau masak, rasanya mantap." Pak Azhar memuji istrinya. Bu Hera tersipu. Andre tertawa kecil. Di usia segini, mereka masih tampak mesra. patut dijadikan teladan, kata Andre dalam hati.


"Kalau Lani, bisa nggak masak makanan seperti ini, Bu?"

__ADS_1


"Alhamdulillah bisa. Saya sudah mengajari mereka untuk memasak sejak remaja. Masalahnya adalah Lani itu jarang di rumah, anaknya aktif dan banyak kegiatan, jadinya jarang masak juga. "Bu Hera tertawa. "Tapi dia tetap bisa masak, kok. Nak Andre nggak usah khawatir, saya sudah membekalinya dengan ilmu masak memasak."


Andre tertawa renyah.


Sehabis makan mereka duduk di ruang keluarga. Mata Andre terpaku pada foto keluarga berukuran besar yang terpajang di dinding. Tampak Bu Hera, Lani dan kakaknya dalam balutan kebaya putih, sedangkan Pak Azhar memakai kemeja batik yang warna dan motifnya senada dengan kain yang dipakai Bu Hera dan kedua anak gadisnya. Dalam foto itu Lani tersenyum lebar sehingga memperlihatkan gigi gingsulnya. Sangat manis. Ia tampak masih belia, tak jauh beda dengan kakaknya. Mungkin memang foto tersebut diambil saat mereka masih remaja.


Mata Andre beralih ke dinding lain, tempat foto wisuda Lani dan kakaknya tergantung. Ada juga foto Lani saat ikut pertandingan karate. Foto lain saat Lani memegang piala.


"Itu yang memegang piala, saat Lani menang lomba menulis cerpen pertama kali, waktu SMA. Yang memegang medali, saat ia menang pertandingan karate. Yang disebelahnya saat lomba bintang pop, waktu SMP."


Andre terperangah. Ini anak bakatnya kok banyak sekali, katanya dalam hati. Seperti mengetahui isi hati Andre, {ak Azhar tiba-tiba tertawa.


"Ya, begitu lah Nak Andre, kalau saya bilang serba bisa. Multitalented ya kalau kata anak muda. "Pak Azhar terkekeh. " Sejak TK dia sering ikut lomba pidato, baca puisi, menari, menyanyi, menulis cerpen, ikut pertandingan karate. Ia juga ikut pramuka, pecinta alam, basket, badminton, dan teater. Saya kadang heran, anak itu seperti tidak kenal rasa lelah. Walau memang tidak menjadi bintang, tapi tidak buruk-buruk juga prestasinya di segala bidang itu. Lani juga selalu meraih ranking umum di sekolahnya saat SD dan SMP. Saat SMA dia jadi anak yang biasa saja karena terlalu banyak saingan katanya. Walau nilai rapornya juga selalu baik."


Andre tersenyum. Kekagumannya terbit pada sosok seorang Maylani. Ternyata calon istrinya ini sosok yang luar biasa. Jika diibaratkan nasi goreng, maka Lani adalah nasi goreng spesial paket komplit. Andre tersenyum dan refleks mengusap tengkuknya. Ada sesuatu yang hangat menjalar di pipinya.


"Tapi begitu masuk kuliah, Lani sedikit berubah. Ia berpakaian lebih tertutup dan sering ikut pengajian. Organisasi yang dia pilih juga organisasi dakwah katanya. Walau dalam beberapa hal dia tidak berubah seperti bermain basket, badminton, dan karate. Ia juga masih sering menulis cerita saya lihat. "Bu Hera menimpali. "Satu hal yang paling saya syukuri dia sudah lebih perempuan lah. Sudah mau pakai rok atau gamis, bukan jeans belel atau celana gombrong lagi. Saya suka pusing lihat dia dulu, ke pesta aja pakai kaos. "Bu Hera tertawa.


Andre dan Pak Azhar ikut tertawa.


"Nak Andre juga pasti belum tahu, Lani itu jago bermain gitar, lho."


Wow... Andre tampak kaget . Hal apa lagi kira-kira yang akan membuatku kaget, Lan. Kata hatinya.


"Waktu SMP dia ribut minta diajarin main gitar. Saya sebenarnya tidak setuju dia bermain gitar, saya lebih suka dia berprestasi dalam bidang akademik, tapi dia memaksa terus. Akhirnya saya ajari. Ternyata di sekolah dia belajar lagi dengan teman-teman cowoknya. Mereka sering bernyanyi di sekolah saat istirahat, jadinya lebih mahir. Guru Keseniaannya mendukung, terbukti saat ada perayaan 17 Agustus di kecamatan, Lani dan teman-teman vokal grupnya tampil, Lani bernyanyi sambil bermain gitar." Kenang Pak Azhar.


"Iya. Papa ingat." Pak Azhar tersenyum. "Dari kecil temannya lebih banyak cowok, Nak Andre. "


Andre tertawa.


"Tapi saya sangat bangga padanya, karena dia sangat memegang teguh prinsip. Walau tomboi dia tetap memilih kegiatan yang tetap mengizinkannya memakai jilbab. Pernah ditawarkan ikut Paskibra saat SMP dengan syarat lepas jilbab, dia tidak mau. Dulu Paskibra belum boleh jilbaban. Lani diajak ikut karena posturnya yang tinggi untuk anak seusianya. Alhamdulillah Lani menolak walau sudah dibujuk-bujuk. Saya coba pancing, ikut aja, kan bukanya juga cuma sehari. Lani tetap bilang tidak. Dia lebih memilih bernyanyi dengan gitarnya."


Andre berdecak kagum. Hingga kini sifatnya yang teguh dalam memegang prinsip itu memang masih terlihat.


"Lani anak yang istimewa." Mata Pak Azhar menerawang, mungkin ia merindukan anak gadisnya yang jauh disana.


Andre menghela nafas.


"Sudah berapa lama Nak Andre mengenal putri kami?" tanya Bu Hera


Penekanan pada kata 'putri kami' membuat jantung Andre berdenyut lebih kencang rasanya. Terasa sekali betapa Lani sangat dicintai oleh keluarganya.


"Dua tahun, Bu. Lani dulu magang di kantor tempat saya bekerja. Setelah dia jadi advokat, Lani pindah kantor. Sejak itu kami tidak pernah komunikasi lagi. Namun untuk proses mengenal lebih jauh baru sebulan ini. Perkenalan kami dijembatani oleh kakak perempuan saya."

__ADS_1


"Sudah sejauh apa Nak Andre mengenal Lani?"


"Selama bekerja bersama, saya mengenal Lani hanya sebatas rekan kerja, Pak.Untuk hal-hal yang bersifat pribadi tentunya belum terlalu banyak yang saya ketahui, justru saya mendengar banyak hal baru tentang Lani setelah bertemu Bapak dan Ibu. Namun, saya yakin kami akan bisa saling belajar memahami karakter masing-masing seiring berjalannya waktu. Saya yakin Lani anak yang baik dan shalihah. Itu sudah cukup. Saya juga banyak kekurangan, Pak, Bu, InsyaAllah Lani akan bisa menerima saya dengan segala kekurangan itu." Ujar Andre mantap. "Untuk itu lah saya datang kemari, selain ingin memperkenalkan diri, saya juga ingin meminta secara resmi kepada Bapak dan Ibu, izinkan saya menikahi putri Bapak dan Ibu; Maylani. Saya tidak bisa janji akan terus membuatnya bahagia, tidak akan membuatnya menangis, karena saya manusia biasa yang pastinya tidak luput dari kekhilafan dan kesalahan. Tapi saya berjanji akan berjalan beriringan, saling mendukung, saling menguatkan dalam cinta kepada Allah. Kami akan belajar bersama agar pernikahan ini nantinya menambah ketaatan kami kepada Allah. Hanya itu yang bisa saya janjikan, Pak, Bu. Mohon untuk terus membimbing dan mengingatkan kami."


Bu Hera tampak mengusap air mata yang mulai jatuh di sudut matanya.Ada rasa haru mendengar ucapan Andre.


"Lani anak bungsu, dia juga keras kepala. Mungkin suatu saat dia akan menyusahkan Nak Andre dengan segala sifatnya itu. Dia juga pendebat yang tak mau kalah. Jika suatu saat dia membuat masalah, tolong ingatkan dengan ihsan, jangan sakiti raganya. Jika dia tidak bisa dididik, kembalikan dia pada kami. Kami yang akan mendidiknya. Itu permintaan kami." Kata Pak Azhar dengan mata berkaca-kaca.


"InsyaAllah, Pak. Mohon doanya."


Pak Azhar manggut-manggut.


"InsyaAllah keluarga saya akan secepatnya datang kemari, Pak. Sesuai adat istiadat di semua suku, lamaran secara resmi itu harus tetap ada. Keluarga saya juga meminta demikian. Waktunya akan kami sampaikan kemudian."


"Kami tunggu kedatangannya."


Andre menghela nafas, tugasnya sudah selesai. Ia merasa lega, akhirnya bisa menyampaikan maksudnya dengan lancar. Khitbah yang sesungguhnya telah selesai. Tinggal memboyong keluarga besarnya untuk menemui keluarga Lani.


    Lalu, keheningan tercipta diantara mereka bertiga. Selanjutnya, Bu Hera yang memecah keheningan dengan bertanya tentang keluarga dan pekerjaan Andre. Kemudian suasana kembali cair, mereka bertiga terlibat obrolan yang seru. Sesekali gelak tawa menghiasi ruang keluarga itu.


"Nggak terasa sudah Zhuhur, kita ke masjid Nak Andre?" ujar Pak Azhar begitu mendengar sayup-sayup suara adzan.


"Siap, Pak. Mari kita ke masjid." sahut Andre dengan senyum dikulum.


"Naik motor atau jalan kaki?"


"Mana yang membuat Bapak lebih nyaman aja." Andre teringat cerita Lani bahwa Papanya menderita penyakit asam urat.


"Naik motor aja, Pa. Nak Andre tolong bocengin Bapak ya."


"Baik, Bu."


"Kita naik motor Lani saja. Papa kangen dibonceng dengan motor itu."


Bu Hera menyerahkan kunci sepeda motor  sambil menggiring Andre ke garasi.


"Itu motor Lani." Bu Hera menunjuk sepeda motor bebek berwarna hitam. Andre mengeluarkan motor Lani ke halaman.


"Motor ini sudah jarang dipakai. Bapak pakainya motor matic, karena kakinya sakit." Ujar Bu Hera. "Palingan sesekali dipanasin mesinnya sama Bapak."


Andre tersenyum.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2