Pengacara Cintaku

Pengacara Cintaku
I Love You, Honey.


__ADS_3

    Masa cuti keduanya sudah berakhir, esok hari mereka harus kembali kepada rutinitas semula. Sehabis sarapan mereka bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Malas banget rasanya mau berangkat kerja." keluh Andre.


"Tumben kamu malas kerja, Mas. Bukannya kamu workaholic, ya?" Lani menimpali sambil memasang kaus kaki.


"Itu dulu. Sekarang berbeda. Pengen di rumah aja, berdua sama kamu." Andre mulai menggoda istrinya.


"Gombal banget sih, Mas."


"Aku serius, lho. Kalau nanti tiba-tiba aku kangen gimana?"


"Nggak usah lebay, ah. Ntar sore kan udah ketemu lagi."


Andre manyun. Tawa Lani berderai melihat ekspresi suaminya. Mana nih Andre yang luar biasa garang saat sidang? Ternyata bisa bersikap kayak anak kecil juga.


    Sebelum ke kantor, Andre mengantar istrinya terlebih dahulu.


“Ntar sore aku jemput jam berapa, sayang? “


“Nggak usah dijemput Mas. Lani kan mau jemput motor dirumah Latifah sekalian silaturahim. “


“Harusnya bareng dong, aku kan pengen ketemu Aril juga. “


“Besok-besok kan bisa kesana lagi, Mas. “


“ Oke deh. “


Lani membuka pintu mobil. “Eh, lupa. “ Lani urung turun dari mobil, ia menutup kembali pintunya. Sambil tersenyum Lani mencium tangan Andre.


“Nggak dicium nih? “ Andre mengerling sambil menunjuk pipinya.


Lani menghela nafas lalu mencium pipi Andre kiri dan kanan, Andre membalas dengan mengecup kening


istrinya lama. Kayaknya disengaja nih…pikir Lani.


“Mas, udah dong…Lani mau masuk nih. “


Andre tertawa lalu melepas kening istrinya.


“Disengaja kan…sukanya! “ Lani menonjok bahu suaminya.


“Selamat bekerja, sayang…”


“Sama-sama. “ Lani turun dari mobil lalu melambaikan tangan pada suaminya.


Andre pun berlalu. Lani menghembuskan nafas ke udara.


Sehabis mengantar istrinya, Andre meluncur ke kantor dengan hati yang berbunga. Begitu ia melangkahkan kaki kedalam kantor, Andre disambut dengan tepuk tangan dan ucapan selamat. Andre tersenyum bahagia.


“Wah…sejak menikah, wajahmu kelihatan lebih segar, nggak kusut lagi seperti dulu. “ komentar Mardin saat


mereka tinggal berdua saja diruangan Andre.


“Alhamdulillah, karena udah ada yang ngurusin. Kamu juga gitu. “


“Gimana, kamu nggak salah pilih kan? “ goda Mardin.


Andre tertawa. “Alhamdulillah, Lani adalah istri yang sempurna di mataku. Tahu nggak, kita kan sekarang masih pacaran, jadi ya…lagi asyik-asyiknya saling mengenal pribadi kita masing-masing. “


“Duh…yang pacaran. Udah tahu kelebihan dan kekurangannya dong sekarang? “


“Sedikit banyaknya sudah tahu. Tapi, kan belum semuanya. Namanya juga baru lima hari menikah. Tahu nggak Din, aku jadi ingat kata-kata kamu dulu, bahwa aku dan Lani itu pasti punya persamaan. Sekarang aku mengakuinya karena emang ternyata ada. Kami sama-sama suka coklat, sama-sama keras kepala, sama-sama suka komik Conan, dan yang paling menakjubkan golongan darah kami sama-sama B. “


“Waw…hebat banget. Jarang-jarang lho.Tapi jangan karena sama-sama keras kepala jadi berantem ya, ntar malah saling mempertahankan ego masing-masing. ”


Andre tersenyum.


“Kamu udah jatuh cinta sama dia? “


“Udah dong…”


“Udah diungkapin? “


“Udah, tapi katanya dia nggak dengar. “


“Kok bisa? “


“Aku bilangnya saat kita berdua mau tidur. “ ujar Andre pelan.


Mardin terbahak-bahak. “ Lo gila kali ya, Ndre. Masa bilang cinta saat orang mau tidur. “


Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Say it with flower, atau pakai coklat atau sambil dansa. Yang romantis dong…”


“Aku kan mau sesuatu yang beda. Nggak mau ngikut yang udah biasa. “


Mardin mendorong kepala Andre. “ terserah kau lah. “


Andre angkat bahu. Dia merasa itu udah romantis kok. Kan saat itu malam pertama mereka. Lani aja yang tukang tidur sampai-sampai nggak dengar apa yang dia bilang. Ah…tiba-tiba Andre kangen


pada Lani. Padahal baru berpisah beberapa jam. Andre merogoh saku celananya, mengeluarkan HP dan mengetik pesan untuk sang bidadari.


Sayang, lagi sibuk ya?


Beberapa menit kemudian balasan pesannya masuk.


Nggak juga. Tp lg ada perkara yg masuk neeh…


Qta mau rapat siapa yg bkal megang. Knp Mas?


Andre membalas lagi.


Moga km yg megang. Kangen nih…; ) BGT!!!


Lani membalas.


Gombal ah…kyk ga serumah aj.


Andre tertawa.


He…he. Sampe ketemu dirumah ya.

__ADS_1


Balasan dari Lani,


Iya Mas sayang. Btw, mau mkn ap ntr mlm?


Andre tersenyum,


Terserah km. Ap pun psti aq mkn asal km yg msk.


Lani membalas,


Ya, udh klo gtu. Dagh…lovu u Mas…


Andre menghela nafas lalu tersenyum lagi.


                    @ @ @


Latifah dan Lani berpelukan lama sekali. Mereka saling melepas rindu. Mata keduanya basah saking harunya.


“Barakallahu ya ukhti…” ucap Latifah


Lani tersenyum. “ Mana si kecil? “


“Tuh, didalam lagi bobo'. “


“Siapa namanya? “


“Humairah. “


Latifah mempersilahkan Lani duduk.


“Mas Andre apa kabar? “


“Baik. Dia juga pengen kesini, tapi aku bilang besok-besok aja kalau dia lagi nggak sibuk. Sekarang


dia masih megang satu kasus, makanya balik ke Jakarta juga cepat. “


“Wah…nggak bisa honeymoon, dong. “


Lani tertawa. “Kan bisa di rumah. “


Latifah terkekeh.


“Apa Mas Andre masih jutek? “


Lani mengulum senyum. Jutek apaan? Malah jadi aneh, suka ngegombal. Kata hati Lani.


“Nggak lah. Mana mungkin sih dia jutek sama aku. Aku kan istrinya.“


“Pasti kalian lucu ya…dulunya suka berantem eh…sekarang malah hidup bersama. “


Lani tertawa.


“Nggak jadi bikin resepsi di Yogya? “


“Belum tahu juga ya. Kalaupun jadi tidak mungkin di bulan ini, Mas Andre masih sibuk banget. “


Mereka pun ngobrol  hingga akhirnya Lani pamit, dia harus menyiapkan makan malam untuk Andre.


                                    @ @ @


“Katanya kangen tapi kok pulang malam. “


“Maaf ya Lan. Tadi aku ketemu klien dulu. “


“Udah beres? “


“Ya. Minggu depan sidang lagi. Aku harus kerja keras nih. Oh, ya gimana tentang perkara yang masuk tadi,


jatuh ke tangan kamu kan? “


Lani mengangguk. “Tapi  Lani cuma bantuin Bu Sarah. Kayaknya mereka belum percaya kalau Lani megang sendiri. “


“Nggak pa-pa. Kan masih baru. Besok-besok kalau udah lihat kinerja kamu pasti mereka bakal percaya


juga. “


“Lani masih perlu banyak belajar Mas. “


“Itu harus. Selain banyak baca, learning by doing lebih baik. Semakin sering kamu menangani suatu perkara kemampuan kamu akan semakin terasah dan kamu semakin bagus kerjanya. Oh, ya masak apa malam ini? “


“Ayam goreng sama sayur bayam. “


“Pecinta ayam. “ Andre mencubit hidung istrinya.


Lani tersenyum. “Mas bilang, kan terserah Lani. “


“Iya iya…aku suka ayam kok.“


Lani menggamit lengan suaminya manja. “ Mas mau makan dulu atau mandi dulu? “


“Kayaknya mandi dulu deh, sayang. Biar segar. “


“Oke deh. Lani siapin makanannya dulu ya. “


Andre mengangguk.


                                                @ @ @


    Tak terasa pernikahan Lani dan Andre sudah memasuki bulan ketiga. Masih seumur jagung memang, tapi mereka sudah bisa saling menyelami karakter masing-masing dan berusaha menyatukannya. Melebur perbedaan-perbedaan yang ada menjadi kesamaan yang semakin mempererat ikatan cinta mereka. Banyak orang bilang, di usia pernikahan yang masih muda ini, yang terasa masih madu nya saja, empedu nya belum. Tapi mereka bertekad jika suatu saat terbentur masalah yang memaksa a untuk menelan empedu , mereka akan segera mencari penawarnya. Semua dikembalikan pada Allah. Bukankah ikatan ini juga karena Allah?


    Lani dan Andre baru saja saling menyimak hafalan Al-Qur’an masing-masing. Rutinitas yang selalu mereka usahakan untuk tetap dilakukan, minimal sepekan sekali. Saling menyimak bacaan Al-Qur’an, saling membangunkan untuk shalat tahajjud, dzikir Al-Ma’tsurat bersama sehabis Subuh dan saling mengingatkan untuk shalat Dhuha menjadi aktivitas sehari-hari mereka. Mereka tak ingin cinta kepada Sang Khalik menjadi berkurang hanya karena terlalu asyik menikmati cinta sang kekasih, dan Lani sangat bersyukur Andre selalu membimbingnya untuk tidak lalai akan cinta pada Sang Pencipta.


“Mas, kok Lani belum hamil juga ya. “ ujar Lani sambil menyandarkan kepalanya di bahu Andre masih dengan


mukena yang membalut tubuhnya.


“Sabar dong…kan baru tiga bulan nikahnya. “


“Tapi kan, Lani udah nggak sabar mau nimang anak. “


“Mungkin Allah ingin memberi kita kesempatan pacaran yang panjang. “ Andre menggenggam tangan istrinya.


“Emang Mas nggak pengen cepat-cepat punya anak? “

__ADS_1


“Pengen lah. Tapi, serahkan saja semuanya pada Allah. Allah tahu waktu yang tepat untuk memberi kita anak. Mungkin sekarang belum saatnya. Eh, ngomong-ngomong ini mukena yang Mas kasih waktu


kita berhasil menangani kasus Bu Niar kan? “


    Sekarang Andre sudah menyebut dirinya sendiri dengan sebutan ‘Mas’. Perubahan yang baik dalam hubungan mereka. Diawali dengan sebutan ‘saya’ berubah menjadi ‘aku’ dan lebih akrab lagi menjadi ‘Mas’ mengikuti panggilan Lani untuknya. Lani senang dengan perubahan kecil itu. Mungkin masalah sepele tapi bagi Lani itu penting karena hal tersebut menunjukkan sejauh mana pasangan kita sudah menerima kita menjadi bagian dari dirinya sendiri.


Lani mengangguk. “Masih ingat ternyata. Bu Niar apa kabar ya Mas? Kalau beliau tahu kita akhirnya


menikah, pasti beliau akan tersenyum. “


“Ya…ucapan Bu Niar terkabul.“ Andre tertawa.


“Mas, Lani mau nanya. “


“Nanya apa? “


Lani mendesah. “Mas cinta nggak sama Lani? “


Andre tersentak mendengar pertanyaan itu. “ Cinta dong. Kalau nggak cinta mana mungkin bisa bertahan


sampai sekarang. “


“Tapi, Mas nggak pernah bilang ke Lani. “ Sudah tiga bulan menikah tapi Lani belum pernah mendengar


Andre berkata ‘aku cinta kamu ‘ padanya.


“Perlu ya diucapin. Mas kan udah buktiin dengan perbuatan. Apa itu nggak cukup. “


“Kadang sesuatu itu perlu diucapkan Mas. Biar ada penguatan. “


Andre mencubit pipi istrinya. “Tapi menurut Mas, nggak terlalu penting lah. Tak perlu banyak berkata-kata,


tunjukkan aja dengan tindakan. “


“Buat Mas nggak. Tapi buat Lani penting. Kenapa sih susah banget bilang cinta, Mas?“ Lani manyun.


“Mas kan udah pernah bilang sebenarnya. “


“Kapan? “


“Di malam pertama kita. Kamu nya aja yang nggak dengar, dasar tukang tidur!”


“Ada ya? “ tanya Lani lugu. Dia berusaha mengingat-ingat. Malam itu memang samar-samar ia mendengar Andre bilang ‘I love you, honey’ sambil memeluknya, tapi mata Lani sudah terlalu berat sehingga dia tidak dapat mencerna dengan baik apa diucapkan suaminya. Lani mengira saat itu dia sedang bermimpi.


“Ingat? “


“Samar. “


Andre menjitak kepala istrinya pelan.


“Mas sih, bilangnya di saat orang udah mau tidur. Coba bilangnya di awal, Lani kan bisa dengar dengan baik.“


Andre geleng-geleng kepala. “Malah menyalahkan Mas. Kamu ini ya…” Andre menjitak kepala istrinya sekali


lagi.


“Kalau gitu, diulang lagi dong…” Lani memutar duduknya menghadap Andre.


“Apanya? Malam pertamanya? Ini sih udah malam yang keseratus. “


“Ye…maksud Lani kata cintanya. “ Lani manyun.


Andre garuk-garuk kepala. “Ntar kamu tidur lagi. “


Lani menggeleng.


“Maunya pakai apa? Pakai bunga, coklat atau pakai ayam goreng? “ Andre bercanda.


“Pakai perasaan aja. “


    Andre merangkum wajah Lani dengan kedua tangannya. Ditatapnya mata bening milik Lani. Kali ini Lani


menentangnya sambil tersenyum. “ Dengar ya Lani sayang. Mas cintaaaa…banget sama kamu. Setinggi bintang di langit, sedalam samudra Hindia, seluas dunia. Sekarang dan selamanya. “ Andre mengecup dahi istrinya – kebiasaan yang sangat Lani sukai – dengan penuh sayang. “I Love you honey…”


Mata Lani berkaca-kaca, hatinya turut basah mendengar ucapan suaminya. Ada hangat yang menjalar dari


dada, leher hingga ke pipinya. Ada getar yang tercipta di rongga dadanya. Lani menyentuh tangan Andre yang merangkum wajahnya. Tangan itu begitu hangat sehangat hati Lani saat mendengar kata cinta dari bibir suaminya.


“Lani juga Mas. “


Andre meraih Lani kedalam pelukannya. Mereka berpelukan dengan erat, saling mengalirkan cinta yang ada


didalam diri masing-masing.


"Sudah? Sudah puas sekarang?"


Lani mengangguk, dalam hati ia berdoa.


Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini


telah terhimpun dalam cinta pada-Mu


telah berjumpa pada taat pada-Mutelah bersatu dalam dakwah pada-Mu


telah berpadu dalam membela syariat-Mu


Kokohlah Ya Allah ikatannya, kekalkanlah cintanya


Tunjukilah jalan-jalannya


Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu


yang tiada pernah pudar


Lapangkanlah dada-dada kami


dengan limpahan keimanan kepada-Mu


dan keindahan bertawakkal di jalan-Mu


@ @ @


 

__ADS_1


 


__ADS_2