
”Pak Andre lagi ada masalah ya? ” tanya Margareth.
Andre tersenyum kecut. ”Ya, begitulah. ”
”Boleh tahu masalah apa? Mungkin saya bisa bantu.”
Andre menarik nafas panjang. Cerita itu pun mengalir. Margareth terperanjat saat mendengar penuturan Andre.
”Oh, My God. Kenapa saya harus tersangkut juga. ”
”Saya yakin ada yang sengaja ingin memfitnah saya dan membuat hubungan saya dengan istri menjadi rusak."
Margareth terpekur. "I’m so sorry, Pak Andre.”
”Ini bukan salah anda, Maragareth. ” Mardin yang menyahut. ”Kami akan menyelidiki masalah ini.”
”Kalau diizinkan, saya ingin menemui istri anda, Pak Andre. Saya ingin menjelaskan masalahnya. ”
”Tidak usah. Dia sedang dalam kondisi labil, tidak akan mau mendengar apa-apa. ”
@ @ @
Semburat merah jingga di ufuk barat menandakan senja telah turun. Andre melangkah masuk ke mobilnya. Sudah satu jam dia duduk-duduk di tepi pantai itu, mencoba mengusir kegundahan hati dengan memandangi laut lepas ciptaan Allah. Dia hanya diam sambil hatinya sibuk berzikir. ’Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub, dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram. Yah...hatinya sedikit tentram saat ini. Setiap malam Andre selalu tenggelam dalam sujud panjang. Berharap dan memohon agar ada titik terang dalam masalahnya.
Sudah tiga minggu Andre meninggalkan rumah. Jujur saja, sebenarnya ia sangat merindukan Lani dan Saif. Sesekali dia menelepon Saif ke rumah, ketika Lani sedang tidak ada. Dari music player di mobilnya terdengar lagu Bila Kau Tak Disampingku milik Sheila on Seven. Lagu ini akhirnya menjadi soundtrack bagi Andre.
Ponselnya berdering., panggilan dari Mardin.
”Ndre, dimana kau?” suara Mardin
”Di pantai. Kenapa?”
”Aku sudah menemukan biang masalahmu. ”
Mata Andre berbinar. ”Serius kamu? ”
”Iya, serius dan dia sudah mengaku padaku. Besok kau temui dia. ”
” Siapa ”
”Besok kau akan tahu.”
Andre mengucap syukur berkali-kali. Ini jawaban dari doa-doanya.
@ @ @
Davina sesenggukan, sementara Andre menatapnya dengan tajam.
”Kenapa kamu lakukan ini sama saya, Vina? ”
”Karena Vina mencintai Mas Andre. Vina nggak rela Mas dengan perempuan lain. ”
”Saya kan sudah pernah bilang, saya ini bukan orang yang tepat buat kamu. Pasti akan ada laki-laki lain yang lebih baik dari saya yang bisa menjadi pendamping hidupmu. Dari dulu hingga sekarang saya menganggap kamu adik, dan itu tidak berubah. Cobalah membuka hati untuk laki-laki lain. Saya sudah punya keluarga, dan sangat mencintai mereka. Kamu tahu, karena perbuatanmu saya harus keluar dari rumah karena Lani tidak percaya pada penjelasan yang saya berikan. Rumah tangga saya hampir hancur. Apa kamu mau disebut sebagai penghancur rumah tangga?”
__ADS_1
”Vina nggak peduli. Vina cinta sama Mas Andre.” Davina menghambur ke tubuh Andre dan memeluknya. Andre menolaknya dengan agak kasar.
”Maaf Vina. Jangan lakukan hal bodoh seperti ini.”
Tangis Davina pecah. ”Semua karena perempuan itu. ”
”Semua ini bukan karena Lani. Memang bukan takdir kita untuk hidup bersama sebagai suami istri. Takdir kita hanya sebagai saudara. Jadi, sebagai saudara saya mohon kamu mau menemui Lani dan menjelaskan masalah ini. Saya sudah sangat lelah.”
Davina tidak menyahut.
”Sekarang terserah kamu, mau atau tidak memenuhi permintaan saya. Tapi, sekali lagi saya mohon, tolong temui Lani dan jelaskan masalahnya. Assalamu ’alaikum." Andre melangkah pergi meninggalkan Davina yang masih menangis. Iia tersenyum penuh kemenangan. Ia menggenggam erat ponselnya berisi rekaman pembicaraan dengan Davina tadi – Davina tidak tahu kalau Andre merekam pembicaraan mereka – dan rekaman itu akan ia serahkan pada Lani sebagai bukti. Kalau pun Davina tidak bersedia menemui Lani, setidaknya ia sudah punya alat bukti.
Andre menghampiri Mardin yang sudah menunggu di luar kafe.
”Beres Bro? ”
Andre mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar.
”Darimana kamu tahu kalau Davina lah pelakunya? ”
”Aku lagi ada janji bertemu dengan Margareth di kafe biasa. Nggak sengaja aku melihat Davina disana dengan jaket dan kaca mata hitam. Ketika kusapa dia gelagapan. Aku curiga, untuk apa Davina kesana? Dia tahu aku dan kau sedang menangani kasus Margareth dan sering bertemu disana. Hari itu dia menyangka kau juga ikut, ternyata tidak. Aku terus mengawasinya. Saat dia ke toilet, aku mengikutinya dan kami bertabrakan, tasnya jatuh dan dari dalam tas itu keluar sehelai fotomu dengan Margareth persis seperti yang kau tunjukkan padaku. Aku langsung saja menangkap tangannya dan menyuruh dia mengaku, dia berusaha lari. Terpaksa kupelintir tangannya dengan keras. Dia mengancam akan memberitahu ayahnya atas perlakuanku, aku tertawa dan mengatakan ayahnya akan lebih marah lagi kalau tahu kelakuan anaknya. Karena aku desak terus, akhirnya dia mengakui semua perbuatannya. ”
Andre berdecak kagum. ”Hebat kamu. ”
”Mardin gitu lho...” Mardin tertawa. ”Eh, kamu ingat nggak, saat kita keluar dari toko kue, kau tabrakan dengan seorang perempuan.”
Andre mengangguk.
”Dia orang suruhan Davina. Dia dibayar untuk meninggalkan noda lipstik di kemejamu. Saat itu jasmu kau pegang kan? Tapi ketika akan masuk mobil kau pakai kembali. Waktu perempuan itu menabrakmu, dia mengambil kesempatan memasukkan surat palsu itu kedalam tas mu, kau kan menunduk memunguti isi tas perempuan itu jadi tidak memperhatikan perbuatannya. ”
”Ya, aktris perusak rumah tangga orang. Tapi, tetap saja dia ceroboh. Untuk apa coba membawa-bawa fotomu dengan Maragareth itu, coba kalau dia nggak bawa mungkin aku nggak akan tahu. ”
”Itu semua kuasa Allah. Allah menjawab semua doa-doaku, makanya Dia ngin menunjukkannya lewat
cara itu. Terima kasih untuk semuanya ya, Bro”
”Biasa aja lah, kita kan sahabat. Aku juga stres melihatmu dan Lani bertengkar. Kalian pasangan paling serasi yang pernah kulihat. ”
”Jadi kau dan istrimu nggak? ”
”Setelah aku, maksudnya. ”
Andre tertawa.
”Sejak bertengkar dengan Lani, kondisimu sangat memprihatinkan. Kurusan, kusut, loyo dan jadi jelek. Lihat jenggotmu, sudah berapa minggu kau tak bercukur? Bukannya tak pernah jenggotmu selebat itu, biasanya tipis.”
”Aku ganteng hanya buat Lani. Ketika dia tidak melihatku, untuk apa aku rapi dan ganteng. ” ujar Andre lirih.
”Ah, lebay kali kau kutengok. Biasanya kau selalu tampil rapi, elegan, full senyum dan juga full energi. Sekarang, kayak entah siapa kau kutengok." ledek Mardin.
Andre tersenyum. Jelas saja dia kehilangan energi, sang sumber energi tidak mau lagi menyalurkan energinya untuk Andre.
"Dulu aja, habis kau marah-marahi si Lani. Sekarang cinta mati kau sama dia. Bisa-bisanya orang keras kayak kau jadi melow-melow. Seingatku dari dulu jarang kali kau dengar musik, sekarang tiap hari lagu nya Sheila on Seven itu kudengar kau putar. Sampai mau pecah kupingku.” Mardin terbahak.
__ADS_1
Andre ikut tergelak. "Masih ada lagu lain."
"Iya, lagu si Kotak." Mardin terpingkal-pingkal.
"Nah, itu kamu tahu."
@@@
Kamu tanya, aku menjawab
Kamu minta, aku berikan
Kusayangi kamu
'Ku bicara, kamu yang diam
Ku mendekat, kamu menghindar
Separah inikah kamu dan aku?
Bagaimana bisa aku tak ada
Di setiapmu melihat?
Sementara 'ku ada
Bagaimana bisa kamu lupakan
Yang tak mungkin dilupakan?
Aku selalu cinta - selalu cinta
Kamu hilang, aku menghilang
Semua hilang, yang tak kukira
Jangan tanya lagi, tanya mengapa!
Bagaimana bisa aku tak ada
Di setiapmu melihat?
Sementara 'ku ada
Bagaimana bisa kamu lupakan
Yang tak mungkin dilupakan?
Aku selalu cinta tapi kamu tidak
Tapi kamu tidak
Tapi kamu tidak
__ADS_1
(Selalu Cinta - Kotak)