
Mual dan muntah terus merajai Lani. Bahkan ***** makannya berkurang. Mencium wewangian pun mual, Lani selalu menutup hidungnya kalau Andre mendekat. Lani tidak tahan dengan bau parfum dan minyak rambut Andre. Akhirnya Andre bela-belain tidak memakai parfum demi isang istri. Melihat kondisi Lani yang demikian, ia sangat tidak tega. Andre memeutuskan membawa Lani ke dokter untuk konsultasi, walaupun Lani sudah menolak. Paham betul dengan karakter suaminya yang tegas, Lani pun menurut.
”Mual dan muntah itu biasa pada awal kehamilan. Biasanya pada trimester pertama kehamilan, wanita
hamil akan mengalami yang namanya mual dan muntah atau istilahnya morning sickness. Itu karena pengaruh perubahan psikologis dan adanya pengaruh perubahan hormonal. Hampir 50 – 90 % wanita
hamil akan mengalami mual pada trimester pertama. ”
”Jadi istri saya nggak pa-pa Dok? ”
Dokter Shafira tersenyum. ” Tidak apa-apa Pak.”
”Nah...Lani bilang juga apa Mas. Mas sih nggak percaya. Itu biasa. ”
”Tapi ada juga mual yang sangat berlebihan, kita kenal dengan istilah hiperemesis gravidarum. Berlebihan maksudnya melebihi kebiasaan. Selain itu juga disertai dengan penurunan berat badan. Bagi wanita yang menderita hal ini perlu pengobatan yang intensif. Tapi dari hasil pemeriksaan kami, istri anda bukan penderita hiperemesis gravidarum. Oleh sebab itu, Pak Andre tenang saja. ”
Andre dan Lani tersenyum.
”Gimana cara untuk mengurangi rasa mual itu Dok? ” tanya Andre lagi. Lani terteawa kecil melihat suaminya yang begitu antusias. Ini yang hamil Lani atau Andre, ya? Dokter Shafira pun tersenyum.
”Ibu Lani harus makan tepat waktu dan jangan berlebihan, maksudnya dalam porsi kecil saja. Makan makanan berkarbohidrat dan berprotein tinggi seperti buah dan sayur, roti, kentang, biskuit. Hindari makanan berlemak, pedas dan berminyak. Ibu Lani juga harus minum air putih yang cukup. Selain air putih juga minum jus buah. Hindari minuman yang mengandung kafein dan karbonat. Istirahat yang cukup dan minum vitamin. Nanti akan saya beri vitamin untuk Ibu Lani. Satu lagi, ketika bangun pagi jangan langsung berdiri, duduk dulu beberapa menit baru kemudian bangkit. ”
”Baik Dok, saya akan ikuti saran Dokter. Terima kasih ya Dok. ” Kali ini Lani yang menjawab.
”Sama-sama Bu. ”
Mereka keluar dari ruang praktik, Andre terus menggandeng tangan istrinya.
"Lani bilang juga apa, Mas. Morning Sickness itu biasa. Sebelumnya Lani sudah konsultasi juga."
"Mas khawatir lihat kondisi kamu."
@ @ @
Hari Minggu. Andre sedang asyik dengan laptopnya. Lani berbaring diatas sofa sambil membaca majalah. Sesekali tangannya menarik-narik rambut Andre yang duduk di lantai – kebiasaan aneh Lani sejak hamil – Andre sudah terbiasa meskipun pada awalnya sempat kaget.
”Mas...”
”Ya sayang. ” sahut Andre tanpa megalihkan pandangan dari laptop di hadapannya. ”
”Lani pengen banget deh makan lepat singkong. Mas tahu kan lepat singkong.”
Andre berpikir sejenak. ” Yang mana tuh? ”
”Lepat singkong atau lemet singkong. Kalau di tempat Lani namanya lappet gadong."
Andre melongo.
"Yang itu lho Mas. Singkongnya diparut terus dikasih gula yang sudah dicampur dengan kelapa parut lalu dibungkus daun pisang, terakhir dikukus. Mas pernah makan nggak? ”
”Kayaknya nggak pernah deh. Mas tahunya nagasari. Asalnya dari Sumatera ya? ”
”Iya. Tapi masa sih disini nggak ada Mas. ”
”Belum pernah nemu. ”
Lani menyisir rambut Andre dengan jari jemarinya. ” Mas, Lani pengen banget makan lepat singkong. Mas cariin ya...”
”Mau nyari dimana?"
”Di pasar atau dimana gitu. ”
Andre menghela nafas. ” Susah nyarinya, Nyonya...”
__ADS_1
”Mas usahain dong. ” Lani mulai merengut.
Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ”Ya udah, Mas telepon agen perjalanan dulu ya? ”
”Kenapa nelpon agen perjalanan, buat apa? ” Lani bingung.
”Mau pesan tiket buat ke Medan. Ntar Mas nyarinya disana aja, atau Mas suruh Mama yang buatin. ” Ujar Andre kalem.
Lani tambah merengut. Andre kembali meneruskan pekerjaannya. Lani meleletkan lidahnya pada Andre, tapi Andre tidak melihat karena posisinya membelakangi Lani.
Seharian itu Lani lebih banyak diam. Dia bicara kalau Andre bertanya saja. Andre kesal melihat istrinya, tapi mungkin salahnya juga karena tidak menuruti kemauan istrinya, tapi ia juga sangat sibuk, dan belum tentu juga ada di pasar.
”Sayang, Mas buatin nasi goreng mau? ” tanya Andre pada Lani yang sedang menyetrika.
”Makasih Mas, Lani udah kenyang. ”
”Kalau gitu Mas beliin coklat aja ya...”
Lani mencoba tersenyum, meskipun terlihat dipaksakan. ” Lagi nggak pengen makan coklat Mas. Kemarin Lani udah ngabisin satu batang coklat yang gede banget di kantor. Dikasih sama Mayang. ”
”Oh...” Andre kehabisan akal untuk merayu istrinya. ” Kalau es krim, mau ya ? ”
”Gigi Lani sekarang sering ngilu Mas, jadi malas makan es krim. Mas lagi banyak kerjaan kan? Kerja lagi sana. ” Lani setengah mendorong tubuh Andre.
Andre kembali ke ruang kerjanya. Tapi dia tidak langsung kerja, pikirannya melayang pada Lani.
Ia butuh teman cerita, akhirnya Andre menelepon Mardin.
”Din, pusing banget nih...”
”Kenapa kau? ”
”Lani ngambek. ”
”Karena apa? ”
nyari dimana. Kau tahu nggak, nyari lepat singkong di kota ini dimana? ”
Terdengar suara Mardin terbahak di seberang sana. ”Hah? Lappet gadong? Aku pun tak tahu Bro...itu makanan khas dari kampung kami sana. ”
”Makanya aku bingung. Mana aku lagi sibuk banget, istriku malah nambah beban pikiran aja. ”
”Jangan bicara begitu kau Bro. Dia sedang mengandung anakmu. Bukan dia yang pengen tuh, tapi
anakmu. Kau pikir hamil itu enak? Tersiksa tau! ”
Andre menghela nafas. Mana mungkin janin yang pengen, pasti ibunya lah, janin kan belum tahu apa-apa, batin Andre. ”Tapi, permintaannya aneh, Din. Kalau kami tinggal di Medan mungkin akan sangat gampang menemukannya. ”
”Sepertinya dia kangen keluarganya tuh. ”
”Ah, setiap hari Mama nelpon kok. Susah ya menjaga perempuan hamil. ”
"Tetap beda, Bro di telepon dengan ketemu langsung." Mardin terkekeh. ”Kalau nggak mau susah jangan nikah. Jadi, aku bisa bantu apa Bro? ”
”Kau bantu cariin dong...”
”Aku harus cari dimana? ”
Andre terdiam beberapa saat. ”Aha...!!! istri mu kan orang batak juga Din, mungkin dia bisa buat lepat singkong itu. ”
”Aku yakin dia bisa. Istriku kan jago masak. ”
”Nah, aku minta tolong dong...bilang sama istrimu deh untuk masakin tuh makanan. Ntar aku
jemput. ”
__ADS_1
”Beres. Buat kau apa sih yang nggak, semuanya nggak. ”
Andre senyum-senyum. Semua beres. Nanti tinggal menunggu berita dari Mardin. Tunggu ya istriku sayang, makanan yang kamu idamkan itu akan segera datang.
@ @ @
Andre terharu melihat istrinya yang menikmati lepat singkong buatan istri Mardin dengan lahapnya. Di luar kesepakatan, Mardin dan Lyla-istrinya- yang mengantarkan langsung makanan itu.
”Makasih banyak ya Kak Lyla. Tahu aja deh kalau aku lagi ngidam makanan ini. ”
Lyla tersenyum. Mardin dan Andre berpandangan.
”Emang kamu nggak bisa buat ya Lan? ” tanya Mardin.
”Bisa lah Bang, tapi aku nggak pengen masakan sendiri. Aku mau nya masakan orang lain. ”
Mardin manggut-manggut. ”Andre...Andre, anakmu ini lho...masih dalam kandungan udah buat susah. Apalagi kalau sudah lahir nanti. Persis seperti dirimu. ” celetuknya.
Dahi Lani berkerut. Andre jadi salah tingkah. Jangan-jangan...pikir Lani.
”Orang hamil emang biasa begitu. ” kata Lyla sambil mendiamkan anaknya yang merengek terus. "Aku juga pernah ya, Bang pengen makan arsik ikan mas." Lyla tertawa.
"Iya, malam-malam pula tuh."
"Kadang keinginan itu nggak bisa ditahan. Kebayang terus." tambah Lyla lagi.
Andre tertawa.
"Besok-besok kalau pengen makan sesuatu lagi yang sulit didapat disini, kasih tahu aja ya. InsyaAllah aku masakin, deh."
"Iya, Lan. Kau mau apa lagi, bilang aja. Ombus-ombus, onde-onde, itak-itak, pohul-pohul?" Mardin menyebutkan nama-nama kue.
"Itak-itak kayaknya enak juga itu, Bang tapi nggak usah dikukus, mentah aja. Lani suka juga tuh, Kak Lyla."
Andre hanya bisa melongo mendengar percakapan mereka bertiga. Ia merasa terasing, karena mereka bertiga Batak, hanya dia sendiri Jawa.
"Kenapa, Bro? Bingung kau ombus-ombus dan itak-itak itu apa?" Mardin tertawa melihat ekspresi Andre.
"Itak-itak itu kue yang ada waktu nikahan kita itu lho, Mas. Waktu keluarga Mas datang kan bawa makanan, ada nasi, lauk, ada pisang, ada kue kan yang pakai gula merah, itu lah itak-itak."
Andre menggeleng. "Nggak ingat."
"Ya, sudah lah."
”Mas ya yang minta Kak Lyla masakin aku lepat singkong ini. ” kata Lani setelah Mardin dan Lyla
pulang.
Andre tidak menjawab.
”Mas...jawab dong...”
”Yeah... ” Andre garuk-garuk kepala. ” Yang penting, keinginan kamu tercapai kan, sayang. ”
”Tapi Mas sudah merepotkan orang lain. ”
”Aku lebih repot lagi kalau sampai mereka tidak bersedia membuatnya. Ah, sudahlah, sayang. Mereka
kan sekalian silaturahim juga. ”
Lani terdiam.
”Aku mau coba juga dong. Rasanya gimana sih? ” Andre mencomot kue dihadapannya dan langsung
memakannya. ”Hmm...enak juga. ” Puji Andre. ”Duh, anakku...Ndeso banget sih, masa’ kesukaannya singkong?”
__ADS_1
Lani hanya diam.
@@@