Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Kesiapan Aida


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Elvan membuat Aida benar-benar malu. Dia tidak menyangka kalau Elvan akan secepat ini berniat untuk menikahinya. Apa ini sudah saatnya?


"Kenapa Aida? Kenapa kau menundukkan kepalamu lagi? " tanya Elvan.


"Tidak apa-apa A'. Apakah akan secepat ini? " tanya Aida ragu.


"Iya, tentu saja. Kau sudah menungguku selama 20 tahun, sekarang aku sudah datang dan aku akan mengakhiri penantianmu itu. Kita akan segera menikah jika kedua orang tuaku sudah datang, dan mommy ku sudah melihat mu. " Kata Elvan menjeda ucapannya.


"Aku juga ingin mengenalmu lebih dekat. Sebab mengingat pesan dari abimu, kalau kita tidak bisa melakukan apa-apa sebelum kita menikah. " kata Elvan dengan wajah sedikit kesal.


Mendengar ucapan Elvan, kembali Aida mengangkat wajahnya dan menatap Elvan. Dia tidak mengerti apa maksud ucapan Elvan. Tidak bisa melakukan apa-apa? memangnya apa yang akan mereka lakukan?


"Maksud Aa' apa ya? "


Elvan jadi salah tingkah mendengar pertanyaan Aida. Karena dia tadi tidak bermaksud mengucapkannya, tapi kenapa juga kalimat itu bisa keluar dari mulutnya.


"Enggak, nggak apa-apa kok. Aku ingin segera menikah denganmu, agar aku bisa membawamu jalan-jalan, atau kita bisa berpacaran dengan halal. " kata Elvan mencari alasan.


Mendengar ucapan Elvan, Aida kembali menunduk dan tersenyum malu dibalik cadarnya. Elvan yang melihat Aida salah tingkah, jadi ikut tersenyum.


"Jadi, apa kau benar-benar sudah siap. Jika aku akan menikahimu dalam waktu dekat?" tanya Elvan lagi.


"Aida siap A'. Tapi nanti Aida akan membicarakan dengan Umi dan Abi. " jawab Aida.


"Tentu saja Aida, Aku juga akan mengatakannya maksud kedatanganku dan orang tuaku nanti kepada kedua orang tuamu. " ujar Elvan.


Suasana kembali hening. Mereka berdua tidak membuka pembicaraan karena sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Tunggu sebentar Aida, aku akan memanggil kakakmu. " Elvan tiba-tiba berucap dan beranjak memanggil Arifin dan Rafa yang berada di teras.


"Kak, bisa temani aku dan Aida di dalam. " pinta Elvan kepada Arifin.


Arifin yang dipanggil Elvanpun terkejut, karena baru kali ini pria tampan itu bicara dengannya.


"Ah, iya. Tentu saja. "

__ADS_1


Arifin dan Rafa ikut masuk ke dalam rumah. Arifin duduk disamping Aida, Dan Elvan duduk di kursi yang bersebelahan dengan mereka berdua. Sedangkan Rafa duduk sendiri memerhatikan mereka bertiga.


"Ternyata susah juga ya, punya calon istri anak Kyai. Mau Ngapa-ngapain harus ada pihak ketiga diantara mereka. " gumam Rafa dalam hati sambil memperhatikan kakaknya yang ingin melakukan sesuatu.


"Apa Najwa juga seperti Aida. Eehhh. " Rafa langsung menutup mulutnya karena pikirannya sendiri.


"Kau kenapa, Raf? " tanya Elvan melihat sikap aneh Rafa.


"Tidak apa-apa kak. " elak Rafa.


Elvan lalu kembali fokus dengan Aida dan Arifin. Dia mengambil ponsel yang telah diberikan untuk Aida. Dan mulai membukanya. Arifin tercengang melihat ponsel yang diberikan Elvan kepada adiknya itu. Sebuah ponsel canggih keluaran terbaik. Dan harganya diatas 25 juta.


"Aida, di sini Aku sudah mendaftarkan nomor baru, dan ada nomorku juga. Aku juga sudah menyimpan nomor telponmu. Aku sudah mensetting semuanya semalam. Agar kamu bisa langsung pakai. Nanti kalau aku menelponmu atau mengirim pesan kepadamu, kamu harus balas dan jawab ya. "


Aida kembali menerima ponsel canggih itu, dan mulai belajar mengoperasikannya. Ternyata sedikit susah, tidak seperti ponsel kakaknya.


"Belajar pelan-pelan saja. Asalkan saat aku menghubungi mu, kamu langsung mengangkat panggilan dariku. "


Aida hanya mengangguk.


Arifin yang mengerti pun segera masuk memanggil abi dan uminya, menyampaikan kalau tamu mereka akan segera pulang.


Tak lama, Kyai Amir dan Istrinya keluar dan menemuai tamu mereka.


"Kenapa terburu-buru, nak Elvan. " tanya Kyai Amir basa basi.


"Keperluan saya sama Aida sudah selesai, Kyai. Tapi ada yang ingin saya sampaikan kepada Kyai dan Umi. " ujar Elvan.


"Panggil saja abi sama umi, nak Elvan. Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan kepada kami. " tanya Kyai Amir.


"Mungkin kedua orang tua saya dari Turki akan tiba beberapa hari lagi, Abi. Bersama adik-adik saya juga paman dan bibi saya. Tapi untuk waktu tepatnya mereka belum bisa memastikan, karena daddy harus menyelesaikan pekerjaan nya dulu. " ujar Elvan.


Kyai Amir mengangguk mengerti. "Lalu? "


"Setelah kedatangan orang tua saya, mommy saya ingin melihat Aida. Setelah itu kami akan mempersiapkan pernikahan saya dan Aida. " ujar Elvan lagi.

__ADS_1


Mendengar itu tentu saja Kyai Amir dan istrinya merasa sangat terkejut dan saling berpandangan, karena mereka merasa ini terlalu cepat. Dan bagaimana mereka bisa mempersiapkan semuanya. Sedangkan kedatangan kedua orang tuan Elvan belum bisa dipastikan kedatangannya.


"Wah, apa tidak terlalu cepat nak Elvan? persiapan pernikahan kan membutuhkan waktu banyak. " kata Kyai Amir sedikit ragu.


"Asalkan Aida siap, saya akan melakukan yang terbaik untuk pernikahan kami. Kalian tidak perlu khawatir, hanya perlu mempersiapkan diri saja. " uajr Elvan dengan tenang.


Kyai Amir langsung memandang istrinya lalu melihat ke arah anaknya yang sejak tadi menunduk.


"Bagaimana Aida, apa kamu siap jika sewaktu-waktu nak Elvan meminangmu? " tanya Kyai Amir kepada anaknya.


"Insya'Allah Aida siap Abi. " jawa Aida singkat.


"Lalu apa kau siap jika harus diboyong nak Elvan ke negaranya? " tanya Kyai Amir lagi.


"Umi dan Abi pernah mengajarkan, jika seseorang wanita sudah menikah. Maka kewajiban orang tua mereka berpindah kepada suami. Dan seorang wanita wajib mengikuti kemanapun suami mengajaknya pergi dan mematuhinya selama dalam kebaikan. Jadi, Insya'Allah Aida akan siap mengikuti suami Aida kelak Abi. " jawab Aida panjang lebar.


Kyai Amir merasa terharu mendengar jawaban dari Aida. Memang itulah yang selalu mereka ajarkan tidak hanya kepada Aida anaknya, tapi juga kepada para santriwati yang belajar disana. Dia lalu mengusap kepala anak perempuan satu-satunya itu dengan sayang.


"Ternyata anak Abi sudah besar. Mungkin sudah saatnya Abi dan umi melepas anak kesayangan Abi ini. " ujar Kyai Amir lalu mengecup pucuk kepala anaknya.


"Baiklah nak Elvan. Kami akan menunggu kabar baik dari kalian. " ujar Kyai Amir kepada calon menantunya itu.


"Nanti saya akan mengabarkan kepada Aida kalau keluarga saya sudan datang, Abi. " kata Elvan.


Dia segera bangkit, begitu juga dengan Rafa. Kemudian mereka berdua segera berpamitan dengan Kyai Amir dan Istrinya begitu juga dengan Aida.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Elvan memberi tanda kepada Aida yang memandangnya dengan menempelkan jari jempol dan kelingkingnya di telinga. Aidapun mengangguk sebagai jawaban.


Elvan dan Rafa segera meninggalkan pesantren, dan akan mampir ke sebuah rumah makan untuk mengisi perut mereka. Namun saat di perjalanan, ponsel Elvan berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan dari nomor asing tersebut. Dan ternyata suara lembut sang mommy menyapanya.


"Hallo."


"Hallo, son. Kamu dimana sekarang. "


"Aku baru pulang dari rumah calon menantu mommy. Memangnya kenapa? Dan nomor siapa yang mommy pakai ini. " tanya Elvan keheranan.

__ADS_1


"Son, kami sekarang sudah berada di Indonesia. Kami ada di hotel dekat bandara. Apa kau bisa menjemput kami? "


__ADS_2