
Setelah melakukan kewajiban mereka, Elvan meminta Aida untuk tetap dikamar. Dia mencari posisi yang nyaman untuk istrinya, setelah itu dia akan menemui keluarganya dan meminta kepada pelayan untuk mengantar makanan ke kamarnya. Aida hanya menurut dan dia duduk dengan tenang diatas tempat tidur, dengan televisi yang menyala.
Elvan segera turun menemui sang mommy dan seluruh keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Elvan, kenapa turun sendiri. Dimana istrimu. " tanya Faza saat melihat anaknya hanya turun sendirian.
Elvan belum menjawab, tapi dia langsung memberi ciuman kepada ibu dan adiknya Zia dan duduk disamping mereka.
"Aida malam ini tidak ikut makan malam, mom. Dia sedang tidak enak badan. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan makanan untuk kami. " kata Elvan.
"Sakit apa? tadi siang dia baik-baik saja. " tanya Faza khawatir.
"Benar, tadi saat kalian ke butikku juga kak Aida baik-baik saja." sahut Eira.
Mendapat pertanyaan dari mommy dan sepupunya Elvan jadi salah tingkah. Dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Entahlah pokoknya tadi dari butik, tiba-tiba Aida merasa tidak enak badan. " elaknya.
Faza menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan sang anak. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"Mommy ingin melihat keadaan Aida. Emira, tolong sampaikan kepada pelayan agar menyiapkan makanan untuk Aida dan Elvan dan dibawa ke kamar mereka. Zia, ayo ikut mommy. Kau harus memeriksa apa yang terjadi pada kakak iparmu. " ujar Faza memberi perintah.
Emira dan Zia pun menurut dan mengikuti sang mommy ke kamar anaknya.
"Tapi mom, Aida baik-baik saja. " cegah Elvan. Dia tidak ingin mommynya tahu kalau Aida sakit gara-gara dia.
Faza dan Zia langsung berhenti melangkah setelah mendengar ucapan Elvan.
"Kamu ini bagaimana sih Elvan, tadi kamu bilang Aida sedang sakit sekarang kamu bilang tidak sakit . Mana yang benar ? Jangan membuat Mommy bingung . Kalau Aida tidak apa-apa sebaiknya suruh dia turun dan makan malam bersama kita ." ujar Faza dengan tegas.
Elvan tidak bisa berkata apa-apa lagi , Jika dia meminta Aida untuk turun itu sama saja dengan membuatnya malu . Tapi jika tidak turun , maka Mommynya yang akan naik ke atas dan melihat keadaan Aida sendiri , apalagi Mommy mengajak Zia untuk memeriksanya .
Dia Lalu menghembuskan nafasnya , dan berjalan mendekati sang mommy. "Ya sudah ayo , kita lihat keadaan Aidah. ” kata Elvann pada akhirnya.
__ADS_1
Mereka berempat pun naik kelantai atas untuk melihat keadaan Aida . Saat berada di tengah tangga , Murad keluar dari tempat kerjanya dan melihat kalau anak dan istrinya sedang berjalan ke lantai atas. Dia Yang penasaran pun bertanya apa yang akan mereka lakukan di sana .
"Kalian mau ke mana ?" Tanya Murad
"Kami ingin melihat keadaan Aida , kata Elvan Dia sedang tidak enak badan . Jadi aku mau minta Zia untuk memeriksanya. "Jawab Faza sambil menatap ke arah suaminya.
"Apa aku boleh ikut melihatnya ?" Tanya Murad khawatir .
"Tidak perlu Dad , biarkan para wanita yang melihatnya saja . Daddy tidak perlu ikut ." Ketus Elvan kepada daddynya.
"Dasar bucin." Balas Daddy Murad kepada anaknya itu. Dia lalu duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
Tak lama , Ryder keluar dari lift dengan penampilan yang sudah segar . Dia memandang ke seluruh ruangan yang terlihat sepi . Padahal tadi banyak orang yang sedang berkumpul di sana .
"Ke mana semua orang, dad. Kenapa sepi sekali?" Tanya Ryder kepada daddynya dan langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa.
"Mereka sedang memeriksa keadaan Aida, katanya dia sedang tidak enak badan. " jawab Daddy Murad sambil memainkan ponselnya.
"Cih, kakakmu Tadi melarang Daddy untuk melihat istrinya . Benar-benar keterlaluan dia . Masak daddy sendiri tidak boleh melihat anak menantunya yang sedang sakit ." gerutu daddy Murad.
Mendengar itu Ryder tertawa terbahak-bahak , karena ternyata daddynya sendiri pun tidak boleh melihat wajah istrinya . Dia jadi sangat penasaran Seperti apa sebenarnya wajah kakak iparnya itu . Karena kakaknya sangat posesif terhadap istrinya. Apakah benar-benar cantik , sehingga orang lain tidak boleh melihat kecantikannya .
Di kamar Elvan.
Mereka berempat langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu. Dan itu membuat Aida sangat terkejut , karena saat ini dia tidak memakai penutup kepala maupun penutup wajahnya . Namun saat melihat Siapa yang masuk , ketakutannya pun perlahan memudar .
"Mo.. mommy, Zia, Eira. Kenapa kalian ada di sini ?" tanya Aida bingung .
Elvan memijat keningnya yang sudah pening , melihat ketiga wanita yang berada di kamarnya saat ini . Dia bahkan tidak bisa menjawab tatapan Aida yang penuh tanya .
Sedangkan ketiga wanita itu hanya tercengang saat melihat keadaan Aida yang tanpa penutup kepala sedikitpun . Benar-benar di luar dugaan . Aida memiliki rambut hitam yang panjang dan bergelombang sangat indah. Bahkan dia juga terlihat sangat cantik dengan wajah polos tanpa polesan make up di wajahnya. Pantas saja anaknya itu sangat posesif , bahkan tadi Daddynya ingin ikut pun dia melarangnya.
"Mom... " Panggil Aida yang akhirnya membuyarkan Lamunan ketiga wanita itu .
__ADS_1
"Ah, iya sayang . Maafkan mommy. Mommy sangat terpesona dengan kecantikanmu . Pantas saja Elvan mati-matian melarangmu membuka cadar." Ujar Mommy Faza mencibir ke arah anaknya.
Mendengar itu Aida menunduk karena tersipu malu .
Faza, Zia dan Eira mendekat kearah Aida dan duduk di tepi ranjang.
"kata Elvan kamu sakit , Memangnya sakit apa ?" Tanya Mommy Faza sambil memegang kening menantunya itu. "tidak panas. " Gumamnya.
Aida jadi salah tingkah mendapatkan pertanyaan itu , karena ini sangat memalukan . Dia sakit bukan karena demam atau apapun , melainkan karena ulah suaminya sendiri .
"A.... aku... baik-baik saja mom. " Elak Aida.
"Tapi kenapa kamu tidak mau makan bersama kami, jika kamu baik-baik saja. " tanya Faza lagi dengan sabar, sambil menyibakkan rambut Aida kebelakang.
Dia sangat terkejut saat tanpa sengaja mendapati beberapa tanda cinta yang berwarna keunguan dileher Aida. Begitu juga dengan Zia yang juga melihat beberapa tanda cinta dileher kakak iparnya. Faza langsung menatap tajam kearah anaknya itu, begitu juga dengan Zia yang langsung menatap tajam kearah kakaknya.
Sedangkan Eira, gadis polos itu masih belum mengerti apa-apa kenapa keadaan berubah menjadi tegang. Begitu juga dengan Aida, yang tidak menyadari kalau ibu mertua dan adik iparnya sudah mengetahui apa penyebab dia tidak enak badan.
"Apa kamu sangat kebelet pipis , sehingga membuatmu tidak sabar untuk menunggu nanti malam . Setidaknya kita makan malam bersama terlebih dahulu, El. Dan tidak membuat istrimu seperti ini ." Faza langsung memarahi anaknya itu.
"Dasar kau anak nakal ." ketus Mom Faza.
Elvan hanya nyengir kuda mendengarkan omelan dari sang mommy .
"Halal, mom halal . Lagi pula aku kan mainnya dengan yang halal, mom. " kilah Elvan .
"Halal sih halal kak , tapi jangan membuat Kakak iparku seperti macan tutul .Untung saja kakak iparku ini menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian tertutup. Jika tidak aku tidak bisa membayangkan, Bagaimana pendapat orang tentang ganasnya seorang Elvan. " ucap Zia dengan lirikan sinis pada kakaknya.
Elvan mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Zia.
"Sebenarnya ada apa ini Mom? Kenapa kalian berdebat dengan mas Elvan. " tanya Aida yang masih belum menyadari kalau mereka berdebat karena ulah Elvan kepadanya.
"Maafkan Elvan sayang , ternyata kamu sakit setelah dienggak-enggak sama anak ku yang nakal ini. " kata Faza tanpa filter.
__ADS_1