Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Seperti Pinguin


__ADS_3

Saat sedang menikmati pelukannya tiba-tiba Aida teringat sesuatu. Dan mendorong suaminya dengan keras dan itu membuat Elvan jatuh di sampingnya.


"Ada apa, Ai? "


"Mas, Aku belum sholat. Ini udah mau maghrib. Ih, kamu sih. Tadinya mau mandi terus sholat, eh malah di enggak-enggak. " Kata Aida sambil mengerucutkan bibirnya dan itu terlihat lucu dimata Elvan.


"Maaf ya. Habisnya udah nggak tahan Ai. Kita udah nikah berapa hari, tapi kita belum ngapa-ngapain." kata Elvan sambil menggaruk tengkuk lehernya.


"Ya, sudah. Aku mau mandi dulu, mas. Udah sore banget ini. "


Aida mencoba bergerak dan turun dari tempat tidurnya. Namun baru satu kakinya menyentuh lantai, dia tidak bergerak lagi. Elvan yang tidak melihat pergerakan Aida lagi mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? " tanya nya kemudian.


"Mas, itumu nggak tertinggal di dalam kan? " tanya Aida dengan konyolnya.


"Apa? "


"Itu... " tunjuk Aida dengan dagunya yang mengarah dibawah perut sang suami.


Elvan yang sudah menutupi nya dengan selimut pun dengan konyolnya membuka dan melihat kebawah perutnya.


"Masih ada kok, Ai. Memangnya kenapa? "


Sungguh konyol apa yang dibicarakan oleh mereka berdua kali ini.


"Kok, rasanya ada yang mengganjal, ya. Perih juga." Keluh Aida sambil meringis.


Mendengar itu, Elvan baru menyadari sesuatu. Dia langsung bangkit dan memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Dan mengambil bathrob baru, lalu memakaikannya ke tubuh Aida.


"Tunggu disini sebentar. Tetaplah disini. "


Elvan lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat yang baru. Tapi saat dia fokus mengisi bathup, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Dilihatnya Aida berjalan tertatih dengan cara jalan yang aneh.


Elvan langsung mendekat dan membantu istrinya berjalan menuju bathup.


"Sakit ya. " tanya nya.


Aida hanya mengangguk sebagai jawaban.


'Kamu berendam sebentar di air hangat, agar terasa nyaman. " kata Elvan.

__ADS_1


"Tapi aku belum sholat mas. " protes Aida.


"Waktunya masih satu jam Ai. Berendamlah selama lima atau sepuluh menit saja. " Kata Elvan.


Mau tidak mau, Aida akhirnya menuruti perintah suaminya. Karena ini juga demi ke nyamannya juga.


"Aku mandi dulu ya. " kata Elvan sambil menutup tirai yang memisahkan antara bathup dengan shower.


Aida hanya mengangguk. Dan setelahnya dia hanya melihat bayangan suaminya yang sedang mandi di bawah kucuran shower. Wajahnya langsung memerah saat mengingat apa yang terjadi tadi.


" Mungkin benar kata orang, milik orang luar itu besar. Buktinya aku kesulitan jalan sekarang. " Keluh Aida.


Dia kembali berfikir kalau apa yang terjadi hari ini adalah awal dari tugasnya melayani sang suami diatas ranjang untuk melayani kebutuhan biologisnya. Kembali wajahnya memerah saat pikiran mesum itu sedang menguasai pikirannya.


"Sadar, Aida. Sadar... " batinnya, sambil terus beristighfar dan memukul kepalanya sendiri.


"Ai, apa yang sedang kau pikirkan" Tanya Elvan yang mendengar cipratan air.


"Eeng... enggak ada kok, mas. " jawab Aida pelan.


"Kau tau apa yang sedang aku pikiran saat ini?" tanya Elvan tiba-tiba.


"Nggak tau, memangnya apa yang sedang kamu pikirkan. ' tanya Aida balik.


Mendengar ucapan suaminya Aida semakin tidak mengerti, apa maksud suaminya ini.


"Maksud kamu apa mas? tentang larangan mommy? "


Elvan lalu memakai bathrobnya karena dia sudah selesai mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Dia lalu membuka tirai dan menatap istrinya dengan pipi yang sudah memerah.


"Kalau aku melakukannya di Indonesia, kau pasti akan merasa malu karena saat keluar dari kamar cara jalanmu akan aneh. Dan kita tidak akan bisa menghadiri pernikahan Rafa. Lalu jika kita kita lakukan kemarin, maka kau tidak akan bisa ikut denganku ke kantor dengan cara jalanmu yang seperti pinguin. "Kata Elvan sambil tebahak, dan itu memicu kekesalan Aida.


"Mas... "


"Iya, sayang aku disini. Aku keluar dulu, ya. Aku sholat dulu setelah itu baru kamu." ujarnya sambil keluar meninggalkan Aida yang sudah sangat malu dan kesal jadi satu.


Setelah kepergian Elvan, Aida nampak berfikir. Benar juga apa yang dikatan suaminya itu. Pasti ini alasan mommy Faza melarang mereka melakukan hubungan suami saat itu. Ambil sisi pisitifnya saja, Mungkin mommy tau ini akan terjadi, dan beliau tidak ingin anak dan menantunya menjadi bahan ejekan atau pembicaraan orang lain.


"Oh, mommy kau baik sekali. " ucap Aida tanpa sadar.


Dia lalu memutuskan keluar dari bathup dan membilas tubuhnya dengan Air shower yang menyegarkan. Setelahnya menggunakan bathrob yang tadi dia gunakam.Aida Lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sedikit sulit, karena sepertinya masih ada yang mengganjal dibawah sana.

__ADS_1


Dilihatnya sang suami sedang melipat sajadah dan melihat kearahnya.


"Sudah selesai? " tanya Elvan.


"Sudah." Aida berjalan perlahan menuju walk in closet namun segera dicegah oleh Elvan.


"Ini sudah aku siapkan pakaian untukmu, Ai. Pakailah. " ujar Elvan.


Aida merasa tak nyaman, harusnya dia yang menyiapkan pakaian untuk sang suami, tapi sekarang malah suaminya yang menyiapkan pakaian untuknya.


"Mas, jangan lakukan ini lagi. Aku merasa nggak nyaman. " Kata Aida mendekati sang suami.


"Sudahlah bukan masalah besar Ai. " ujar Elvan.


"Aku kebawah dulu, ya. Barusan Leo menghubungiku, katanya dia sudah ada dibawah karena ada yang harus kami bicarakan. " katanya lagi berpamitan kepada sang istri.


Aida hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia segera memakai pakaiannya dan melakukan ibadah yang tertunda walau sedikit ngilu dibawah sana. Setelah itu dia kembali duduk di atas tempat tidur, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan memainkan ponselnya.


"Harusnya sebagai menantu aku membantu menyiapkan makan malam. Tapi untuk dibuat jalan rasanya ngilu, dan seperti ada yang mengganjal. Huft..." Aida menghembuskan nafasnya dan tanpa sadar dia tertidur dalam posisi duduk.


Terdengar pintu terbuka siapa lagi pelakunya kalau bukan Elvan. Dia tersenyum saat melihat sang istri terlelap dalam posisi yang tidak nyaman.


"Ai, bangun. Udah maghrib ini. " Elvan menepuk-nepuk tangan Aida agar terbangun.


Dan benar saja, Aida langsung membuka matanya. Dan melihat kalau sudah ada suaminya dihadapannya.


"Mas, sudah selesai? " tanya Aida sambil mengucek matanya.


"Sudah, ayo ini sudah maghrib, kita sholat dulu. Orang-orang juga sudah datang. Kita akan makan malam bersama. " Ujar Elvan hendak beranjak, namun tangannya langsung ditarik oleh Aida.


"Ada apa? "


"Mas, bolehkah aku tidak ikut makan malam? " tanya Aida.


"Kenapa? " tanya Elvan.


"Aku nggak bisa jalan ini, mas sakit tahu. Kayak masih ada yang mengganjal, mana gede lagi rasanya. " gumam Aida diakhir kalimatnya namun bisa didengar oleh Elvan.


Elvan tertawa mendengarnya, dan sebuah capitan kembali menyerang tangannya.


"Iya... iya... maaf. " kqta Elvan sambil menggosi tangan yang baru dicubit Aida.

__ADS_1


"Baikalah, kita makan di kamar saja, aku akan bilang kepada mommy dan semuanya kalau istriku sedang tidak enak badan, dan ingin makan didalam kamar saja. "


__ADS_2