
Elvan dan Aida sudah masuk ke dalam kamarnya. Mereka lalu mengganti pakaian dengan piyama tidur. Saat di dalam kamar, Aida menjelma sebagai wanita biasa. Tampil apa adanya, dengan rambut yang terurai dan terkadang dia memakai pakaian tidur kurang bahan yang dibelikan suaminya. Awalnya memang dia malu-malu, namun saat Elvan meyakinkan kalau itu semua hanya untuk nya, kini Aida sudah mulai terbiasa.
Aida sedang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, setelah meminum susu hamil dan vitamin dari dokter. Elvan mendekatinya dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Seperti sudah terbiasa, Aida langsung mengusap lembut rambut sang suami. Dan itu membuat Elvan merasa sangat nyaman. Dia lalu menghadap perut istrinya dan memeluknya.
"Aku tidak menyangka kalau aku akan menjadi seorang daddy. " ucapnya sambil mengusap lembut rambut sang istri.
"Iya, aku juga. " balas Aida.
"Apa kau sudah mengabari umi dan abi? " tanya Elvan.
"Sudah, tadi aku sudah menelpon umi dan Abi. Ada kak Arif juga dia mengirim salam kepadamu. Katanya kau luar biasa. " ujar Aida yang menirukan ucapan kakaknya.
Mendengar itu, Elvan tertawa. Ternyata kakak iparnya itu bisa bercanda juga.
"Sayang, aku tidak menyangka kalau aku juga bisa memproduksi bayi kembar. Apa karena gen kembar keluarga kami sangat kuat ya? Kau lihat, kami semua kembar. Hanya Rafa yang tidak kembar. Dan sayangnya mommy tidak mau memiliki anak lagi. Kalau punya anak lagi kan aku bisa menjadi kakak lagi dan saudaraku akan banyak. " Kata Elvan sambil terkekeh.
"Menjadi seorang ibu itu tidak mudah, mas. Selain pahalanya besar karna hamil, melahirkan dan menyusui. Dia juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjadikan akhlak anak-anak nya menjadi baik." ujar Aida.
"Kau benar. Tapi itu bukan hanya tanggung jawab seorang ibu saja, Ayah juga berperan penting dalam hal ini. " Elvan menimpali. "Dan nanti kita berdua akan menjadikan anak-anak menjadi orang-orang yang hebat. " tambahnya lagi.
Aida hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban.
"Ayo tidur, aku sudah ngantuk. " kata Aida yang meminta suaminya untuk kembali ke posisinya.
"Tunggu sebentar, sepertinya aku mendengar sesuatu. " kata Elvan tiba.
"Apa sih mas, jangan bikin aku kaget. " kata Aida sedikit kesal saat melihat suami nya menempelkan kepalanya diperut.
"Apa... dedek minta di tengokin daddy. Tunggu sebentar daddy bilang mommy dulu ya." Elvan lalu menatap istrinya dengan senyuman aneh.
"Mom, dedek minta di tengokin sama daddy katanya. "
"Mas, jangan konyol deh mana ada. Mereka masih sebiji kacang hijau. " kata Aida sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi kalau daddy nya yang mau nengokin dedeknya boleh nggak? Daddy pengen banget ini." Kata Elvan sambil mengarahkan tangan Aida untuk menyentuh pangkal pahanya yang sudah mengeras.
Aida hanya menghela nafas saat melihat kelakuan suaminya yang absurd. Lalu dia mengangguk.
"Pelan-pelan tapi ya, ingat kata dokter. "
__ADS_1
Elvan langsung bangun dengan semangat dan membuka seluruh pakaian nya setelah mendapat persetujuan dari istrinya. "Tentu saja, aku akan melakukannya dengan sangat pelan tapi juga membuatmu terbang. " katanya dengan kerlingan mesumnya.
"Aku tidak menyangka ternyata suamiku selain berwibawa tapi mesumnya juga nggak ketulungan. " ujar Aida yang sudah pasrah pakaiannya di licuti oleh sang suami.
"Wajar sayang. Sudah menjadi sifat manusia yang menjadi mesum setelah menikah. Asalkan mesumnya sama istri sendiri. Halal. " kata Elvan yang mulai menyerang istrinya
Dia mulai ciuman di bibir, turun ke leher dan bermain-main di dua gunung kembar istrinya yang menjadi mainan favoritnya saat ini dan mungkin beberapa bulan lagi akan menjadi milik anaknya. Tak ada satu jengkal tubuh Aida yang tidak dia jamah. Karena dia sudah hafal dengan titik-titik yang membuat istrinya itu tak berdaya.
Saat dirasa sudah cukup melakukan pemanasan akhirnya dimulai lah acara menengok dedek bayi versi Elvan. Elvan melakukannya dengan pelan. Karena dia tidak ingin menyakiti istrinya atau membahayakan calon bayi mereka. Namun meskipun pelan, tapi Elvan berhasil membawa istrinya itu terbang sesuai ucapannya tadi.
Dan setelah menuntaskan hasratnya akhirnya Elvan terkapar disamping sang istri lalu memeluknya dengan erat sambil mengontrol nafasnya yang memburu setelah pelepasan.
"Terima kasih sayang. "
Aida tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan menenggelamkan kepalanya di pelukan sang suami. Mereka akhirnya terlelap karena merasa kelelahan setelah melakukan kegiatan panasnya.
🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦
Pagi harinya di hari kerja.
Sepasang suami istri itu sudah terlihat segar dengan penampilannya seperti biasa. Elvan sedang menundukkan badannya saat Aida hendak memasangkan dasi di lehernya.
"Apa kak Ryder juga ikut? " tanya Aida.
"Tidak, pagi ini kami ada rapat. Setelah itu aku dan Leo akan meninjau proyek di luar kota. Sedangkan Ryder akan memimpin di sini. Mungkin aku akan sampai rumah larut malam. " ujar Elvan menjelaskan.
Aida mengangguk mengerti. "Pergilah, hati-hati dijalan. Do'aku akan selalu menyertaimu. " ujar Aida.
Elvan tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, hatinya langsung merasa nyaman dan tenang karena doa dari istrinya akan menyertainya selainn doa dari kedua orang tuanya tentunya.
Mereka berdua segera keluar dari kamar dan menaiki lift untuk turun ke lantai bawah. Aida sudah dilarang oleh semua orang untuk naik turun tangga untuk menjaga kehamilannya.
Mereka sudah berkumpul di meja makan dan mulai membahas pekerjaan hari ini.
"Jadi kau nanti yang akan mewakili perusahan kita dipertemuan, El. " tanya daddy.
"Iya, dad. Dan Ryder akan menggantikanku diperusahaan. " jawab Elvan.
"Jangan pergi sendiri El. Bawa beberapa bodyguard bersamamu untuk berjaga-jaga. " Murad mengingatkan.
__ADS_1
"Iya, dad. "
Mereka kembali makan dengan tenang. Terlihat Aida makan cukup banyak pagi ini. Dan semua orang tersenyum melihatnya. Elvan mengusap kepala istrinya itu.
"Makan yang banyak, dan kalau ada yang kau inginkan katakan pada ku atau pada mommy. Jangan sungkan." kata Elvan.
Aida mengangguk dan melihat kepada semua orang yang sedang menatapnya dengan tersenyum. Dan itu membuatnya malu ternyata dia sudah menjadi pusat perhatian.
Setelah selesai sarapan, Faza dan Aida mengantarkan suami mereka sampai ke mobil. Di sana terlihat Leo juga sudah siap menunggu tuan mudanya. Elvan berpamitan kepada mommy dan istrinya lalu memberikan ciuman di kening sang istri.
"Kamu hati-hati di jalan ya, mas. "
"Iya, kamu juga hati-hati dirumah. Jangan kemana-mana, kalau perlu apa-apa tinggal bilanh pelayan atau kepala pelayan. "
"Iya."
Akhirnya, mobil yang dikendarai para pria itu pergi meninggalkan mansion. Aida dan Faza kembali ke dalam mansion setelah mobil tidak terlihat.
"Kau harus memaklumi Elvan sayang. Dia adalah calon penerus perusahaan. Jadi dia yang harus turun langsung ke pertemuan seperti ini. " kata Faza mengingatkan Aida tentang Elvan suami nya.
"Iya, mom. Aku tahu. Aku akan selalu mendoakan kebaikan untuknya. " ujar Aida.
"Bagus sayang. "
"Mom, aku ke kamar dulu, ya. perutku rasanya tidak nyaman, terasa mual. Aku akan buat rebahan di kamar saja. '
"Baiklah, kalau ada apa-apa atau menginginkan apa-apa, kau bilang mommy. Oke. "
Aida mengangguk dan berlalu meninggalkan Faza menuju kamarnya.
Di dalam mobil.
"Tuan, sepertinya ada yang sudah berani bermain-main dengan kita. " kata Leo yang berada disamping sopir.
"Siapa? " tanya Elvan sambil menarik alisnya ke atas.
"Tuab Alex, Setelah lama tak terdengar dan dia masih melanjutkan proyek kerjasama kita. Ternyata sekarang dia sudah mulai bergerak. "
"Maksudmu."
__ADS_1
"Banyak kecurangan yang terjadi selama satu bulan terakhir ini. "