
Aida segera kembali masuk ke dalam kamarnya membangunkan suaminya yang katanya ingin berjalan-jalan . Dilihatnya sang suami sedang tidur dengan lelap . Aida jadi ragu untuk membangunkannya , karena merasa kasihan . Tapi dia juga tidak bisa mengindahkan permintaan sang suami yang ingin jalan-jalan . Akhirnya Aida mencoba membangunkan Elvan.
"A', katanya mau jalan-jalan , jadi nggak ?" ucap Aida sambil menggoyang-goyangkan tubuh Elvan agar terbangun .
Elvan yang merasa tidurnya terganggu langsung menarik tangan orang yang mengganggu tidurnya , sehingga membuat tubuh Aida langsung jatuh di atas tubuh Elvan . Elvan yang merasa terkejut pun langsung membuka matanya dan melihat Aida yang sedang mengenakan cadar , sudah berada di atas tubuhnya .Mata mereka saling bertemu dan bertatapan .
Tangan Elvan yang bebas pun perlahan melepaskan ikatan yang mengikat cadar Aida , sehingga membuat cadar itu terlepas . Dan Elvan bisa melihat wajah cantik istrinya itu . Dia kemudian menekan tengkuk leher Aida agar mendekat ke wajahnya . Sebuah ciuman di pagi hari itu menjadi pembuka romantisan mereka hari ini.
Sedikit demi sedikit Aida mulai membalas ciuman dari suaminya , meskipun sedikit kaku . Karena dia Ingat ucapan Elvan semalam yang mengatakan kalau dia harus mulai belajar agar tidak seperti patung . Karena itu , sekarang dia mau membalas ciuman dari Elvan . Elvan sangat bahagia karena ciumannya kali ini mendapatkan balasan . Dia segera melepaskan ciumannya setelah melihat Aida kehabisan nafas .
"kalau berciuman itu , kamu harus mengatur Nafasmu . Aku tidak ingin kamu mati gara-gara kehabisan nafas karena ciuman, itu tidak lucu Aida. " kata Elvan Sambil tertawa lepas .
Mendengar ledekan dari suaminya, membuat Aida kesal dan menekuk wajahnya . Di mata Elvan wajah Aida yang seperti itu terlihat sangat menggemaskan . Dia Lalu mencubit kedua pipi Aida dan menggoyangkannya kekanan dan kekiri karena saking gemasnya .
"Kenapa istriku ini terlihat semakin menggemaskan ya . Tidak hanya cantik tapi juga menggemaskan ." kata Elvan lagi menggoda Aida.
"Aa' Udah dong aku ngambek, nih . " Aida merajuk karena terus di goda suaminya. "Kita jadi jalan-jalan apa enggak? " katanya lagi.
"Iya jadi, tunggu aku mandi sebentar. Siapkan pakaian ku di koper, ya. " pinta Elvan dan dia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lima belas menit berlalu akhirnya dia keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe yang sudah disiapkan Aida, dia tidak ingin melihat suaminya bertelanjang dada di hadapannya karena itu membuat kinerja jantung nya tidak baik-baik saja. Elvan yang melihat pakaiannya sudah disiapkan Aida pun segera memakainya, lalu mematut dirinya di cermin menyisir rambut hitamnya yang lebat.
"Ai, kamu suka pria brewokan apa bersih diwajahnya. " tanya Elvan sambil memegangi dagunya dan melihat kalau jambangnya sedikit panjang dan sudah waktunya mencukurnya.
Aida yang sedang merapikan tempat tidur segera mendekat kearah suaminya. Saat ditanya seperti itu dia jadi memperhatikan dengan seksama wajah suaminya yang tampan itu.
__ADS_1
"Kau terlihat tampan dengan jambang tipis itu, A'. Tapi aku ingin melihat bagaimana wajahmu jika tanpa jambang. Apakah semakin tampan?" kata Aida sambil tersenyum.
Mendengar itu membuat Elvan melebarkan senyumannya. Dia tidak percaya kalau Aida ternyata sangat memperhatikan penampilannya . Padahal mereka baru hidup bersama belum satu hari .
"Ya, sudah kalau begitu, Nanti kita mampir ke toko untuk membeli alat cukur. Dan bantu aku membersihkan jambang ini. " Kata Elvan kemudian.
Mendengar itu, membuat Aida merutuki dirinya. Kenapa tadi dia bisa mengatakan itu, dan sekarang dia harus bertanggung jawab dengan ucapannya
Elvan segera merangkul bahu Aida dan mengajaknya keluar dari kamar. Saat ingin keluar mereka berpapasan dengan Abi mereka. Elvan langsung menurunkan tangannya dari bahu Aida dan tersenyum kikuk kepada Abi Aida.
"Tidak apa-apa nak Elvan. Bukankah kalian sudah sah menjadi suami istri? " ujar Kyai Amir saat melihat wajah menantunya yang merasa sungkan.
Elvan hanya membalas ucapan mertuanya dengan tersenyum. "Kami mau jalan-jalan dulu Abi. " katanya kemudian.
"Semoga kalian bahagia selalu, nak. " batin Kyai Amir.
Elvan menggenggam tangan Aida selama mereka berjalan, berkali-kali Aida ingin melepaskan genggaman itu karena malu banyak orang yang menyapa dan menggoda mereka. Namun setiap kali Aida ingin melepaskan maka semakin erat Elvan menggenggam tangannya. Elvan hanya tersenyum melihat tingkah Aida, dia tahu kalau Aida malu. Tapi untuk apa, bukankah mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri?
"Aida, nanti kita mulai beres-beres apa saja yang akan kau bawa. " ujar Elvan ditengah perjalanan mereka.
Aida langsung menoleh keaeah suaminya itu, "Untuk apa, A'. " tanya Aida yang terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Besok lusa adalah pernikahan Rafa dan Najwa, besok kita akan tidur di hotel tempat mereka mengadakan akad dan resepsi. Lalu setelah itu, kita akan kembali ke Turki. " Elvan menjelaskan.
Mendengar itu, wajah Aida berubah murung. Benar kata Abinya tadi, kalau mereka akan segera berpisah. Tapi apakah secepat ini?
__ADS_1
Elvan yang melihat perubahan wajah Aida pun mengerti, dia tahu kalau istrinya pasti akan merasa sedih jika harus berpisah dengan keluarganya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera kembali. Karena asistennya Leo mengiriminya pesan tadi, kalau ada sedikit masalah diperusahaan. Daddynya entah tahu atau tidak tentang hal ini.
"Jika kau tidak mau ikut denganku, tidak apa-apa. Tinggallah disini. Tapi aku tidak bisa memastikan kapan aku bisa menjemputmu, karena perusahaan kami mengalami masalah saat ini. " ujar Elvan.
"Beginilah jika tidak ada satupun diantara kami berada di sana. Banyak pihak yang ingin menggoyahkan perusahaan kami. Entahlah, daddyku sudah tahu apa belum masalah ini. Karena tadi asistenku yang memberi tahu kepadaku melalui pesan. " katanya lagi.
Aida menunduk, mendengarkan ucapan dari suaminya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Suaminya adalah salah satu orang penting diperusahaannya. Jadi, dia tidak memiliki banyak waktu untuk bersantai.
"Nanti aku akan bicara dengan Umi dan Abi dulu ya, A'. Aa' juga bantu Aida bicara dengan mereka. " putus Aida.
"Tentu saja. Aku juga Akan bicara kepada kedua orang tuamu nanti, untuk meminta ijin kepada mereka. " kata Elvan memberikan senyuman hangatnya kepada sang istri.
Aida tidak tahu saja, Elvan saat ini sedang memendam gemuruh didalam dadanya. Karena ada sebuah perusahaan yang sedang mencari gara-gara dengan perusahaannya disana. Mereka tidak tahu, seperti apa para pria di kkeluarga Khan jika sudah bersatu.
Setelah puas jalan-jalan mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
Di rumah, mereka ditunggu semua orang untuk sarapan bersama. Mereka semua berkumpul mengelilingi meja makan dan mulai makan dengan tenang. Diselingi canda tawa antara kakak-kakak Aida dan kedua orang tuanya. Hingga sebuah panggilan diponsel Elvan membuat semua orang terdiam.
Elvan bicara menggunakan bahasa yang tidak mereka ketahui artinya kecuali Aida. Wajah Aida tiba-tiba berubah murung setelah mendengar obrolan suaminya dengan orang diseberang telpon. Semua orang memperhatikan wajah Elvan yang berubah gusar setelah mendapat telpon itu.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi nak Elvan? " Tanya Kyai Amir penasaran.
Elvan melihat sekeliling, Untung saja mereka sudah menyelesaikan makannya. Jadi, Elvan tidak merasa segan untuk menyampaikan pesan dari daddynya barusan.
"Sebelumnya saya minta maaf, Abi, Umi, kakak. Baru saja Daddy menghubungi saya, Katanya pernikahan Rafa dan Najwa akan dimajukan menjadi besok pagi. Setelah itu kami akan segera kembali ke Turki, karena ada masalah serius yang terjadi di sana. "
__ADS_1