
Aida sebenarnya enggan menjawab pertanyaan dari Zia yang tidak penting itu. Karena baginya apa yang ada pada diri nya adalah sesuatu yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Jadi baginya itu adalah pemberian dari Tuhan, bukan karena perawatan.
"Kak Zia, kulit kakak ini sudaj cantik lho. Sebaik-baiknya kulit, secantik-cantiknya itu lebih baik kulit asli kita. Karena kulit sehat dan alami itu lebih bagus daripada yang sudah terkena bahan kimia. " ujar Aida.
"Jadi kamu beneran nggak pakai perawatan " tanya Zia yang masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan iparnya itu.
Aida menggeleng sambil tersenyum.
"Aku tuh, gemes lihat kamu, kakak Ipar. Pantes kakakku yang tampan langsung jatuh cinta padamu. Ya sudah, kalau perlu apa-apa hubungi aku, ya. kamarku ada di samping kamar kakak paling pojok. " Kata Zia yang langsung keluar dari kamar kakaknya.
Aida hanya menggelengkan sikao Zianyang lucu. Dia tidak menyangka kalau wanita itu adalah saudara kembar suaminya. Ketiga bersaudara itu ternyata memiliki karakter masing-masing. Jika suaminya adalah pria yang tenang, maka Ryder adalah pria yang urakan dan biasa dipanggil pembuat masalah oleh keluarganya. Sedangkan Nazia adalah wanita yang manja dan menggemaskan.
Aida jadi terkekeh sendiri saat memikirkan karakter ketiga bersaudara itu. Dia belum tau juga bagaiman dengan sepupunya yang lain, selain Rafa. Karena Aida sudah tahu seperti apa Sosok Rafa, semua orang memanggilnya si manusia es.
Aida segera masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti. Dia ingin berendam dalam bathup untuk menghilangkan rasa lelahnya. Tak terasa tiga puluh menit berlalu, dia akhirnya menyudahi mandinya dan segera berganti pakaian. Saat keluar dari kamar mandi Aida melihat kamarnya masih kosong dan mungkin suaminya belum kembali.
Dia akhirnya menuju balkon kamar dan melihat keluar kamarnya.
"Indah sekali. Aku tidak percaya akaan ada taman di lantai dua ini. Apa dikamar lainnya juga seperti ini? " gumam Aida.
"Tidak, hanya kamar ini yang di desain seperti ini. " Kata Elvan yang tiba-tiba sudah berada dibelakang tubuh Aida yang sedang menikmati pemandangan taman di luar kamarnya.
"Mas. " Aida langsung mendekat kearah suaminya.
"Kenapa lama sekali? ' tanya Aida smabil mendekat.
"Iya, masalahnya ternyata tidak semudah yang kita pikirkan. Besok kau harus ikut aku ke perusahaan, dan bawa semua bukti yang kita bawa dari Indonsia. Kalau kau adalah istri yang dipilihkan kakek untukku." kata Erhan sambil memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Iya terserah kau saja. Jika kedaganganku besok bisa membantumu aku akan ikut. " ucap Aida dipelukan sang suami.
Elvan lalu membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar. Dan membawanya duduk di pinggir ranjang dan memandangi wajah cantiknya.
"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu? " tanya Aida yang menjadi salah tingkah saat dipandang tak biasa oleh Elvan.
"Para wanita tsdi mengatakan kalau aku beruntung memilikimu. Apa mereka sudah melihat wajah istriku yang cantii ini?" tanya Elvan
Aida mengangguk. "Tadi Zia memaksa ingin melihat ku begitu juga dengan mom Zoya dan saudara yang lainnya. "
"Kau pasti sedikit kualahan mendengar ocehan Zia yang sedikit pemaksa itu. " tebak Elvan.
Aida terkekeh karena tebakan Elvan itu tepat sasaran. Zia sedikit pemaksa dan sangat cerewet.
"Baiklah, aku mandi dulu. Setelah itu kita berkeliling mansion ini.
"Sebaiknya aku pilih kan yang mana, ya. " gumam Aida saat melihat semua pakaian Elvan yang berjajar rapi dan semua adalah pakaian dengan merk terkenal.
Matanya lalu tertuju pada kaos putih dan celana pendek. Bibirnya menyunggi senyumnya saat melihat itu.
"Selama kita bertemu aku tidak pernah melihatmu memakai pakaian seperti ini. Sekarang biarkan aki melihat mu memakai ini. " gumam Aida.
Dia lalu mengambil kaos dalam dan CD di bagian bawah lemari. Ada perasaan sedikit malu saat mengambilkan kain berbentuk segi tiga itu. Tapi dia segera menepis nya, karena dia mengambil milik suaminya sendiri.
Pakaian sudah siap, dan dia kembali ke kamar untuk meletakkan pakaian ganti suaminya. Aida lalu menutup gorden kamar yang terbuka. Dia lalu mengambil ponselnya dan ingin menghubungi keluarganya di Indonesia. Namun sayang, kartunya tidak bisa dipakai disini. Ada perasaan sedih, namun dia tahan saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
Dilihanya Elvan hanya keluar dengan menggunakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya, dan bagian atas terpampang keindahan yang nyata. Sedang satu tangannya sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
__ADS_1
"Sini mas biar aku keringkan. " ujar Aida walau dia malu, tapi dia menekan rasa malunya itu. Kini dia juga harus terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Elvan mendekat, dan melihat istrinya sedang memegang ponselnya. Dia mengira kalau sang istri pasti akan mengabarkan kepada keluarganya kalau dia sudaj sampai. Elvan lalu membuka ponselnya dan menghubungi Abi Amir. Dia lalu memberikannya kepada Aida
"Pakai ponselku dulu, nanti kita ganti nomormu dengan nomor negara ini. "
Aida mengangguk dan menerima ponsel Elvan yang sedang terhubung dengan nomor ponsel Abinya.
Berapa kali panggilan tak terjawab. Mungkinkah Abinya sedang tidur.
"Kalau disini jam empat disana jam berapa mas" tanya Aida.
Elvan menepuk keningnya keningnya, dia lupa perbedaan waktu disini dan disana.
"Disana mungkin masih dini hari Aida. Jadi kalau kamu menghubungi umi atau Abi nanti malam saja ya. Aku lupa, maaf. "
Aida tersenyum dan melihat suaminya yang sudah memakai baju yang dia pilihkan. Suaminya terlihat berkali-kali lebih tampan saat memakai pakaian santai sepeti ini. Aida lalu mengambil sisir dan merapikan rambut sang suami.
"Sudah cukup Aida, bukankah aku terlihat sangat tampan sekarang." Kata Elvan penuh percaya diri.
"Iya, kau tampan sekali suamiku. "
Elvan tertawa, dia merasa senang karena sekarang Aida sudah bisa menimpali candaannya tida sekaku saat mereka baru menikah. Mungkin nanti saat malam pertamanya, Elvan sudah tidak sungkan lagi.
Elvan lalu mengajak istrinya keluar dari kamarnya dan berjalan-jalan mengelilingi mansion, agar dia tidak nyasar saat berada di mansion ini. Dan mengenalkannya kepada para pelayan kalau dia adalah nyonya muda di mansion ini. Jadi jangan pernah membantah ucapannya, ucapannya sama dengan ucapan Elvan. Perintahnya juga memiliki kedudukan yang sama dengan perintah Elvan. Karena dia adalah istri seorang Elvan.
Aida kembali berdecak kagum melihat ketegasan yang dimiliki suaminya sehingga membuat semua orang tunduk.
__ADS_1
"Apakah benar pria yang sangat dihormati semua orang ini adalah suamiku? "