Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Aida Sakit


__ADS_3

Semua memandang kearah tengah dan melihat siapa yang datang. Memangnya siapa lagi yang akan datang kalau bukan Zahra. Kedua wanita karir itu kini tinggal di rumah setelah anak-anak mereka dewasa dan mewarisi usahanya.


Zahra lalu duduk di samping Zoya, Dan kembali meneruskn obrolan mereka. Disaat seperti ini, penutup wajah Aida pasti sudah terbuka. Dan semua wanita itu bisa melihat wajah cantik istri Elvan itu.


Sejak tadi Faza memperhatikan wajah Aida yang terlihat sedikit pucat. Mungkin benar kata Elvan kalau istrinya sedang tidak enak bada.


"Ai, wajahmu pucat, apa kau baik-baik saja? " tanya Faza yang merasa khawatir dengan keadaan menantunya.


Mendengar pertanyaan Faza, sontak saja Semuanha menatap Aida.


"Aku baik-baik saja mom, jangan khawatir. Hanya sedikit merasa sedikit pusing, lemas dan lelah. " jawab Aida yang tak pernah lupa untuk tersenyum kepada mereka semua.


"Kita periksakan keadaanmu ya, aku panggil Zia agar pulang. " kata Faza khawatir.


"Tidak perlu mom. Aku hanya ingin istirahat. Kalau boleh aku minta ijin untuk beristirahat. " kata Aida.


"Kenapa tidak bilang dari tadi, sayang. Kembalilah ke kamar. Najwa, bisa kau antarkan Aida ke kamar? " Pinta Faza.


"Tentu, mom. " jawab Najwa


"Terima kasih, mom. Aku permisi dulu, Mom Zahra, dan mama Zoya. " pamit Aida.


"Silahkan, beristirahat lah Ai. " ucap Zoya.


Aida berjalan didampingi Najwa di sampingnya. Mereka lebih memilih naik lift daripada naik tangga. Dari pada terjadi sesuatu kepada Aida nanti.


"Maaf kak. Aku tidak tahu kalau kakak Aida sakit. " ujar Najwa saat mereka berdua berada di dalam lift.


"Tidak apa-apa, Najwa. Aku hanya merasa sedikit pusing. " kata Aida "Apa ada yang ingin kau ceritakan kepadaku? " tanya Aida saat mereka sudah berada di luat lift.


Najwa tidak membalas pertanyaan Aida. Mereka berdua lalu berjalan memasuki kamar Aida dan Elvan.


"Tidak kak, besok saja kalau kak Aida sudah lebih baik. Kakak istirahat saja dulu agar segera sembuh. Dan ingat kata kak, Elvan. Kalau kakak harus menghubungi kak Elvan kalau merasa keadaan kakak masih belum baik. " ujar Najwa mengingatkan.


"Iya, bawel." Aida lalu memeluk Najwa." Terima kasih kau sudah menikah dengan Rafa, sehingga di negara ini aku memiliki teman untuk berbagi. Aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. " ujar Aida.


"Aku juga senang kak Aida sekarang menjadi kakakku. Karena sejak dulu aku sangat mengagumi kakak. " kata Najwa.


"Sekarang kakak istirahat lah, aku keluar dulu menemui mama-mama kita. "

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Najwa segera keluar dari kamar Aida dan meninggalkan Aida sendirian di kamarnya.


Aida segera membaringkan tubuhnya dan memakai selimut hingga batas perut. Dia lalu membuka ponselnya, ternyata sudah ada panggilan dan pesan masuk dari suaminya. Dia lalu membalas satu persatu pesan yang masuk. Lalu dia meletakkan ponselnya di atas nakas karena dia ingin segera mejamkan matanya.


Namun, saat dia akan memejamkan matanya tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponselnya. Dan sedikit kesal Aida langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah menghubunginya. Wajah kesalnya berubah menjadi senyuman saat melihat nama si penelpon yang ternyata adalah suaminya yang melakukan panggilan video.


Aida segera menggeser icon hijau dan segera muncul wajah tampan suaminya yang memenuhi layar ponselnya dengan senyuman penuh.


"Hallo, sayang. Apa yang sedang kau lakukan. " tanya Elvan di seberang telpon sambil menyandarkan tubuhnya.


"Aku sedang berbaring dan akan memejamkan mata, dan kau menghubungi ku. " kata Aida.


"Wah, jadi aku mengganggu istirahat mu. "


"Tidak apa-apa mas. Aku senang kau menghubungi ku dijam sibuk mu. "


"Lalu bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik? ' tanya Elvan lagi.


Aida menggeleng. " Kepalaku sangat pusing. Terasa berat sekali. " kata Aida mengeluh.


"Apa aku harus pulang? "


"Tidak usah, mas. Aku akan istirahat, mungkin dengan istirahat sakitnya akan hilang. "


Aida mengangguk.


Dan setelah mengucapkan salam, panggilan pun di akhiri. Aida kembali meletakkan ponselnya diatas nakas dan kembali memejamkan matanya.


Entah berapa lama Aida terlelap, saat tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang berat menimpa perutnya. Aida segera membuka matanya dan melihat ke sampingnya, ternyata sudah ada sang suami yang sedang terlelap dengan memeluknya. Manis sekali melihat suaminya yang memejamkan mata dengan tenang. Dia lalu membelai rahang kokoh yang dihiasi jambang tipis itu.


Elvan yang merasa terganggu pun langsung membuka matanya, dia merasakan sentuhan lembut di pipinya.


"Kau sudah bangun? " suara lembut itu menyapa telinga Elvan.


"Kau juga sudah bangun? " tanya Elvan.


Dia lalu memegang tangan istrinya yang berada di wajahnya lalu menciumnya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik? " tanya Elvan lagi yang merasa khawatir.

__ADS_1


"Lumayan, sudah lebih baik. " ujar Aida untuk menenangkan suaminya, walau masih merasa sedikit pusing.


"Syukurlah, aku sangat mengkhawatirkan mu sejak tadi. Dan meminta ijin kepada daddy untuk pulang lebih cepat hari ini. "


Aida tersenyum melihat kecemasan diwajah suaminya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya akan sangat mengkhawatirkan nya. Padahal dia hanya merasa pusing saja, bukankah ini terlalu berlebihan?


"Aku akan menyutuh pelayan untu menyiapkan makan siang kita. Kau ingin makan siang dikamar atau di bawah? " tanya Elvan.


"Kita makan siang bersama mommy saja, mas. Kasihan beliau makan sendirian." Kata Aida sambil melihat jam yang berada diatas nakas.


"Baiklah, ayo aku bantu turun. " Elvan langsung turun dari tempat tidurnya dan membantu Aida untuk bangun.


"Wajahmu masih pucat Ai. Apa kau benar-benar tidak apa-apa. Apa kita perlu ke dokter?" Elvan masih merasa khawatir dengan keadaan istrinya.


"Nggak usah mas. Aku baik-baik aja kok. Ayo kita makan siang dulu, aku sudah lapar mas. " Ajak Aida yang sudah merasa sangat lapar sepertinya.


Mereka segera menuruni anak tangga dan menemui para wanita yang sepertinya akan memulai makan siang mereka.


"Kalian mau makan siang bersama kami. " tanya Faza yang melihat anak dan menantunya berjalan kearahnya.


"Iya, mom. Aida ingin menemani mommy makan katanya. " Elvan yang menjawab.


Mereka Akhirnya makan siang bersama diselingi obrolan dan candaan mereka semua.


Malam harinya.


Aida sudah bersiap dengan pakaian mewah yang dipilihkan sang suami untuknya. Dengan Hijab yang menjuntai dan cadar yang menutupi wajahnya, terlihat sangat sempurna di mata Elvan. Karena kecantikan istrinya itu hanya dia yang bisa melihat dan menikmatinya.


"Ayo kita berangkat. "


Elvan lalu memeluk pinggang istrinya dan segera berangkat setelah berpamitan kepada semua orang. Mereka pergi bersama Leo dan Rayyan yang akan menemani pasangan suami istri itu. Karena Rayyan juga ikut andil dalam pertemuan itu untuk mewakili perusahan mereka bersama sang kakak.


Mereka sudah sampai di tempat acara. Kembali, Elvan merangkul pinggang istrinya dengan posesif. Hingga kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian semua tamu undangan yang datang. Karena biasanya Elvan hanya datang berdua bersama Rayyan adiknya disetiap pertemuan.


Tapi sekarang dia datang bersama seorang wanita dengan pakaian yang sangat tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bahkan hanya terlihat matanya saja. Dan itu membuat semua orang melihat ameh ke arah Aida yang berdiri di sampinh Elvan.


"Selamat datang tuan Elvan." sapa seorang pria paruh baya diikuti seorang wanita paruh baya dan wanita muda.


Elvan membalas sapaan pria itu, dengan menjabat tangannya. Pria itu lalu melirik ke samping Elvan dimana Aida berada, dan bertanya kepada Elvan.

__ADS_1


"Siapa gerangan wanita yang berada di samping anda ini tuan El? " tanya pria bernama David itu.


"Perkenalkan, dia adalah istriku, namanya Aida Khan. "


__ADS_2