Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)

Pengantin Tuan EL (Sang Pewaris)
Nasehat Abi


__ADS_3

Terdengar dengkuran halus dari Elvan yang sudah pulas. Sedangkan Aida belum bisa menutup matanya. Sejak tadi dia hanya terdiam dan pura-pura tidur. Setelah mendengar dengkuran halus dari Elvan, Aida lalu mendongakkan wajahnya dan melihat wajah tampan suaminya.


Dia mencoba menggerakkan tangannya dan memberanikan diri untuk menyentuh rahang Elvan yang sangat kokoh dengan jambang tipis yang rapi, terlihat sangat macho dan semakin menguatkan ketampanannya.


"Benarkah pria tampan ini suamiku? Aku tidak sedang bermimpi kan? " gumam Aida lirih.


"Kau tidak bermimpi Aida, tidurlah. Aku sangat mengantuk. " gumam Elvan dengan mata masih tertutup, dia terbangun karena merasakan pergerakan dari Aida yang sedang mengusap pipinya.


Wajah Aida langsung memerah dan kembali menelusupkan wajahnya di dada Elvan lalu melingkarkan tangannya di tubuh suaminya itu. Dia benar-benar merasa sangat malu, karena ketahuan memperhatikan suaminya.


Elvan mengulum senyumnya saat merasakan Aida memeluknya. Dia tak kalah erat memeluk istrinya hingga sesuatu dibawah sana mulai terbangun. Tapi dia belum bisa melakukan tugas sucinya karena harus mematuhi perintah sang mommy. Dan lagi dia ingin lebih dekat dulu dengan Aida dan merasakan kenyamanan satu sama lain. Setelah ada chemistry antara mereka berdua, maka tidak akan ada kecanggungan lagi untuk melakukannya, dan Aida akan dengan ikhlas melayaninya.


Di sepertiga malam, Aida terbangun seperti biasa dan merasakan sebuah tangan kokoh melingkar di perutnya. Dia tersenyum melihat sosok tampan itu tetap memeluknya dalam tidur. Dan dia benar-benar percaya kalau hari ini sudah menikah dengan pangeran taman.


Pelan-pelan Aida memindahkan tangan Elvan yang melingkar di perutnya agar dis tidak terbangun seperti tadi. Setelah berhasil, dia langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melakukan sholat malam seperti biasa. Elvan yang sebenarnya menyadari pergerakan istrinya, hanya diam dan memperhatikan apa yang akan dilakukan istrinya itu.


"Apa yang akan dia lakukan. " gumam Elvan melihat jam di ponselnya saat Aida berada dikamar mandi.


"Masih pukul 2 malam. " gumam nya lagi.


Elvan pura-pura tidur lagi saat melihat Aida keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Bukannya kembali ke tempat tidur, tapi Aida malah menggelar sajadahnya dan menggunakan mukenahnya. Lalu menjalankan sholat malam.


"Istriku... " gumam Elvan merasa bangga melihat apa yang dilakukan istrinya itu.


"Bagaimana aku tidak cepat jatuh cinta kepadamu, kalau kamu saja dengan mudah nya membuat aku bangga dengan segala apa yang kamu lakukan. Selain cantik, kamu juga sholehah. Sama seperti permintaan kakek dalam surat wasiatnya. " batin Elvan dalam hati sambil menopang kepalanya dengan satu tangan memperhatikan gerak gerik istrinya.


Setelah menjalankan ibadah sholat malamnya Aida tidak langsung kembali ke tempat tidur, dia malam mengambil Al-Quran dan mulai membacanya.


"Masha Allah, benar kata Najwa suara Aida sangat merdu dan membuat hati adem. " batin Elvan lagi.


"Melihatmu seperti ini, membuatku jatuh cinta kepadamu lagi dan lagi Aida. " Elvan terus bermonolog dalam hatinya saat memperhatikan apa yang dilakukan Aida.


Saat suara Adzan berkumandang, Aida menyimpan dengan baik Al-Qur'annya dan hendak membangunkan suaminya untuk diajak sholat berjamaah. Namun betapa terkejutnya ia, saat berbalik dan melihat Elvan sudah duduk di pinggir ranjang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Aa' sudah bangun. " tanya Aida.


"Iya seperti yang kau lihat. " jawab Elvan sambil tersenyum.


"Sejak kapan? " tanyanya lagi.


"Sejak kau masuk ke kamar mandi dan melakukan ibadah malam. " jawab Elvan yang membuat Aida tersipu.


"Suara istriku sangat merdu saat mengaji tadi. " kata Elvan sambil beranjak dan menuju kamar mandi.


"Kita akan berjamaah sebentar lagi. " ucapnya sebelum masuk ke kamar mandi.


Dan itulah subuh pertama pasangan suami istri itu. Dimana Elvan menjadi imam untuk Aida. Setelah melakukan shalat mereka berdoa bersama. Lalu diakhiri dengan Aida mencium tangan Elvan dan dibalas Elvan dengan kecupan di pipinya.


"Bisakah kita jalan-jalan setelah ini Aida? biasanya kalau dirumah Kakek Arkan aku selalu berjalan-jalan pagi bersama Rafa,untuk menghirup udara segar. " tanya Elvan.


"Nanti aku tanya Umi sama Abi dulu, ya A'. " ujar Aida.


"Baiklah. Aku akan berbaring dulu, kalau kau sudah bertanya kepada Umi dan Abi bangunkan aku ya. "


Elvan kembali memejamkan matanya setelah Aida keluar dari kamar. Sedangkan diluar kamar, Aida langsung menemui uminya untuk menanyakan apakah dia boleh jalan-jalan pagi dengan Elvan. Karena Elvan tadi mengajaknya mengajaknya jalan-jalan.


"Assalamu'alaikum, Umi? "


"Wa'alaikum salam, Aida. Kamu sudah bangun? " tanya UmiUmi.


"Sudah dong Umi, seperti biasa. " jawab Aida sambil tersenyum.


Umi memperhatikan gerak-geriknya putrinya itu, dan sepertinya semalam masih belum terjadi sesuatu pada anaknya itu.


"Ai, apa semalam belum terjadi apa-apa? " tanya Umi hati-hati.


"Terjadi apa Umi? " tanya Aida tidak mengerti.

__ADS_1


"Itu, yang biasa dilakukan pengantin baru. " bisik Umi.


Aida menunduk sambil menggelengkan kepalanyakepalanya sebagai jawaban.


Umi Hasna mengernyitkan keningnya. Dia takut kalau Elvan tidak mau menyentuh Aida, dan tidak menyukai putrinya itu. Ketakutan dan kekhawatiran itu biasa dirasakan seorang ibu, karena pernikahan mereka adalah sebuah perjodohan.


"Lalu apa saja yang kalian lakukan semalam?" tanya Umi penasaran.


"Umi, Ai malu. " kata Aida sambil menutupi wajahnya yang sudah tertutup cadar.


"Nggak apa-apa, Aida. Umi ingin tahu, sebagai seorang ibu. Unu takut kalau anak Umi tidak diterima oleh suaminya. " ujar Umi.


"Enggak kok Umi, Alhamdulillah AA' menerima Aida kok. Semalam A' Elvan ingin melihat wajah Aida. Dan dia bilang kalau Aida cantik. Aida juga tidak boleh memperlihatkan wajah Ai dihadapan semua keluarganya kecuali para wanita. " Kata Aida malu-malu.


"Alhamdulillah.Umi senang mendengarnya. " ujar Imi bahagia.


Tanpa mereka sadari Kyai Amir juga mendengar apa yang dibicarakan kedua wanita kesayangannya itu. Beliau ikut memyunggingkan senyumnya turut bahagia mendengar itu semua.


"A' Elvan juga bilang tidak mau terburu-buru, kita akan saling mengenal lebih dulu Umi. Agar tidak canggung. " kata Aida lagi untuk mengusir kecemasan dihati uminya.


"Ya sudah kalau begitu. Umi lega mendengarnya, sayang. Memang sebaiknya begitu. Kalian saling mengenal lebih dulu agar tidak tercipta kecanggungan. " ujar Umi sambil mengusap kepala anaknya yang terlihat malu-malu.


"Umi, tadi A' Elvan ingin mengajak Ai Jalan-jalan apa boleh? " tanya Aida.


"Boleh, jalan-jalan saja disekitar lingkungan sini Aida. Perkenalkan pesantren ini kepada suamimu. Ini juga pesantren miliknya yang dibangun kakeknya dan tiap bulan kita mendapat dana dari perusahaannya disana. " Bukan Umi yang menjawab melainkan Kyai Amir.


Aida dan Uminya langsung menoleh ke asal suara dan dilihatnya sang Abi mendekat dan duduk di samping nya.


"Mungkin waktu kita akan tinggal beberapa hari bersamamu nak, sebelum kau dibawa pulang oleh suamimu. Jadi puaskanlah kau menikmati Hari-hari bersama kami dan tempat ini." ujar kyai Amir.


"Abi... " Aida langsung memeluk tubuh Abinya uang sudah hampir memasuki usia senja.


"Ai akan selalu menghubungi kalian setiap hari. Dan jika suami Ai tidak sibuk, Ai akan mengajaknya kemari. " ucap Ai.

__ADS_1


"Iya sayang, tapi sebagai seorang istri, Ai harus patuh kepada suami. ingat selalu nasehat kami selama ini dalam melayani pasangan. Jangan sampai membuat suami marah. Ingatlah saat ini ridho Aida ada ditangan suami Aida. " ujar Kyai Amir menasehati anaknya.


Alhamdulillah bisa up juga demi kalian, walau nulisnya sambil goyang dombret di dlm mobil. Kl ada typo tag othor ya. biar othor revisi. Karena mau meriksa lagi, mata udah kliyengan.


__ADS_2